
Bella mengejapkan matanya dengan pelan, pusing dikepalanya masih ia rasakan meski tidak separah
tadi, Tapi bukankah tadi ia ada dikamar mandi kenapa tiba tiba ia ada dikamar,
dan kenapa ibunya berwajah kwatir dan sesekali menyeka air matanya lalu ia
mengalihkan pandangannya kedepan jendela disana ayahnya berdiri membelakanginya.
Bella dengan pelan bergerak untuk duduk, ibunya yang melihat itu dengan cepat
menghampirinya dan membantunya.
“Kau baik baik saja saying.” Tanyanya kwatir. Bella menyeritkan alisnya binggung.”tentu saja aku
baik baik saja, emang aku kenapa?” tanyanya dengan heran. Ibunya menata ayahnya
yang sedari tadi tidak bergeming dari depan jendela. Bella makin penasaran.
“Sebenarnya ada apa, bu.”desaknya
“Kau hamil! Itu yang dikatakan dokter keluarga kita.” ucap ayahnya dengan tenang tapi tidak dapat
dipungkiri ada nada kemarahan yang tak dapat ia sembunyikan. Bella terkejut, ia menatap punggug ayahnya tak percaya, lalu kembali menatap ibunya yang hanyabisa mengangguk tanpa bisa berkata apa apa, kembali matanya mengarah pada tanggal yang terletak diatas meja belajarnya dan benar saja tanggal dibulan ini polos tanpa spidol merah yang melingkari setiap tanggal menstruasinya. Bella memegang kepalanya dengan kedua tangannya ia benar benar tidak mempercayai kejadian ini tapi ini benar adanya, ia hamil dengan orang yang tak ia kenal.
Ayahnya berpaling menghadap kearah Bella, wajahnya benar benar tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahan yang menjadi satu.
“Siapa ayah bayi itu.” Tanya ayahnya berusaha tenang, Bella tersentak dan menatap ayahnya,
matanya mulai berkaca kaca, ia pun bingngung apa yang harus ia jawab untuk pertanyaan ayahnya. Abimayu mulai gerah dengan kebungkaman Bella.
“AYAH TANYA, SIAPA AYAH BAYI ITU, BELLA?!”teriak sang ayah penuh dengan kemarahan. Bella tersentak
kaget lalu terisak, Marlina dengan cepat menghampiri suaminya.
“Pa…, jangan marah marah, tenang.” Pinta marlina menenangkan. Marlina menatap kearah Bella.
“Beritahu kami sayang, siapa ayah bayi itu.”pintanya dengan suara serak karena menangis. Bella hanya
menggeleng.”aku tidak tau bu, ayah. sungguh Bella tidak tau siapa dia.”ucapnya dengan isak tangis. Jawaban Bella malah membuat Abimayu marah.
“Apa kamu sudah hilang akal sampai tidur dengan sembarang pria yang tak kau kenal.” Ucap
Abimayu dengan berusaha menahan amarahnya. Bella yang melihat amarah sang ayah
dengan cepat turun dari tempat tidur dan bersimpuh dikaki ayah ibunya sambil terisak.
“sumpah, Bella tidak tau siapa lelaki itu, kejadian nya pun tak disengaja.”isaknya dengan suara
__ADS_1
putus asa. Abimayu memejamkan kedua matanya dengan perasaan kecewa, sedangkan Marlina tidak dapat berkata sepatah katapun, hanya air mata yang dapat mewakili perasaan kecewanya terhada putrid kesayangannya.
“Baik, kalo kamu bersikeras tidak mau memberitahukan siapa ayah bayi itu, maka kamu harus menggugurkan bayi itu, kalo tidak kamu bisa keluar dari rumah ini dan dihapus dari daftar keluarga dan tidak mendapatkan hak waris sepersen pun.” Ucap Abimayu dengan tegas. Membuat Marlina dan Bella tersentak kaget.
“Ayah…maafkan Bella, ampuni Bella ayah.” Ucap bela dengan terus memeluk kaki sang ayah. Tapi sang
ayah tidak peduli dengan rengekan Bella, ia melepaskan kakinya dari tangan Bella dan bergegas keluar kamar dengan perasaan kecewa. Marlina dengan cepat menyusul suaminya berusaha untuk menenangkan.
Sementara itu Bella masih tersungkur dilantai kamarnya dengan terus menangis, ia benar benar tidak
tau siapa nama lelaki yang tidur dengan nya malam itu, tapi seandainya pun ia tau ia mungkin tidak akan mengatakan nya juga karena ia tau lelaki itu sudah memiliki pasangan, dan tidak mungkin ia menghancurkan hubungan orang lain, Bella duduk dan bersandar ditepian tempat tidurnya lalu dengan ragu ia memegang
perutnya yang didalamnya ada janin ia dan lelaki itu.
“Apa yang harus kulakukan untuk mu nak, apakah aku harus jadi seorang pembunuh? Atau kita
berdua hidup tapi tak memiliki sanak keluarga.”ucapnya dengan terus terisak.
Bella berdiri dari duduknya dan melangkah ke balkon kamarnya dengan pikiran
yang kacau, hidupnya benar benar hancur sekarang, menggugurkan bayi yang ada
dalam perutnya sama halnya seperti pembunuh,mempertahankan nya akan
menghancurkan nama baik keluarganya atau tetap mempertahankan bayi ini tapi ia
hal itu Bella kembali terisak hal yang membuatnya lemah didunia ini adalah
keluarga, tapi bayi yang ada dalam perutnya adalah darah dagingnya yang
merupakan keluarganya juga.
“Apa yang harus kulakukan Tuhan, tolong aku.”bisiknya dengan suara pilu.
Ditempat lain,Rayen Aditya duduk melamun dimeja kantornya sambil menatap gelang kaki yang berukiran
inisial B.M, sudah sebulan ini pikirannya terus diisi oleh gadis yang
memintanya untuk tidur dengannya, awalnya ia berpikir itu hanya cinta satu
malam yang tak perlu dipikirkan, toh gadis itu yang memaksanya untuk
menidurinya, bicara soal malam itu ia ingat betul bagai mana seksinya gadis itu
saat mendesah liar dibawahnya, bagaimana cantiknya gadis itu saat keringat
membanjiri tubuhnya, sial! Mengingatnya saja membuatnya hilang akal. Rayen
__ADS_1
mengusap wajahnya dengan kedua tangan dengan gusar, gadis yang tak dikenalnya itu
sudah membuatnya begitu aneh. Tiba tiba sebuah ketuka dari arah pintu
membuyarkan lamunan Rayen, ia dengan cepat menyimpan kembali kelang kaki itu
kedalam laci meja kerjanya.
“Masuk!” ucapnya dari dalam. Seorang lelaki berperawakan tinggi menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
“Hary, ada apa?”
“Gak makan siang bos?”ucapnya dengan cengiran khasnya, lalu masuk kedalam. Rayen tersenyum lalu
berdiri dari duduknya, kemudian melirik jam tangannya.
“Ck…ternyata sudah masuk jam makan siang rupanya, ayo.”ajaknya pada Hery. Mereka keluar ruangan
sambil sesekali membahas masalah pekerjaan.
Malam harinya Rayen lebih memilih pulang keapartemennya dari pada pullang kerumah itu karena
ayahnya yang ngebet pengen punya cucu akan terus merecokinya tentang pernikahan, bukanya ia tak ingin menikah, hanya saja ia belum menemukan seseorang yang tepat. Rayen merebahkan tubuh lelahnya ditempat tidur , ia hanya melepas jas kantornya dan sedikit melonggarkan dasi hitamnya, ia menatap langit
langit kamarnya dan kembali teringat kata kata Hary.
“Kalau kau masih penasaran dengan gadis itu, kenapa kau tidak menggunakan seluruh
koneksi mu untuk mencari nya.”Ucapan Hary dicafe tadi siang masih terngiang dikepalanya. Bukannya dia begitu terobsesi pada gadis itu melainkan ingin memastikan apakah ia sudah memiliki pasangan atau belum.
Seminggu telah berlalu, dikediaman keluarga Abimayu. Bella masih berada dikamarnya karena
larangan ayahnya agar tidak pergi keluar rumah sampai ia memutuskan apakah ia
tetap mempertahankan bayi itu atau menggugurkannya. Bella menatap wajah nya
dicermin, kantong hitam dibawah matanya begitu nampak, belum lagi mata sembab
karena habis menangis, tiga malam berturut turut ia bermimpi seorang anak kecil
terus memanggilnya mama, membuat niatnya kuat untuk mempertahankan bayi yang
mulai terus tumbuh dalam rahimnya.
“Oke, nak kita harus menghadapi masalah ini bersama sama, tidak masalah kalau kakek mu membuang
kita, yang penting kita kita tetap bersama, kamu tenang saja mama tidak akan membuatmu menderita.”ucapnya sambil sesekali menyeka air matanya yang tanpa sadar keluar.
__ADS_1