Bahagia Sekali Lagi

Bahagia Sekali Lagi
Bagian 6. Melangkah


__ADS_3

Darren sudah bersiap mengenakan pakaiannya. Ia sudah menyeterika pakaiannya dan menyemprotkan parfum dengan wangi lembut di tubuhnya. Ia siap menjemput Clara, wanitanya.


Clara sedang memilih lipstik saat ia mendengar bunyi bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat, ia menyapukan lipstik berwarna nude ke bibirnya dan segera berlari ke pintu depan. "Anak-anak, mama pergi dulu seperti yang tadi mama bilang. Kalian tidurlah, jangan tunggu mama. Kunci semua pintu dan hubungi mama jika terjadi sesuatu."


Ia membuka pintu depan dan melihat Darren berdiri di sana.


Darren mengenakan kaus berwarna tosca dengan celana jeans dan sepatu kets. Ia terlihat tampan malam itu. Clara baru menyadarinya. "Ayo." Ajak Clara.


Darren menunggu pintu dibuka dengan jantung yang berdebar. Ini kali kedua ia mengunjungi rumah Clara. Yang pertama dulu saat Sam baru meninggal dan Darren menjenguk Clara yang sedang berduka. Sesaat kemudian pintu terbuka dengan Clara di hadapannya. Clara mengenakan blus berwarna hijau tua dengan celana jeans dan sepatu kets. Cantik dan dewasa.


Darren membukakan pintu untuk Clara dan mereka segera pergi ke tempat tujuan. Tempat itu adalah sebuah restoran yang terletak di lantai atap sebuah gedung. Mereka duduk di ruangan AC karena tidak ingin terganggu dengan bau asap rokok di luar. Ya, Darren tidak merokok. Clara dan Darren memesan makanan yang berbeda dan mereka saling mencoba makanan. Suasana hati mereka sangat baik malam itu. Clara merasa lebih santai, ia sejenak tidak memikirkan perannya sebagai ibu dan pemilik bisnis. Ia hanya berbincang dan tertawa bersama Darren.


Darren sangat menyukai tertawa bersama Clara. Clara sungguh cantik saat tersenyum. Seharusnya ia lebih sering tersenyum, begitu pikir Darren. Ia sangat menikmati suasana di restoran tersebut bersama Clara. Ia sungguh merasa ingin segera memiliki Clara. Tapi ia tahu, ia harus perlahan saja, tidak bisa terburu-buru dalam hal ini. Biarkan Clara siap dan menerimaku pada waktunya. Darren menatap Clara semalaman.

__ADS_1


Malam itu Darren mengantar Clara pulang. Di depan pintu, Clara berkata, "Terima kasih untuk semuanya, Darren. Aku sangat menikmati hari ini. Sudah lama rasanya aku tidak tertawa sebanyak ini. Kamu memang teman terbaikku, Darren."


Darren tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya ke tangan Clara. Ia bertanya, "Bolehkah aku memegang tanganmu?"


Clara mengangguk kecil dan Darren langaung mengambil tangan Clara dan mendekapnya dengan kedua tangannya. Tangan Clara sangat kecil, agak kasar untuk ukuran tangan wanita. Clara sudah bekerja keras. Darren mengusap-usap tangan Clara sementara Clara hanya diam.


Entah mengapa Clara luluh malam itu. Ia merasa lemah malam itu. Otak Clara berusaha keras menolak Darren, tetapi hatinya tidak. Ia merasakan ketulusan Darren kepadanya. Sudah lama ia tidak merasakannya. Tidak sejak Sam meninggal. Sejak saat itu, ia hanya selalu bekerja saja tanpa memikirkan dirinya sendiri. Lelahnya tidak pernah ia rasakan.


Clara mengajak Darren untuk duduk di kursi panjang di teras. Darren mengikuti Clara sambil terus menggenggam tangan Clara, tidak melepaskannya sedetik pun. Clara menarik napas panjang lalu berkata, "Darren, sudah 2 tahun sejak kamu menyatakan perasaanmu waktu itu. Saat itu aku sama sekali tidak memikirkan mengenai apapun. Yang aku tahu waktu itu aku harus hidup demi kedua anakku, anak Sam. Apa kamu tahu, kamu tidak hanya harus menerimaku dengan segala kekuranganku tetapi aku memiliki anak-anakku, apakah kamu dapat menerimanya, Darren? Tidak adil rasanya pria seperti kamu adalah pilihan untukku. Sedangkan di luar sana kamu dapat mendapatkan gadis manapun yang kamu mau, yang lebih cantik, lebih muda, lebih pintar dan masih perawan. Kamu berhak mendapatkan mereka yang seperti itu, Darren. Sebaiknya kamu pikirkan lagi perasaanmu terhadapku. Aku tidak ingin kamu menyesal. Kamu terlalu baik untuk dikecewakan olehku. Tidak adil sama sekali."


Darren menarik tangan Clara dan mencium lembut punggung tangannya. Clara terkejut dan menarik tangannya dari genggaman Darren, tetapi genggaman itu terlalu kuat, ia pasrah saat punggung tangannya dikecup lembut oleh bibir Darren yang lembut itu. Ia merasa tubuhnya merinding dan jantungnya mulai berdebar.


"Tidak, ini salah, ini tidak boleh terjadi, tidak adil untuk Darren. Aku tidak seharusnya berdebar karena ini. Tidak boleh." Batin Clara sambil menggigit bibirnya mencoba menahan debaran jantungnya.

__ADS_1


Clara salah. Ia seperti membeku saat Darren perlahan mendorong wajahnya maju mendekati wajah Clara. Detik selanjutnya ia merasakan bibir lembut Darren mengecup bibirnya. Darren melakukannya perlahan dan sangat lembut. Sudah lama sekali ia tidak diperlakukan seperti ini. Pertahanan Clara seketika runtuh. Ia melemaskan tubuhnya dan menerima kecupan Darren. Ia pun tidak sadar membalas ciuman itu dengan ragu-ragu. Darren yang merasakan hal itu menjadi semakin panas, ia meletakkan tangannya di leher Clara dan menciumnya lagi dengan lembut dan menarik tubuh Clara lebih dekat padanya sehingga tubuh mereka menempel satu sama lainnya. Mata mereka berdua terpejam. Mereka hanya menikmati saat itu.


Mata Clara masih terpejam saat Darren menarik dirinya, ia berkata, "Clara, aku sangat mencintaimu. Kamu tidak tahu seberapa besar perasaanku. Aku tidak ingin yang lain. Aku hanya menginginkanmu saja dan kedua anakmu. Mereka akan menjadi anakku nantinya. Aku pun menyayangi mereka, kamu wanita hebat, kamu telah membesarkan mereka dengan baik, mereka anak yang mudah sekali untuk disayangi. Aku menginginkan satu paket itu denganmu. Sudah 2 tahun ini aku berusaha keras menahan perasaanku. Tapi hal itu percuma saja, aku tidak dapat mengendalikannya. Aku hampir gila jika memikirkan akan bertemu denganmu setiap minggu. Aku takut kehilanganmu, Clara."


Clara merasa sangat bersalah. Ia membalas, "Darren, maafkan aku. Aku tidak seharusnya menikmati ciumanmu tadi. Aku tidak seharusnya membalas ciumanmu. Aku tidak tahu apa perasaanku ini. Apakah ini rasa kagum, rasa terima kasih, terbawa perasaan atau apa, aku sendiri sungguh tidak tahu. Tidak adil untukmu, Darren. Anggap saja tidak terjadi apapun tadi. Aku sungguh malu pada diriku. Aku berbuat tidak pantas padamu. Padahal kamu sudah sangat baik padaku selama ini. Maaf, Darren."


"Tidak ada yang salah dengan ciuman tadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku mohon. Aku menikmatinya, sangat. Walaupun hanya sekejap aku dapat merasakanmu, Clara. Jangan menutup hatimu lagi. Aku hanya berharap kamu bisa perlahan merasakanku, menganggapku ada, bersandarlah padaku, Clara. Bagaimana jika begini, mulai Jumat besok aku yang akan mengunjungimu setiap minggu, kamu toh harus tetap menyampaikan laporanmu. Aku ingin lebih dekat dengan kedua anakmu. Aku ingin mereka juga nyaman di dekatku. Aku ingin mereka menganggapku sebagai teman mamanya dan teman mereka juga. Aku juga ingin kamu memastikan perasaanmu padaku. Kita lakukan perlahan saja, aku tidak terburu-buru. Aku ingin seperti itu, apakah kamu setuju, Clara?" Ujar Darren serius. Tangannya masih menggenggam tangan mungil Clara dan mengusapya lembut.


Clara terdiam, ia mulai luluh. Clara menggangguk perlahan dengan ragu. Dan ia berkata, "Terima kasih, Darren. Aku tidak layak mendapatkan semua ini. Kamu terlalu baik untukku. Aku harus tahu diri. Ingatlah, kamu diijinkan untuk menjauh jika kamu merasa tidak dapat meneruskan semua ini. Aku tidak apa-apa."


Clara menatap ke dalam mata Darren, ada ketulusan di sana. Aku tidak boleh hanyut, aku harus sebaik mungkin menahan diriku agar tidak mengecewakan Darren. Ia tidak boleh melakukan hal yang dapat menyakiti Darren.


Darren sangat lega mendengar hal itu. Ia menjadi jauh lebih mencintai Clara. Wanita itu benar-benar sesuatu, sifatnya, kelembutannya, rasa pedulinya, ia bahkan mengesampingkan perasaannya sendiri untuk orang lain. Ia mengecup lembut kening Clara dan menarik Clara dalam pelukannya. Ia merasakan hal yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia hanya ingin melindungi wanita ini, membahagiakannya. "Sam sangat beruntung sekali mendapatkan wanita sepertimu, Clara. Semua cerita Sam tentangmu sangat benar adanya. Kamu memang wanita hebat, wanita yang layak dicintai. Aku harap Sam dapat merestui keinginan egoisku ini. Aku berjanji untuk selalu membahagiakanmu. Datanglah padaku dan bersandarlah padaku. Clara, aku sangat menyayangimu. Aku harap kamu pun begitu. Kita akan melangkah perlahan sampai kamu dapat menerimaku apa adanya diriku dan aku harap kamu pun mengijinkan dirimu untuk bahagia sekali lagi. Kamu layak untuk bahagia, Clara. Dan aku akan sangat bahagia jika kamu mengijinkanku untuk membahagiakanmu."

__ADS_1


__ADS_2