
Keesokan Harinya. Saat jam istirahat Sekolah Bevan, Dandi dan Robi berkumpul di tempat biasa, di kantin.
"Yah Be, dapet kenang - kenangan." Ucap Robi bercanda
"Najis. Mana coba gua liat jidat lu." Pungkas Dandi menghampiri sambil tertawa.
"PLAK!!" Dandi menampar tepat pada Luka Bevan.
"Anjing! Sakit brengsek!" Teriak Bevan sambil memegang Jidatnya.
Dandi dan Robi pun tertawa melihatnya.
"Gua sama Robi aja kaga dapet kenang - kenangan. Lemah banget lu Be." Pungkas Dandi sambil tertawa
"Ya soal lecet jangan samain gua sama lu berdua." Jelas Bevan
Dandi dan Robi terus menjadikan Bevan sebagai bahan bercandaan.
"Ah Anjing gua ngga bisa ngasih alesan lagi. Mau bilang lawan gua lebih gede. Tapi ya ngga bikin sembuh juga." Ucap Bevan kesal.
"Iya be, udah terima aja. Tapi salut juga lu menang." Sahut Robi sambil tertawa.
"Lagian lu mah kebiasaan sih Be, kalo berantem terlalu pasang badan. Berasa kuat." Ucap Dandi.
"Ya abis gua ngga lincah kaya Robi, ngga jago dominasi kaya lu, gua cuman bisa ngandelin Adrenaline Rush aja." Jelas Bevan.
"Bangsat.. Mentang - mentang kalo lagi Adrenaline Rush jadi ga berasa, mau ketampol segimana juga." Ucap Robi sambil tertawa mendengar jawaban Bevan.
Sedang asyiknya mereka bercanda, datang lah Ucup menghampiri.
"Nah loh Be, Ucup aja cuman lecet sedikit." Ucap Dandi.
"Mata lu! Nih gua kasih liat." Jawab Ucup sambil menggulungkan seragamnya.
"Anjing! Bisa gitu Cup?" Tanya Dandi kaget.
"Ya abis. Nempel ditembok yang baru disemen, kan kaga Rata itu tembok." Jelas Ucup.
"Ngeri juga lu. Kaya kegores sajam gitu luka-nya." Pungkas Robi.
"Udah.. Udah.. Gapenting soal Luka. Yang penting menang coy!" Ucap Bevan.
"Yeee.." Sahut Dandi dan Robi sambil kembali menepuk Jidat Bevan.
Mereka pun tertawa - tawa dan bercanda - canda meski bekas luka belum pulih sempurna.
Tak lama kemudian datanglah kelompok Dewi menghampiri.
"Alah.. Kambing conge lagi gua. Udah ah gua cabut dulu, laper gua." Pungkas Ucup.
Ucup pun pergi meninggalkan Bevan dan yang lainnya
"Hai Guys." Sapa Dewi.
"Eh Dew." Sahut Dandi.
"Dan, beli makan yu." Ajak Dewi.
"Yaudah ayo. Kebetulan gua belom makan." Jawab Dandi.
Dandi dan Dewi pun pergi membeli makan.
"Sya kamu tunggu disini ya. Aku beli minum dulu." Ucap Rani.
"Eh Ran, sekalian dong nitip." Ucap Robi.
"Gamau ah. Kalo mau kesini aja." Jawab Rani.
"Ah elah. Tau gua males gerak." Gerutu Robi.
"Nitip Bi." Ucap Bevan.
Robi pun mengacungkan jempolnya, sambil berlari mengejar Rani.
Tersisa Bevan dan Nisya, berada di Meja Pojok Kantin.
"Sini Sya duduk. Berdiri mulu kaya tihang listrik." Ucap Bevan.
"Iya Be." Jawab Nisya sambil duduk disamping Bevan.
"Eh muka kamu kenapa Be?" Tanya Nisya.
"Ah? Biasa Sya, bekas Olahraga." Jawab Bevan sambil bercanda.
"Olahraga apaan yang bikin jidat sobek gitu?" Tanya Nisya Penasaran.
"Olahraga Otot." Jawab Bevan.
"Emhh.. Ini yang kemaren kamu tutup - tutupin.. Ini hasilnya.." Ucap Nisya.
"Eh kaga Sya. Ini mah kebetulan aja." Jawab Bevan.
"Iya tapi berhubungan kan?" Tanya Nisya meyakinkan.
"Ya.. Begitulah." jawab Bevan.
"Udah diobatin belum?" Tanya Nisya.
"Belom Sya, cuman dikompres doang kemaren." Jawab Bevan.
"Ih.. Nanti infeksi gimana? Kebuka gitu lagi." Ucap Nisya.
"Ya abis, ga ada yang ngobatin. Biasanya ada Agnes. Cuman lagi ngga nginep dirumah." Jelas Bevan.
"Agnes? Kok bisa nginep dirumah kamu?" Tanya Nisya penasaran.
"Ohiya lu gatau ya.. Agnes tuh sepupu gua. Nenek dia sama nenek gua adik kakak." Jelas Bevan.
"Ohh gitu.. Mau aku obatin ga?" Tanya Nisya.
"Boleh. Pulang sekolah ya di Bunda." Jawab Bevan.
"Yah keburu kering dong lukanya. Sekarang aja di UKS." Ucap Nisya.
"Ribet ah kalo di UKS. Pasti ditanya - tanya." Pungkas Bevan.
"Ihh.. Yang penting ketutup dulu lukanya." Sahut Nisya.
"Yaudah deh bentar. Tunggu anak - anak dulu." Ucap Bevan.
"Kelamaan. Udah sekarang aja, ayo." Pungkas Nisya sambil menarik tangan Bevan.
Nisya dan Bevan pun pergi meninggalkan kantin, belum sempat jauh dari kantin. Dandi sudah kembali membawa makanan.
"Woy Be, kemana?" Teriak Dandi Bertanya.
"Nisya kebelet." Jawab Bevan Berteriak.
"Oh.. Disekolah banget apa?" Gumam Dandi.
Sampailah Bevan dan Nisya di Ruang UKS. Ada satu orang yang berada di UKS, dia adalah Hengki, yang kebetulan anggota Palang Merah Remaja.
"Hai Hengki." Sapa Nisya.
"Hai Sya. Tumben ke UKS?" Tanya Hengki.
"Mau ngobatin Bevan." Jawab Nisya.
Hengki yang melihat luka sobek di Jidat Bevan pun terkaget.
"Astaga? Kenapa lu Be?" Tanya Hengki.
"Di cium Bencong. Nanya mulu lu." Ucap Nisya.
"Yaelah nanya doang Sya. Yaudah tuh alat - alat nya ada di meja. Kalo mau perban ada di laci." Jelas Hengki.
"Ok Ki, makasih." Jawab Nisya.
"Yaudah. Gua mau istirahat dulu. Hati - hati lu berdua di UKS. Jangan macem - macem." Pungkas Hengki.
__ADS_1
Bevan pun duduk di atas Ranjang UKS, sementara Nisya mengambil beberapa alat - alat. Seperti obat merah, perban, kain serta Air Panas.
"Sini.. Mana lukanya?" Ucap Nisya sambil memegang Kain.
Nisya pun membasuh luka Bevan.
"Pelan.. Pelan Sya.." Ucap Bevan sambil meringis kesakitan.
"Iya.. Kan ga aku teken juga." Sahut Nisya.
Setelah selesai membasuh, nisya pun mengambil Kapas dan meneteskan Obat Merah ke Kapas tersebut, lalu mengoleskan kapasnya ke luka Bevan.
"Alahh.." Bevan meringis kesakitan.
"Yaelah Be. Tahan, cowo kan?" Sindir Nisya.
"Ya.. Sejantan - jantannya Cowo, kalo luka ditetesin Obat Merah, meringis juga Sya." Jelas Bevan membela diri.
"Yaudah. Jangan manja, dikit lagi selesai." Sahut Nisya.
"Oke. Gua tahan." Ucap Bevan.
"Beres nih. Tinggal plester." Pungkas Nisya.
Nisya pun membalut luka bevan dengan Perban dan lalu menempelkannya dengan Plester.
"Mangkannya Be, ngga semua masalah di selesain pake Otot." Pungkas Nisya.
Bevan pun terkaget.
"Kok lu bisa tau kalo ini luka hasil berantem. Padahal gua tadi cuman bilang olahraga otot." Ucap Bevan.
"Ya.. Olahraga otot bagian mana yang ngorbanin jidat.." Jawab Nisya.
"Iya juga ya.." Sahut Bevan.
"Udah deh. Kita kan udah tahun ketiga, tahun terakhir di SMA ini. Kenapa masih berantem - berantem sih?" Tanya Nisya.
"Yaa.. Sebenernya gamau juga Sya. Tapi mereka duluan yang nyari masalah." Jelas Bevan.
"Hmm.. Ya itu sih tergantung cara kamu sama anak - anak ngeresponnya." Pungkas Nisya.
Nisya pun selesai mengobati luka Bevan. Memang sedikit telat sehari, namun Nisya berfikir sebelum luka itu kering dan tertutup akan banyak bakteri yang hinggap.
Mereka pun beranjak meninggalkan ruang UKS. Bevan menarik tangan Nisya.
"Makasih ya Sya." Ucap Bevan.
"Iya sama - sama. Lain kali jangan gitu lagi ya. Sayangin badan kamu." Jawab Nisya.
Mereka pun meninggalkan Ruang UKS dan menuju ke kelas masing - masing.
Setelah selesai mengikuti sisa Pelajaran, Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi dan para murid keluar kelas, sebagian dari mereka menuju Warung Bunda dan sebagian langsung pulang ke Rumah masing - masing.
Sementara itu di Warung Bunda sudah ada Bevan, Robi dan Dandi. Sementara murid lainnya masih berada di sekolah.
"Anjing. Ini bertiga banget nih? Tumben." Ucap Dandi.
"Ya.. Paling masih pada disekolah. Iseng." Jawab Bevan.
"Yaudah lah. Gua mau anter Dewi balik dulu, nanti gua kesini lagi." Ucap Dandi.
Dandi pun menyalakan motornya dan pergi mengantar Dewi pulang.
"Lu kaga anter Nisya Be?" Tanya Robi.
"Kalo dateng kesini gua anter langsung." Jawab Bevan.
"Bentar deh, status lu sama Nisya tuh, apa sih? Kok gua liatnya kaya Hubungan tanpa status gitu ya?" Lanjut Robi bertanya.
"Ya mungkin gitu Bi. Bingung juga jelasinnya." Jawab Bevan.
"Yaudah sih tembak aja Be, keburu diambil orang." Pungkas Robi.
"Belom pas waktunya" Sahut Bevan.
"Yah.. Nanti diambil orang, Galau lagi. Gua males kalo lu atau si Dandi udah Galau, cape nemenin Minumnya." Jelas Robi.
Robi pun tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Nahkan.. Diem.. Sikat bego, Rani nungguin banget tuh. Diambil orang lagi nanti." Ucap Bevan.
"Bangsat, gua dibalikin. Bales dendam lu?" Ucap Robi sambil mencengkram bahu Bevan.
Tak lama mereka berdebat kecil datanglah Rani dan Nisya.
"Nahkan.. Dateng, udah deh gua nganter Nisya dulu." Ucap Bevan.
"Yaudah gua juga nganter Rani." Balas Robi.
Nisya dan Rani pun menghampiri Robi dan Bevan yang sedang duduk di Warung.
"Hai Bunda." Sapa Nisya dan Rani.
"Eh.. Nisya.. Rani.. Panjang umur banget, baru tadi Bevan sama Robi ngomongin kalian." Sahut Bunda Itoh sambil tersenyum
"Bun.. Ah.. Bocor nih Bunda." Ucap Bevan.
"Yee.. Emang bener, kamu sama Robi tadi ngomongin mereka." Jawan Bunda.
"Emang ngomongin apa Bun?" Tanya Rani.
"Ada deh.." Jawab Bunda Itoh.
"Ih.. Bunda, maen rahasia - rahasiaan." Ucap Rani.
"Bagus Bun." Pungkas Robi sambil mengacungkan Jempol.
Mereka pun bercanda dan tertawa bersama. Bevan pun mulai memecah tawa.
"Sya.. Mau langsung?" Tanya Bevan.
"Yaudah Be, lagian juga kan ada Acara. Kamu ga lupa kan?" Jawab Nisya.
"Ya engga lah. Masa lupa.." Ujar Bevan. "Bi. Bentar ya.. Nanti gua balik lagi. Tugas negara dulu." Lanjut Bevan pamit.
"Iye ah.. Jangan Lama." Jawab Robi.
"Aman Bi." Pungkas Bevan.
Bevan pun menyiapkan motornya.
"Bun, Bevan nganter Nisya dulu sebentar, nanti balik lagi, titip Robi sama Rani sebentar ya." Pungkas Bevan.
"Iya Be, tenang aja." Sahut Bunda Itoh.
Bevan pun meninggalkan Warung Bunda.
"Ah.. Aku mau bantuin Bunda dulu deh." Ucap Rani.
"Eh.. Udah Ran, gapapa Bunda bisa sendiri kok." Jawab Bunda Itoh.
"Ngga apa - apa Bun. Sekali - kali, masa Robi terus yang bantuin Bunda." Pungkas Rani.
"Iyaudah deh kalo gitu." Sahut Bunda Itoh.
"Yaudah Ran, gua mau nyiapin Motor dulu." Ucap Robi.
"Iya Bi. Hati - Hati." Ucap Rani.
"Yaelah Ran, dari sini ke depan doang. Kepeleset juga sampe." Sahut Robi.
"Iya takutnya kepeleset Bi." Jawab Rani.
Tanpa sepatah kata dia langsung menuju motornya. Robi pun memarkirkan motornya dan tiba - tiba terdengar suara gemuruh dari ujung Gang.
Robi pun terdiam sejenak, memfokuskan pandangan ke arah ujung gang dan mencoba menerka - nerka, apa yang sedang terjadi di depan.
Robi pun kembali menghampiri Rani.
__ADS_1
"Ran. Gua mau cek depan dulu ada berisik - berisik, takutnya anak - anak. Lu diem sama Bunda dulu ya.." Pungkas Robi.
"Iya Bi. Hati - hati, jangan lama ya." Jawab Rani.
Robi pun pergi ke depan Gang, sementara itu suara gemuruh semakin terdengar jelas dan dekat. Tak lama muncul 4 orang siswa dari ujung Gang.
"Woi! Veteran lu!!" Teriak siswa itu dari ujung Gang.
Robi pun terkaget sampai terdiam sejenak. Keempat siswa itu pun langsung berlari ke arah Robi.
"Ah anjing! Lagi sendiri banget nih gua?" Gerutu Robi sambil memasang posisi bersiap melawan.
Robi pun berlari ke arah siswa di depannya dan jual beli pukulan pun tak terhindarkan.
Selama pertarungan, Robi mampu mengimbangi 2 siswa, bahkan hampir mampu menumbangkan 1 siswa lainnya. Namun 2 orang lain berada di posisi bebas dan mampu melumpuhkan Robi
Robi pun masih bertahan dan hampir menumbangkan 1 siswa dan Robi masih bisa mengimbangi mereka, karena kelincahannya.
Robi pun hampir mampu menumbangkan 2 orang dari total 4 siswa yang dilawannya, namun tiba - tiba muncul 5 siswa lainnya dari ujung Gang dan pertarungan menjadi semakin tidak adil. 9 lawan 1.
Karena sempitnya Gang, gerakan Robi semakin terbatas, ditambah Lawannya yang terlalu banyak.
"Anjing! Ini namanya gua dikeroyok!" Gerutu Robi dalam Hati.
Sementara itu. Rani mulai merasa cemas di Warung.
"Bun. Robi kok lama ya? Ditambah itu suara berisik makin deket." Tanya Rani ke Bunda Itoh.
"Iya juga ya Ran.. Sebentar deh Bunda cek Kedepan." Jawab Bunda Itoh.
Tak lama datanglah anak Bunda Itoh dari belakang Warung. Anak Bunda Itoh bernama Fikri, Fikri pun dekat dengan Anak - Anak yang nongkrong di Warung sang Ibu, dia sering dipanggil A Iki.
"Mah, ada apasih itu berisik - berisik?" Tanya Iki ke Bunda Itoh.
"Gatau Ki. Ini Mamah mau cek kedepan." Jawab Bunda Itoh.
Bunda Itoh pun berjalan kedepan Warung untuk mengecek, apa yang sedang terjadi.
Sesampainya di depan Warung, terlihat Robi sedang dipegang dan dikeroyok oleh 9 siswa tadi. Bunda Itoh pun sontak berteriak.
"KII!! IKII!! ITU SI ROBI DIPUKULIN!!" Teriak Bunda Itoh memanggil anaknya.
"Mana Mah!!?" Sahut Iki sambil berlari ke depan Warung.
Di depan Warung pun iki melihat jelas Kejadiannya, Iki pun sontak berteriak dan menghampiri mereka.
"WOY!! ANJING! BUBAR GA LU SEMUA!" Teriak Iki sambil menghampiri.
Mendengar itu, 9 siswa yang mengeroyok Robi pun kabur meninggalkan Robi dan tempat itu. Sementara Robi yang berlumuran darah, digendong dan dibawa oleh Iki ke Gazebo dekat Warung.
Melihat keadaan Robi, Rani pun menangis dan langsung menghampiri Robi ke Gazebo, sementara Bunda Itoh dengan sigap mengambil dan membawa Kotak Pertolongan Pertama.
Sementara Bunda Itoh mengobati luka Robi, Rani mengabari para sahabatnya, yaitu Dewi dan Nisya, karena mereka sedang bersama Bevan dan Dandi.
Dewi pun memberi tahu Dandi, yang sedang beristirahat dirumah.
"Dan, temen lu berantem." Ucap Dewi.
"Hah? Siapa Bevan? Mana mungkin, orang dia lagi sama Nisya, tadi di statusnya." Sahut Dandi.
"Bukan ih.. Robi.." Jawab Dewi.
"Robi? Ah.. Biarin, pasti menang dia." Pungkas Dandi.
"Kalo lawan 9 orang?" Tanya Dewi.
"Itumah Dikeroyok dong namanya." Jawab Dandi.
Dewi pun langsung menunjukan Foto keadaan Robi, yang dikirim oleh Rani, ke Dandi. Dandi yang melihat itu pun terkaget dan langsung bersiap - siap menuju Warung Bunda.
"Dew, gua ke Warung Bunda dulu ya.." Ucap Dandi.
"Iya Dan. Hati - hati.." Jawab Dewi.
Dandi pun pergi menuju Warung Bunda.
Sementara Nisya, yang baru sampai Rumah bersama Bevan. langsung memberi tahu Bevan, apa yang terjadi pada Robi.
Bevan yang mendengar kabar tersebut, langsung memutar balikkan arah motornya. Tapi tiba - tiba Nisya menarik tangannya.
"Sya.. Maaf kalo gua gak bisa nepatin janji gua, tapi ini Robi masalahnya.." Ujar Bevan meminta maaf. "Gua langsung pamit aja.." Lanjut Bevan pamit.
"Aku ikut ya?" Tanya Nisya.
"Ngapain? Nyari penyakit aja lu. Udah diem di rumah." Jawab Bevan.
"Yaudah. Inget kamu belum bener - bener sembuh. Jangan macem - macem." Pungkas Nisya.
"Iya ah.. Ga akan macem - macem. Satu macem aja udah repot." Sahut Bevan.
"Jangan bikin aku cemas lagi Be." Ucap Nisya.
Bevan pun terdiam sejenak mendengar itu dan tanpa menjawab perkataan Nisya, Bevan langsung mengangkat tangannya, menandakan dia pamit. Bevan pun bergegas menuju Warung Bunda.
Sementara di Warung Bunda. Rani masih memangku Robi yang terkapar dengan luka sobek di sudut bibir dan jidat, yang sudah selesai dibersihkan dan diobati.
Setelah sekitar 30 menit menunggu datanglah Bevan dan Dandi, yang langsung berlari menghampiri Robi.
"Gimana bisa jadi gini Ran?" Tanya Dandi.
"Gatau Dan, tadi ada suara berisik, terus disamperin sama Robi, lama ga balik - balik, pas di cek Bunda, Robi udah dikeroyok 9 orang." Jelas Rani sambil menangis.
"Tenang Ran Tenang. Lu liat orangnya gimana? Pake seragam atau baju bebas gitu?" Tanya Bevan.
"Gatau Be, gua keluar Robi udah digendong A Iki tadi." Jawab Rani.
"A Iki? Dimana sekarang A iki?" Lanjut Bevan bertanya.
"Di belakang Warung." Jawab Rani.
Bevan pun berinisiatif pergi menghampiri Iki.
"Lu mau ke A Iki Be?" Tanya Dandi ke Bevan.
"Iya Dan, lu disini dulu aja jagain takutnya ada serangan lagi." Jawab Bevan.
Bevan pun menghampiri Iki dan langsung bertanya kronologi nya.
"Punten A, itu Robi bisa jadi gitu gimana ceritanya?" Tanya Bevan.
"Itu tadi dikeroyok Be, sekitar 9 orang lah." Jawab Fikri.
"A Iki liat jelas yang ngeroyoknya? Pake seragam atau baju bebas?" Lanjut Bevan menggali informasi.
"Tadimah baju Seragam sih Be. Tapi gak tau sekolah mana." Jawab Fikri.
"Hmm.. Gitu ya A, yaudah makasih A. Bevan langsung kedepan lagi." Ucap Bevan pamit.
"Iya Be, eh tapi, emang ada masalah sama sekolah lain Be?" Tanya Fikri.
"Gaada A. Kenapa emang?" Tanya Bevan.
"Iya, soalnya perasaan belum pernah kejadian kaya gini. Apalagi di tongkrongan." Jawab Fikri.
"Ngga kok A, ya.. A Iki tau sendiri lah. Bevan sama yang lainnya kaya gimana, kalo ada masalah sama sekolah lain pun diselesainnya di luar." Jelas Bevan.
"Iya sih. Yaudah gih sana. Hati - hati." Pungkas Fikri.
Bevan pun pergi meninggalakan Iki dan kembali menuju Gazebo.
"Dan, ke Warung dulu ikut gua." Ucap Bevan sesampainya di Gazebo.
"Oke Be." Sahut Dandi sambil mengikuti Bevan.
Sesampainnya di Warung, Bevan langsung menjelaskan kronologi lengkap, yang ia dapatkan dari Iki.
"Seragam ya? Ngga akan jauh ini mah Be, udah pasti anak Patriot." Ucap Dandi.
"Bisa jadi sih Dan. Yaudah jadinya gimana nih? Tanya Bevan.
__ADS_1
"Yaudah mau gimana lagi Be. Udah ga bisa santai gini mah." Jawab Dandi.
Bevan pun langsung mengeluarkan HP-nya dan langsung memberi kabar di Grup Tongkrongan, untuk berkumpul di Pos dekat Rumah Dandi.