Belenggu Hati

Belenggu Hati
Bermulanya Mimpi Kelam


__ADS_3

Bandung, 17 Februari 2015


Rupanya kali ini Embun benar-benar marah dengan Awan. Pasalnya ini sudah hari ketiga semenjak mereka bertengkar karena Awan yang meremehkan Embun. Memang, sih, gadis itu sangat tidak suka pada orang yang meremehkannya. Namun, ayolah, Awan hanya bercanda. Melihat wajah marah adiknya yang tampak menggemaskan di matanya adalah hobi Awan.


"Dek, udah kenapa ngambek sama Aa atuh.  Aa kesepian gara-gara kamu diam aja ngga cerewet kayak biasanya," bujuk Awan.


"Jadi, maksud Aa, adek cerewet gitu?!" Awan gelagapan saat adiknya menatap nyalang dirinya. Duh, kalau begini, sudah jelas Embun pasti susah dibujuk.


"Engga, gitu, Dek. Em ... e-ee ... maksud Aa b-bukan begitu." Entah kenapa Awan gugup sendiri saat adiknya yang biasanya bertingkah menggemaskan itu menatap datar tanpa minat kepada dirinya. Namun, Awan yakin, dalam hati, adiknya itu menyumpah serapahi dirinya.


"Dek, jangan marah lagi, dong. Aa minta maaf, ya?"


"Dek?"


"Adek?!"


"Adekku sayang, yang paling cantik, imut dan menggemaskan. Maafin Aa, ya?!"


Awan mendengus, jengah dengan adiknya yang terus menatap layar televisi di depannya tanpa menghiraukan keberadaannya.


"Bodo amat. Adek mau marah sama Aa juga silahkan. Aa capek." Awan beranjak dari duduknya berniat pergi ke kamar.


"Hiss ... bukannya dibujuk, malah pergi," gerutu Embun sambil memandang sinis kakaknya. Awan yang belum melangkah jauh hanya mendengus kesal. Sebenarnya apa mau adiknya.


Tak menghiraukan racauan adiknya tentang dirinya. Awan tetap melanjutkan langkahnya sebelum teriakan melengking menghentikan langkahnya.


"AA?!"


Awan menoleh. "Kenapa, sih, Dek? Aa serba salah kalau sama kamu."


Terlihat Embun menceburkan kesal. "Dua box es krim, atau kita ngga temenan selamanya?!"


Awan sudah menduga adiknya akan berkata seperti itu, karena Embun dan makanan manis dingin itu tak terpisahkan. Bagaikan laut dengan pantai.


"Ngga! Aa ngga papa, ngga temenan sama kamu selamanya." Awan tersenyum miring, berniat menggoda adiknya.


"Aa kok gitu, sih. 'Kan Aa, kakaknya adek yang paling ganteng, baik hati, rajin menabung, tidak sombong lagi." Raut wajah Awan seketika datar melihat rayuan adiknya itu.

__ADS_1


"Ya, A ... kalau ngga mau, adek aduin ke Bunda," ancamnya.


"Hmm,"


"Yess!"


......................


"Kalian yakin mau pergi sekarang?" tanya Gayatri yang melihat kedua buah hatinya berniat pergi ke swalayan.


"Iya, Bun. Kenapa, mau nitip?" jawab si sulung.


"Engga. Saat ini sedang hujan, petir juga sesekali menyambar. Bunda khawatir dengan kalian." Terlihat raut wajah gelisah dipancarkan wanita itu.


"Gimana, Dek?" tanya si sulung kepada adiknya.


"Adek mau sekarang," cicit si bungsu.


Bunda menghela napas. Tak ingin berbohong jika di hatinya sedari tadi diselimuti perasaan tak enak. Semacam ada sesuatu yang akan mengancam keluarganya. Namun entah apa, ia pun tak tahu.


"Hati-hati, ya. Aa jaga adiknya. Ingat, begitu selesai langsung pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kalian, Bunda ngga mau maafin kalian, paham?!" Bukan tanpa sebab ia berkata begitu. Ia terlalu takut sesuatu yang buruk akan menimpa dua buah hatinya yang sangat ia sayangi.


"Bun, kita pamit dulu."


......................


Di bawah derasnya hujan, kedua kakak beradik itu berjalan dengan payung sebagai pelindungnya. Hanya satu payung berukuran cukup besar yang menjadi pelindung mereka. Sesekali si adik akan menggosok tubuhnya lantaran udara malam dipadukan dengan air hujan.


"Kamu, sih, dibilangin ngeyel. Harusnya kita ngga kedinginan. Aa heran, deh, saat ini udara dingin ditambah hujan, kenapa masih ingin makan es krim? Ngidam, kamu?" 


"Sembarangan! Udah, deh, A, kalau engga mau menemani adek, adek bisa pergi sendiri, kok." Si Kecil merasa tersinggung dengan ucapan kakaknya.


"Dih ... ngambek. Aa bercanda, Dek. Jangan marah lagi, ya?"


Mereka telah sampai di swalayan yang memang tak jauh dari rumah mereka.


"Sana, cari es krimnya!"

__ADS_1


Dengan langkah riang Embun berjalan ke lemari es. Matanya dipenuhi binar-binar bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan belahan jiwanya---es krim coklat.


Awan yang memang hanya menunggu di dekat kasir mengernyitkan kening. Heran, kenapa adiknya cepat sekali, lagi pula di tangan adiknya itu juga tak tampak adanya es krim. "Cepet banget. Es krimnya, mana?"


Gadis itu malah cengengesan. " Adek, boleh pilih yang lain, ngga, A? Soalnya sekarang sedang hujan, adek takut nanti kalau makan eskrim jadi demam. Adek ngga mau dimarahin Bunda," katanya.


Awan yang terlampau gemas mengacak-ngacak rambut berponi adiknya itu. "Boleh, Adek pilih aja, nanti Aa yang bayar."


Dengan senyum secerah matahari paginya, Embun berjalan ke rak-rak tempat makanan ringan berjajar. Tangannya dengan gesit mengambil snack yang menurutnya enak, tak lupa beberapa coklat batang yang tak pernah absen dikala ia membeli camilan.


"Udah?" tanya Awan sekembalinya Embun dari memilih snack yang diangguki gadis itu.


Setelah membayar, mereka keluar dari swalayan. Tampaknya semesta tak berpihak pada mereka malam ini. Hujan kian deras dengan sesekali petir menyambar. Embun yang takut dengan suara guntur pun semakin merapatkan tubuhnya ke arah sang kakak.


Melihat adiknya ketakutan, Awan tersenyum lembut, lalu menarik tubuh mungil adiknya ke dalam dekapannya.


"Kita berteduh dulu, ya, Dek. Hujan makin deras, bisa basah kita kalau nekat menerjang," ucapnya. Awan tersenyum ketika kepala Embun yang bersandar pada dadanya mengangguk singkat.


Awan merasa, ia begitu merindukan adiknya. Ia ingin lebih lama lagi mendekap adiknya. Entahlah, ia merasa, ia tak akan bisa lagi mendekap adik mungil yang paling ia sayangi itu. Kepalanya sontak menggeleng kencang, ketika bayangan buruk melintas di pikirannya. Tidak, apa pun yang terjadi ia akan bertahan meski dengan keadaan paling buruk sekalipun.


"Aa kenapa?" Kepala itu mendongak, menatap wajah tampan si kakak.


"Ngga papa." Awan tersenyum singkat. "Pulang, yuk! Hujan sudah mulai reda," ajaknya.


Awan menarik lengan mungil adiknya untuk mengikuti langkahnya. Menembus hujan yang belum sepenuhnya reda, masih menyisakan rintik-rintik buliran air yang berjatuhan. Berjalan dalam diam sembari Si Adik memakan batang coklatnya.


Asyik dengan coklatnya, Embun tak memerhatikan jalanan Kota Bandung yang licin. Dia jatuh terpeleset. Pegangannya pada plastik berisi camilannya terlepas mengakibatkan plastik itu jatuh ke tengah jalan.


"Aduhh ...!" ringisnya. Tangannya mengusap-usap bokongnya yang terasa ngilu setelah berciuman dengan aspal.


"Hahaha ... kamu kenapa, sih, Dek. Kok bisa jatuh gitu?" Bukannya segera menolong adiknya, Awan justru terpingkal-pingkal sendiri.


Reda dengan tawanya, ia membantu Embun bangkit. "A, sakit!" adunya pada si kakak.


"Di mana yang sakit?" Embun menunjuk pinggangnya yang terasa remuk.


"Oh, iya, jajanan Adek!"

__ADS_1


Embun tanpa pikir panjang berlari menuju tengah jalan, tepat di mana plastik berisi jajanannya terjatuh. Jalanan memang agak sepi waktu itu, sehingga Embun berani karena merasa aman.


"Adek, awas!!!"


__ADS_2