
Clara sedang melamun dalam rendaman air hangat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap Darren. Ia tidak menyangka akan dapat jatuh cinta lagi dengan pria lain selain Sam. Tetapi ketulusan Darren sangat ia rasakan. Ia tidak yakin apakah Darren hanya bermain-main atau serius. Clara memutuskan untuk mengenal Darren lebih jauh lagi. Dengan kondisinya sekarang ini, ia tidak akan siap untuk kecewa. Clara membayangkan ciuman lembut Darren tadi di teras, ia masih dapat merasakan kelembutan dan Darren sangat berhati-hati tadi. Ia pun tidak menyangka akan membalas ciuman Darren. Sepertinya aku juga sudah gila. Clara mengusap bibirnya sekali lagi.
Sesampainya di rumah, Darren mengirim pesan singkat untuk Clara, "Aku tiba dengan selamat di rumah. Terima kasih untuk hari ini, aku senang melihatmu tertawa. Selamat malam, Clara. Aku sudah merindukanmu."
Darren melepaskan pakaiannya dan segera mandi dengan air hangat. Di bawah pancuran air hangat, ia mengusap bibirnya dan memejamkan matanya. Ia membayangkan kembali kejadian tadi. Clara membalas ciumannya walaupun dengan ragu. Bibirnya begitu lembut, tangannya yang begitu kecil sudah digunakan untuk bekerja keras. Darren mengagumi Clara. Ia tidak sabar untuk bertemu Clara Jumat depan. Darren ingin menggenggam tangan Clara, menghangatkannya dan memeluknya lagi serta tidak melepaskannya. Aku sangat egois. "Sam, aku mohon restuilah aku bersama Clara kita. Aku sangat ingin membahagiakannya." Bisik Darren dalam hatinya.
Hari Jumat tiba dengan cepat, Clara sedang memasak di dapur saat bel pintu berbunyi. Darren, pikirnya. Ia mengecilkan kompor dan segera berlari untuk membukakan pintu untuk Darren. Darren berdiri di depan pintu dengan 1 tas di tangannya. "Apa itu?" Tanya Clara sambil menunjuk ke tas itu.
"Aku tidak tahu anak-anakmu menyukai apa, jadi aku membawa beberapa permainan. Agar kita dapat bermain bersama." Jawab Darren.
"Masuklah, Darren. Duduk saja dimana kamu suka. Aku masih memasak, sebentar lagi aku selesai." Ujar Clara cepat.
Darren duduk di sebuah kursi di ruang tengah. Di sana ia melihat banyak sekali foto yang dipajang di dindingnya. Foto Clara bersama Sam dan kedua anaknya. Ia memperhatikan foto-foto itu dan kagum dengan kecantikan Clara yang tidak memudar. Clara yang sekarang masih sama seperti di foto-foto itu, hanya tampak beberapa tanda kematangan pada dirinya sekarang. Tetapi ia masih seperti Clara yang pernah sekali ia temui saat masih ada Sam. Rumah Clara tertata rapi dan bersih. Terasa hangat. Darren hanyut dalam pikirannya sendiri, saat mendengar Clara memanggil kedua anaknya.
__ADS_1
"Anak-anak, ayo turun. Makan siang dulu." Teriak Clara.
"Aku baru tahu kamu bisa berteriak seperti itu. Aku belum pernah mendengarnya." Ujar Darren sambil tersenyum mengejek.
Clara malu dan berkata, "Masih banyak hal yang belum kamu ketahui tentangku, Darren. Dan lagi, kalau aku tidak teriak seperti tadi, anak-anak itu akan asyik di kamarnya masing-masing hingga lupa makan."
Tidak lama, terdengar derap kaki anak-anak yang turun melewati tangga. Kedua anak itu saling berpandangan satu sama lain saat mereka melihat sosok pria yang sedang duduk di kursi. Mereka tidak pernah melihatnya. Mereka berdua menganggukkan kepala ke arah pria itu dan segera menghampiri ibunya di dapur.
"Dia temanku, bersikap baiklah padanya." Ujar Clara kepada kedua anaknya. Anak-anak mengerti maksud ibunya. Selama ini tidak pernah ada pria dewasa lain di rumah itu selain Sam, ayah mereka. Mereka juga ingin ibu mereka bahagia. Ibunya sudah cukup menderita karena harus bekerja keras demi mereka. Mereka pun tersenyum lagi pada Darren dan mempersilakan Darren untuk duduk di kursi makan. Lalu mereka kembali membantu ibunya mempersiapkan hidangan di meja makan.
Darren merasakan kehangatan di ruang makan itu. Simon dan Lily bergantian menanyakan Darren tentang apapun. Dari lokasi rumah, pekerjaan, bahkan tipe wanita idealnya. Darren tersenyum, kedua anak ini sepertinya sudah menganggapku sebagai teman dekat ibunya. Darren memperkenalkan dirinya dan menjawab pertanyaan mereka satu per satu dengan sabar. Mereka berempat sesekali tertawa bersama mendengar berbagai cerita di meja makan itu. Darren sungguh nyaman berada di sini. Ia merasakan suasana keluarga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Selesai makan, anak-anak yang membereskan semuanya, mencuci piring dan sebagainya. Mereka lalu pamit untuk ke kamar mereka lagi. Mereka memberikan waktu berduaan untuk ibunya dan Darren. Darren melihat senyum nakal dan kedipan mata mereka di tangga saat mereka naik dengan cepat. Darren tersenyum melihat hal itu. Ia merasa senang apabila Simon dan Lily dapat dengan cepat menerimanya.
__ADS_1
Clara menghampiri Darren dan duduk di sampingnya, lalu berkata, "Maafkan tadi anak-anakku membuatmu tidak nyaman. Mereka banyak melemparkan pertanyaan padamu tadi."
Darren mengambil tangan Clara dan meletakkannya dalam genggaman tangannya di pangkuannya. Lalu berkata, "Aku rasa mereka memberikan waktu berduaan untuk kita sekarang. Bahkan aku belum sempat mengajak mereka bermain. Sia-sia aku membawa tas itu." Ujar Darren sambil tersenyum.
"Terima kasih untuk makan siang tadi. Aku sangat menikmatinya, masakanmu juga sangat enak. Aku ingin makan dalam suasana seperti ini setiap hari. Bersama kamu dan anak-anak."
Mereka menghabiskan beberapa jam berbincang mengenai segala hal. Keluarga mereka, prinsip-prinsip hidup mereka, gosip-gosip keluarga dan teman dan sebagainya.
"Apa anak-anak mengijinkan bila aku mengajakmu makan malam besok? Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu, Clara. Apakah kamu mau menemaniku besok?" Tanya Darren saat hampir tiba waktunya untuk pulang. Darren hati-hati berkata seperti itu. Ia tidak ingin Simon dan Lily menganggapnya sebagai pencuri ibu mereka. Ia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Clara, berdua saja. Saat ini, Darren hanya ingin melakukan hal itu.
Clara hanya tersenyum dan mengangguk.
Darren menarik Clara ke dalam pelukannya dan mencium kening Clara dengan lembut. Ia sangat menyukai harum rambut Clara. Rasanya ia tidak ingin berpisah malam ini. Ia ingin memeluknya semalaman.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Darren. Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah. Sampai bertemu besok ya." Ujar Clara lembut.
Darren mencium lembut bibir Clara di pintu depan dan mengucapkan selamat malam. Ia lalu ke mobilnya dan bersiap untuk pulang.