
17 Februari, 2016
Hari ini, tepat satu tahun kepergian Awan. Keadaan tak jua berubah. Tetap menyalahkan Embun sebagai penyebab kepergiannya.
Jika keadaan dikatakan tak berubah, itu sepenuhnya tidak benar. Bahkan bisa dikatakan keadaan berubah seratus delapan puluh derajat setelah kepergian Awan.
Kini tidak ada lagi Embun si gadis periang yang setiap pagi akan bersenandung ceria ketika menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan. Tidak ada lagi senyum sehangat mentari pagi yang tersungging di bibir gadis mungil itu.
Miris, satu kata yang dapat menggambarkan keadaan Embun saat ini. Wajah manis itu berubah menjadi raut datar dihiasi kantung mata yang menghitam. Tatapan mata bulat yang dulu selalu berbinar ceria tergantikan dengan tatapan kosong tak berminat. Gairah hidupnya kini telah lenyap. Kini, Embun yang ceria berganti dengan Embun yang dingin, kosong, dan tak tersentuh.
Duduk di balkon kamar seorang diri Embun menatap bulan yang bersinar terang. Langit bersih tanpa awan padahal ini memasuki bulan Februari yang mana Bandung akan diguyur hujan setiap waktunya. Entahlah, mungkin semesta ingin menghibur Embun kali ini.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan helai rambutnya yang kusut. Wajahnya sayu dan tubuhnya tampak kurus. Belakangan ini dia memang tak berselera makan. Makanan yang dulu ia sukai pun terasa hambar saat dicicipi.
Embun menatap bulan dengan tatapan kosongnya. Entahlah terlalu fokus atau apa. Dia terlihat seperti terhanyut dengan sinar bulan malam ini. Dia menatap intens, seolah mencari arti dari tatapannya. Namun, tak berapa lama hujan air mata membanjiri pipinya.
Entahlah semenjak kepergian Awan ia berubah menjadi sangat emosional. Ia menjadi gampang menangis. Bagaimana tidak, setiap memandang, mendengar, ataupun mencium bau yang berkaitan dengan Awan, air matanya tak terkontrol jatuh ke pipi.
Air mata kian membanjiri disusul isak-isak tangis yang memilukan. Selepas kepergian Awan Embun benar-benar sendiri. Orang tua yang dulu begitu mencintainya kini berbalik membencinya. Jangankan orang tuanya, ia pun membenci dirinya sendiri.
"Adiknya Aa kenapa nangis?"
Sebuah suara menyentak lamunan Embun. Suara yang begitu ia kenali juga ia rindukan.
"AA!" pekiknya saat mengenali suara itu.
Kemudian, Embun menoleh ke sekitarnya. Namun nihil, tak ada siapapun di sana.
"AA?!" Panggilnya lagi.
"Hapus air matamu, Princess. Kepergiaan Aa tidak perlu kamu tangisi. Embun ingat 'kan Aa paling tidak suka dengan orang yang menangis? Angkat kepalamu, tunjukkan pada dunia sebuah kebenaran yang belum terkuak. Aa tidak menyalahkanmu. Ini sebuah adalah takdir yang telah dituliskan Tuhan."
Bersamaan dengan itu, tubuh Embun limbung ke tanah. Kesadarannya sontak hilang membawanya ke alam bawah sadar.
__ADS_1
***
Pagi menyapa. Dengan setengah lesu Embun berjalan menuju sekolahnya. Kini tak ada lagi Ayahnya yang akan mengantarnya menuju sekolah setiap pagi. Sudah dikatakan bukan, bahwa dunia Embun berputar seratus delapan puluh derajat?
Sepanjang perjalanan ia harus menahan hasrat ingin menangisnya. Sedari ia keluar dari gerbang rumahnya orang-orang yang ia temui selalu menggunjingkan dirinya. Demi apapun Embun tak sanggup lagi.
Seharusnya anak seusianya diisi dengan hal-hal yang ceria, bukan tekanan batin yang perlahan membunuh kewarasannya. Seharusnya kedua orang tuanya menjadi tameng ataupun tempat berkeluh kesah, bukan penyebab utama masalah mentalnya.
Embun harus bagaimana, orang tuanya sendiri saja tak memercayainya apalagi orang lain. Ia mengatakan fakta disangka pembohong. Lalu, untuk apa ia berkoar-koar menyampaikan kejujurannya. Begitu buang-buang tenaga karena orang yang ia tuju juga tidak akan mendengarkannya.
Di kelas pun sama. Tak ada lagi siswa yang mau berteman dengannya. Bahkan sahabat kecilnya---Zelline, pun ikut menjauh. Semua orang mencibirnya, bahkan secara terang-terangan. Bagaimana perasaanmu ketika menjadi Embun?
Pluk ...!
Satu butir telur busuk dilempar ke arah Embun, mengenai seragam putih birunya. Disusul air juga tepung yang dilemparkan kepadanya. Ia hanya menunduk. Terlampau biasa. Ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung dalam kurun waktu setahun terakhir, yaitu ia akan dilempari telur busuk, tepung, air bekas pel, ataupun sebagainya sebelum masuk kelas. Maka dari itu, Embun selalu membawa baju ganti di dalam tasnya.
"Heh ... pembunuh, mati saja, Lo! Sekolah ngga butuh seorang pembunuh untuk menjadi siswanya," ujar salah satu siswa. Pantaskah seorang siswa SMP berkata demikian?
"Iya, tuh, malu-maluin citra sekolah, aja. Pergi, Lo!"
"K-kalian ... b-bisa diam, tidak?!" ujar Embun dengan sedikit bergetar.
"Wow, dia bersuara, guys. Gue kira bisu." Bara tak henti-hentinya memperolok Embun.
"Keterlaluan Lo, Bar. Awas aja Lo dibunuh nanti, kakaknya sendiri aja dia bunuh apalagi Lo yang bukan siapa-siapanya," celetuk siswa jangkung berambut sedikit ikal.
"Ih ... takut!" Bara membuat ekspresi seolah ketakutan yang memicu tawa yang lain.
Pandangan Bara menajam, tatapan bak elang mencari mangsa itu ia layangkan tepat di bola mata bulat Embun yang sedikit berair. "Lo cuma seonggok sampah ngga berguna. Akan lebih baik kalau Lo menyusul kakak, Lo. Bukannya Lo ingin tenang? Itu adalah satu-satunya jalan yang Lo punya," ujarnya sambil telunjuk yang menoyor kepala Embun selanjutnya ia hempaskan tubuh mungil itu ke tanah.
"Cabut, guys!"
***
__ADS_1
Dibawah naungan pohon mangga samping perpustakaan, Embun berteduh di sana. Di temani sebuah novel romance karya salah satu penulis legendaris Indonesia---Tere Liye. Setiap goresan tintanya begitu melekat di hati pembaca. Pun dengan Embun, ia begitu mengidolakan sosok dibalik novel yang tengah ia baca itu.
Ketenangan dalam menyelami kata demi kata yang tertulis dalam lembaran itu harus sirna ketika sebuah bola voli menimpuk kepalanya. Dia meraih bola yang menggelinding tak jauh darinya setelah berciuman dengan kepalanya. Kemudian, seorang siswi datang ke arahnya dengan raut datar dan menatap angkuh kepadanya. Dia, Zelline. Sahabat kecilnya yang kini berbalik memusuhinya.
Tanpa sepatah kata, Zelline merebut kasar bola voli dari tangan Embun. Kemudian berlalu pergi. Embun hanya bisa menatap langkah demi langkah Zelline yang menjauh darinya. Pandangannya berpusat pada segerombol anak perempuan yang tengah bersenda gurau bersama. Tertawa tanpa beban dan bebas mengekspresikan diri mereka.
Dulu Embun juga di sana, dikelilingi orang yang berlomba-lomba menjadi temannya. Bisa dibilang Embun dulu adalah anak yang cukup populer karena kepintarannya. Namun sayang, dulu ia terlalu angkuh, tak ingin berteman dengan mereka. Dia hanya ingin berteman dengan Zelline saja meski banyak murid ingin dekat dengannya.
Apa kini menyesal? Sudah tentu.
Melihat keadaan yang sudah berbalik, dia sangat menyesal. Zelline teman satu-satunya yang ia percaya justru mengkhianatinya, dan sekarang ia tak punya teman sama sekali. Cukup disayangkan pikiran bodohnya dulu. Menganggap berteman haruslah dari kasta yang sama.
***
Tanah lapang ditumbuhi rumput teki dengan beberapa pohon yang mengitari tempat itu. Setiap helai daunnya tetap segar meski Sang Surya mulai berjalan pulang. Menyisakan semburat keemasan di langit senja. Berbanding terbalik dengan Embun, sorot matanya sayu dengan tubuh lesu. Sedari memasuki area ini tubuhnya menjadi lemas. Menahan air matanya yang berlomba-lomba meluncur bebas.
Dia memandang ke sekitar. Jajaran batu nisan yang rapi menjadi suguhan pertamanya. Satu per satu dia melangkahkan kakinya. Berjalan dengan lunglai menuju tempat peristirahatan orang terkasihnya.
Tepat di depan batu nisan bertuliskan Awan Senjakala ia berhenti. Tangisnya tak terbendung lagi. Ia begitu merindukan sosok yang kini sudah tertidur tenang itu. Tangannya yang bergetar mengelus halus permukaan nisan itu, kemudian memeluknya erat.
"Aa, Embun rindu," lirih Embun.
"Aa marah, ya, sama adek? Aa sekarang udah ngga pernah lagi datang ke mimpi adek."
"Aa, Embun sakit. Aa bisa bawa Embun bersama Aa ngga? Embun pengen ketemu Tuhan. Embun rasa kalau Embun ikut Aa, Embun akan bahagia. Kita bisa bersama lagi di Surga-Nya. Aa kapan mau jemput Embun?"
"Malaikat kanan kirinya Embun, ayo lapor sama Tuhan agar Tuhan bisa mengutus Malaikat Izrail untuk menjemput Embun. Embun udah ngga sabar mau ketemu Aa." Embun menoleh ke kanan kirinya. Dulu kata Bunda-nya malaikat akan mengawasi perbuatan kita dari kanan dan kiri.
Kemudian Embun menyunggingkan senyum lebar di wajah sayunya. Matanya yang masih dipenuhi lelehan air mata berbinar cerah. "Embun ngga sabar mau ketemu Tuhan dan Aa," ucapnya lalu terkikik geli.
Benar. Mentalnya mulai terguncang. Tak ada satu pun dari kalian yang ingin membantunya? Di mana hati orang-orang yang dengan tegas membuat gadis ceria itu menjadi gadis yang berputus asa, bahkan pada hidupnya?
***
__ADS_1
...Inilah sepenggal kisahku. Tak usah menangis, aku tidak butuh belas kasih kalian hanya karena merasa miris dan kasihan akan alur hidupku, bukan karena menyayangiku....
...~Embun Mentari....