
Awan mendung kian menebal, setetes buliran air berjatuhan. Rintik hujan bulan Februari semakin deras. Membubarkan kerumunan masa.
Diantaranya seorang gadis bersurai legam yang tengah berlarian mencari tempat berteduh. Tas punggungnya ia gunakan sebagai pelindung kepala. Tiba di emperan toko kosong, gadis itu mendengus kesal. Cuaca tidak bisa diprediksi kapan turun hujan yang membuatnya kebasahan.
Memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan, gadis itu melihat lalu lalang kendaraan yang tetap memadati Kota Bandung meski diwaktu hujan. Bajunya basah kuyup, cardigan rajut mid peach lengan panjang yang ia kenakan tak cukup untuk melindungi tubuhnya dari tetesan air hujan.
"Mau permen, Teh? Biar ngga bosen nunggu hujan," tawar seorang laki-laki berkisar umur tiga puluhan.
"Hatur nuhun, Kang." Gadis itu mengambil satu permen yang disodorkan laki-laki itu.
"Teteh namanya siapa? Saya Mamat, kebetulan tadi lagi dari rumah sakit nebus obat Ibu saya, eh ... malah hujan," jelas Mamat.
"Saya Embun, Kang. Ibu Kang Mamat sakit apa?" tanya Embun.
"Kata dokter ibu saya terkena kanker darah, apa ya saya lupa namanya?" jawab Mamat.
"Leukimia, Kang?"
"Nah, eta. Leukimia," balas Mamat.
Deg!
Leukimia. Salah satu kata yang paling Embun benci. Karena Leukimia, seseorang yang ia cintai pergi. Wajahnya mulai suram, yang tadinya menampilkan senyum ramah kini berganti senyum miris. Kenangan masa lalu terbuka kembali memerlihatkan lubang-lubang tak kasat mata yang menggerogoti hati.
"Katanya teh umur ibu saya ngga bisa bertahan lama. Atuh saya mah ngga percaya, yang namanya umur itu Allah yang ngatur, bukan kata dokter, iya 'kan Teh?" Kata Mamat.
"Teh ... Teh Embun?" panggil Mamat. Mamat melambaikan tangannya di depan wajah Embun yang tampak kosong; melamun.
"Eh ... iya, Kang, kenapa?" Kata Embun sedikit gelagapan.
"Teteh atuh yang kenapa? Saya panggil ngga nyaut. Teteh ada masalah? Sok, sini cerita sama saya. Saya memang bukan orang bijak, tapi barangkali dengan cerita sama saya, beban Teh Embun sedikit berkurang," Mamat tersenyum tulus.
"Engga, Kang. Engga ada apa-apa, kok. Saya pamit dulu, ya, Kang, hujannya sudah reda," pamit Embun.
"Teh Embun!" teriak Mamat.
Embun yang baru berjalan lima langkah lantas menoleh.
__ADS_1
"Apapun masalah yang Teteh hadapi, tetap tersenyum ya, Teh. Saya yakin Teteh bisa!" Mamat tersenyum lembut yang mana mampu menularkan senyum itu kepada Embun. Lengkungan manis mengintip malu-malu di wajah cantik itu. Matanya berkaca-kaca, merasa terharu dengan ucapan Mamat, laki-laki yang baru ia temui.
"Terima kasih, Kang," ucapnya sebelum benar-benar pergi.
......................
Andaikan waktu bisa berputar. Maka, Embun akan dengan senang hati melakukannya. Ia ingin memutar waktu kembali ke masa lalu. Di saat ia merasakan apa itu bahagia bersama Langit, seseorang yang sangat dicintainya.
Puncak Bintang, tempat Embun untuk menenangkan diri malam ini. Memandang Kota Bandung di malam hari dari ketinggian memang begitu menenangkan. Di temani semilir angin malam yang membelai halus permukaan kulitnya. Matanya menengadah, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.
Embun menunduk kembali. Hatinya berdenyut nyeri ketika kilasan masa lalu kembali lagi. Menahan tangis ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya yang bertumpu pada lutut.
Gagal. Usahanya membendung tangis, gagal. Bendungan air mata yang sedari tadi ditahan meluncur bebas menganak sungai. Desisan pilu juga mulai terdengar. Begitu sakit untuk dideskripsikan.
"Husst ... jangan menangis!"
Kepala Embun mendongak. Dengan isakan yang belum reda dia menoleh mencari orang yang berbicara padanya. Nihil, tidak ada siapapun di sekitarnya, kecuali dirinya sendiri.
"Siapa?" takut-takut ia bertanya.
"Aku adalah orang yang selalu ada di hatimu." Suara itu kembali terdengar.
"Langit," lirihnya.
Entah ini hanya halusinasi atau memang kenyataan. Embun melihat seorang laki-laki berperawakan tinggi. Wajahnya yang tertimpa sinar lampu terlihat lebih menawan. Tak lupa senyum lembut yang senantiasa tersemat di wajah tampan itu.
"Langit!" ucap Embun lebih keras saat mengenali siapa sosok itu. Tangisnya yang sempat terhenti kembali pecah. Jantungnya bertalu-talu merasakan euforia dalam hatinya. Kaget, senang, sedih dan perasaan rindu berkecamuk menjadi satu.
"Bubun-nya Langit kenapa nangis?" Langit bertanya dengan senyum lembut tak luntur dari wajahnya.
"Langit, Embun rindu. Kenapa Langit ninggalin Embun pergi jauh?"
Langit masih berdiri di sana, tersenyum lembut pada Embun. "Tempat Langit bukan di sini lagi Embun."
"Kalau begitu, bawa Embun pergi bersama Langit!" sentak Embun.
"Boleh, tapi sekarang bukan waktunya. Nanti kalau waktunya tiba, kita akan bersama lagi, janji." Langit memerlihatkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
Embun menunduk, tangisnya kian keras. Untunglah keadaan sedang sepi jadi tak akan mengganggu orang lain. Mengangkat kepalanya kembali dia tak menemukan Langit di sana.
Dia panik, Langit kembali pergi meninggalkannya. Berdiri dari duduknya dia berjalan menyusuri tempat itu.
"Langit!"
"Langit kamu di mana?"
"Jangan tinggalin Embun lagi!"
"Arghhh ...!!"
Teriaknya disertai isak tangis. Tubuhnya merosot. Kakinya terlalu lemas untuk menjadi tumpuannya berdiri. Berulang kali meneriaki nama Langit, tapi laki-laki itu tak kunjung datang.
"Teh, aya naon, malam-malam begini nangis?" ucap petugas yang menghampiri.
Melihat ada orang lain di dekatnya, Embun berusaha mengehentikan tangisnya. Meski tak berhasil sempurna terbukti dirinya masih sesenggukan.
"Teteh sebaiknya pulang, tempatnya juga sudah mau tutup," ujar petugas tadi.
Tanpa berbasa-basi mengeluarkan suaranya. Embun bangkit berjalan sempoyongan meninggalkan petugas yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Embun.
Berjalan di bawah gelapnya langit malam seorang diri dengan pikiran yang berkecamuk membuatnya terlihat mengenaskan. Terlihat dari segi manapun orang yang melihatnya akan miris dengan keadaanya.
Seragam abu-abu berlapis cardigan yang setengah kering. Rambut hitam panjang yang lepek. Wajah pucat dengan air mata yang terus mengalir. Jalannya yang terlihat sempoyongan seperti orang mabuk. Membuat siapapun yang melihatnya semakin prihatin.
Jelas terlihat bahwa gadis itu memiliki beban hidup yang berat. Tak seharusnya anak seusianya merasakan hal yang demikian. Seharusnya ia telah berada di rumah entah belajar atau apapun, bukan berjalan tak tentu arah di bawah naungan langit malam.
"Kasihan, ya, masih muda udah gila."
"Anak broken home, pasti."
"Anak jaman sekarang, mikirin masalah cinta sampai sebegitunya. Semoga anak saya ngga begitu nanti."
"Bukannya dia si pembunuh itu, ya?"
Bisikan gunjingan yang terdengar dari orang-orang yang ia lewati tak ia hiraukan. Terlalu muak dengan semua persepsi masyarakat kepada keburukannya. Bisakah mereka terfokus pada hal lain pada dirinya selain keburukan yang bahkan tak ia lakukan?
__ADS_1
Embun lelah. Tuhan, bisakah jemput Embun sekarang?