
Bandung, 14 Februari 2015
Seorang gadis cantik dengan balutan seragam putih biru di tubuhnya melaju kencang menuju pintu rumahnya. Dengan semangat ia membuka pintu besar itu. Tak lupa dengan tangan yang menggamit piala juga sertifikat hasil ia memenangkan lomba cerdas cermat bulan lalu.
"Ayah, Bunda, Aa!" panggilnya dengan semangat. Dia menyembunyikan piala tadi di belakang tubuh mungilnya.
"Eh ... anak Bunda udah pulang. Ada apa, kok anak Bunda yang paling cantik ini semangat banget. Senyum-senyum sendiri lagi," sambut Gayatri, sang Bunda.
"Habis ditembak cowok kali, Bun, si Adek," jawab seseorang yang berjalan dari belakang Gayatri.
"Engga, Aa mah sembarangan. Adek ngga punya pacar, ya," sungut si mungil.
"Heleh ... ngaku aja. Eh, Bun, tahu ngga Adik kemarin ditembak cowok di lapangan. Terus dibawakan coklat dan dinyanyikan pakai gitar." Si sulung berdecak. "Anak SMP jaman sekarang udah kenal cinta-cintaan. Eh ... aduh!" ringis yang mendapat cubitan dari Si Bungsu.
"Engga, Bun, Aa bohong. Adik ngga pacaran, Aa yang pacaran sama Teh Bella. Marahin Bun!" sungut si bungsu tak terima.
"Dih ... apaan, kok Aa? Aa ngga pacaran. Aa sama Bella cuma sahabatan doang. Kamu kali yang pacaran sama Rico, 'kan kemarin nembak kamu."
Si bungsu pura-pura menunjukkan wajah prihatinnya. "Kasihan, ya, Teh Bella. Dibaperin doang, tapi ngga diajak pacaran," ucapnya seraya tersenyum miris. Namun, sedetik kemudian, dia memicingkan matanya menatap tajam sang kakak. "Kok, Aa tahu yang kemarin nembak adek namanya Rico?"
"Apa, sih, yang Aa ngga tahu, hmm?" Tawa si sulung pecah melihat wajah masam adiknya.
"Jangan-jangan Aa mata-matain adek, ya?!" tuduh si bungsu.
"Itu tau," jawab si sulung singkat.
"Bunda, Aa nyebelin. Marahin!" rengek si bungsu.
Gayatri hanya geleng-geleng kepala melihat pertengkaran kedua anaknya itu. Lucu, batinnya.
"Sudah, Aa dan Adek baikan dulu, ngga baik tahu saling bermusuhan dengan saudara sendiri," ujar Gayatri menengahi. Dia melirik si bungsu yang masih menatap sengit kakaknya, sedangkan yang lebih tua tersenyum mengejek kepada si adik.
"Oh, iya, tadi Adek kenapa? Sini cerita sama bunda. Aa juga sana ganti baju dulu, pulang sekolah bukannya ganti baju dulu malah langsung main game."
Si sulung cengengesan, kemudian beranjak ke kamar untuk mengganti seragam putih abu-abu yang masih melekat dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Jadi, ada apa dengan anak bunda yang cantik ini?" tanya Gayatri.
"Ehm ... nanti aja, deh, Bun. Nunggu Ayah sekalian, hehe."
Gayatri tersenyum hangat, kemudian berucap, "Ya, sudah, Adek ganti pakaian dulu, setelah itu kita makan bersama!"
"Lho, kok masih di sini, sana ke kamar!" Gayatri menatap heran si bungsu yang masih berdiri di tempatnya.
"Hehe, Bunda pergi dulu."
"Lho, memang kenapa?"
"Ehm ... e-ee ... ngga papa, pokoknya Bunda pergi dulu, nanti adek ke kamar," ujarnya dengan cengengesan.
Mata Gayatri memicing. "Ada yang Adek sembunyikan dari bunda, ya? Ayo ngaku, jangan-jangan yang dibilang Aa tadi bener!?"
"Engga, Bun. Si Aa mah ngawur, ngga ada yang adek sembunyikan dari Bunda. Percaya sama adek. Adek 'kan anak baik, jujur, cantik, rajin menabung, tidak sombong lagi."
"Ahh ... terserah kamu, Dek, bunda pusing. Tapi awas lho, kalau sampai ada yang kamu sembunyikan dari bunda. Bunda jitak kamu!" Gayatri yang sudah teramat lelah dengan kenarsisan anak bungsunya itu.
Si Bungsu celingukan. "Aman," gumamnya kemudian berjalan mengandap-ngendap menuju kamarnya.
...****************...
"Kata Bunda, Adek lagi seneng banget, ada apa, nih?" tanya Si Kepala Keluarga saat selesai makan malam.
"Adik lagi bahagia karena punya pacar, Yah." Bukan si bungsu melainkan si sulung yang menjawab.
"Engga, Yah, Aa bohong." Si Bungsu menyenggol lengan kakaknya yang duduk di sampingnya. Tak terima, Si Sulung pun ikut membalas. Alhasil mereka saling senggol dengan mulut yang terus menggerutu.
"Embun, Awan!" Panggil Gayatri yang jengah dengan kelakuan putra putrinya.
"Tuh, 'kan, gara-gara Aa, Bunda marah," bisik Embun.
"Kok, Aa? Kamu duluan yang nyenggol-nyenggol Aa tahu," balas Awan dengan berbisik pula.
__ADS_1
"Sudah bisik-bisiknya?" Kakak beradik itu cengengesan ketika melihat wajah datar Bunda mereka. Si Kepala Keluarga hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, terlalu maklum dengan kejadian seperti itu.
Kedua anaknya yang selalu bertengkar, entah apa pun, pasti akan kedua bersaudara itu debatkan. Lalu, istrinya---Gayatri akan menegur mereka yang berakhir emosi sendiri saat mendamaikan kedua bersaudara itu. Keluarga yang harmonis.
"Oh, iya, Ayah, Bunda. Ada sesuatu yang mau adek tunjukkan. Sebentar, ya, adek ambil dulu," ujar Embun kemudian lari terbirit-birit menuju kamarnya.
"Kamu tahu, A?" tanya Ayah---Brama kepada anak sulungnya.
"Ngga tau, Yah."
Tak berapa lama, Si Bungsu datang kembali dengan tangan yang disembunyikan di belakang. "Ta-da ...!" Pekiknya. Dia mengeluarkan tangannya yang memegang piala dan sertifikat juara dari belakang tubuhnya.
"Wah ... hebat anak Ayah. Sini, peluk Ayah dulu!" Embun langsung berhambur ke pelukan Ayahnya. Bergantian, kini ia memeluk Bundanya yang meneteskan air mata.
"Ih ... anak cantik Bunda, hebat banget. Terus semangat, ya, Nak. Bunda sayang Adik." Gayatri mencium kedua pipi gembil anak gadisnya.
"Aa ngga nyangka, si cerewet ini bisa menang juara satu cerdas cermat. Hmm, cukup mengesankan," ujar Awan sambil memegang sertifikat juara adiknya. Tingkahnya benar-benar terlihat menjengkelkan di mata Embun.
"Kamu waktu lomba ngga curang, 'kan, Dek? Ngga tiba-tiba dapat salinan jawaban dari pengawas, 'kan? Kamu bisa juara satu, kok aa curiga. Ya, gimana engga, kamu 'kan bawel, cerewet, usil lagi. Hmm, patut dipertanyakan," lanjutnya.
"AA ...! INI ADEK LAGI BAHAGIA, KENAPA AA MALAH MERUSAK SUASANA, SIH!? BUKANNYA NGASIH UCAPAN SELAMAT, MALAH NGIRA ADEK CURANG. NGGA MAU TEMENAN LAGI DENGAN ORANG YANG BERNAMA AWAN SENJAKALA. SANA JAUH-JAUH DARI ADEK!"
Kemudian, terjadilah acara kejar-kejaran dua kakak beradik itu. Orang tuanya hanya tersenyum melihat tingkah buah hati mereka.
"Semoga keluarga kita tetap seperti ini, ya, Bun," ucap si Ayah---Brama Lesmana.
"Iya, Yah. Mereka lucu kalau lagi berantem seperti itu. Bunda jadi ngga rela mereka tumbuh dewasa," balas si Bunda---Gayatri Anindya.
"Sebesar dan sedewasa apapun itu, mereka akan tetap menjadi bayi kecil, ayah." Brama tersenyum lembut. Memandang wajah cantik istrinya yang juga menampilkan senyum manisnya.
"Terima kasih, telah berjuang. Terima kasih telah menjadi sosok istri dan ibu yang baik untuk aku dan anak-anakku."
...****************...
Sekilas kenangan masa lalu yang tersemat apik dalam memoriku. Masa-masa di mana aku masihlah Embun yang ceria dengan segudang kasih sayang yang membanjiri. Namun, bisakah aku mengulangnya kembali. Sekali saja. Aku rindu.
__ADS_1
~Embun Mentari