
Manhattan, New York, 2021
7.56 p.m.
Setelah Embun bertemu Langit pagi tadi, kini gadis itu tampak berantakan. Pikirannya kalut memikirkan semua perkataan laki-laki itu. Mengikhlaskan pergi adalah topik sensitif Embun beberapa tahun terakhir. Baginya, melepaskan lebih sulit dibandingkan menggapai.
Angin malam menyapa, membelai halus permukaan korden membuatnya terlihat melambai-lambai. Sinar bulan menimpa, masuk ke celah teralis jendela memunculkan suasana temaram ruang persegi itu.
Di sana, di atas ranjang berselimut bed cover putih tulang seorang gadis terduduk dengan pandangan kosong. Dia Embun, sedari berjumpa dengan sosok Langit pagi tadi, ia masihlah betah di sana; tak beranjak sedikitpun dari ranjang.
Embun tak tahu harus merespon bagaimana tentang permintaan Langit tadi. Ini bukan yang pertama kali Langit memohon untuk dilepaskan. Ini sudah beribu-ribu kali yang bahkan Embun sendiri tidak dapat menghitungnya. Apakah sekarang sudah waktunya ia mengikhlaskan Langit pergi? Namun, tak dipungkiri jauh di dalam lubuk hatinya merasa berat.
Embun bingung, dia dilema. Langkah apa yang harus ia ambil?
"Kenapa Engkau memberiku jalan takdir seperti ini, Tuhan. Jujur aku muak dengan semua ini. Tak bisakah Engkau mengabulkan doaku? Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan sebentar saja, kumohon," lirihnya yang bersahutan dengan lelehan air mata.
Dia terlalu lelah akan hidupnya sendiri, karena nyatanya di dunia ini ia memang sendiri. Tak seperti dulu sewaktu Langit masih menemaninya. Dia yang menjadi alasan Embun kembali hidup disaat orang-orang yang ia sayangi meninggalkannya jauh.
"Bahkan kamu tidak muncul lagi, Langit. Apa sebegitu tersiksanya dirimu sekarang, hingga tak mau lagi menemuiku?" gumam Embun. Ya, sejak kemunculannya tadi pagi Langit tak lagi menampakkan eksistensinya. Biasanya sosok tampan itu akan selalu mengganggu Embun kapan pun itu.
"Maafkan, aku. Aku terlalu bodoh yang masih mengharapkanmu kembali. Maafkan aku yang sudah membuatmu tersiksa selama ini. Mulai sekarang ... aku akan ... melepaskanmu, Langit." Nada bicaranya semakin melemah di akhir kalimat.
Tangisnya lolos, detak jantungnya tak terkontrol. Tarikan napasnya mulai sesak, serta hatinya seperti ditikam belati. Sangat sakit untuk didefinisikan. Namun, Embun berharap keputusannya ini tidak pernah salah. Ia ingin bahagia, begitu pun ia ingin Langit tenang di alam sana sampai ia menyusulnya nanti.
"Aku harap ... keputusan ini ... adalah yang terbaik. Maafkan aku telah menyakitimu."
o0o
__ADS_1
Hari berganti, Embun terbangun dari lelapnya kala sang surya mulai merangkak naik ke atas. Dengan kondisi tubuh yang lusuh, wajah pucat dengan kantung mata hitam, serta tubuh yang terlihat ringkih, ia memaksa bibirnya melengkung ke atas.
Ia sepakat akan berubah. Menikmati hidup yang ia jalani tanpa ada beban yang membayangi. Dengan senyum yang terus terukir ia bangkit dari ranjang dan mulai menata diri. Hari ini putuskan untuk membolos mata kuliah. Ia rasa membutuhkan refreshing untuk menaikkan moodnya pagi ini.
Dering ponsel membuyarkan lamunan. Menilik sebaris nama si penelepon, nama Edward muncul di sana. Dengan cepat ia menggeser ikon hijau.
"Halo?"
"Morning Embun."
"Morning too, Ed. Why, tidak biasanya kamu meneleponku pagi-pagi?"
"Emm ... kamu ada kelas hari ini?"
Kening Embun mengerut, tidak biasanya Edward bertanya seperti itu. Aneh, batinnya. "Sebenernya ada, hanya saja aku berniat membolos hari ini. Sesekali tidak apa 'kan?"
"Tumben mengajakku duluan, biasanya kamu akan langsung menyeretku," sinis Embun.
Terdengar kekehan samar dari sepiker telepon. "Sesekali harus begitu. Jadi, bagaimana, mau?"
"Berhubung aku tidak memiliki tujuan yang pasti, aku ikut denganmu."
"Oke, aku akan menjemputmu satu jam lagi. Dandan yang cantik, Princess. Bye!"
Dengan pipi yang bersemu Embun mengakhiri obrolannya dengan Edward.
o0o
__ADS_1
Hari ini Embun habiskan untuk bersenang-senang. Bersama Edward ia pergi ke taman hiburan dan mencoba semua wahana di sana, dari yang biasa saja sampai wahana ekstrem. Ketika waktu beranjak sore, mereka memutuskan untuk singgah sebentar di festival malam untuk kulineran bersama. Sejenak beban yang membelenggunya mengudara bebas bersamaan tawa merdu yang mengalun dari bibir tipisnya sedari tadi.
"Terima kasih, Edward, sudah lama rasanya aku tidak tertawa seperti ini. Hidup bebas seperti burung yang terus terbang sana-sini. Rasanya hidupku lebih ringan, sekali lagi terima kasih." Embun tersenyum tulus di sana. Wajahnya yang ayu ditimpa sorot lampu taman dan seberkas sinar bulan semakin tampak memesona di mata Edward.
"Apa pun untukmu, Embun. Jangan ragu untuk berkeluh kesah padaku, karena sekarang aku yang akan menggantikan tugas Langit untuk terus menjagamu dan membuatmu bahagia," lirih Edward. Namun, masih bisa Embun tangkap dengan baik.
Tangan Edward terjulur, mengusak rambut legam Embun. Sorot matanya begitu teduh sejenak membuat Embun terpaku akan keindahannya. Tangannya merambat turun tepat di pipi Embun yang menirus dan diusapnya dengan lembut.
Secara tiba-tiba Edward bangkit dari duduknya lalu merendahkan badannya dan berdiri dengan tumpuan lutut di depan Embun yang masih terduduk di bangku taman. Tangan besarnya ia ajak melingkupi tangan si mungil, memberi rasa hangat. Mata birunya tak lepas menatap lekat manik kelam Embun.
"Embun, aku memang bukan yang pertama, tetapi izinkan aku menjadi yang terakhir di hatimu. Izinkan aku menggantikan tugas Langit untuk menjaga dan mencintaimu dengan segenap hati. Aku ingin menjadi alasanmu tersenyum kembali. Bolehkah?
"Jika boleh jujur, sebenarnya aku memendam perasaan padamu semenjak kepindahanku ke sini. Love at first sight (?) terdengar konyol tapi begitu adanya. Aku pun tak ingin berbohong bila rasa itu semakin lama kian membesar. Rasa ingin menjadikanmu milikku seutuhnya begitu besar. Aku pun turut merasakan sakit bila melihat dirimu meneteskan air mata. Aku tidak memintamu untuk menerimaku, aku hanya mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu tidurku. Namun, apa pun jawabanmu itu tidak akan merubah rasa sayang dan cintaku padamu. So, will you be mine, Embun?" Di akhir kata Edward menyodorkan cincin perak dengan berlian kecil menghiasi.
Embun bingung, tak tahu harus merespon seperti apa. Bagaimanapun ini terlalu tiba-tiba untuknya. Tak pernah sekalipun hal ini terlintas di otaknya. Bahkan selama ini ia hanya menganggap Edward sebagai kakak laki-lakinya tak lebih.
Haruskah ia menerimanya? Setelah selama ini ia bergantung pada Edward ia tidak mungkin mengecewakan laki-laki itu. Tidak tahu diri sekali bila ia sampai menyakiti Edward.
Apakah mungkin Edward adalah orang baik yang dimaksud oleh Langit? Lalu ia harus bagaimana? Sejujurnya ia masih belum sepenuhnya ikhlas dan menghapus nama Langit dari hatinya.
"Embun ... tidak harus seka–"
"–aku mau, Edward. Tolong bantu aku mencintaimu dan mencoba mengisi namamu di hatiku." Setetes air mata jatuh dari mata indahnya. Embun harap ini adalah keputusan yang terbaik.
"Are you serious?" Embun mengangguk ribut dengan masih berlinang air mata. Edward segera memasang cincin itu di jari tengah Embun lalu menarik gadis mungil itu ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Embun."
Di sana Embun melihat siluet Langit berdiri tak jauh darinya. Memandang Embun dengan tatapan sayu dan senyuman yang Embun sendiri tidak tahu artinya. Langit juga terlihat seperti menahan tangis tetapi wajah tampan itu terus memaksa bibirnya untuk mengulas senyum yang terlihat bahagia. Demi apa pun itu terlihat menyakitkan. Lalu secara perlahan tubuhnya mulai hilang, turut hanyut dengan sapuan angin malam.
__ADS_1
"Maaf, Langit," ucap Embun tanpa suara.