
"Adek, awas!!"
Embun menoleh ketika mendengar teriakan kakaknya. Sedetik kemudian dia jatuh terpental ke seberang jalan.
Ckitt ... duarr ...!
Decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu jelas. Disusul bunyi tabrakan yang menggelegar. Tubuh yang menabrak bemper mobil itu terpental sejauh sepuluh meter.
Brukk!
Embun menyaksikan kejadian itu dengan sekujur tubuh bergetar hebat. Lidahnya kelu, tubuhnya mematung. Tak mampu merespon kejadian yang tersaji di depan matanya. Sedetik kemudian nyawanya yang sempat melayang ditarik kembali dan menjerit sejadi-jadinya.
"Aa!" teriaknya histeris.
Tubuh yang masih bergetar hebat itu dipaksa untuk bangkit. Berjalan terseok-seok, ia hampiri tubuh sang kakak yang bersimbah darah. Tak hentinya darah mengucur deras dari hidung, mulut serta pelipis kakaknya yang sepertinya robek cukup besar. Tampaknya terjadi benturan hebat di kepala kakaknya tadi.
"Aa ... bangun!" Diraihnya kepala sang kakak ke dalam pangkuannya. Tak ia pedulikan lagi bila darah mengotori tangannya. Air matanya pun menetes tanpa permisi.
Awan tersenyum tipis melihat wajah adiknya yang begitu kacau. Dia merasa tubuhnya mati rasa, terlalu kelu untuk didefinisikan. Tubuhnya lemas, tak mampu ia gerakkan. Seakan semua persendiannya beku dan kaku.
"J-jangan ... na-nangis, A-Aa ... ngga papa," ucap Awan dengan tersendat-sendat. Demi apa pun, dadanya sangat sesak. Ibarat tertindih batu besar tak kasat mata.
"Aa bertahan, ya! Aa janji jangan tinggalin, adek?!" Tangis Embun tak kunjung reda justru semakin histeris.
"TOLONG!" Dengan terisak ia berteriak meminta tolong. Jalanan memang sepi saat ini, dan mobil yang menabrak kakaknya melarikan diri tanpa pertanggung-jawaban sedikit pun.
"TOLONG!"
Seolah semesta turut larut dalam tangisan Embun. Hujan kembali turun dengan derasnya. Dapat Embun rasakan tubuh kakaknya semakin dingin. Apalagi, mata sayu kakaknya perlahan mulai terpejam. Tidak, kakaknya tak boleh meninggalkannya!
Digoncangnya tubuh lemas si kakak. " A lihat adek! Jangan tutup matanya ... adek takut?!" raungnya.
Embun semakin panik tatkala tubuh kakaknya tak merespon perkataannya.
"A ... A Awan, bangun! ... jangan tinggalin, adek!"
......................
Di lain tempat, seorang wanita berumur sekitar empat puluhan mondar-mandir tak hentinya. Sesekali melirik jam dinding yang menggantung di tembok. Perasaannya gelisah lantaran sudah satu jam lebih kedua anaknya tak kunjung pulang.
Jedarr ...!
Petir menyambar bersahut-sahutan membuat perasaan wanita itu semakin tak menentu.
"Kenapa, Bun?" tegur si kepala keluarga---Brama.
"Bunda khawatir, Yah. Anak-anak sudah satu jam lebih tak kunjung pulang, apalagi sekarang hujan deras," jawabnya.
__ADS_1
Brama menghampiri istrinya itu, mengelus pundaknya bermaksud menenangkan. "Bunda takut terjadi sesuatu dengan mereka."
"Perlu kita susul mereka?" kata Brama. Tak dipungkiri ia juga mengkhawatirkan dua buah hatinya itu. Apalagi istrinya berkata perasaannya tak enak. Bukankah ikatan batin seorang ibu dengan anak begitu kuat?
"Ayo, Yah. Bunda ambil jaket dulu, udaranya dingin banget." Gayatri langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil jaket untuknya, suami, serta kedua anaknya.
"Sudah?" Gayatri mengangguk kemudian keduanya berjalan menuju garasi.
"Cepat, Yah! Perasan Bunda sedari tadi tidak enak, Bunda takut."
Brama yang melihat raut kacau istrinya itu meraih tangan si istri dengan sebelah tangannya yang tidak memegang setir. Bahkan istrinya itu nampak seperti ingin menangis.
"Tenang, Bun. Sebaiknya kita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak-anak!"
"Yah, itu apa? Apa mungkin korban kecelakaan?" Gayatri yang memerhatikan jalanan tiba-tiba melihat seperti seseorang terduduk di tengah jalan. "Ayo, kita hampiri!"
Brama mengangguki perkataan istrinya, kemudian mengemudikan mobilnya menuju orang tersebut.
Dari jauh terlihat dua orang terduduk di tengah jalan, dengan satu orang yang terlihat gadis memangku kepala seorang pemuda. Dalam hati Gayatri berdoa, semoga bukan anaknya.
Jarak antara mereka semakin dekat yang akhirnya mobil berhenti tak jauh dari dua orang itu. Gayatri dan Brama tak dapat mengenali wajah dua orang itu lantaran si gadis yang menunduk dan si wajah si pemuda yang tertutup wajah sang gadis yang tergerai. Namun, pakaian yang mereka kenakan begitu familiar di mata mereka.
Tergesa-gesa Gayatri dan Brama membuka pintu mobil.
"Awan ... Embun!" teriak Gayatri histeris setelah mengetahui siapa dua orang tadi. Air matanya luruh begitu saja. Rupanya ini yang membuat hatinya dihantui perasaan khawatir sedari tadi.
"Ayah ... Bunda," lirih Embun dengan masih terisak.
"Kenapa .... kenapa Awan bisa seperti ini, Embun?" tanya Brama dengan lemas.
Gayatri yang tersadar dari terkejutnya berteriak histeris. "Ayah, cepat bawa Awan ke rumah sakit!"
Brama langsung menggendong tubuh putranya yang nampak kesulitan bernapas dengan tubuh bersimbah darah itu diikuti Gayatri di belakang. Dengan segera mereka tancap gas menuju rumah sakit. Entah karena panik atau apa mereka melupakan putri bungsunya yang masih berdiri di tengah jalan seorang diri.
"Ayah ... Bunda, jangan tinggalin adek!" teriak Embun. Namun nihil mereka tak menghiraukan teriakan bercampur tangisnya.
Tabuh mungilnya ia paksa untuk berjalan. Tangisnya kian pilu bersahut-sahutan dengan derasnya air hujan. Embun begitu kecewa juga merasa bersalah kepada kakaknya itu.
Seharusnya ia tak marah pada kakaknya.
Seharusnya ia tak merengek meminta es krim di musim hujan seperti ini.
Seharusnya ia mendengarkan perkataan ibunya.
Seharusnya ia yang tertabrak bukan kakaknya.
Banyak untaian seharusnya yang membelenggu otaknya. Hatinya begitu sakit melihat orang tersayangnya harus terluka karenanya.
__ADS_1
Tin ... tin ...!
Suara klakson mobil mengejutkan Embun. Hampir saja ia tertabrak bila sang pengemudi mobil telat menginjak rem sedetik saja. Dia menyingkir dari jalan guna memberi akses mobil itu untuk melintas. Namun mobil itu tak bergerak, justru pengemudinya membuka pintu mobil dan keluar dengan berteduh payung.
"Embun?!"
Embun menoleh kemudian menatap wanita yang ternyata adalah adik ibunya. "Tante Suci."
Wanita itu menghampiri Embun kemudian memayungi tubuh mungil yang bergetar kedinginan itu.
"Kamu kenapa ada di sini? Ayah dan Bundamu baru saja mengabari Tante kalau Awan mengalami kecelakaan dan sekarang dilarikan ke rumah sakit," ucap Suci. Dia menatap keponakan yang menunduk.
"Ayo, lebih baik kita ke rumah sakit!" Suci menyeret Embun yang masih bergeming.
......................
Suci dan Embun kini telah berada di rumah sakit. Mereka berjalan berdua di lorong-lorong rumah sakit yang sepi sebab jam kunjung pasien sudah habis. Sempat tadi mereka dihadang oleh petugas di lobi karena memaksa masuk. Beruntungnya petugas tadi mengizinkan mereka untuk masuk setelah menceritakan kronologis kecelakaan Awan.
Hati Embun sedari tadi ketar-ketir tidak karuan. Rasanya ia ingin kembali menangis. Tubuh bersimbah darah kakaknya kembali memenuhi otaknya. Ini semua memang salahnya. Kekhawatiran Embun semakin menjadi-jadi saat mengetahui kakaknya berada di ICU dan samar-samar mendengar tangisan pilu ibunya.
Tepat di depan pintu masuk, Embun meraih pergelangan tangan Suci. Mengehentikan langkah keduanya. Suci paham mungkin Embun takut terjadi sesuatu kepada kakaknya. Dengan senyum lembut ia mengelus puncak kepala Embun.
"Ngga papa, Tante yakin Awan baik-baik saja," ujarnya menenangkan.
Pintu terbuka, terlihat Gayatri yang menangis meraung-raung memanggil nama Awan. Brama mencoba menangkan istrinya yang mulai hilang kendali walau tampak di wajah tegas itu setetes air mata jatuh ke pipi. Embun bingung, pikiran negatif terus menghantuinya.
Melihat ke bangsal kakaknya, di sana kakaknya berbaring dengan tenang. Tanpa merasa kesakitan sekalipun. Mungkin kakaknya baru tertidur setelah ditangani oleh dokter, begitu pikir Embun. Namun, kenapa orang tuanya menangis?
Embun melihat Suci, wanita itu kini juga meneteskan air matanya. "Tante, kenapa menangis? Ayah dan Bunda juga?" tanyanya lugu.
Bukannya menjawab, justru Suci menangis tersedu-sedu. Merasa tidak ada respon dari Tantenya, Embun menghampiri Ayah dan Bundanya.
"Bunda kenapa menangis? Kasihan Aa sedang tidur nanti terbangun," ucapnya.
Gayatri yang sedang menangis sambil memeluk tubuh dingin putranya lantas mendorong Embun yang berada di sampingnya. "Ini semua gara-gara, kamu. Gara-gara kamu Awan pergi meninggalkan kami. Kalau saja kamu tidak merengek untuk pergi ke swalayan dan mendengarkan perkataan saya, ini semua tidak akan terjadi. Saya benci sama kamu, benci!" teriaknya.
Gayatri masih tidak terima putra semata wayangnya itu pergi dengan umur yang masih sangat muda---tujuh belas tahun. Putra kecilnya, jagoan kesayangannya, harus pergi meninggalkan tanpa pamit. Hatinya hancur, ia telah gagal menjadi seorang ibu yang baik.
"Awan, bangun, Nak. Awan ngga mau peluk Bunda? Ayo bangun, Bunda sayang Awan," racaunya.
"AWAN ... BANGUN! JANGAN TINGGALIN BUNDA!" teriakan bercampur tangis Gayatri memenuhi ruang rawat itu. Suasana duka tak terelakan lagi dengan suara tangisan yang bersahut-sahutan.
Embun yang melihat Bundanya hilang kendali langsung memeluknya. Walaupun hanya tepisan kasar yang ia dapati.
"Pergi kamu. Saya tidak mau punya anak seorang pembunuh. Pergi, saya ngga mau ketemu kamu lagi!!"
Pembunuh? Hati Embun terasa dicabik-cabik ketika seorang yang melahirkannya mengatakan kata-kata yang tidak pantas.
__ADS_1
Ia sadar bahwa kini Awan tidak lagi bersamanya. Awan telah pergi. Jauh terpisahkan ruang dan waktu. Benar ini semua salahnya. Wajar bila ibunya bahkan keluarga yang lain menyalahkannya atas kematian Awan. Namun, tak bisakah mereka mencari buktinya terlebih dahulu? Tak sadarkah mereka menyakiti perasaannya?