Bella,Cinta Yang Hilang

Bella,Cinta Yang Hilang
menikmati jadi calon ibu


__ADS_3

Bella berbaring santai di lantai sambil bermain dengan seekor kucing milik nenek Wilo, sudah


dua bulan ia berada dirumah nenek Wilo dan mulai akrab dengan warga disana,


nenek Wilo yang melihatnya asik bermain dengan seekor kucing tersenyum senang.


“ Apa kau tidak


merindukan rumah mu.” Pertanyaan nenek wilo membuat Bella terdiam. Bella hanya


menggelengkan kepala lalu kembali bermain dengan kucing. Nenek Wilo tersenyum


kecut ia tahu pasti sangat merindukan orang tuanya.


“ Aku hanya memikirkan ibu.” Ucapnya Bella dengan suara sedih. Nenek Wilo menatapnya dengan


ikut sedih.


“ Waktu aku sakit,dan ibu saat itu berada diluar negri, beliau tak henti hentinya menelepon dengan


nada kawatir, apa lagi sekarang aku tak bisa bertemu ibu entah sampai kapan,


aku takut beliau sakit.” Ucapnya sambil menyeka air matanya. Nenek Wilo lalu


mendekatinya dan mengusap kepala bela dengan sayang, Bella makin terisak


merasakan kasih sayang sang nenek yang begitu tulus.


“ Terimakasih nek sudah mau menampung Bella, yang hanya orang asing.” Ucapnya sambil menyeka air


mata nya dan duduk dari berbaringnya. Sang nenek hanya mengangguk dengan


tersenyum tulus.


“ Tunggu sebentar nek.” Bella beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi kekamarnya, tak lama


kemudian Bella keluar dengan membawa sebuah bungkusan kain berwarna unggu, lalu


kembali duduk dihadapan sang nenek, lalu menyerahkan bungkusan kain berwarna


unggu. Nenek Wilo menatap bungkusan itu dengan heran lalu membuka bungkusan


itu, alangkah kagetnya nenek Wilo saat melihat isi bungkusan itu ternyata


perhiasan emas yang tidak sedikit.


“ Ini…” ucap nenek Wilo minta penjelasan kepada Bella. Bella tersenyum lalu memegang tangan nenek


Wilo.


“ Sepertinya ibu yang memeberikannya pada ku melewati pelayan biar tidak ketahuan ayah dan

__ADS_1


menyerahkan pada nenek adalah keputusan yang tepat.” Ucapnya dengan tersenyum


tulus. Sang nenek tersenyum lalu mengembalikan lagi bungkusan yang berisi emas


itu ke Bella.


“ Ibu mu pasti kuatir dengan keadaan mu saat kau berada diluar seorang diri, belum lagi kau saat ini


sedang hamil, ibumu mungkin menginginkan yang terbaik untuk mu dan bayi yang


sedang kau kandung.” Ucap nenek Wilo sambil mengusap perut Bella yang mulai


membesar.


“ Tolong terimalah nek, kalo nenek merasa emas ini kebanyakan nenek bisa membaginya dengan warga


sekitar yang lebih membutuhkan, dengan begitu aku berharap Tuhan akan menjaga


dan memberi kesehatan pada keluarga ku yang jauh disana, tolong ya nek terima


ini.” Pinta Bella dengan penuh harap. Sang nenek tak dapat berkata apa apa


menghadapi kekeras kepalaan Bella, ia hanya tersenyum lalu menganguk.


“ Baiklah kalo itu yang diinginkan ibu yang sedang hamil, nenek bisa apa.” Ucapnya dengan wajah


yang dibuat seolah olah pasrah, Bella tertawa yang langsung menular ke sang


nenek.


bisa ku tabung.” Ucap Bella dengan bangga, sang nenek yang mendengarkan itu tak


dapat menghentikan air matanya yang tanpa sadar keluar lalu memeluk Bella.


“ Kenapa anak sebaik dirimu diberikan ujian yang begitu berat, rencana baik apa yang direncanaklan


tuhan untukmu kelak.” Isak sang nenek, Bella tersenyum lalu membalas pelukan


sang nenek.


“ Aku hanya berharap anak ku kelak punya masa depan yang lebih baik dari pada aku nek, karena aku


bukan orang baik, aku sudah mengecewakan keluarga ku dengan aib yang ku buat,


hanya berharap Tuhan tidak meninggalkan ku.” Ucapnya dengan nada sedih.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa kehamilan Bella memasuki bulan keenam, saat


sedang asik bekerja memetik buah apel, tiba tiba lelaki paruh baya menepuk


pundaknya yang membuat Bella terkejut lalu menoleh.

__ADS_1


“ Tuan…” ucapnya sambil menunduk menghormati. Tuan Surya adalah pemilik kebun terluas dikota M


tempatnya bekerja, ia sudah dua kali bertemu tuan Surya, pertama saat usia


kanndungan dua bulan dan sekarang.


“ Jangan terlalu capek, kau sedang hamil.” Ucap Surya dengan tersenyum.


“ Mau bagaimana lagi buah buah apel ini membuat ku bersemangat tuan, dan saya juga tidak tahan kalo


tidak memakannya.” Ucap Bella penuh semangat. Surya tersenyum, tidak ada


perilaku Bella yang tidak membuat nya tertawa, pertama kali bertemu Bella entah


kenapa ia merasa begitu tertarik secara emosional. Tiba tiba Bella meringis


memegang perutnya membuat  sang tuan


kaget.


“ Bella kau tidak apa apa?” Tanya sang tuan cemas. Bella tiba tiba tersenyum lalu mendudukan tubuhnya


direrumputan hijau.


“ Tidak apa apa tuan, sepertinya si kecil sedang menendang, mungkin ia minta ibunya untuk istirahat.”


Ucap Bella sambil mengusap perutnya, lalu meminum air mineral yang sudah


disiaplkannya. Surya menghela napas lega lalu kembali duduk dikursi yang sudah


disiapkan pelayannya.


“ Kau sepertinya menikmatinya saat bayi itu menendang nendang.” Ucap Surya dengan tersenyum


menatap Bella. Bella mengangguk membalas senyuman Surya.


“ Dulu istri ku juga paling senang saat anak kami bergerak gerak dan menendang.” Kenang Surya dengan


tersenyum. Bella menatap wajah sang tuan yang penuh dengan kerinduan terhadap


sang istri, Bella memang sudah tau dari para pekerja lain nya kalau istri sang


tuan meninggal setelah melahirkan bayi kembar perempuan dan Bella juga baru


mengetahui kalau sang tuan memiliki anak sulung laki laki yang tampan itu pun kata


pekerja yang pernah bertemu.


“ Tuan…” Ucap Bella sedih. Surya tersenyum menghentikan lamunannya.


“ Andai saja anak ku yang malang itu menikah, mungkin aku sekarang sudah menimang cucu, apalah daya

__ADS_1


ia lebih mencintai pekerjaannya dari pada aku.” Ucap Surya dengan wajah pura


pura menderita. Bella yang melihat ekpresi sang tuan tiba tiba tertawa.


__ADS_2