Bahagia Sekali Lagi

Bahagia Sekali Lagi
Bagian 8. Puncak


__ADS_3

Sudah 6 bulan sejak pertemuan pertama Darren dengan Simon dan Lily. Sejak hari itu, hampir setiap akhir pekan mereka pergi berempat, mereka makan bersama dan bermain bersama. Kedua anak itu terlihat nyaman bersama Darren. Clara senang melihatnya. Darren pun merasakan hal yang sama. Kedua anak itu mudah sekali disayangi sama seperti Clara. Mereka berdua pintar, sopan dan tipe pekerja keras sama seperti ibunya.


Darren pun sudah beberapa kali mengunjungi orang tua Clara. Awalnya semua masih terasa canggung. Tetapi orang tua Clara memahami bahwa Darren benar-benar tulus kepada Clara. Tidak ada yang orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Bersama Darren, Clara sekarang lebih sering tersenyum dan tertawa. Orang tua Clara sangat merestui hubungan mereka berdua.


Tidak terlupakan, Clara sempat mengenalkan Darren pada ibu Sam. Saat itu, ibu Sam sangat senang. Ia tidak tahan melihat menantunya hanya mengisi hidupnya dengan mengurus Simon dan Lily dan tokonya. Clara berhak untuk bahagia lagi.


Sabtu ini Darren mengundang Clara untuk makan malam di rumahnya. Darren akan memasak menu sederhana untuk makan malam itu. Jam 4 sore Darren sedang berada dalam mobilnya, ia mengendarai mobilnya menuju rumah Clara, ia akan menjemput dan membawa Clara ke rumahnya.


Clara mengenakan gaun hitam 1 tali dengan potongan sederhana, pantas sekali di tubuh Clara. Ia hanya menyapukan dandanan tipis dan lembut, tidak berlebihan. Darren terpesona. Ia berdecak nakal saat melihat Clara di depan pintu. Hal itu membuat wajah Clara memerah. "Aku berlebihan ya? Apa aku perlu mengganti pakaianku?" Tanya Clara malu.


"Tidak, Clara. Kamu sungguh mempesona hari ini. Kamu meluluhkan hatiku sekali lagi. Ayo kita ke rumahku sekarang." Darren segera menarik tangan Clara menuju mobilnya yang masih menyala.


Clara melangkahkan kakinya di rumah besar itu. Ia terkejut melihat banyak foto dirinya bersama anak-anak dan Darren. "Aku ingin melihatmu setiap hari, jadi aku hanya bisa memajang foto-fotomu dinding rumahku." Ujar Darren sambil menggenggam tangan Clara.


"Duduklah di sini, aku akan menyiapkan semuanya. Kamu tidak perlu membantuku. Aku belajar memasak akhir-akhir ini dan aku ingin kamu mencicipinya." Ujar Darren sambil berjalan menuju dapur. Ia mengenakan celemeknya di atas kemeja berwarna putih yang dikenakan Darren.


Darren terlihat cukup terampil di dapurnya. Clara memperhatikan Darren di dapur. Ia terlihat sangat tampan dalam kemeja putih dan celana jeansnya. Kemejanya tidak dimasukkan, lengan kemejanya digulung hingga ke siku dan rambut Darren agak acak-acakan seperti hanya asal dirapikan.


Darren membutuhkan waktu 1 jam untuk menghidangkan masakannya kepada Clara. "Ah, maaf, aku belum terbiasa memasak. Jadi aku butuh waktu lebih lama dari yang kuperkirakan. Ayo kita makan sekarang. Kamu pasti sudah lapar." Ujar Darren sambil melepaskan celemek dan menggantungnya.

__ADS_1


Darren menyiapkan steak daging sapi dengan salad sayuran segar dan kentang tumbuk. Mereka makan sambil berbincang sepanjang waktu makan. Mereka duduk saling berhadapan dan Darren tidak melepaskan pandangannya kepada wanita di depannya itu. Ia memperhatikan seluruh gerak Clara saat makan dan berbincang. Terkadang Darren menggenggam tangan Clara dan mengusapnya lembut.


"Terima kasih makanannya hari ini. Kamu jadi repot untukku, Darren. Lain kali tidak perlu memasak. Kita bisa pesan makanan saja. Tapi kalau aku boleh jujur, aku menyukai masakanmu hari ini, semuanya terasa enak sekali. Entah karena masakanmu atau karena kamu yang membuatnya." Ujar Clara tersenyum nakal setelah menghabiskan makanannya.


Clara membawa piring kotor mereka dan mencucinya. Setelah selesai, Clara mengambil serbet untuk mengelap tangannya yang basah. Saat itulah Darren tiba-tiba datang dan memeluk Clara dari belakang. Darren meletakkan dagunya di bahu Clara, sambil berbisik, "Clara, aku menyayangimu. Sangat." Darren mulai menciumi leher dan pipi Clara. Setelah Clara mengelap kering tangannya, Darren segera menarik Clara ke sofa. Ia memangku Clara. Clara merasa sangat malu. Ia tidak menyangka akan melakukan hal-hal manis seperti ini di umurnya sekarang.


Clara menundukkan kepalanya, ia tidak berani menunjukkan wajahnya pada Darren. Ia tahu wajahnya pasti sangat merah saat ini. Tetapi, Darren malah mendongakkan wajah Clara dan mendekatkan wajahnya. Darren berbisik, "Apa kamu bahagia hari ini? Apakah kamu bahagia bersamaku beberapa bulan ini, Clara?"


"Aku bahagia bersamamu, Darren. Tapi ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Apakah kita dapat membahasnya sekarang? Aku tidak mau melanjutkan hubungan kita ini tanpa kejelasan pandanganmu mengenai hal yang aku risaukan." Tanya Clara dengan nada tegas di dalamnya.


Darren mengganggukkan kepalanya. Tangan Darren mengalungi pinggang Clara seakan takut kehilangan. Ia siap melakukan apapaun untuk Clara, apapun.


Darren terdiam sejenak, ia menghela nafas dan berkata dengan lembut. "Aku mencintaimu apa adanya, Clara. Tidak penting untukku mempunyai bayi. Aku menginginkanmu. Lagipula aku sudah mempunyai dua anak yang tampan, cantik, baik dan pintar. Apa lagi yang aku inginkan. Aku sudah mendapatkan semua yang pantas kudapatkan. Dan aku sudah cukup bahagia dengan semua hal itu. Aku sungguh-sungguh, Clara."


Clara tersenyum kecil. Ia lega sekali mendengar hal itu. Ia tidak ingin membuat Darren menyesal nantinya.


"Turunkan aku, Darren. Aku duduk di sofa saja. Nanti kakimu keram memangkuku begini." Ujar Clara malu. Clara berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Darren.


Darren tidak mau, ia senang memangku Clara seperti ini. Ia dapat merasa dekat dengan Clara. Darren tidak kuasa menahan dirinya. Ia dengan lembut mencium bibir Clara, tangan Darren merengkuh wajah Clara dan menekannya ke wajahnya sendiri. Clara pun tidak melawan, ia membalas ciuman itu dengan lembut. Tangan kiri Clara menyentuh dada Darren dan mengusapnya lembut. Tangan kanan Clara menyentuh lengan Darren yang kuat, lalu pindah ke punggung dan leher belakang Darren, ia menggerayangi tubuh Darren dengan luwes.

__ADS_1


Darren semakin menekan tubuh Clara ke tubuhnya. Tangan kiri Darren berpindah ke punggung Clara dan menekan lembut punggungnya agar selalu menempel pada tubuhnya sendiri. Dada Clara menempel pada dada Darren sekarang. Ia ingin sedekat mungkin dengan Clara. Ciuman Darren berpindah-pindah ke kening, leher dan dada Clara. Clara merasakan ciuman Darren yang amat lembut itu. Darren memegang tali gaun hitam Clara dan berbisik, "Bolehkah?"


Clara mengangguk malu.


Darren menurunkan tali gaun Clara dan menciumi bahu dan dada Clara. Clara mendesah pelan. Sudah lama sekali ia tidak diperlakukan semanis ini. Ia baru sadar bahwa ia membutuhkannya. Darren menggendong Clara dan berjalan menuju kamarnya. Kamar Darren tertata cukup rapi, kasurnya terlihat empuk dengan ditutupi dengan sprei berwarna abu.


Ia menurunkan Clara sebentar di pinggir kasur dan menurunkan gaun hitam itu. Hanya tersisa pakaian dalam hitamnya saja sekarang. Ia lalu meletakkan Clara dengan lembut di kasurnya. Lalu kembali dengan lembut menciumi tubuh Clara yang cantik itu. Di perutnya terlihat samar garis bekas-bekas kehamilan Clara.


Bibir lembut Darren menjelajahi seluruh bagian tubuh Clara. Darren kembali mencium bibir Clara dengan lembut. Clara sendiri pun tidak menyadari bahwa tubuhnya mendambakan sentuhan-sentuhan romantis seperti ini. Tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah menyentuh bagian pribadi Clara kecuali Sam, suaminya. Darren dan Clara larut malam itu.


Darren dan Clara terbaring di kasur. Mereka saling berpelukan di bawah selimut. Darren mengusap punggung Clara dengan lembut sementara Clara mengusap dada Darren dengan lembut sambil menciuminya sesekali.


"Terima kasih, Clara. Aku senang kamu bahagia bersamaku."


Lalu Darren menatap wajah Clara yang mungil dan berkata, "Menikahlah denganku, Clara. Jadilah istriku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Kamu mau?"


Clara mengangguk.


Dan mereka kembali bercumbu untuk mencapai puncak kenikmatan sekali lagi dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2