Bella,Cinta Yang Hilang

Bella,Cinta Yang Hilang
Kehamilan


__ADS_3

Bella mengejapkan matanya dengan pelan, pusing dikepalanya masih ia rasakan meski tidak separah


tadi, Tapi bukankah tadi ia ada dikamar mandi kenapa tiba tiba ia ada dikamar,


dan kenapa ibunya berwajah kwatir dan sesekali menyeka air matanya lalu ia


mengalihkan pandangannya kedepan jendela disana ayahnya berdiri membelakanginya.


Bella dengan pelan bergerak untuk duduk, ibunya yang melihat itu dengan cepat


menghampirinya dan membantunya.


“Kau baik baik saja saying.” Tanyanya kwatir. Bella menyeritkan alisnya binggung.”tentu saja aku


baik baik saja, emang aku kenapa?” tanyanya dengan heran. Ibunya menata ayahnya


yang sedari tadi tidak bergeming dari depan jendela. Bella makin penasaran.


“Sebenarnya ada apa, bu.”desaknya


“Kau hamil! Itu yang dikatakan dokter keluarga kita.” ucap ayahnya dengan tenang tapi tidak dapat


dipungkiri ada nada kemarahan yang tak dapat ia sembunyikan. Bella terkejut, ia menatap punggug ayahnya tak percaya, lalu kembali menatap ibunya yang hanyabisa mengangguk tanpa bisa berkata apa apa, kembali matanya mengarah pada tanggal yang terletak diatas meja belajarnya dan benar saja tanggal dibulan ini polos tanpa spidol merah yang melingkari setiap tanggal menstruasinya. Bella memegang kepalanya dengan kedua tangannya ia benar benar tidak mempercayai kejadian ini tapi ini benar adanya, ia hamil dengan orang yang tak ia kenal.


Ayahnya berpaling menghadap kearah Bella, wajahnya benar benar tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahan yang menjadi satu.


“Siapa ayah bayi itu.” Tanya ayahnya berusaha tenang, Bella tersentak dan menatap ayahnya,


matanya mulai berkaca kaca, ia pun bingngung apa yang harus ia jawab untuk pertanyaan ayahnya. Abimayu mulai gerah dengan kebungkaman Bella.


“AYAH TANYA, SIAPA AYAH BAYI ITU, BELLA?!”teriak sang ayah penuh dengan kemarahan. Bella tersentak


kaget lalu terisak, Marlina dengan cepat menghampiri suaminya.


“Pa…, jangan marah marah, tenang.” Pinta marlina menenangkan. Marlina menatap kearah Bella.


“Beritahu kami sayang, siapa ayah bayi itu.”pintanya dengan suara serak karena menangis. Bella hanya


menggeleng.”aku tidak tau bu, ayah. sungguh Bella tidak tau siapa dia.”ucapnya dengan isak tangis. Jawaban Bella malah membuat Abimayu marah.


“Apa kamu sudah hilang akal sampai tidur dengan sembarang pria yang tak kau kenal.” Ucap


Abimayu dengan berusaha menahan amarahnya. Bella yang melihat amarah sang ayah


dengan cepat turun dari tempat tidur dan bersimpuh dikaki ayah ibunya sambil terisak.


“sumpah, Bella tidak tau siapa lelaki itu, kejadian nya pun tak disengaja.”isaknya dengan suara

__ADS_1


putus asa. Abimayu memejamkan kedua matanya dengan perasaan kecewa, sedangkan Marlina tidak dapat berkata sepatah katapun, hanya air mata yang dapat mewakili perasaan kecewanya terhada putrid kesayangannya.


“Baik, kalo kamu bersikeras tidak mau memberitahukan siapa ayah bayi itu, maka kamu harus menggugurkan bayi itu, kalo tidak kamu bisa keluar dari rumah ini dan dihapus dari daftar keluarga dan tidak mendapatkan hak waris sepersen pun.” Ucap Abimayu dengan tegas. Membuat Marlina dan Bella tersentak kaget.


“Ayah…maafkan Bella, ampuni Bella ayah.” Ucap bela dengan terus memeluk kaki sang ayah. Tapi sang


ayah tidak peduli dengan rengekan Bella, ia melepaskan kakinya dari tangan Bella dan bergegas keluar kamar dengan perasaan kecewa. Marlina dengan cepat menyusul suaminya berusaha untuk menenangkan.


Sementara itu Bella masih tersungkur dilantai kamarnya dengan terus menangis, ia benar benar tidak


tau siapa nama lelaki yang tidur dengan nya malam itu, tapi seandainya pun ia tau ia mungkin tidak akan mengatakan nya juga karena ia tau lelaki itu sudah memiliki pasangan, dan tidak mungkin ia menghancurkan hubungan orang lain, Bella duduk dan bersandar ditepian tempat tidurnya lalu dengan ragu ia memegang


perutnya yang didalamnya ada janin ia dan lelaki itu.


“Apa yang harus kulakukan untuk mu nak, apakah aku harus jadi seorang pembunuh? Atau kita


berdua hidup tapi tak memiliki sanak keluarga.”ucapnya dengan terus terisak.


Bella berdiri dari duduknya dan melangkah ke balkon kamarnya dengan pikiran


yang kacau, hidupnya benar benar hancur sekarang, menggugurkan bayi yang ada


dalam perutnya sama halnya seperti pembunuh,mempertahankan nya akan


menghancurkan nama baik keluarganya atau tetap mempertahankan bayi ini tapi ia


hal itu Bella kembali terisak hal yang membuatnya lemah didunia ini adalah


keluarga, tapi bayi yang ada dalam perutnya adalah darah dagingnya yang


merupakan keluarganya juga.


“Apa yang harus kulakukan Tuhan, tolong aku.”bisiknya dengan suara pilu.


Ditempat lain,Rayen Aditya duduk melamun dimeja kantornya sambil menatap gelang kaki yang berukiran


inisial B.M, sudah sebulan ini pikirannya terus diisi oleh gadis yang


memintanya untuk tidur dengannya, awalnya ia berpikir itu hanya cinta satu


malam yang tak perlu dipikirkan, toh gadis itu yang memaksanya untuk


menidurinya, bicara soal malam itu ia ingat betul bagai mana seksinya gadis itu


saat mendesah liar dibawahnya, bagaimana cantiknya gadis itu saat keringat


membanjiri tubuhnya, sial! Mengingatnya saja membuatnya hilang akal. Rayen

__ADS_1


mengusap wajahnya dengan kedua tangan dengan gusar, gadis yang tak dikenalnya itu


sudah membuatnya begitu aneh. Tiba tiba sebuah ketuka dari arah pintu


membuyarkan lamunan Rayen, ia dengan cepat menyimpan kembali kelang kaki itu


kedalam laci meja kerjanya.


“Masuk!” ucapnya dari dalam. Seorang lelaki berperawakan tinggi menjulurkan kepalanya dari balik pintu.


“Hary, ada apa?”


“Gak makan siang bos?”ucapnya dengan cengiran khasnya, lalu masuk kedalam. Rayen tersenyum lalu


berdiri dari duduknya, kemudian melirik jam tangannya.


“Ck…ternyata sudah masuk jam makan siang rupanya, ayo.”ajaknya pada Hery. Mereka keluar ruangan


sambil sesekali membahas masalah pekerjaan.


Malam harinya Rayen lebih memilih pulang keapartemennya dari pada pullang kerumah itu karena


ayahnya yang ngebet pengen punya cucu akan terus merecokinya tentang pernikahan, bukanya ia tak ingin menikah, hanya saja ia belum menemukan seseorang yang tepat. Rayen merebahkan tubuh lelahnya ditempat tidur , ia hanya melepas jas kantornya dan sedikit melonggarkan dasi hitamnya, ia menatap langit


langit kamarnya dan kembali teringat kata kata Hary.


“Kalau kau masih penasaran dengan gadis itu, kenapa kau tidak menggunakan seluruh


koneksi mu untuk mencari nya.”Ucapan Hary dicafe tadi siang masih terngiang dikepalanya. Bukannya dia begitu terobsesi pada gadis itu melainkan ingin memastikan apakah ia sudah memiliki pasangan atau belum.


Seminggu telah berlalu, dikediaman keluarga Abimayu. Bella masih berada dikamarnya karena


larangan ayahnya agar tidak pergi keluar rumah sampai ia memutuskan apakah ia


tetap mempertahankan bayi itu atau menggugurkannya. Bella menatap wajah nya


dicermin, kantong hitam dibawah matanya begitu nampak, belum lagi mata sembab


karena habis menangis, tiga malam berturut turut ia bermimpi seorang anak kecil


terus memanggilnya mama, membuat niatnya kuat untuk mempertahankan bayi yang


mulai terus tumbuh dalam rahimnya.


“Oke, nak kita harus menghadapi masalah ini bersama sama, tidak masalah kalau kakek mu membuang


kita, yang penting kita kita tetap bersama, kamu tenang saja mama tidak akan membuatmu menderita.”ucapnya sambil sesekali menyeka air matanya yang tanpa sadar keluar.

__ADS_1


__ADS_2