
Bella mengumpulkan beberapa kartu keredit yang pernah diberikan orang tuanya dan sebuah kunci
mobil tak lupa dua buah hendphon yang juga pemberian orang tua nya, ia
mengumpulkannya dalam sebuah kotak hitam lalu membawanya keluar kamar dan menuju ruang kerja ayahnya,
pelayan yang melihat itu dengan cepat pergi melapor kepada Marlina, marlina
yang mendengar laporan sang pelayan dengan cepat keluar kamarnya untuk mencegah
Bella, tapi belum sempat mencegahnya Bella sudah masuk keruangan kerja Abimayu,
Marlina terduduk lemas lalu sang pelayan membantunya.
“Nyonyah baik baik saja.” Tanya sang pelayan kuwatir, Marlina hanya mengangguk lalu dengan pelan
berdiri dan dengan pelan melangkah keruangan sang suami. Sementara itu Bella
dengan perasaan gugup saat berhadapan dengan ayahnya, ia sudah mengambil
keputusan yang sangat besar entah suatu saat ia sesali atau tidak, tapi untuk
saat ini keputusann ya sudah bulat untuk mempertahankan bayi ini walau dia harus
kehilangan keluarga dan harta. Dengan pelan Bella melangkah kedepan meja kerja
ayahnya yang sepertinya memang tak ingin melihatnya, lalu ia meletakan kotak
hitam didepan ayahnya, ayahnya sedikit kecewa saat melihat kotak hitam itu, ia
menyayangkan keputusan Bella yang ia anggap masih anak anak itu.
“Jadi kau lebih mempertahankan anak itu dan membuang keluarga mu?”ucap abimayu dengan kecewa.
Bella hanya menunduk dengan sedih, tidak ada anak yang akan membuang orang
tuanya apa lagi orang tua yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang dan
bahkan diberi kemewahan, tapi seorang ibu yang memiliki hati nurani mana tega
membunuh darah dagingnya sendiri, karena ia mengganggap anaknyang ada didalam
rahimnya ini tidak berdosa, yang berdosa adalah dirinya, biarlah seandainya
Tuhan mau memberikannya karma maka ia akan menerimanya meski seumur hidup, tapi
ia memohon biarkan keluarganya dan bayinya bahagia, tak terasa air mata yang
susah payah ditahanya akhirnya tumpah juga, ibunya hanya terdiam didepan pintu
dengan air mata, ia tak tahu bahwa Bella berani mengambil keputusan yang begitu
besar, ada rasa bangga dalam dirinya karena ia mengganggap putrinya sudah
dewasa diumurnya yang begitu masih muda, tapi tak dapat dipungkiri kalo hati
__ADS_1
nya begitu sakit dan sedih karena ia tak akan melihat putrinya lagi setelah
ini.
“Ayah…”Ucapan Bella terhenti saat Abimayu mengngangkat tangannya agar Bella berhenti bicara.
“Aku bukan ayah mu lagi mulai saat ini.”ucap Abimayu sambil memutar kursi kerjanya kearah jendela,
untuk saat ini pemandangan diluar lebih enak dipandang dari pada anak yang
tidak tau balas budi. Mendengar ucapan sang ayah tubuh Bella perlahan terjatuh
kelantai dan makin terisak, sang ibu langsung memeluk tubuh putrinya yang
terisak.
“cepat minta maaf pada ayah mu nak.” Pinta sang ibu diantara isak tangisnya, Bella menggeleng dan
menyeka air matanya lalu dengan pelan ia berdiri tak lupa membawa ibunya untuk
berdiri.
“Terimakasih untuk semua kebaikan yang telah kalian lakukan untuk ku selama ini, maaf tidak bisa
membalas semua apa yang telah kalian berikan, tapi aku berharap tuhan selalu
menjaga kalian, aku pamit.”Ucapnya dengan yakin akan keputusannya, Ia memeluk
ibunya dengan sedih tapi tak ada lagi air mata.
kak Jo bertengkar dengan ayah .” ucapnya pelan sambil menyeka air mata ibunya.
Bella pun dengan cepat keluar ruangan kerja ayahnya, ia tak ingin berlama lama
melihat kesedihan ibunya dan wajah angkuh ayahnya, sesampainya dikamar Bella
memasukan beberapa pakaian yang penting saja dalam satu tas dan tak lupa
beberapa uang tunai yang memang sengaja ia tabung dalam sebuah celengan entah
mengapa ia menyukai tabungan celengan saat masih kecil karena dulu sering
melihat teman teman nya menabung untuk membeli apa yang mereka inginkan,n dan
sekarang ia mengerti kapan tabungan ayamnya harus dipecahkan, setelah
memecahkan tabungan ayamnya yang ternyata uangnya lumayan banyak, Bella
tersenyum kecil dan dengan cepat menyusun beberapa uangnya dan sisanya ia
masukan kedalam tas kecil tanpa menyusunnya, bagaimana pun ia tak ingin anaknya
kekurangan makanan dan harus sehat.
Bella keluar kamar dengan mengunakan celana jean panjang, jaket hitam, topi hitam dan masker
__ADS_1
hitam, bagaimana pun ia harus cepat keluar dari rumah yang sudah tak
menganggapnya bagian dari rumah itu sendiri, para pelayan berjejer dengan wajah
sedih mengantar kepergiannya, Bella hanya mengangguk kearah mereka sebagai
tanda perpisahan, tapi baru saja kakinya keluar dari pintu rumah kepala pelayan
mengejar nya sambil memangil nama nya.
“Non Bella, tunggu?!”ucap sang pelayan dengan tergesa gesa.
“Ada apa bi?”Tanya Bella heran. Si kepala pelayan menyodorkan sekotak bekal makan kearah Bella.
Bella menerimanya dengan sedikit bingung. Kepala pelayan nang menyadari
kebingungan Bella langsung member penjelasan.
“itu beberapa buah buahan biar non Bella tidak merasa mual, nanti saja memakannya saat non merasa
lapar atau mual.” Ucap sang kepala pelayan, Bella mengangguk paham.
“ tolong jaga ibu dan ayah ya bi, dan jangan kasih tau kak Jo.”pintanya. sang kepala pelayan hanya
mengangguk sedih.
Sementara itu, Rayen dan Hary keluar dari ruangan sehabis meeting dengan beberapa klien, entah
kenapa Rayen merasa gerah dan melonggarkan sedikit dasinya, Hary menatapnya
heran.
“kau knapa sih Rey, meetingnya berjalan lancar, tapi yang ku lihat kau malah gelisah, seperti ada
sesuatu yang menggangu pikiran mu.”Tanya Hary. Rayen hanya ia terus berjalan
menuju ruang kerjanya, Hary yang penasaran terus mengikutinya sampai keruang
kerja, Rayen langsung menghempaskan tubuhnya disofa dan melepas jas kerjanya
yang membuatnya terasa sesak. Hary mengambil minuman mineral dingin dari dalam
lemari pendingin dan memberikan nya pada Rayen.
“Ada masalah apa?”Tanya Hary penasaran karena sahabatnya hari ini tidak begitu banyak bicara.
“Entah lah Har, ada bagian dari hati ku yang merasa aneh, yang membuatku gelisah, jujur saja sudah
dua malam ini aku bermimpi tentang gadis itu, didalam mimpiku aku melihatnya
meringkuk dalam gelap dan menangis, entah mengapa didalam mimpiku aku pun ikut
menangis, hatiku ikut sakit tapi aku tak bisa menggapainya.” Ucap Rayen
menerawang mengingat kembali mimpinya.
__ADS_1