
Bella berbaring santai di lantai sambil bermain dengan seekor kucing milik nenek Wilo, sudah
dua bulan ia berada dirumah nenek Wilo dan mulai akrab dengan warga disana,
nenek Wilo yang melihatnya asik bermain dengan seekor kucing tersenyum senang.
“ Apa kau tidak
merindukan rumah mu.” Pertanyaan nenek wilo membuat Bella terdiam. Bella hanya
menggelengkan kepala lalu kembali bermain dengan kucing. Nenek Wilo tersenyum
kecut ia tahu pasti sangat merindukan orang tuanya.
“ Aku hanya memikirkan ibu.” Ucapnya Bella dengan suara sedih. Nenek Wilo menatapnya dengan
ikut sedih.
“ Waktu aku sakit,dan ibu saat itu berada diluar negri, beliau tak henti hentinya menelepon dengan
nada kawatir, apa lagi sekarang aku tak bisa bertemu ibu entah sampai kapan,
aku takut beliau sakit.” Ucapnya sambil menyeka air matanya. Nenek Wilo lalu
mendekatinya dan mengusap kepala bela dengan sayang, Bella makin terisak
merasakan kasih sayang sang nenek yang begitu tulus.
“ Terimakasih nek sudah mau menampung Bella, yang hanya orang asing.” Ucapnya sambil menyeka air
mata nya dan duduk dari berbaringnya. Sang nenek hanya mengangguk dengan
tersenyum tulus.
“ Tunggu sebentar nek.” Bella beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi kekamarnya, tak lama
kemudian Bella keluar dengan membawa sebuah bungkusan kain berwarna unggu, lalu
kembali duduk dihadapan sang nenek, lalu menyerahkan bungkusan kain berwarna
unggu. Nenek Wilo menatap bungkusan itu dengan heran lalu membuka bungkusan
itu, alangkah kagetnya nenek Wilo saat melihat isi bungkusan itu ternyata
perhiasan emas yang tidak sedikit.
“ Ini…” ucap nenek Wilo minta penjelasan kepada Bella. Bella tersenyum lalu memegang tangan nenek
Wilo.
“ Sepertinya ibu yang memeberikannya pada ku melewati pelayan biar tidak ketahuan ayah dan
__ADS_1
menyerahkan pada nenek adalah keputusan yang tepat.” Ucapnya dengan tersenyum
tulus. Sang nenek tersenyum lalu mengembalikan lagi bungkusan yang berisi emas
itu ke Bella.
“ Ibu mu pasti kuatir dengan keadaan mu saat kau berada diluar seorang diri, belum lagi kau saat ini
sedang hamil, ibumu mungkin menginginkan yang terbaik untuk mu dan bayi yang
sedang kau kandung.” Ucap nenek Wilo sambil mengusap perut Bella yang mulai
membesar.
“ Tolong terimalah nek, kalo nenek merasa emas ini kebanyakan nenek bisa membaginya dengan warga
sekitar yang lebih membutuhkan, dengan begitu aku berharap Tuhan akan menjaga
dan memberi kesehatan pada keluarga ku yang jauh disana, tolong ya nek terima
ini.” Pinta Bella dengan penuh harap. Sang nenek tak dapat berkata apa apa
menghadapi kekeras kepalaan Bella, ia hanya tersenyum lalu menganguk.
“ Baiklah kalo itu yang diinginkan ibu yang sedang hamil, nenek bisa apa.” Ucapnya dengan wajah
yang dibuat seolah olah pasrah, Bella tertawa yang langsung menular ke sang
nenek.
bisa ku tabung.” Ucap Bella dengan bangga, sang nenek yang mendengarkan itu tak
dapat menghentikan air matanya yang tanpa sadar keluar lalu memeluk Bella.
“ Kenapa anak sebaik dirimu diberikan ujian yang begitu berat, rencana baik apa yang direncanaklan
tuhan untukmu kelak.” Isak sang nenek, Bella tersenyum lalu membalas pelukan
sang nenek.
“ Aku hanya berharap anak ku kelak punya masa depan yang lebih baik dari pada aku nek, karena aku
bukan orang baik, aku sudah mengecewakan keluarga ku dengan aib yang ku buat,
hanya berharap Tuhan tidak meninggalkan ku.” Ucapnya dengan nada sedih.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa kehamilan Bella memasuki bulan keenam, saat
sedang asik bekerja memetik buah apel, tiba tiba lelaki paruh baya menepuk
pundaknya yang membuat Bella terkejut lalu menoleh.
__ADS_1
“ Tuan…” ucapnya sambil menunduk menghormati. Tuan Surya adalah pemilik kebun terluas dikota M
tempatnya bekerja, ia sudah dua kali bertemu tuan Surya, pertama saat usia
kanndungan dua bulan dan sekarang.
“ Jangan terlalu capek, kau sedang hamil.” Ucap Surya dengan tersenyum.
“ Mau bagaimana lagi buah buah apel ini membuat ku bersemangat tuan, dan saya juga tidak tahan kalo
tidak memakannya.” Ucap Bella penuh semangat. Surya tersenyum, tidak ada
perilaku Bella yang tidak membuat nya tertawa, pertama kali bertemu Bella entah
kenapa ia merasa begitu tertarik secara emosional. Tiba tiba Bella meringis
memegang perutnya membuat sang tuan
kaget.
“ Bella kau tidak apa apa?” Tanya sang tuan cemas. Bella tiba tiba tersenyum lalu mendudukan tubuhnya
direrumputan hijau.
“ Tidak apa apa tuan, sepertinya si kecil sedang menendang, mungkin ia minta ibunya untuk istirahat.”
Ucap Bella sambil mengusap perutnya, lalu meminum air mineral yang sudah
disiaplkannya. Surya menghela napas lega lalu kembali duduk dikursi yang sudah
disiapkan pelayannya.
“ Kau sepertinya menikmatinya saat bayi itu menendang nendang.” Ucap Surya dengan tersenyum
menatap Bella. Bella mengangguk membalas senyuman Surya.
“ Dulu istri ku juga paling senang saat anak kami bergerak gerak dan menendang.” Kenang Surya dengan
tersenyum. Bella menatap wajah sang tuan yang penuh dengan kerinduan terhadap
sang istri, Bella memang sudah tau dari para pekerja lain nya kalau istri sang
tuan meninggal setelah melahirkan bayi kembar perempuan dan Bella juga baru
mengetahui kalau sang tuan memiliki anak sulung laki laki yang tampan itu pun kata
pekerja yang pernah bertemu.
“ Tuan…” Ucap Bella sedih. Surya tersenyum menghentikan lamunannya.
“ Andai saja anak ku yang malang itu menikah, mungkin aku sekarang sudah menimang cucu, apalah daya
__ADS_1
ia lebih mencintai pekerjaannya dari pada aku.” Ucap Surya dengan wajah pura
pura menderita. Bella yang melihat ekpresi sang tuan tiba tiba tertawa.