Belenggu Hati

Belenggu Hati
Keterpurukan Embun


__ADS_3

Bandung, Juni 2016


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Embun kini telah menyelesaikan masa putih birunya. Sudah masanya ia berganti menjadi putih abu-abu. Tepat hari ini, ia akan melaksanakan wisuda kelulusannya.


Pagi ini Embun sudah rapi dengan pakaian toganya. Dengan raut berseri ia menuruni anak tangga. Sesampainya di anak tangga terakhir, ia melihat bunda-nya tengah duduk di sofa ruang tamu dengan majalah fesyen di tangan. Seketika Embun menjadi gugup. Pijakannya pada bumi semakin mengerat, tak berani melangkah maju.


Namun, tekadnya sudah bulat, ia ingin ayah dan bunda-nya datang di acara kelulusannya. Dengan langkah ragu ia berjalan menghampiri Sang Bunda.


"B–bunda," panggilnya lirih. Embun semakin gugup ketika Gayatri hanya memandangnya datar.


"H–hari ini ... acara ... k–kelulusan, adek. B–bunda, bisa d–dat–"


"Tidak!" sentak Gayatri. "Saya sibuk," lanjutnya kemudian meninggalkan Embun yang menahan tangis.


Memang semua ini salah Embun, selalu berharap perlakuan bunda-nya akan berubah seperti dulu. Jika seperti ini, maka sama saja dia menyakiti perasaannya sendiri. Sudah berulang kali ibunya menunjukkan sikap acuh padanya. Namun, dengan keras kepala ia terus berharap sifat bundanya akan kembali. Jadi, bila ia menangis, orang yang patut disalahkan adalah dirinya sendiri. Terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.


Mengusap air matanya kasar, Embun berjalan ke luar rumah. Masalah tidak akan ada yang datang pada kelulusannya ia tak peduli lagi. Hatinya cukup sakit dengan penolakan bunda-nya.


"Neng Embun, kenapa, pagi-pagi sudah nangis?" tanya Pak Badrun, tukang kebun rumahnya.


"Engga papa, Pak, cuma kelilipan tadi," jawab Embun disusul senyum manis.


Pak Badrun yang tengah memangkas rumput itu mengalihkan pandangannya ke tubuh Embun. "Wah ... Neng Embun sudah mau lulus, aja. Sudah besar, ya, sekarang. Jadi teringat dulu waktu pertama saya kerja di sini masih kecil sekali," ujarnya.


Mendengar ucapan Pak Badrun, Embun sedikit terhibur, dia tersenyum kemudian berkata, "iya, dong, Pak. Waktu itu 'kan Embun masih kelas satu SD."


Keduanya tertawa geli. "Ya sudah, Pak Badrun, Embun berangkat dulu, ya, takut telat. Pak Badrun semangat kerjanya!" pamit Embun.


"Iya, Neng, hati-hati. Selamat atas kelulusannya, ya!"


...o0o...


Entahlah hari ini Embun harus sedih atau bahagia. Dia dinyatakan sebagai siswa paling berprestasi di angkatannya. Namun di samping itu, ia merasa miris lantaran orang tuanya tak datang untuk sekadar memberikan ucapan selamat. Hanya Bu Sari, wali kelasnya yang memberikan ucapan selamat, selainnya memilih untuk bungkam.


Di sudut Aula tempat dilaksanakannya wisuda, Embun duduk sendiri di sana. Memilih tempat duduk di pojok belakang. Tak ingin terlalu menonjol, sebab ia tahu pasti akan banyak orang yang menggunjingkannya.


Acara telah selesai. Semua hadirin mulai meninggalkan Aula. Begitu pun dengan Embun, dia keluar lewat pintu belakang aula kemudian melipir menuju toilet. Untuk sementara ia ingin mengurung diri di toilet sembari menunggu sekolah sepi.

__ADS_1


Demi apa pun Embun belum atau tidak akan pernah siap bila bertemu dengan khalayak ramai. Embun cukup trauma dia akan di-bully terang-terangan di muka umum seperti tempo lalu. Kejadian itu terjadi satu bulan setelah kepergian Awan.


Dirasa sekolah telah sepi, Embun keluar dari tempat  persembunyiannya. Dia berjalan dengan tenang sembari menenteng piala penghargaan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dia membayangkan, pasti bunda-nya akan bangga karena ia berhasil menyabet juara siswa terpandai se-angkatannya.


Namun ketenangannya berubah menjadi gugup saat rombongan Bara menghampirinya dengan wajah angkuh.


"Juara kita kenapa masih ada di sini? Tadi juga ngga selebrasi kayak dulu waktu menang lomba. Sayang banget, lho, pialanya ngga ditunjukkan ke orang-orang," ujar Bara dengan memasang wajah masam. Namun Embun tahu, Bara hanya akan mengejeknya.


"Malu, dia Bar, nunjukin mukanya di umum, 'kan pembunuh. Kalo pembunuh tempatnya di mana ...?"


"P-e-n-j-a-r-a!" sahut rombongan Bara yang berjumlah lima orang.


Embun rasanya ingin menangis saat ini. Sungguh dikepung lima remaja laki-laki dengan perkataan tak pantas dilontarkan padanya sangat menusuk hatinya.


"Ingat, Embun. Tempat Lo bukan di sini." Bara membungkukkan badannya, menatap tepat di manik hitam Embun.


"Gue ngga suka Lo tetap hidup seperti biasa, seakan Lo ngga pernah melakukan kesalahan sedikit pun. Lo tahu, cara nebus dosa Lo cuma satu–"


Bara memegang dagu Embun, mendekatkan wajahnya pas di samping telinga si gadis, kemudian berbisik.


"–mati."


Dulu Bara adalah salah satu teman dekatnya selain Zelline—tanpa sepengetahuan siapa pun. Embun juga pernah menaruh rasa pada Bara. Namun itu dulu, sebelum Bara berbalik membencinya.


Bara dan Awan pun juga dekat. Kedekatan mereka layaknya kakak dan adik yang akur. Mereka sering bermain bersama, entah sekadar bermain PlayStation atau bola basket. Tak jarang Bara juga menginap di rumahnya dulu, lantaran mereka masih satu komplek. Akan tetapi, semenjak rumor itu mencuat, Bara berbalik memusuhi. Embun tak menyalahkan sama sekali, toh faktanya memang dia yang paling patut disalahkan.


"Cabut, guys!" perintah Bara kemudian berjalan menjauh diikuti rombongannya. Meninggalkan Embun yang masih berderai air mata. Cukup sakit saat orang terdekatnya melontarkan kata yang tidak pantas apalagi menyuruhnya untuk mati.


...o0o...


Embun membuka pagar kokoh yang membentengi rumahnya itu dengan lesu. Perkataan Bara tadi cukup membuat perasaannya suram. Memasuki halaman rumah, dia melihat Pak Badrun yang sedang memandikan burung kenari kesayangannya.


Mata Embun mengedar memandangi garasi yang nampak satu mobil di sana—milik bunda-nya. Itu artinya Sang Bunda ada di rumah. Kesempatan untuk menunjukkan piala perhargaan miliknya. Wajahnya yang semula suram perlahan mulai berseri kembali. Dia pun mempercepat langkahnya.


"Selamat siang, Pak Badrun!" sapa Embun dengan ceria.


"Eh ... " Pak Badrun membalikkan tubuhnya yang tadi membelakangi Embun. " ... selamat siang, Neng! Saya pikir siapa, ngagetin aja," ujarnya.

__ADS_1


"Hehe, Bunda di rumah 'kan, Pak?"


"Iya, ada. Baru aja pulang tadi," jawab Pak Badrun.


"Ya sudah, Embun masuk dulu, ya, Pak." Selangkah Embun berjalan, dia berbalik lagi. "Pak, Si Jubaedah terbang, tuh?" ucapnya polos.


Pak Badrun yang semula memandang Embun sontak mengalihkan pandangannya ke sangkar burungnya. Benar, Si Jubaedah—burung kenari betinanya, sudah terbang bebas.


Embun terkikik geli memandang Pak Badrun yang tengah menangisi kepergian burung kenari kesayangannya yang sudah dirawat selama lima tahun. Kata Pak Badrun, Si Jubaedah sudah dia anggap seperti anak sendiri. Oleh karena itu, dia sangat sedih Jubaedah meninggalkannya.


Jika di luar tadi Embun bisa tertawa bebas, tapi saat memasuki rumah megah itu hawa gugup menyelimutinya. Dia berjalan perlahan sambil mengatur napasnya yang menderu-deru. Tubuhnya semakin memberat ketika melihat Bunda-nya menuruni anak tangga yang letaknya tak jauh darinya. Tingkahnya kali ini seperti seorang yang tertangkap berbuat kriminal.


Gayatri memandang sekilas putri bungsunya lalu melenggok pergi. Dalam hatinya ia juga tak ingin menyakiti Embun, tapi entahlah hati dan otaknya selalu tak sejalan. Hatinya meminta untuk berdamai, tapi logikanya mengatakan sebaliknya. Bodohnya ia lebih menuruti logikanya bukan hatinya.


Duduk di tepi kolam belakang rumah ditemani secangkir teh memang begitu epic. Apalagi udara sejuk senantiasa menyapa sejak ia berada di sini. Gayatri menutup matanya. Mengumpulkan udara di paru-parunya kemudian mengembuskannya perlahan. Ini begitu menenangkan. Beban yang mengikat tubuhnya seakan lenyap bersamaan dengan embusan napasnya.


"B–bunda ...."


Gayatri menoleh, melihat anak bungsunya berdiri tak jauh darinya dengan kepala menunduk. Dia menaikkan sebelah alisnya ketika anaknya itu mendongak.


"Cepat bicara, saya tidak suka berbasa-basi!" sentak Gayatri. Dalam hati ia merutuki perkataannya. Demi apa pun hati dan tindakannya selalu bertolak belakang.


Embun yang mendengar nada tinggi bunda-nya lantas gelagapan. "Ada yang mau Adik tunjukan pada Bunda." Tangannya melepas tas cangklongnya kemudian mengeluarkan sebuah piala dan sertifikat juara dari sana.


"Adik dinobatkan sebagai siswa paling berprestasi di sekolah, Bunda," ujar Embun berusaha ceria. Dia berharap bunda-nya akan menariknya ke dalam pelukan hangat yang amat ia rindukan. Namun, wajahnya seketika murung ketika mendengar perkataan menyakitkan bunda-nya.


"Saya tidak peduli." Gayatri berlalu begitu saja dari sana meninggalkan Embun yang lagi-lagi menahan tangisnya.


"Engga papa, Embun. Mungkin Bunda sedang lelah, jadi Bunda memilih pergi. Aku yakin nanti pasti akan memberimu ucapan selamat," ujar Embun mencoba tegar. Bibirnya mengukir senyum tapi berbanding terbalik dengan matanya yang terus mengucurkan liquid bening.


"T–tapi ... ini s–sakit." Embun memukul-mukul dadanya berharap sesaknya akan hilang. Pertahanannya hancur, tubuhnya merosot ke bawah dan menangis sesenggukan.


Gayatri mengusap setetas air matanya. Ya, ia mendengar semua perkataan putrinya. "Maafin, bunda," bisiknya lirih.


...o0o...


...Ya, ekspetasiku memang setinggi itu. Selalu berharap pada hal yang belum pasti atau sesuatu yang sudah jelas tidak akan terbalas. Lalu apa? Aku harus kembali menelan bulat harapanku dan harus menguras tangis kembali. ...

__ADS_1


...Namun, salahkah aku? Aku juga manusia biasa yang masih berharap dengan angan yang semu. ...


...~Embun Mentari...


__ADS_2