
tak berselang lama Kristal es yang indah di tangan randa hancur menjadi serpihan debu Mana.
Randa hanya tersenyum lalu beranjak bangkit dari tempat tidur nya untuk mandi dan mengganti baju seragam SMA nya di karenakan jam waker di atas ranjangnya telah menandakan jam 7.
Setelah siap Randa menyempatkan diri untuk bercermin. Ia tampak rapi dengan baju SMA nya, wajahnya terlihat lebih cerah, berseri dan sehat.
glow up yang Randa dapatkan merupakan fenomena efek "samping" yang lumrah terjadi akibat Mana yang mengalir di seluruh tubuh melalui pembuluh darah.
Mana memberikan nutrisi murni ke tubuh dan mendorong evolusi sel menjadi lebih baik, baik dari segi regenerasi, pertumbuhan maupun penguatan.
fakta ini bergaris lurus dengan kenyataan bahwa "penyihir" erat hubungannya dengan paras yang menawan dan cantik bukan sebaliknya.
mendehem kegirangan Randa turun kelantai satu, menuju ruangan dapur dimana diatas meja makan terdapat makanan hangat yang tersusun rapi.
Tampak secarik kertas bertuliskan
"jangan lupa makan" di samping makanan tersebut
Randa tampak tersenyum, ia memakan, ayam goreng asam manis dan nasi yang masih hangat tersebut dengan lahap dan tampak beberapa air mata nya menetes.
"Rasa dari makanan ini tak pernah berubah..." ujar Randa menghabisi makanan tersebut
Randa tau betul siapa yang memasak makanan yang ada di atas meja ini. tidak lain dan tak bukan adalah kakak angkat yang paling ia sayangi Melati.
Pertemuan mereka di awali pada saat Randa berumur 10 tahun, dimana mereka bertemu di hari pemakaman orang tuanya yang meninggal akibat kecelakaan bis saat rekreasi.
Randa yang tak mempunyai kerabat dekat saat itu hanya bisa menangis di pelukan Melati yang merupakan teman satu kantor dan teman dekat dari ibu randa.
Dikarenakan Randa tidak memiliki wali yang bisa menjaga nya akhirnya melati dengan iklhas mengadopsi randa.
Melati sendiri berumur 19 tahun saat mengadopsi randa, banyak lika-liku yang mereka lewati bersama dan menjadi sebuah cerita dan pengalaman yang membuat Randa dekat dengan melati.
Setelah selesai makan Randa langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring.
menyisakan makanan di atas meja tak terlintas dipikiran nya karena ia tahu biasanya, pagi hingga siang hari Melati akan pergi ke pusat latihan beladiri untuk berlatih, sehingga ia biasanya sudah makan siang disana.
Jarak Rumah randa menuju sekolah tidak lah jauh hanya memakan waktu 30 menit dengan berjalan kaki. Semakin randa dekat dengan SMA nya semakin ramai juga siswa-siswi SMA yang berpapasan dengan nya menuju sekolah.
" Dilarang membawa makanan dari luar sekolah!"
Randa yang baru sampai ke gerbang sekolah tiba-tiba saja di hentikan oleh seorang siswi dimana di lengan nya terdapat arm band bertuliskan Osis kedisiplinan.
__ADS_1
"sejak kapan ada peraturan dilarang membawa makan diluar sekolah? kau kira ini bioskop?"
Randa sendiri memang sedang menyedot teh kotak yang ia beli dalam perjalanannya tadi
kebiasaannya di kehidupan sebelum nya yang suka meminum teh membuatnya sedikit "ketergantungan" dengan itu.
Namun seingat Randa tak pernah ada larangan membawa makanan dari luar sekolah.
" Peraturan 03 buku tata tertib sekolah SMA Nusa bangsa mengatakan " Dilarang membawa makanan dari luar dikarenakan higienis makanan dan gizi siswa sekolah nusa bangsa telah di jamin oleh kantin sekolah!" ujar siswi tersebut tampak tegas
" haaah okay okay, 'Riri' aku gak mau punya masalah, jadi kau hanya perlu menunjukan aku tempat sampah dan aku akan membuang minuman ku" ujar Randa sambil melihat name tag siswi osis tersebut
" Tidak! kamu sudah melakukan pelanggaran! sehingga kamu harus menerima sanksi!" teriak Riri yang entah kenapa tampak kesal melihat Randa.
"bisa kah kau menurun kan suaramu? kau terdengar seperti ayam jago"
Randa tampak tertawa kecil, ia bukannya marah namun ia malah tampak gemas melihat amarah Riri yang menggunakan suara tinggi yang menurutnya mirip seperti ayam berkokok.
"kau ?! siapa namamu biar ku catat ke BK!"
"Randa, R-a-n-d-a eja nama ku dengan benar"
" Riri hentikan !" terdengar suara seorang pria dari belakang Riri, entah kenapa suara orang tersebut tampak menenangkan suasana.
saat riri dan Randa menoleh kearah suara tersebut, tampak seorang anak muda keturunan tionghoa menghampiri mereka, dari armband di lengan nya berwarna emas berbeda dari yang lain.
"Selamat pagi ketua Osis yudi!" sapa riri kepada yudi
" selamat pagi juga riri, jadi dari tadi apa yang kalian ributkan ?"
" biarkan anak ayam ini yang menjelaskan" ujar randa sambil tersenyum mengejek ke arah riri.
Riri menatap tajam Randa namun ia meredam emosinya dan menjelaskan kejadian sepele itu.
saat mendengar hal tersebut yudi tertawa terbahak bahak lalu berkata "ya sudah, randa anggap saja ini peringatan pertamamu kau boleh kembali ke kelas"
Yudi tampak tak ingin memperpanjang masalah dan begitu pula dengan Randa.
" okay makasih, sampai jumpa anak ayam, oh iya yudi..." setelah membisikan beberapa kata ke yudi randa lalu beranjak pergi.
saat Yudi mendengar kata-kata Randa dahinya sedikit mengerut, namun langsung kembali kebentuk semula dengan senyuman di wajahnya
__ADS_1
"riri tidak biasanya kau bertingkah tidak profesional seperti ini apa yang sebenarnya terjadi?" tanya yudi sambil terus melakukan kegiatan kedisiplinan.
" entah lah ketua saat aku melihatnya aku merasa sangat kesal!" ujar Riri dengan polos.
Riri sendiri tidak tau kenapa dia sangat emosional saat berhadapan dengan Randa, tapi ia yakin ada sebuah magnet yang membuatnya membenci randa apapun alasannya.
"begitu ya, aku juga merasakan hal yang sama" ujar yudi yang menatap kearah perginya randa dimana sesaat matanya tampak memberikan tatapan tajam.
kata kata Randa terasa terngiang kembali di telinga Yudi.
" rasa penasaran membunuh kucing, bocah kadal".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"aku tak pernah menyangka bahwa sekolah SMA ku menyimpan bakat penyihir..." gumam Randa yang telah duduk di kursinya.
walau kejadian di gerbang tadi hanya sebentar, tapi Randa mendapatkan sebuah informasi yang tidak ia ketahui di kehidupan sebelumnya.
Hal itu adalah kebenaran bahwa sudah ada penyihir aktif sebelum celah dimensi terbuka.
Randa bisa merasakan bahwa Riri merupakan siswi yang telah membangkitkan wadah sihirnya dan memiliki elemen api.
Gesekan energi mereka yang merupakan elemen yang saling berlawanan lah yang membuat emosi Riri tak stabil dan membenci Randa tanpa sebab.
Hal ini tidak berpengaruh dengan Randa karena pengalaman mengendalikan Mana yang ia miliki dari kehidupan sebelumnya, sehingga membuat emosinya tak berpengaruh akibat sifat mananya.
kemampuan Randa mengendalikan mananya ini juga membuat Riri tidak sadar bahwa Randa juga memiliki akar spiritual yang sangat tidak polar satu sama lain.
Dari pengalamannya Randa bisa merasakan bahwa akar spiritual Riri setara dengan miliknya namun ia tidak yakin karena menebak karakteristik "khusus" akar spiritual memerlukan teknik yang berkontak langsung dengan target, atau melihat penyihir tersebut saat menggunakan mana.
Yang membuat randa risih adalah Yudi yang ternyata juga merupakan seorang penyihir, berani menggunakan sihir pemindaian ke pada dirinya.
walaupun Randa bisa menangkalnya dengan sihir penghalang dengan mananya yang masih terbatas, namun sensasi di "telanjangi" (dari deskripsi segi sihir) dengan sihir pemindaian meninggalkan rasa pahit di mulutnya, apalagi bagi sesama pemilik akar spiritual berkembang jenis naga.
Itulah mengapa Randa memberi peringatan ambigu kepada Yudi untuk tidak melakukannya lagi dikemudian hari.
Hal yang membuat Randa aneh adalah, seharusnya orang orang yang memiliki akar spiritual adalah 200 berbanding satu, lalu yang mempunyai grade B 100 berbanding 1 dan A 1000 berbanding 1.
tapi entah kenapa sekolah yang menampung kurang dari 1000 siswa ini mampu memiliki 2 siswa yang berbakat sihir yang kemungkinan memiliki akar spiritual Setara atau diatas A.
Konspirasi macam apa ini?
__ADS_1