
Randa terbangun dari meditasi nya, walaupun tidak se-efektif meditasi dengan duduk posisi lotus, wadah mana randa sudah penuh saat menyentuh jam makan siang termasuk satu kepala hydra nebula.
Di jam waktu istirahat seperti biasa randa langsung kekantin membeli teh dingin tapi ada sedikit perbedaan kali ini, ia diikuti oleh seseorang, ya dia adalah Rin.
Saat randa duduk Rin tanpa ragu duduk di samping nya dan makan siang dengan lahap bersama Randa.
Randa sendiri tidak menggubris rin ia dengan tenang menikmati kedamaian nya dengan Teh dingin yang dimilikinya, walaupun keadaan di kantin tidak sedamai yang Randa pikirkan.
" ih itu murid pertukaran dari jepang ya? cantik bangett"
"siapa bajingan yang duduk disamping calon ku itu?!"
"sumpah bikin iri tuh cowok!"
"kok aku lihat mereka cocok ya ?"
begitulah Keributan didalam kantin yang tampak hanya berpusat pada membicarakan Randa dan Rin.
Randa sendiri merasakan aura membunuh dari siswa yang ada di kantin, dan jika tatapan bisa membunun entah sudah mati berapa kali Randa.
"jadi apa tujuan mu mengikuti ku?"
"apakah kau merasa terganggu?"
"Yah, dilihat dari sumpah serapah anak-anak SMA kita yang ditujukan padaku itu cukup menganggu. kau tau aku hanya ingin melewati masa SMA ku dengan tenang" ujar randa sambil menyeruput teh es nya
"oh benarkah? terus kenapa kau mengatakan hal tersebut saat di depan ruang kepala sekolah?"
Disaat itu Rin menatap Randa dengan tajam, semula ia hanya berbicara sambil melahap makan siang nya kini matanya hanya tertuju pada Randa.
"sejauh yang aku tau anak bernama Randa Agung bijaksana adalah siswa SMA biasa yang tinggal dengan kakak tirinya, tak ada background yang mencolok selain status perekonomian mu yang sulit, kau bahkan tidak suka budaya jepang, jadi bagaimana kau tahu tentang itu?" disini nada rin sudah tidak bersahabat, ia menatap tajam Randa memperhatikan segala gerak-geriknya
Randa tidak mengalami perubahan ekspresi ia tampak tenang ia menyeruput es tehnya.
"Wah kau benar-benar mengerjakan PR mu ya, sayangnya aku tak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaan mu, dan aku tak peduli apapun tujuan mu maupun organisasimu lakukan disini selama kau tak menyentuh kakak ku" Ujar Randa yang lalu bangkit menepuk pundak Rin
Namun saat Rin merasakan tepukan pundak Randa ia merasakan Hawa membunuh penuh darah yang dikeluarkan oleh Randa, yang nyaris membuat nya muntah, dimana ilusi itu hanya berhenti saat Randa melepaskan pundaknya.
Saat randa berjalan jauh meninggalkan Rin ia masih duduk namun dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
Sebenarnya Randa tidak mau menakuti Rin ia hanya ingin memberi peringatan. Namun karena aura membunuhnya sudah bercampur dengan kebencian para outer god yang ia bunuh membuat aura pembunuh yang di keluarkan nya terlalu poten walau hanya sedikit saat menggunakannya.
Aura membunuh sendiri berhubungan erat dengan jiwa, setiap orang yang kita bunuh serpihan emosi mereka akan menempel di tubuh kita, kegunaan aura membunuh sendiri tidak terlalu banyak selain menakuti musuh dan menjatuhkan mental orang yang lebih lemah, aura membunuh di gunakan di saat kematian untuk di adili.
sebenarnya aura membunuh akan di hapuskan di akhirat, namun sepertinya regresi Randa tidak melalui akhirat sehingga Aura membunuh nya di kehidupan sebelumnya terbawa sampai sekarang.
Tak lama setelah Randa kembali kekelas Rin pun kembali ketempat duduknya, yang membuat Randa terkejut adalah sikap tenang Rin saat melihat nya seperti tidak terjadi apapun, dan jujur Randa menghormati Rin yang masih kelas satu SMA mampu bertahan dari aura membunuhnya.
__ADS_1
Randa memberikan senyuman ramah dan menyapa Rin, dan Rin hanya membalas dengan dengusan hidung dimana dia tampak meraju akibat kejadian sebelumnya.
"sungguh gadis kecil yang menarik" ujar Randa yang masih kagum akan Rin yang alih alih takut malah berani ngambek didepannya.
ibu guru mtk pun masuk, selain guru yang kepo dengan Rin pelajaran sekolah berlanjut seperti biasanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Randa kamu di panggil kepala sekolah"
Di saat anak-anak sudah mulai pulang di arah kelas terdengar suara laki-laki yang cukup familiar saat Randa menoleh ke sana ia bisa melihat Yudi telah berdiri dengan senyuman di wajahnya.
Anak-anak kelas sendiri cukup kaget karena biasanya murid di panggil melalui mikrofon sekolah dan bukan di datangi langsung oleh ketua osis.
kejadian ini biasanya menandakan 2 hal anak tersebut mendapatkan penghargaan atau dia mendapatkan masalah.
Dan dari rumor soal Randa banyak anak kelas berasumsi yang terakhir.
"oh baiklah aku akan kesana" ujar Randa yang mengambil tas nya beranjak pergi, di saat itu juga Rin bangkit dan mengikuti Randa seperti anak bebek "kau ngapain ikut?" ujar Randa kebingungan.
"huh sayangnya aku tak punya kewajiban menjawab pertanyaan mu!" ucap Rin meniru kata-kata randa dengan nada mengejek.
"kau beneran tidak takut dengan ku?"
"kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak akan ikut campur dengan urusan ku selama aku tidak menyentuh keluargamu" sebuah senyuman meremehkan dan menantang muncul di wajah Rin seperti memprovokasi Randa
" pufttt ahahahah, entah kau tolol atau polos percaya dengan kata-kata ku semudah itu. terserah mu lah"
Randa lalu beranjak pergi namun Rin kali ini ia tak lagi mengekor tapi berjalan di samping Randa
"dia sunggu laki-laki yang menarik, lihat saja akan kubongkar semua rahasia mu!" gumam Rin dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Randa kau tau ruangan olahraga ada dimana?"
" bagian timur kelas kau lihat lorong itu? lurus simpang T belok kanan"
" bagaimana dengan ruang guru?"
" sebentar lagi kita akan melewatinya"
Selama perjalanan Rin menanyakan hal mengenai lingkungan sekolah, dan randa menjawab dengan ramah ia tampak tidak terganggu sama sekali.
Rin melakukan ini supaya bisa dekat dengan Randa, dan Randa sendiri melakukan nya karena ia agak bosan.
hal ini dikarenakan luas sekolah nya yang cukup besar, yang membuat perjalanan kaki dari kelas nya menuju kantor kepala sekolah memakan waktu 15 menit.
__ADS_1
Yudi yang sesekali mendengar obrolan mereka melihat mereka berdua penuh pertanyaan, karena agak aneh melihat Rin yang terlihat "akrab" dengan Randa yang notabane nya bukan "anak baik-baik"
Rumor Randa yang merupakan "freeman" baru di SMA nusa bangsa sendiri sudah berubah menjadi rahasia umum.
Disaat bersamaan yudim teringat dengan perkataan Randa saat terakhir kali bertemu.
Hal ini tentu membuat Yudi penasaran apakah Randa adalah seseorang yang berhubungan dengan dunia spiritual, sama seperti Rin diam diam yudi melakukan penyelidikan dengan bantuan organisasi yang mendukungnya namun latar belakang Randa "bersih" seperti orang-orang pada umumnya.
Walaupun dengan latar belakang yang bersih Randa entah kenapa terlibat dengan kejadian sekte darah(walaupun ia menjadi korban) bahkan ia juga akrab dengan anak pertukaran pelajar di hari pertama ia bersekolah.
Yang membuat Yudi semakin tertarik mengenai randa adalah ia sendiri sudah melakukan penyelidikan terhadap latar belakang Rin walaupun ia tidak mendapat banyak informasi. namun Yudi sangat yakin bahwa Rin juga berafiliasi dengan organisasi spiritual.
" aku tak menyangka kalian begitu berdua negitu akrab" ujar Yudi memancing pembicaraan.
"jika berperilaku tour guide adalah definisi akrab maka pemandu wisata sudah memiliki sahabat di seluruh pelosok dunia" ujar Randa sarkas kepada yudi.
"apakah aku membuat salah Ran? entah kenapa kau terlihat tidak suka berbicara dengan ku?"
"oh benarkah? yah mungkin benar, toh siapa yang suka mengobrol dengan orang mesum sepertimu?" kali ini Randa memberikan tatapan sinis kepada yudi yang bahkan membuat dirinya kebingungan
" apa yang kau...maksud...." wajah yudi tampak memerah.
Yudi ingin membela diri namun lidah nya terhenti , ia tiba-tiba teringat bahwa di hari pertama mereka bertemu Yudi langsung menggunakan sihir pemindaian
Ia ingat perkataan guru sihir nya bahwa melakukan sihir pemindaian sangat lah tidak sopan jika digunakan pada sesama penyihir karena target akan merasa seperti dilihat tanpa busana oleh orang asing.
Yudi kira gurunya hanya bercanda tapi ia sadar bahwa Randa benci dirinya gara gara itu, sangking paniknya ia lupa bahwa secara tidak langsung Randa mengakui ia adalah penyihir.
"Kalian ngomongin apa sih mesum mesum? jangan bilang kalian pasangan homo ya?" ujar Rin dengan mata berbinar.
Rin dari tadi memperhatikan omongan Randa dan Yudi yang cukup aneh apalagi selama ia mengobrol dengan Randa ia tahu bahwa setiap kata-kata Randa pasti memiliki arti dan melihat respon Yudi terhadap kata "mesum" membuat pikiran Rin menjadi liar.
"aku sih enggak, coba tanya ke dia si mesum"
" a!! aku melakukan nya bertujuan untuk keamanan sekolah!"
"omongkosong kau melakukannya untuk keuntungan pribadi! dasar manusia mesum minta maaf pun tidak!" ujar Randa yang membuat Yudi kehabisan kata kata, kebingungan untuk membalas.
Tak terasa mereka telah sampai di depan ruang kepala sekolah.
"uhum, randa pak kepala sekolah sudah menunggumu, Rin kau di suruh menunggu diluar"
"sudah biar saja, toh yang dibahas bukan sesuatu yang bersifat rahasia"
Yudi yang tadi ingin menahan Rin untuk masuk tidak jadi akibat interferensi Randa.
Rin tentu senang dibela randa bahkan mengejek Yudi saat ia masuk meninggalkan yudi berjaga di pintu luar.
__ADS_1
"haaah sepertinya aku harus lebih berhati hati dengan Randa" ujar Yudi menghela nafasnya.