Belenggu Hati

Belenggu Hati
Prolog


__ADS_3

Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut legam itu. Duduk di bawah peraduan lembayung senja membuatnya tampak berkilau.


Si gadis hanya diam membisu. Tak terusik dengan angin usil yang menerbangkan surainya. Memandang air danau yang tenang dengan otak yang terus berputar.


Matahari kian condong ke barat, suhu udara mulai mendingin. Namun, gadis itu tetap pada posisinya, duduk termenung di atas rumput teki tepi danau.


Menghela napas sejenak, gadis itu mengalihkan pandangannya ke sekitar, hanya ada dirinya di sana. Kemudian, memandang jauh ke seberang danau. Tampak pemandangan gedung bertingkat dengan jalan raya yang selalu padat.


Selalu seperti itu, orang-orang terlalu sibuk dengan ego masing-masing, tanpa memikirkan ada orang lain yang membutuhkannya. Mereka terlalu buta akan situasi dan kondisi di sekitarnya. Hanya karir, derajat dan martabat yang mereka pikirkan.


Seperti halnya orang tua si gadis. Pernahkah kalian bertanya, siapa itu orang tua? Pasti kalian akan serempak menjawab, orang tua adalah sosok yang begitu tulus menyayangi anak mereka. Senantiasa mencurahkan kasih sayang dan memeluk hangat anak mereka.


Namun, berbeda dengan gadis itu, bila ditanya siapa orang tuanya, dia hanya menjawab, orang yang menghadirkannya di dunia atas kuasa Tuhan. Selebihnya dia tidak tahu, tak begitu memahami makna arti orang tua yang sesungguhnya.


Dia rindu kedua orang tuanya. Rindu yang teramat. Ingin rasa mengulang kembali ke tempo lalu. Masa di mana kedua orang tuanya memeluk hangat tubuhnya, selalu mencurahkan kasih sayang kepadanya. Ia rindu.

__ADS_1


Di saat seperti ini dia membutuhkan sandaran untuk sedikit menopang beban hidupnya. Seminggu yang lalu, mungkin ia masih memiliki tempat untuk bersandar serta mengeluarkan segala keluh kesahnya. Namun kini, orang itu telah pergi. Jauh terpisah oleh ruang dan waktu.


Kepalanya menunduk, tak sanggup lagi harus berpura-pura mengangkat kepalanya. Mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Jauh dalam lubuk hatinya dia hancur. Desakan dalam tubuhnya kian memuncak, meloloskan tangis yang sempat tertahan.


Tangisan yang terdengar pilu. Meraung-raung tanpa makna untuk menjelaskan setiap inci kesakitannya. Ya, hanya menangis yang sanggup ia lakukan.


Semakin pilu ketika potongan-potongan kenangan lalu tersebar di otaknya. Memunculkan desakan aneh yang menikam ulu hatinya.


Tepat seminggu yang lalu ia dipaksa untuk merelakan kepergian orang terkasihnya. Sanggupkah ia tetap berdiri tegar, menjalani lika-liku kehidupan di saat ia telah kehilangan salah satu cagak yang menjadi topangan ia berdiri?


......................


Selamat datang di kehidupanku. Memang tak menarik, tapi harus terus berjalan. Hidup yang awalnya bahagia berganti dengan kesedihan tak berkesudahan.


Aku lelah, hidup tanpa arah. Selalu dianggap penyebab masalah sampai tak ada lagi tempat untuk singgah. Mereka terlalu fokus kepada kekuranganku, menggunjingkan kemudian menyebarkan hal yang tak berdasar.

__ADS_1


Ya, seperti itu kebanyakan manusia. Mulutnya lebih banyak berfungsi daripada otaknya. Menyebarkan hal yang belum tentu benar tanpa memikirkan konsekuensi yang akan diterima.


Aku muak. Hidup diantara manusia yang lebih percaya dengan kalimat katanya daripada pemikiran mereka sendiri.


Bagiku, tidak masalah bila orang lain yang memerlakukanku seperti itu. Namun, kali ini keluargaku juga melakukan hal yang demikian. Lebih memercayai orang lain daripada anak mereka sendiri. 


Bagaimana perasaanmu ketika kau dituduh melakukan sesuatu yang bahkan sama sekali tidak kau lakukan? Tuduhan tak berdasar yang berangsur-angsur mengiris kewarasan.


Inginnya melangkah pergi dari rumah, tapi mengingat ungkapan 'dunia luar lebih kejam daripada rumah cukup' membuatku takut. Walaupun di rumah aku kesakitan, aku berpikir bahwa rasa sakit itu tak sebanding dengan kejamnya dunia luar yang tepat menyentuh fisik kita. Aku belum siap untuk kelaparan, kebingungan mencari tempat berteduh, dan lain sebagainya.


Di tengah kekalutanku, seseorang datang bagai sinar bulan yang menerangi gelapnya hidupku. Dia, Langit Gemintang. Laki-laki pertama yang menjadi temanku dan mengulurkan tangannya ketika aku terjatuh.


Kedatangan Langit, sedikit demi sedikit bebanku berangsur berkurang. Langit lah alasanku tersenyum kembali. Aku bahagia bisa mengenal laki-laki tampan itu walaupun hanya sebentar.


Di tahun kedua kami kenal, Langit pergi jauh meninggalkanku sendiri. Tanpa berpamitan ia meninggalkan kenangan indah yang aku lalui bersamanya.

__ADS_1


Hingga kini, sepuluh tahun setelah kepergian Langit, kenangan itu tak jua lenyap. Hatiku bahkan tertutup untuk pria lain selain Langit. Inilah hidupku, yang terus terbelenggu nama Langit di dalam hati. Laki-laki pertama yang mengantarkanku kepada arti cinta yang sesungguhnya.


~Embun Mentari


__ADS_2