Be My Girl

Be My Girl
PART X


__ADS_3

Hari berikutnya di Sekolah. Seluruh Siswa Tingkat Tiga dikumpulkan di Lapangan, karena ada pengumuman penting dari Kepala Sekolah.


"Ada apa lagi sih ini?" Ucap Dandi berbisik ke Bevan.


"Mana gua tau.. Gak dapet beritanya gua.." Jawab Bevan berbisik.


Kepala Sekolah pun berdiri di depan para Siswa.


"Selamat Pagi anak - anak. Hari ini ada pengumuman Penting untuk kalian. Karena beberapa Bulan kedepan kalian akan menghadapi Ujian Akhir dan minggu depan berbarengan dengan libur tengah Semester, kalian akan mendapat waktu istirahat di Rumah selama 2 minggu. Sebelum akhirnya memfokuskan diri pada Ujian Akhir.." Jelas Kepala Sekolah.


Hampir 20 menit sudah, Kepala sekolah melakukan Pengumuman untuk Siswa dan Siswi Tingkat Tiga.


"Terakhir bapak ingin memberi Tahu, untuk Siswa dan Siswi tingkat 3, selama seminggu kedepan kalian akan mendapat dispensasi, yaitu bebas dari pelajaran umum di sekolah. Terima Kasih." Lanjut Kepala Sekolah sekaligus Menutup Pengumumannya.


Para murid Tingkat 3 pun bersorak gembira mendengar hal tersebut.


Selesai Pengumuman para Murid pun dibubarkan dan dipersilahkan menuju Kelas masing - masing.


Di dalam Kelas. Seperti biasa Dandi tidur di bangku paling belakang. Robi bercengkramah dengan siswa yang lainnya, sementara Bevan duduk di kursi depan Kelas.


"Boring banget!!" Gumam Bevan.


Tak lama keluarlah Agnes dari dalam Kelas.


"Sendirian aja ini perjaka.." Goda Agnes.


"Berisik Nes.." Ujar Bevan.


"Sensi amat lu. Belom ketemu pasangan ya?" Ujar Agnes meledek.


"Belom nih.. Mana minggu depan ga bisa ketemu.." Pungkas Bevan.


"Yailah.. Tinggal samperin ke rumahnya, Be. Suka Drama deh Lu!" Ujar Agnes.


"Iya sih.." Sahut Bevan.


"Lagian status lu sama Nisya gimana sih? Kemaren gua liat Update-nya lu dateng ke acara keluarga nya Nisya.. Lu udah jadian yaa??" Tanya Agnes bingung.


"Belom Nes.. Belom gua tembak, belom gua apa - apain.. Cuman deket aja.." Jawab Bevan.


"Lah.. Udah sedeket itu? Itumah lu Tembak juga diterima langsung, Be.." Pungkas Agnes.


"Masih nunggu waktu gua Nes." Jelas Bevan.


"Yah.. Kelamaan, kalo gua jadi lu. Mumpung jam kosong nih, gua ke kelasnya terus gua tembak sih.." Ucap Agnes sambil beranjak meninggalkan Bevan.


Bevan pun terdiam dan mulai memikirkan perkataan Agnes.


Robi pun datang menghampiri.


"Woi! Bengong lu. Kesambet aja, gua yang Repot.." Ujar Robi mengagetkan.


"Nah kebetulan ada lu." Ucap Bevan. "Sini Duduk.." Ajak Bevan sambil menunjukan tempat Kosong.


"Kenapa?" Tanya Robi.


Bevan pun menjelaskan kondisinya, ditambah tentang ucapan Agnes sebelumnya dan meminta pendapat Robi.


"Bener Agnes sih, Be.. Lu datengin kelasnya, lu ajak ngobrol deh.." Jelas Robi.


"Yaudah kalo lu bilang gitu.. Ayo!!" Ucap Bevan sambil berdiri.


"Heh?" Robi bingung.


"Ikut gua ke kelas Nisya.." Ajak Bevan.


Robi terdiam makin kebingungan.


"Yehh.. Malah bengong, dikata gua pisang.. Ayo ikut gua, ada Rani juga kan disana.." Ucap Bevan.


Bevan pun menarik Robi agar ikut dengannya. Kelas Nisya berada di Lantai Tiga. Sementara kelas Bevan berada di lantai dasar atau Lantai Satu.


Sampai lah Bevan di lantai 3.


"Heh bangsat! Kenapa gua harus ikut sih?" Tanya Robi.


"Ya.. Biar gua ga sendiri lah." Jawab Bevan.


"Terus gua ngapain kalo lu berdua sama Nisya??" Lanjut Robi bertanya.


"Kan ada Rani.." Ucap Bevan.


Robi terdiam karena kesal dengan jawaban Bevan yang tidak menjelaskan apa - apa.


Bevan pun berjalan menuju depan kelas Nisya dan duduk di kursi depan kelas Nisya.


"Ngapain?" Tanya Robi.


"Duduk lah.." Ucap Bevan.


"Be, mending berantem sama gua yu.." Sahut Robi kesal.


"Yaelah Bi. Sabar dulu.. Ikutin alurnya.." Jawab Bevan.


"Nyesel gua ngasih saran.." Ucap Robi.


"Ahh.. Penyesalan dateng terakhir Bi." Sahut Bevan.


Tak lama Bevan dan Robi duduk, datang lah Hengki dari dalam kelas.


"Eh Be, ngapain di sini?" Tanya Hengki.


"Nah kebetulan lu kesini.." Ucap Bevan. "Mau bantuin gua ga?" Tanya Bevan.

__ADS_1


"Bantu apa?" Hengki balik bertanya.


"Panggilin Nisya sama Rani, bilang dipanggil Guru gitu di depan." Jelas Bevan.


Robi hanya menatap tajam Bevan.


"Emang bener dipanggil Guru??" Tanya Hengki Penasaran.


"Banyak Tanya kaya tukang Nanas lu.. Udah bilang aja ke Nisya.." Ucap Bevan.


Hengki pun kembali ke dalam kelas untuk memanggil Nisya dan Rani. Tak lama Hengki pun kembali keluar.


"Udah. Tunggu aja.." Ucap Hengki sambil meninggalkan Bevan.


Bevan dan Robi pun menunggu, Bevan pun menuju kursi di sudut ujung Lantai 3.


"Be, ngapain?" Ucap Robi dengan nada Rendah.


Bevan tidak menjawab hanya memberi kode.


Datang lah Rani dan Nisya ke depan Kelas.


"Lah? Mana gurunya? Malah ada Robi disini?" Gumam Rani.


"Lu cari guru? Tuh di pojokan." Ucap Robi.


"Itu mah Bevan.." Sahut Rani.


Nisya pun mulai mengerti maksud dari perkataan Hengki dan mulai menghampiri Bevan.


"Sya.. Kita kan dipanggil Guru, ngapain kesana?" Ucap Rani.


"Udeh.. Bawel, lu tunggu di sini aja sama gua." Sahut Robi sambil menarik tangannya.


"Tapi Bi, nanti Gurunya nunggu gimana?" Tanya Rani.


"Iya nggak apa - apa. Gurunya baik kok." Jelas Robi.


Bevan yang sedang duduk di pojok lantai 3 pun tak menyadari Nisya menghampiri. Nisya pun menepuk pundaknya.


Bevan pun terkaget dan menoleh ke belakang.


"Astaga.. Ngagetin banget dah lu.." Ucap Bevan.


"Ngapain ke atas? Segala bilang aku dipanggil guru." Tanya Nisya.


"Ya.. Gua mau samperin lu lah.. Ngapain lagi" Ucap Bevan.


"Ada perlu apa?" Tanya Nisya sambil duduk di kursi.


"Inget ga gua pernah bilang lu harus nurutin permintaan gua.." Ujar Bevan.


"Kemaren, di Rumah aku. Sebagai ganti kamu nolongin aku.." Jelas Nisya.


"Yaudah kamu mau apa?" Tanya Nisya.


Bevan pun terdiam, seraya otaknya menyusun kata - kata.


"Gapapa bilang aja, apapun itu selagi aku bisa.." Pungkas Nisya.


Bevan pun menghela Nafas dan duduk di samping Nisya.


"Gini sya.. Gua sebenernya sedikit bingung, gimana bilangnya.." Ucap Bevan.


"Yaudah be tinggal bilang aja. Asal jangan yang terlalu sulit." Sahut Nisya.


"Gua sebenernya ngga minta apa - apa sih sya, gua cuman minta lu jadi pacar gua aja.." Pungkas Bevan.


Nisya pun terdiam mendengar permintaan Bevan.


"Gak apa - apa. Gausah di jawab sekarang, kalo emang lu masih bingung." Jelas Bevan. "Dan kalopun lu gak mau, ya gak apa - apa juga." Lanjut Bevan.


Bevan pun bangun dari duduknya dan hendak beranjak pergi, namun Nisya menarik tangan Bevan dan menyuruhnya Duduk kembali.


"Sejujurnya itu bukan permintaan yang gampang, " Ucap Nisya. "Tapi, aku juga sebenernya kepikiran terus hubungan kita tuh apa sih.. Ditambah pertanyaan dari anak - anak juga.." Lanjut Nisya.


"Jadi?" Tanya Bevan.


"Jadi aku besyukur kamu mau ngelurusin status ini." Ucap Nisya.


"Iya.. jadi apa jawabannya?" Tanya Bevan penasaran.


"Jawabannya.. Aku Jawab nanti pulang Sekolah." Pungkas Nisya.


Nisya pun beranjak pergi kembali ke dalam Kelas, meninggalkan Bevan, yang terdiam.


"Sya.. Gurunya gimana?" Tanya Rani.


"Udah pulang. Gak jadi manggil." Jawab Nisya menarik Rani masuk Kelas.


Bevan pun pergi.


"Ayo Bi.." Ajak Bevan lemas.


"Lu kenapa? Ditolak?" Tanya Robi.


"Gua udah berharap. Responnya udah Bagus. Tapi.." Ujar Bevan.


"Tapi apa?" Tanya Robi penasaran.


"Tapi jawabannya pas Pulang sekolah. Anjing, Bi!!" Pungkas Bevan.


"Yaelah Be, gua kira lu ditolak." Sahut Robi.

__ADS_1


"Ya tapi kan.. Gua udah semangat sama jawabannya. Masa gua harus nunggu lagi.. Brengsek.." Gerutu Bevan.


"Tinggal tunggu aja pulang sekolah di Warung Bunda." Jelas Robi.


Jam pulang sekolah pun tiba. Mereka semua berkumpul di Warung Bunda, yang merupakan tempat biasa mereka nongkrong pada saat jam pulang Sekolah.


Bevan pun masih terdiam di Gazebo sambil menantikan Jawaban. Dandi dan Robi yang melihat Sahabatnya tidak se aktif biasanya pun berinisiatif menghibur.


Dandi dan Robi pun menghampiri dengan membawa Kopi Hitam kesukaan Bevan.


"Udah lah Be, gak usah dipikirin. Pasti diterima kok." Ucap Dandi.


"Hmmm..." Gumam Bevan mengiyakan.


"Nih. Kopi dulu dong biar ga tegang.." Pungkas Robi sambil memberi Kopi.


Bevan pun mengambil Kopi dan Meminumnya.


"Masa Kopi doang. Nih Rokok nya juga dong.." Ucap Dandi.


Bevan mengambil sebatang Rokok dan membakarnya.


"Nah gimana sekarang?" Tanya Robi.


"Gini.. Kadang gua ngerasa bersyukur.. Kadang juga ngerasa kaya, kok gua punya sahabat brengsek juga ya.." Ucap Bevan.


Dandi dan Robi terdiam kebingungan dengan maksud kata - kata Bevan.


"Iya.. Gua kan lagi nunggu Jawaban yah, bukan lagi putus Cinta. Kenapa lu berdua berbuat, seolah - olah gua putus Cinta.. Emang brengsek lu berdua.." Lanjut Bevan.


"Ya.. Abisnya lu kaya yg baru nembak cewe aja.." Ucap Dandi.


"Kalo di gantung gini sih baru, Dan. Biasanya mah langsung ditolak kan.." Pungkas Bevan.


Dandi dan Robi pun tertawa mendengar jawaban Bevan.


Sedang Asyiknya berbincang, datanglah Geng Dewi. Dandi dan Robi yang melihat itupun langsung menghampiri Dewi dan Rani. Sementara Nisya langsung menghampiri Bevan.


"Be..?" Sapa Nisya.


"Hmm... Gimana?" Ucap Bevan.


"Gak di sini ya.." Ucap Nisya.


"Terus?" Tanya Bevan.


"Anter aku Pulang dulu.." Jawab Nisya.


Bevan pun beranjak dan memarkirkan Motornya, bersiap mengantar Nisya Pulang. Selama Perjalanan mereka tak berbincang banyak. Nisya pun merasakan hal itu.


Sesampainya di Rumah Nisya. Nisya pun turun dari Motor Bevan.


"Matiin dulu motornya." Ucap Nisya.


Bevan pun mematikan motornya.


"Makasih dan maaf udah bikin kamu nunggu. Kerasa Canggung banget deh tadi.." Ucap Nisya.


"Iya, tapi situasinya bisa berubah tau. Tergantung jawaban Lu tapi.." Sahut Bevan.


"Iya aku tau kok, mau sekarang aku jawab?" Tanya Nisya.


"Sya.. Jangan bikin gua nunggu lagi. Apa pun jawabannya ga akan ngerubah sikap gua ke lu.." Jelas Bevan.


"Yaudah aku bakal menuhin permintaan kamu." Jawab Nisya sambil tersipu malu.


"Hah? Apa?" Bevan berusaha meyakinkan.


"Jawabannya iya.." Ucap Nisya.


Bevan turun dari motornya dan memegang pundak Nisya.


"Iya?" Tanya Bevan berusaha meyakinkan lagi.


"Iya.. Jawabannya iya.. Aku mau jadi pacar kamu.." Jelas Nisya.


Bevan pun memeluk Nisya dan mengangkatnya, seraya mengungkapkan Rasa bahagianya.


"Makasih Sya.. Gua gak akan ngelupain moment ini.." Ucap Bevan.


Nisya hanya tersenyum.


"Tapi. Inget.. Jangan keseringan Berantem, kalo bisa jauhin lah. Beberapa bulan lagi kelulusan juga kan." Pungkas Nisya.


"Tenang aja, Beb.. Sebisa mungkin gua jauhin hal kaya gitu.." Ucap Bevan.


"Yaudah aku masuk dulu yah.." Pamit Nisya.


Bevan terdiam tak menjawab.


"Kenapa?" Tanya Nisya.


"Pamit doang? Gamau apa dulu gitu? Ini pipi masih kering.." Ujar Bevan memberi Kode.


Nisya pun mendekat ke Bevan.. Lalu, memberi Tamparan.


"Belom juga sejam jadian. Udah minta yang aneh - aneh." Ucap Nisya kesal.


Bevan terdiam kaget sambil mengusap pipinya.


"Anggap aja itu tamparan sayang. Aku pamit.." Ucap Nisya sambil berbalik meninggalkan Bevan.


"Mana ada orang nunjukin kasih Sayang, dengan cara Nampar. Suka aneh Cewe satu ini.." Gerutu Bevan.

__ADS_1


Bevan pun kembali naik ke Motornya, memutar balikkan motornya dan Meninggalkan Rumah Nisya dengan perasaan Bahagia.


__ADS_2