
Sesampainya di rumah, Clara segera mengurus kedua anaknya. Memasak, makan bersama, bercerita tentang apa yang mereka alami hari itu, menonton televisi dan akhirnya Clara mengantarkan kedua anaknya untuk tidur.
Clara baru memiliki waktu untuk dirinya sendiri di malam hari. Ia segera mandi dengan air hangat dan berendam. Tubuhnya yang kaku serasa lemas dalam rendaman air hangat. Ia mendengar lagi kata-kata Darren tadi siang. "Apanya yang tidak tertarik menikah, jelas-jelas Darren seorang hidung belang. Bagaimana bisa Darren memintaku untuk menjadi istrinya. Pria normal tidak akan mau menikah dengan janda beranak dua. Dengan kekayaannya, banyak gadis yang antre untuk menikah dengannya. Omong kosong." Pikir Clara sambil memejamkan mata.
Saat itu terdengar notifikasi dari ponsel Clara. Ia segera mengambilnya dan tertera nama Darren di sana. Darren mengiriminya pesan singkat. "Apa aku harus membacanya?" Clara bingung sejenak.
"Ah, aku tidak bersalah, apa yang aku takuti."
Ia pun membuka pesannya dan membacanya.
"Clara, aku tunggu kamu di rumahku besok jam 10 pagi. Ada kesepakatan yang ingin aku buat denganmu. Aku menunggu kedatanganmu, Clara."
Apa lagi ini, keluh Clara.
Clara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus menemui Darren lagi esok atau haruskah ia mengabaikan Darren saja.
__ADS_1
Clara berpikir sejenak, dan ia pun mengambil keputusan untuk meladeni Darren. Tidak ada salahnya, Clara ingin tahu apa lagi yang Darren inginkan darinya. Yang pasti aku membutuhkan uang untuk tetap hidup dengan baik.
Clara tertidur malam itu, ia memimpikan dirinya dan Sam pada masa muda mereka.
Esok paginya Clara segera bersiap untuk pergi lagi ke rumah Darren. Ia memilih atasan sederhana berwarna abu tua dan celana jeans dengan sepatu kets putih. Ia tidak ingin pakaiannya dapat membuat Darren salah paham. Ia tidak ingin Darren menganggapnya menggoda Darren. Tidak.
Darren sedang mencuci mobilnya di garasi saat Clara datang. Rambutnya basah terkena keringat dan air. Darren mengenakan celana pendek dan kaos oblong putih. Clara dapat melihat bentuk tubuh Darren yang terjiplak oleh baju basahnya. Tidak ada yang menarik. Ya, Darren memang memiliki tubuh atletis, Clara dapat melihat otot-otot Darren. "Tidak, aku sudah gila. Sadarlah Clara." Clara berkata pada dirinya sendiri. Setelah itu ia turun dari mobil dan menyapa Darren dengan sopan.
"Darren, aku disini. Ada hal yang harus kau ketahui sebelum kita bicara lebih lanjut. Aku butuh uang dan aku pasti akan mendapatkannya baik itu darimu atau dari orang lain. Yang jelas, aku tidak akan pernah menjual diriku sendiri apalagi padamu. Camkan itu, Darren." Ujar Clara.
Darren segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia sekarang mengenakan kaus hitam dan celana pendek abu. Lalu Darren duduk di seberang Clara dan menyeruput kopinya.
"Aku senang kamu datang hari ini, Clara. Aku sungguh minta maaf mengenai perkataanku kemarin yang tiba-tiba. Aku mengerti kamu pasti terkejut dengan pernyataanku kemarin. Tapi satu hal yang pasti, semua perkataanku kemarin adalah benar. Aku tulus kepadamu, Clara. Salahku tidak perlahan terhadapmu. Seharusnya aku bisa mengerti perasaanmu. Seharusnya semua terjadi perlahan sehingga kamu bisa merasakan ketulusanku." Darren berhenti sebentar untuk menyeruput kopinya. Clara tidak berkata apapun.
"Kamu tahu, setiap Sam mengunjungiku, dia akan menyelipkan cerita baik tentangmu, Clara. Ia sebenarnya berusaha meyakinkanku agar aku membuka hatiku untuk wanita dan menikah. Ia tidak ingin aku sendirian seumur hidupku. Sam ingin aku merasakan yang ia rasakan. Sam merasa sangat bersyukur memiliki wanita sepertimu, Clara. Wanita yang selalu mendukung dirinya walaupun ia seringkali menyesal tidak dapat selalu membahagiakanmu. Wanita yang dengan baik mengurus anak-anaknya di rumah sementara ia bekerja di luar. Wanita yang selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya, tidak pernah meminta lebih. Wanita yang mandiri dan kuat pendiriannya. Kau tahu, Sam selalu menceritakanmu kepadaku hal-hal seperti itu. Tanpa sadar, setiap kali Sam datang aku selalu ingin tahu kabarmu, aku semakin mendambakan sosokmu. Begitu juga, aku selalu membandingkan wanita lain dengan dirimu. Dan aku tidak pernah menemukan wanita sepertimu di luar sana. Ketika kudengar Sam meninggal, aku sangat sedih. Aku pikir aku tidak akan mendengar apapun tentangmu lagi. Aku merasa senang sekali saat kamu mencariku kali pertama lalu. Dan saat itu, aku rasanya sudah benar-benar mengenalmu untuk waktu yang lama. Aku tidak dapat mengendalikan diriku hari itu. Clara, aku minta maaf." Darren terlihat sangat menyesali dirinya.
__ADS_1
Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Clara, walaupun ia sangat menginginkannya.
Clara hanya terdiam mendengarkan kata-kata Darren barusan. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Perasaan Darren tidak dapat ia kendalikan. Itu adalah hak Darren. Dan ia sudah cukup mengerti mengapa Darren berkata seperti waktu itu. Clara menyendokkan kopi ke dalam mulutnya. Lalu berkata pada Darren.
"Terima kasih untuk penjelasan darimu. Hal itu sungguh menjelaskan mengenai sikapmu kemarin. Aku sangat tersanjung mendengarnya. Tapi aku bukanlah wanita sesempurna yang kamu bayangkan, seperti yang Sam ceritakan. Jika aku seperti yang kamu bayangkan, aku tidak akan ada disini merendahkan diriku dan mencari teman suamiku untuk meminjam uangnya. Aku hanya wanita biasa yang sedang berjuang menjadi ibu sekaligus ayah untuk kedua anakku. Yang ada pikiranku sekarang hanyalah bagaimana mencari sumber pemasukan untuk kami. Tidak ada hal lain yang dapat aku pikirkan selain itu. Aku harap kamu mengerti, Darren." Ujar Clara.
Darren menatap mata Clara dengan sedih dan sekali lagi ia rasanya tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia ingin sekali memeluk Clara, membiarkannya menangis dan membiarkan Clara bersandar pada dirinya. Darren mencengkeram erat meja makan di hadapannya agar ia tidak melakukan hal bodoh saat ini. Ia harus bergerak perlahan. Ia berjanji pada diriny sendiri untuk tidak membiarkan Clara berjuang sendirian.
"Clara, aku pasti akan membantumu. Aku hanya akan menjadi investor saja. Kamu yang memegang kendali penuh untuk usahamu nantinya. Apapun itu, aku yakin kamu dapat menjalaninya dengan baik. Aku hanya perlu laporan keuangan setiap bulannya. Dan aku harap kita akan bertemu seminggu sekali untuk kita saling mengenal dengan lebih baik. Kita harus saling mempercayai satu sama lainnya, agar kita dapat bekerjasama dengan baik. Apakah kamu setuju, Clara?" Tanya Darren.
Clara tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia mendapatkan bantuan dari Darren. Clara merasa lega sekali. Ia merasa dapat berdiri lagi dengan yakin dan kembali menjalani hidupnya. Clara pun tersenyum pada Darren.
Darren melanjutkan bicaranya, "Mengenai perasaanku kepadamu, Clara. Aku tahu aku terlalu cepat menyatakannya. Aku seharusnya menunggu lebih lama lagi. Tapi aku sangat berharap kamu dapat melihat dan merasakan ketulusanku padamu. Aku akan terus menunggumu, Clara. Aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin kamu pun dapat menyandarkan dirimu kepadaku. Ijinkan aku membahagiakanmu, Clara. Selama apapun itu, aku akan selalu mendukungmu dan selalu menunggumu. Aku harap kamu dapat melihatku ssperti itu, Clara."
Clara tidak sanggup berkata apapun. Ia hanya terdiam mendengar kata-kata Darren yang begitu tulus. Clara dan Darren hanya diam saja beberapa menit. Darren terus memandangi Clara. Ya, Clara adalah seorang wanita dewasa yang kecantikannya matang. Ia hanya tidak punya waktu untuk merawat dirinya sendiri. Tapi Clara memiliki daya tarik yang tidak dapat diacuhkan oleh Darren. Darren ingin mengenal Clara lebih dalam lagi. Dan ingin memilikinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sam. Aku juga mencintainya, sama sepertimu." Darren berkata dalam hatinya.