
Manhattan, New York
August, 2021
Matahari tampak tersenyum malu, menyapa ribuan manusia yang masih berkelana di alam mimpi untuk kembali ke dalam raganya. Namun sebagian orang tetap abai, seperti seorang gadis yang masih bergeming nyaman di ranjang tidurnya. Dia menarik selimut untuk menutupi terpaan sinar matahari yang menembus celah kordennya.
Jangankan seberkas sinar matahari di celah-celah korden, jam beker yang terus berdering pun tak mampu membangunkannya.
Lima belas menit kemudian, matahari kian naik, jam beker yang berada di atas nakas juga terus ribut. Akhirnya Si Gadis bangun lantaran terusik. Dengan mata yang masih terpejam ia meraba nakas dan meraih jam bekernya.
Matanya menyipit, mencoba melihat angka yang ditunjukkan oleh jam beker itu. Sedetik kemudian matanya membulat. Dengan rusuh ia bangkit dari baringannya lalu berlari menuju kamar mandi.
"Oh My God, i'm late," ujarnya.
Tak sempat mandi ia hanya menggosok gigi dan mencuci mukanya saja. Masih dengan tergesa ia memakai kemeja garis-garis dipadu celana jeans andalannya. Keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru ia menyambar tas berisi laptop dan kebutuhan kuliahnya yang untungnya telah disiapkan tadi malam.
Tidak ada acara berias, gadis dengan rambut hitam terurai itu meluncur ke arah pintu, menguncinya dan bergegas menuju lift. Gadis itu memencet tombol arah lantai bawah sembari kakinya yang terbalut sneakers mengetuk-ngetuk lantai. Kebiasaan ketika sedang menunggu.
Gadis itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Begitu melihat angka yang ditampilkan jam digital itu, sontak membuatnya panik. Gila! Jam menunjuk pukul 7.15 a.m dan ia harus presentasi pada 7.30 tepat.
"Mr. Steven akan membunuhku setelah, ini. Oh God, help me," lirihnya di sela-sela larinya seusai keluar dari lift.
Tidak ada waktu untuk menunggu bis jadi ia putuskan untuk berlari saja. Beruntung letak kampusnya tidak terlalu jauh dari apartemen tempat ia tinggal, hanya membutuhkan dua puluh menit berjalan kaki santai.
Gadis itu terus berlari, tak menghiraukan beberapa pejalan kaki yang tertabrak olehnya. Bahkan ia hampir tertabrak mobil tadi lantaran menyeberang tanpa melihat kanan kiri. Memasuki pelataran kampus dengan ngos-ngosan, wajahnya dibanjiri peluh yang terus menetes. Pagi hari yang cukup menjengkelkan.
Empat menit lagi sebelum tepat pukul 7.30 a.m, gadis itu mengikat rambutnya menjadi satu. Mengatur napasnya yang tersengal kemudian ancang-ancang untuk berlari kembali. Percayalah Universitas Columbia tak sekecil itu untuk dituju dengan kecepatan kilat, kecuali bila kau salah satu anggota avangers. Apalagi saat ini kau masih berada di gerbang fakultas.
Koridor penghubung antar ruangan itu tampak sepi membuatnya lebih leluasa menggerakkan kakinya tanpa harus menyenggol orang lain. Namun ada sisi buruknya, koridor sepi menandakan semua mahasiswa telah berada di dalam kelas yang artinya mata kuliah sudah dimulai.
Sesampainya di pintu ruangan bertuliskan "Bussiness A" gadis itu menghentikan langkahnya. Pintu itu tertutup rapat membuatnya semakin gugup. Tak lama pintu kaca buram itu terbuka. Memunculkan seorang yang sudah berumur dengan tubuh yang masih terlihat bugar.
__ADS_1
"Embun Mentari, apa alasanmu lagi terlambat hadir di kelas saya?" ujarnya dengan sarkas.
Embun yang ditodong pertanyaan itu pun hanya menyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Namun dalam hati ia mengumpati dosennya yang kelewat kejam itu.
'Salah siapa memberi tugas tidak kira-kira. Kau pikir membuat makalah dalam satu hari kemudian besoknya sudah harus siap dipresentasikan semudah itu? Kalau bukan dosen sudah kucabik-cabik dirimu.' Sayangnya kalimat itu hanya terucap di dalam hati.
"I'm sorry, Sir. Saya mengerjakan tugas hingga larut malam dan akhirnya terlambat bangun," jawab Embun.
"Omong kosong! Seharunya kau gunakan waktumu untuk mengerjakan tugas saya, bukan merenung seperti orang depresi. Kau pikir aku tidak tahu kau sering berhalusinasi? Berbicara sendiri seperti orang gi–" ujar Sang Dosen menatap remeh pada Embun.
"–stop. Mr. Steven yang terhormat, saya mohon maaf mengenai keterlambatan saya pagi ini. Saya pastikan hal ini tidak akan terulang kembali. Namun, saya mohon dengan sangat, jangan membawa masalah pribadi ke dalam dunia perkuliahan!"
Embun pergi meninggalkan Sang Dosen atau yang ia panggil Mr. Steven. Tak peduli lagi mengenai citranya sebagai mahasiswa teladan tercoret setelahnya. Ia terlalu muak dengan mulut serampangan Sang Dosen.
Apa tadi yang ia katakan? Gila? Sumpah demi apa pun ia tidak terima.
Langkahnya terus dipercepat menuju taman di samping gedung selatan. Sesampainya di sana, ia terduduk di atas rumput hijau yang menyelimuti tanah taman. Menyenderkan tubuh ringkihnya ke batang Pohon Maple.
Bahu yang sedikit membungkuk itu perlahan mulai bergetar. Kepalanya menunduk dengan buliran air mata yang berjatuhan. Berulang kali pula ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Teriakan dari arah belakang membuat Embun terkejut. Dengan segera ia menghapus air mata yang masih meleleh di permukaan pipi halusnya. Menoleh ke kiri—tepatnya kepada seorang pemuda yang mengejutkannya. Dia Edward Kenneth Halbert, mahasiswa asal England yang menjadi satu-satunya temannya.
"Edward," lirihnya.
Secara tiba-tiba, Edward mendudukkan diri di samping Embun kemudian berbaring dengan berbantal paha Embun. Mata bermanik biru terang turunan gen ayahnya itu menatap wajah Embun dari bawah yang terlihat sendu. Dia menghela napas pelan. Terlampau hafal dengan apa yang terjadi. Berteman dengan Embun selama hampir tiga tahun membuatnya sedikit demi sedikit mengetahui karakter gadis itu.
"Lagi?" tanya Edward.
"Hmm?" Embun menundukkan kepalanya, menatap wajah tampan sahabatnya itu. Kemudian mengalihkan pandangannya ke depan sana.
Edward bangkit dari baringannya. "Pasti dia orang yang sangat berharga bagimu," ujarnya.
__ADS_1
Embun tersenyum sekilas. "Ya, dia seperti malaikat yang diutus Tuhan untuk menerangi hidupku yang diselimuti kegelapan."
"Apa yang membuatmu begitu mencintai dirinya, bahkan kini setelah bertahun-tahun semenjak kepergiannya."
Wajah Embun yang semula murung itu, perlahan mulai menampakkan cerianya. Dia begitu senang bila ada orang yang ingin mendengarkan kisah orang terkasihnya–malaikatnya.
"Langit adalah orang paling random yang pernah aku temui. Bahkan di saat pertemuan kita untuk yang pertama kali."
***
"Hai, cantik! Sendirian aja, nih? Ngga takut dikerubungi semut?"
Embun yang terduduk lesu itu sontak mengernyitkan dahinya. Entah dari mana asalnya seorang anak laki-laki yang memakai atribut MOS seperti dirinya datang dan menyapanya. Apalagi kalimat yang diutarakan yang dilihat dari mana pun tidak masuk kategori sapaan yang sopan. Freak, itulah gambaran orang itu bagi Embun.
Tak mendapat jawaban dari gadis di depannya, anak itu kemudian berujar lagi, "iya, dikerubungi semut, soalnya kamu manis."
Apa-apaan anak laki-laki ini membuat Embun geli saja. Namun memang sifat manusia selalu bertolak belakang, meski begitu pipi Embun tetap memerah merona hanya karena gombalan kelas teri itu.
***
Embun yang mengingat adegan beberapa tahun lalu terkekeh pelan. "Bagiku, Langit adalah segalanya. Dia bisa menjadi sosok ayah, kakak, teman, juga orang yang mengajarkan aku apa itu cinta. Dia layaknya pahlawan yang datang di saat terluka. Melindungiku dari kecaman dan kerasnya hidup. Selalu mendampingiku bahkan di titik terendah sekali pun. Dia yang membuatku perlahan bangkit untuk sedikit mencicipi kebahagiaan. Walaupun yang kudapat hanya sementara. Namun aku bahagia bisa mengenalnya. Sosok tampan berhati malaikat."
Air mata Embun kembali menetes. Tak kuasa menahan rindu pada dia orang terkasih. Edward yang duduk di sampingnya pun turut ikut dalam kesedihan. Ia paham, sebab ia pernah berada di posisi itu—ditinggalkan orang yang ia cintai dengan perantara takdir Yang Maha Kuasa.
Perlahan Edward menarik tubuh ringkih Embun ke dalam dekapannya. Mengusap punggung bergetar itu seraya membisikkan kata penenang yang rasanya percuma diutarakan. Embun masihlah terisak hebat.
"Edward, ... s–sakit. Tak bisakah Tuhan membawaku menemui Langit?" ujar Embun di sela tangisnya.
"Aku sudah tidak punya siapa pun di dunia ini, mereka satu per satu meninggalkanku. Apa Tuhan senang melihat aku menderita? Aku juga ingin bahagia, tak bisakah Dia membawaku bersama mereka?" lanjutnya.
Hati Edward terasa teremas-remas melihat gadis dalam dekapannya itu frustasi akan hidupnya. Jika bisa ia ingin memindah rasa sakit itu ke dalam dirinya. Ia tak sanggup mendengar tangis pilu gadis itu yang menyayat hati.
__ADS_1
Tenanglah, kamu tidak sendiri. Masih ada aku untuk menemani hari-harimu. Masih ada aku yang akan memberikanmu cinta dan mengajarimu cara bahagia yang mungkin sempat sirna dari hidupmu. Aku berjanji aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu bahagia dan terlepas dari semua rasa sakit itu. Aku janji, Embun!
Namun sayang, hal itu hanya terucap dalam hati.