Be My Girl

Be My Girl
PART III


__ADS_3

Keesokan Harinya. Bevan yang sudah dua kali gagal untuk mendapatkan nomer Handphone Nisya serta gagal mengajak Nisya untuk pulang bareng, kembali menjalankan misinya.


Sepulang Sekolah Bevan pun Berencana untuk menghampiri Nisya, Lagi.


"Pokoknya hari ini kalo ngga bisa pulang bareng, setidaknya dapetin nomornya" Ungkap Bevan bersemangat.


"Nomer apa?" Tanya Dandi.


"Nomer BH." Celetuk Robi.


"Dih.. Baru juga ngobrol bentar, udah berani - beraninya lu, Be" Tegur Dandi


"Ya nomer HP dong.. Masa Nomer BH, emang gua Cowo apaan." Jawab Bevan


"Lah, kemaren lu di Halaman Depan ngapain aja? Masa belom dapet juga nomer HP nya? Bego banget" Pungkas Dandi.


"Ciuman lah, iya ga Be?" Celetuk Robi bergurau


"Asal ngoceh aja lu, bangsat. Ya ngga dong Bi. Masa di Halaman.." Jawab Bevan kesal.


Tak lama berselang. Terlihat dari kejauhan Nisya yang sedang duduk sendirian menunggu teman - temannya.


"Eh itu Nisya, gua usaha dulu ya. Bye!" Pungkas Bevan.


Bevan pun pergi menghampiri Nisya dan meninggalkan kedua Sahabatnya.


"Mau Taruhan lagi?" Ajak Dandi.


"Yang kemarin aja gagal." Jawab Robi.


"Yaudah berarti kita ulang lagi." Lanjut Dandi.


"Yaudah. Kalo dia berhasil bayarin gua." Robi menjulurkan Tangannya.


"Deal." Dandi menjabat tangan Robi.


Bevan pun sampai dan berdiri tepat di samping Nisya, yang sedang duduk.


"Ehem.. Hai Nisya.." Sapa Bevan.


"Eh Bevan. Duduk sini." Sahut Nisya.


Bevan pun duduk disamping Nisya.


"Tumben sendirian?" Tanya Bevan membuka percakapan.


"Iya nih, tadi temen - temen aku udah pulang duluan." Jawab Nisya


"Oh.. Kasian juga ya lu ditinggalin." Gurau Bevan.


"Hehe, iya nih. Abisnya Abang aku lama sih jemputnya." Ungkap Nisya.


"Kayaknya Abang lu lagi sibuk deh. Mau gua anter pulang aja ga?" Pungkas Bevan menawarkan Diri.


Belum sempat Nisya menjawab ajakan Bevan, tiba - tiba sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti persis di samping jalan di depan sekolah.


"Eh, itu Abang aku udah di depan. Aku duluan ya Be." Pamit Nisya.


Nisya pun bangun dari duduknya dan hendak pergi.


"Tunggu Sya.. Sebentar." Sahut Bevan sambil menggenggam tangan Nisya.


Nisya Berhenti dan berbalik.


"Gua boleh minta nomor HP lu ga?" Lanjut Bevan.


"Eh.. Buat apa?" Tanya Nisya kikuk.


"Ya.. Ya.. siapa tau besok pagi mau berangkat sekolah bareng." Jawab Bevan terbata - bata.


"Tapi besok hari minggu, Be." Ungkap Nisya.


"Oh iya? libur ya?. Maksudnya besok Senin dong Nisya.." Bevan sedikit kesal.


"Yaudah ini nomor Aku." Nisya memperlihatkan HP-nya ke Bevan.


"Ok.. Udah gua save. Nanti gua telfon ya" Pungkas Bevan.


Nisya memberi tanda Ok, sembari pergi menuju Mobil Abangnya di depan sekolah, setelah selesai bertukar Nomor HP dengan Bevan.


Bevan merasa senang dan lega karena sudah menjalankan Aksinya dengan lancar, sampai - sampai terduduk diam tak bisa berkata - kata.


Malam pun tiba, Dandi dan Robi pun berkumpul di rumah Bevan. Tidak ada acara yang spesial, hanya tradisi malam minggu biasa seperti pada umumnya.


"Gimana Be kelanjutannya?" Tanya Robi.


"Aman Bi, gua udah dapet Nomernya. Tapi gua belom berani buat mulai Chat." Jawab Bevan.


"Ngobrol langsung Gagap, tinggal Chat duluan ga berani. Lu niat ga sih?!" Dandi sedikit memarahi.


"Ya.. Nanti aja, yang penting kan udah dapet nomernya.." Sahut Bevan.


"Ah Anjing kebiasaan, lu udah dapet peluang emas. Tapi gabisa manfaatin, terus? buat apa lu minta Nomernya?!" Tegas Dandi dengan nada sedikit tinggi.


"Yaudah.. Yaudah.. Oke, gua bakal Chat dia." Tegas Bevan.


Tak lama kemudian datang lah Robi dengan membawa makanan.


"Nih gua bawa cemilan. Sikat deh." Tegur Robi.


Merasa ada yang aneh diantara kedua Sahabatnya, Robi berinisiatif memecah keheningan.


"Hening banget bro? Ada apa nih?" Lanjut Robi bertanya penasaran.


"Ga ada apa - apa, cuman sedikit kusut aja nih temen lu?" Jawab Dandi.


"Siapa Dan? Bevan? Yailah, paling manusia ini ga berani chat duluan kan?" Tanya Robi meyakinkan.


Dandi hanya menaikan alis nya tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Yaudah lah Dan, dia cuman bingung gimana buat mulai nya doang. Sisanya mah dia bisa sendiri." Pungkas Robi.


"Oke lah kalo gitu. Gua tunggu kabar selanjutnya aja. Gua percaya sama lu Be, sorry gua sedikit nge gas." Ungkap Dandi.


"Iya Dan. Gausah minta maaf, justru harusnya gua yang makasih." Sahut Bevan.


"Nah kan, gitu dong. Sekarang mending kita Ngopi dulu." Pungkas Robi mencairkan suasana.


"Yaudah gua bikin dulu. Ayo Dan bantu gua." Bevan meminta bantuan kepada Dandi.


Bevan dan Dandi pun pergi ke dapur yang ada di Lantai satu, untuk membuat Kopi dan mengambil beberapa minuman kaleng.


Sementara itu, Robi yang melihat HP Bevan tergeletak di Kasur mulai berinisiatif membantu sahabatnya yang sedang dalam masa pendekatan.

__ADS_1


15 menit Berselang, Bevan dan Dandi pun kembali dengan membawa beberapa cemilan, kopi dan minuman kaleng.


"Woi Be, lu megang Uang ga?" Sahut Robi.


"Bentar dong, gua baru sampe. Ini minuman aja belom disimpen." Ungkap Bevan.


Setelah Bevan menyimpan semua yang di bawa nya. Bevan pun menghampiri Robi.


"Kenapa Bi, masih ada kok gua simpenan, cukup lah buat malem ini." Lanjut Bevan menjawab pertanyaan Robi.


"Yaudah cepet siap - siap gih, yang rapih" Pungkas Robi memerintah.


"Wetss.. Ada apa nih? Kenapa buru - buru? Terus kenapa harus rapih?" Bevan penasaran.


"Yeh cepet, Nisya udah nungguin." Jawab Robi.


"Hah? Dimana? Kenapa ada Nisya?" Bevan makin tidak mengerti.


"Tadi gua Chat dia pake HP lu, terus gua ajak jalan, doi mau. Yaudah gih sana samperin." Jelas Robi


"Hah?! Anak Setan! Lu janjian jam Berapa nyet?" Kaget Bevan.


"Jam setengah 9, ayo cepet. Siap - siap lu!" Tegas Robi.


"Setengah Jam lagi dong?! Wah Bi, lu anjing sih!" Teriak Bevan sambil berganti Baju


Bevan pun berganti kostum, lalu bersiap - siap.


"Terus lu sama Dandi gimana?" Tanya Bevan.


"Udah aman gua jaga Rumah sama Dandi." Jawab Robi.


"Yaudah sih Be, berangkat tinggal berangkat." Tegas Dandi.


"Yaudah gua Cabut dulu. Nanti gua balik lagi." Pamit Bevan.


"Makasih nya nanti aja Be" Ungkap Robi.


Tersisa 20 menit sebelum Kencan. Bevan pun pergi sambil mengacungkan jari tengahnya kepada Robi dan Dandi.


Dengan Motor favoritnya, yang merupakan hadiah dari ayahnya, Bevan pun menuju Restoran yang dijanjikan.


Ditengah perjalanan, Nisya pun menelfon Bevan. Bevan pun menepi ke pinggir jalan da  mengangkat Telfon.


"Halo?" Sapa Bevan.


"Iya. Halo, kamu dimana?" Tanya Nisya.


"Di Jalan ini, lu udah sampe?" Ucap Bevan


"Iya aku udah di Resto." Jawab Nisya.


"Sebentar lagi gua Sampe, wait ya. Dah" Ungkap Bevan sambil menutup telfon.


"Oke, Deh.." Jawab Nisya.


Walaupun Telat 5 menit, Bevan pun akhirnya sampai di Resto yang di janjikan.


"Hai Sya? Sorry nunggu lama. Biasa malam minggu." Sapa Bevan.


"Hai Be, iya Gapapa kok. Aku lumayan seneng nunggu kok." Jawab Nisya.


"Lu udah pesen?" Tanya Bevan.


"Cukup Sweet. Yaudah ayo pesen." Ungkap Bevan.


Bevan pun memanggil pelayan untuk memesan sesuatu.


Malam itu mereka makan dan bercengkramah di restoran itu. Tanpa disadari waktu sudah menunjukan jam 10.00 malem


"Jam 10 nih. Mau pulang?" Tanya Bevan.


"Ohiya jam 10. Ayo kita pulang" Ajak Nisya.


"Yaudah lu siap - siap aja dulu. Biar gua yang bayar." Ungkap Bevan.


"Gapapa Be?" Pungkas Nisya.


"Iya Gapapa. Gih, siap - siap dulu sana." Pinta Bevan.


"Yaudah kali ini kamu dulu, nanti next time aku yang bayar." Ungkap Nisya.


"Iya terserah lu." Jawab Bevan.


Setelah Bevan membayar, mereka pun beranjak pergi meninggalkan Restoran itu.


"Jangan lupa, Kasih tau gua Jalan ke rumah lu ya. Gua bukan Google Maps." Ungkap Bevan.


"Iya Tenang aja Be, pasti aku kasih tau." Jawab Nisya.


Ditengah perjalanan Bevan dalam mengantar Nisya ke rumahnya, mereka lanjut berbincang santai, walaupun diterpa angin malam yang kencang


"Bisa ga kita ke tempat lain dulu?" Pinta Nisya.


"Hah? Kenapa?" Tanya Bevan Penasaran.


"Ga kenapa - kenapa cuman pengen nikmatin malem minggu aja." Jawab Nisya.


"Ya kalo gua mah bisa aja. Tapi kan Orang tua lu? Gimana?" Ungkap Bevan.


"Tenang aja, aku udah bilang sama Bunda, kalo bakal pulang telat. Ini juga aku bawa Kunci Rumah cadangan" Jelas Nisya.


"Oke.. Yaudah kemana kita sekarang?" Tanya Bevan.


"Emmh.. Sebenernya, Aku juga gatau sih harus kemana." Jawab Nisya.


"Astaga. Yaudah lah." Timbal Bevan.


Hampir 30 menit berkendara dengan tanpa tujuan. Bevan pun memutuskan untuk menepi dan Sampai lah mereka di Minimarket 24 jam, di pinggir jalan.


"Oke, ayo turun." Ajak Bevan.


"Be? Ini kan Minimarket. Depan rumah aku juga ada." Ungkap Nisya.


"Ya abis, setengah jam muter - muter doang. Gaada tujuan, cuman ngabisin bensin." Jelas Bevan. "Emang lu pikir gaperlu nyemil atau minum?" Lanjut Bevan.


"I.. Iya juga sih." Jawab Nisya.


"Yaudah. Ikut masuk ayo." Ajak Bevan.


Mereka pun masuk kedalam Minimarket, mereka pun membeli beberapa cemilan dan minuman. Lalu mereka keluar, alih - alih melanjutkan perjalanan. Bevan memilih duduk didepan Minimarket.


"Kok malah duduk sih Be?" Tanya Nisya.

__ADS_1


"Istirahat dulu kali Sya, ya.. lu enak duduk doang, gua kan supir." Pungkas Bevan.


"Iya juga sih. Yaudah deh." Jawab Nisya.


"Yaudah sini Duduk samping gua." Ucap Bevan.


Akhirnya Nisya pun Duduk di samping Bevan, mereka pun berbincang sedikit tentang malam itu, sambil bercanda - canda.


"Disini juga enak, kalo lu mau nikmatin malem doang mah." Pungkas Bevan.


"Iya sih, cuman gaada pemandangan yang bisa di nikmati Be." Timpal Nisya.


"Lah, itu ada tukang parkir, mobil sama motor lewat, itu bukan pemandangan gitu?" Jawab Bevan seraya bergurau.


"Ihh.. Bukan pemandangan yang kaya gitu, maksud aku." Jelas Nisya sedikit ketus.


"Gini loh Sya, kalo mau nikmatin malem tuh bukan tentang pemandangannya. Tapi tentang dengan siapa kita menikmatinya." Pungkas Bevan. "Di kamar berdua dengan orang yang kita cinta pun, Bisa disebut menikmati malam. Apa coba pemandangan di dalem kamar? Selain saling berpandangan." Lanjutnya.


"Iya juga sih, kalo gitu mah." Jawab Nisya.


"Lu tuh bukan pengen menikmati malem, lu cuman butuh temen ngobrol doang kan?" Tanya Bevan.


"Iya sih Be, aku tuh pengen punya temen ngobrol aja.. Abisnya dirumah ngga bisa ngobrol. Apalagi malem minggu." Jelas Bevan.


"Yaudah, lu ceritain aja ke gua. Gua bukan pemberi saran yang baik, tapi kalo lu butuh pendengar, gua bisa kok jadi pendengar yang baik." Tegas Bevan.


Didepan Minimarket 24 jam, ditemani suara mobil dan motor yang lalu lalang. Nisya bercerita panjang lebar, sementara Bevan mendengarkan cerita itu dengan seksama.


Semakin malam semakin terasa intim antara keduanya. Bevan pun merasa sudah terlalu larut, karena jam sudah menunjukan pukul 12 tengah malam.


"Sya, kayaknya Cerita lu harus dibikin 2 Part deh. Soalnya udah jam 12 juga ini." Ucap Bevan.


"Ohiya astaga, aku keasyikan cerita." Pungkas Nisya terkaget.


"Gapapa kok, gua ngerti rasanya. Yaudah ayo kita pulang." Ajak Bevan.


Mereka pun segera beranjak pulang.


"Inget. Kasih tau gua jalan-nya." Pesan Bevan.


"Iya tenang aja." Jawab Nisya.


Perjalanan malam itu cukup memakan waktu, diperjalan mereka masih berbincang - bincang ringan tentang apa yang mereka rasakan malam itu.


Tak lama kemudian sampailah di dekat rumah Nisya


"Yang mana rumahnya?" Tanya Bevan.


"Disini aja ngga apa - apa kok." Jawab Nisya.


"Serius Sya.. Kasih tau aja." Paksa Bevan.


"Yaudah.. Itu yang gerbang warna item." Jelas Nisya.


Bevan pun mengantarkan sampai kedepan Gerbang rumahnya. Nisya pun kemudian turun dari Motor Bevan.


"Makasih yah, Be. Udah mau dengerin cerita aku." Pungkas Nisya.


"Kaga sya.. Gua yang harusnya bilang makasih. Udah mau nerima ajakan egois gua." Jawab Bevan.


"Yaudah aku duluan masuk ya, Be." Pamit Nisya.


"Yaudah gih. Gua juga mau pamit. Udah malem juga. Daahh.." Balas Bevan Pamit.


Nisya pun masuk kedalam Rumahnya dan Bevan memutar balikan Arah Motornya dan meninggalkan Rumah Nisya.


Bevan pun merasa berhasil hari itu. Senyum pun menghisasi wajahnya selama perjalanan ke Rumah.


Baru sampai setengah perjalanan kerumah, tiba - tiba Telfon berdering. Bevan pun menyisi ke bahu jalan dan mengangkat Telfon nya.


"Halo." Sapa Bevan


"Woy.. Beli yang enak - enak Be." Sahut Dandi.


"Apaan tuh?" Tanya Bevan.


"Terserah." Jawab Dandi sambil langsung menutup panggilan Telfon.


Bevan pun terdiam bingung sambil menatap HP-nya.


"Gajelas Bangsat!" Bevan sambil mematikan HP-nya dan memasukan kedalam Kantung Celana.


Karena dalam keadaan hati yang sedang Senang. Bevan pun berfikiran membeli beberapa Minuman tambahan untuk menemani sisa Malam bersama Sahabatnya, seraya merayakan keberhasilannya.


Sesampai nya dirumah, ia langsung menuju kamarnya.


"Hello Guys..." Sapa Bevan sambil membawa beberapa oleh - oleh.


"Seneng banget nih kayaknya." Celetuk Robi.


"Seneng lah. Dapet banyak dia. Gimana? Enak Goyangnya?" Tanya Dandi.


"Ya, kaga langsung dong Dan. Orang baru sekali Jalan, lagian kan kaga bawa pengaman dia." Jawab Robi.


"Emang Brengsek lu berdua! Gua ngga sebejad itu, kalo baru deket. Gatau kalo udah lama." Sahut Bevan.


Sedang asiknya mereka bercanda. Bevan pun bangkit dari duduknya sambil membawa sebotol minuman, lalu menuju ke arah Balkon kamarnya.


Memandang langit malam sambil tersenyum. Malam itu mungkin menjadi Malam yang berkesan dan akan selalu diingat oleh Bevan, dimana kejadian berawal dari ketidak sengajaan yang berujung menghabiskan waktu dengan wanita impian.


Sedang asyik - asyiknya menikmati Malam. Tiba - tiba, sebuah bungkus rokok terbang kencang mengarah ke Kepala Bevan.


"ANJING!!" Bevan terkaget.


"Woy!! Kesambet lu senyum - senyum sendiri.." Teriak Dandi.


Dandi pun menghampiri Bevan.


"Udah lah, Be. Ceritain aja, masa susahnya aja yang lu ceritain. Senengnya juga dong" Pungkas Dandi.


"Iya, Dan. Nanti gua cerita. Lagian Robi belum kesini." Jawab Bevan.


"Ada dia, lagi ke kamar Mandi sebentar." Ucap Dandi.


Tak lama mereka berbincang, Robi pun menghampiri mereka berdua, di Balkon kamar.


"Oke.. Oke.. Gimana.. Gimana??" Tanya Robi.


Bevan pun menceritakan semuanya kepada Dandi dan Robi, sampai tak sadar, udara dingin mulai menyerang tubuh.


"Geser yu kedalem." Ucap Dandi.


Akhirnya mereka bergeser tempat, kedalam kamar. Saking serunya Bevan bercerita dan saking nikmatnya kedua sahabatnya mendengarkan, tanpa sadar jam sudah menunjukan setengah 4 pagi. Mereka pun terkapar setengah jam Kemudian.

__ADS_1


__ADS_2