
Laboratorium misterius ini dipenuhi oleh tabung berisi anak kecil di dalamnya. Zero telah mengaktifkan sesuatu seperti tombol bulat berwarna merah, sehingga cairan serta selang yang menghisap anak kecil itu, mengeluarkan sedikit buih seperti soda.
'Blubbb... blubb ....'
Buih-buih itu terdengar jelas, semakin lama "memekik" mengeluarkan suara yang tidak mengenakkan gendang telinga.
'Wuingggg!!'
Zero menutup telinga rapat-rapat dengan cepat, namun tidak bagi mata-mata di atas bukit.
'Wuinggg!!'
Gema dari suara itu keluar dari laboratorium tersebut dan terdengar oleh para mata-mata ini.
"... Aghhh sialan ... suaranya sangat berisik!" Teriak pria tudung hitam kesal, sembari menutup kedua telinganya.
Rekan yang ada disamping tudung hitam juga terkena dampaknya.
"Jangan bilang kalau kekuatanya telah masuk ke kumpulan anak tak berdosa itu?" Kata rekan tudung hitam sambil menutup telinganya juga.
"... Cih, kau tidak lihat tadi? sudah jelas kalau pria sialan itu mengendalikan anak tak berdosa tadi ...." balas pria tudung hitam ke rekan nya.
"Ya aku tahu itu ... tapi jika kita muncul, Yuzarin akan mengalami kehancuran."
"Haha kau benar ... sebab kekuatan akan tunduk dengan kekuatan juga, itulah motoku ...."
Moto pria tudung hitam ini membuat rekan nya mengalami ketakutan. Ia perlahan menenangkan diri dengan memegangi jantungnya yang masih berdetak keras.
'Pria ini benar-benar berbahaya' batin rekan tudung hitam.
Pria tudung hitam yang melihat rekan nya ketakutan, lalu tertawa bahagia.
"Haha ... apa-apaan kau ini, seharusnya kau tidak usah ketakutan bukan? karena kita sama-sama penangkal kekuatan ...."
Rekan tudung hitam menghembuskan nafas pelan.
"Hufttt ... ya kau benar Tsuyosa-sama ...."
Rekan tudung hitam, dengan tuan nya yang bernama Tsuyosa itu merasa baikan, walau ia agak merasa sedikit tegang, melihat aura dari tuannya: Tsuyosa.
'Aura yang menyiratkan kematian, benar-benar menyeramkan' batin rekan tudung hitam lagi.
"Baiklah tugasku sudah selesai ... kita kembali lagi Rein!" kata Tsuyosa sambil berbalik arah ke arah markasnya.
"Baik Tsuyosa-sama!" balas Rein mengikuti tuan nya.
Tsuyosa agak risih mendengar julukannya itu.
"Oi ... oi ... aku benci dipanggil Tsuyosa-sama, panggil saja aku seperti biasanya ... Rein-Rein ...."
"Baik, Tsuyo!"
"Nah begitu ...." balas Tsuyosa sambil tersenyum lebar ke arah Rein.
Kedua orang dengan kekuatan misterius kembali ke asalnya. Mereka sudah mematai laboratorium aneh milik Zero.
_ _ _
Tabung-tabung dari laboratorium tempat Zero berdiri itu meledak dan membuka seluruh anak yang sudah memiliki kekuatan.
"... Gya-Gyahahaha. Berhasil-- berhasil, para anak buahku!"
Zero tertawa senang melihat para anak kecil berhasil memperoleh kekuatan buatan.
Seorang anak kecil yang berdiri dengan kekuatan berbicara ke Zero dengan berani.
"... Boleh aku bertanya sedikit? siapa namaku paman?"
"... Kalian semua tidak memiliki nama? hmm kalau begitu pakailah namamu seperti kekuatanmu itu sendiri ... seperti kau-- kau memiliki aura dari keturunan kekuatan ... sepertinya kekuatanmu adalah kegelapan, eh?" kata Zero sambil menunjuk ke salah satu anak dari kekuatan buatan.
"Kegelapan?" kata anak yang ditunjuk oleh Zero.
Zero mendekati anak yang dimaksud, dan menepuk bahu anak kegelapan itu dengan lembut.
"Ya kau ... aku melihat aura mu ini ... kau salah satu dari keturunan dewa ...."
Seorang anak lain, yang mendengar pembicaraan kedua orang itu, ikut berbicara. Ia sudah memiliki nama sendiri, dan membuat nama itu berdasarkan kekuatan nya.
"... Paman kucing, apa maksudmu keturunan dewa?"
Zero lalu menoleh ke anak yang mengajak berbicaranya itu.
"... Kau tidak perlu tahu nak ... oh ya apa kau sudah memiliki nama? kekuatanmu listrik huh,"
Sekujur tubuh dari anak itu mengeluarkan listrik yang kelihatanya menarik bagi Zero. Anak itu lalu membalas kata dari Zero.
"... Sudah! panggil aku, Denki (listrik) ...."
Zero melongo dalam balik topeng nya itu. Ia merasakan ada hal yang tidak beres akan terjadi.
'Sebentar jangan buruk sangka dulu ... aku bisa memanfaatkan dia untuk mengajarkan anak payah lainnya?' batin Zero dengan serius.
"Kalau begitu Denki, bisa kau ajarkan pada anak lainnya untuk membuat nama?"
Denki menutup matanya lalu membuka mata yang penuh semangat itu dan menunjuk orang yang sudah ia beri nama.
" Yami ... Tetsu ... Kaze ... Tsuchi ... Baburu ... Hana ...." ucap Denki dengan cepat, sambil menunjuk ke anak lain nya yang dekat dengan nya.
"...Wah menakjubkan, sangat menakjubkan!" puji Zero sembari bertepuk tangan.
Karena "kebaikan" dan juga semangat dari Denki. Anak yang lain meminta Denki untuk membuatkan sebuah nama untuk dirinya yang belum sama sekali memiliki nama. Namun, sebagian dari mereka sudah membuat nama sendiri berdasarkan kekuatan nya.
'Anak bernama Denki itu ... entah kenapa dia akan mencoba memberontak' batin Zero sembari mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
"Ah sudahlah ... lebih baik kalian berlatih kekuatan itu sendirian ... aku akan membawakan kalian cemilan agar dapat berlatih secara maksimal!"
Zero lalu pergi membawakan banyak cemilan untuk anak dengan kekuatan buatan itu. Lima belas detik berlalu, Zero membawa puluhan cemilan yang mengambang dengan kekuatan nya.
"... Lihatlah! ini adalah keuntungan memiliki kekuatan ... walau kalian semua ini adalah pemilik kekuatan buatan ... setidaknya kalian semua kuat!" kata Zero memyemangati anak dengan kekuatan buatan itu. Ia memberikan cemilan dengan melemparkan ke semua anak-anak secara acak dengan kekuatan nya.
Tapi tetap saja pertikaian bisa terjadi. Anak lain tidak terima cemilan favoritnya direbut oleh anak yang lain. Zero yang melihat hal ini, lalu membuat keputusan dengan mengadakan adu kekuatan.
"... Siapa pun yang berhasil menjatuhkan lawan, maka boleh memilih cemilan favoritnya!" kata Zero membuat keputusan itu dengan cepat, dan menarik cemilan itu kembali dengan kekuatan mengambangkan benda.
Banyak anak dengan kekuatan buatan setuju, bahkan tidak ada satu pun yang ragu dengan keputusan Zero.
"... Baiklah mari kita berpindah tempat ... 'Recall' ...."
'Wushh'
Tempat pertama yang sudah ditempati Zero berpindah ke tempat kedua yang sudah ia tandai dengan kekuatan penanda. Tempat ini "kosong melompong" dan hanya penuh akan udara saja.
"... Nah lakukan saja disini ... kalian boleh bebas menyerang anak lain nya ... bisa dibilang siapa yang sanggup berdiri di akhir waktu yang ditentukan ... maka keluar menjadi pemenang ...."
Anak dengan kekuatan buatan tetap setuju, demi mendapatkan cemilan favorit mereka sendiri. Hanya saja dua anak ini kelihatan tidak setuju dengan Zero, mereka adalah: Yami dan juga Denki.
Pertarungan kecil akan terjadi, demi mendapatkan cemilan favorit. Cara licik Zero untuk menentukan siapa yang akan menjadi kelompok kekuatan elite terakhir untuk memenuhi ambisinya.
Sebelum itu, mari kita lihat Masayoshi dan juga Shiro dahulu.
____
"Nah Shiro, kita sampai."
"... Ah maaf kalau kasar paman, tapi mengapa tempat ini seperti gubuk tua yang kotor?"
"Gu-- gubuk?!"
"Lihatlah sendiri, ini tidaklah bernilai dari yang aku bayangkan ...."
'Tenang masih anak-anak' batin Masayoshi dengan menahan kekesalan nya.
Timbunan sampah kotor yang banyak, terlihat di dua mata orang ini. Tempat ini seperti gubuk tua yang lama tak terpakai, hanya saja yang mengherankan gubuk ini lebih luas dari gubuk biasa.
Di kediaman yang kumuh penuh sampah kotor, ternyata tempat dimana Masayoshi tinggal. Dan memang begitulah tempat itu kotor dengan tumpukan-tumpukan sampah yang setengahnya adalah logam.
"Nah Shiro ayo masuk!"
"... Anu paman, serius memasuki tempat yang jelek ini?"
Mendengar itu, 'damage crit' masuk ke mental Masayoshi.
"Haha, dasar bocah ... kau mana tahu kalau ini sebenarnya bukanlah gubuk biasa?"
"Tahu kok, buktinya ada banyak sampah menumpuk di depan pintu berkarat itu," kata Shiro menunjuk banyaknya sampah yang tak terhitung jumlahnya yang ada di pintu dengan engsel berkarat.
Masayoshi seketika ambruk, karena terkena 'Damage crit' dari Shiro.
Seperti "rajam" menjatuhi Masayoshi, membuat Masayoshi seketika "setengah mati"
'Aku tidak dapat menahan lagi!' batin Masayoshi dengan kesal, sembari berdiri dan memegangi pantat Shiro dengan tangan kirinya, lalu tangan kananya sudah berancang-ancang untuk menepuk pantat Shiro.
"... Mau ngapain paman?" kata Shiro.
"Memberikan hukuman yang layak untukmu!" seru Masayoshi sembari menepuk pantat Shiro dengan keras.
Shiro tidak merasa kesakitan, ia berwajah bingung dengan apa yang dilakukan oleh Masayoshi.
"... Aku kecewa karena paman ... ternyata 'Shotacon' " kata Shiro dengan mata sipit.
" ... Sho-shotacon?! aku tidak Shotacon!!" Masayoshi semakin kesal, ia mengulangi lagi menepuk pantat Shiro dengan tamparan yang jauh lebih keras.
'Plak!!'
Tapi kejadian tadi sama, Shiro tidak merasa kesakitan, dan malah semakin merasa "jijik" dengan perlakuan Masayoshi kepada dirinya.
"Shota-"
"Aku bukan Shotacon!"
Dua menit dimana mereka melakukan hal bodoh, akhirnya Masayoshi menyerah dan memilih membuka pintu kayu dengan engsel berkarat itu.
'Kriettt'
Masayoshi mempersilahkan Shiro untuk masuk. Tempat kediaman Masayoshi sangat gelap bahkan sulit untuk dilihat karena "saking" gelapnya tempat ini, terasa bahwa binatang seperti kelelawar cocok untuk menempatinya.
"... Baiklah 'Hikari Kosen' (Sinar cahaya)...."
Cahaya keluar dari badan Masayoshi, dan menerangi seluruh ruangan. Ruangan yang diluar kelihatan kumuh, ternyata di dalamnya terdapat banyak artefak indah yang kelihatan mahal dan terbuat dari emas. Seperti halnya "peribahasa" jangan menilai buku dari sampulnya.
"... Woahh paman ... kau ternyata kaya juga?" kata Shiro memandangi seluruh artefak emas, dengan wajah yang berbinar-binar, bahkan ia terkagum.
"... Ah tidak ... andai King mendengar semua ini ... aku bisa-bisa di sindir lagi," kata Masayoshi sambil mencondongkan badan nya sedikit ke samping.
"King?" kata Shiro.
Di antara artefak emas, sudah ada orang yang bersandar di sofa emas itu. Anak itu seumuran dengan Shiro, dan mengenakan mahkota emas layaknya 'King' (Raja).
"... Woi paman kau memunggut anak kecil lagi?" ucapnya sembari memakan cemilan ringan, dengan "menyelonjorkan" kakinya di sofa emas.
Suara itu terdengar oleh Shiro. Shiro lalu mendekati anak yang sedang bersandar dan "menyelonjorkan" kakinya itu dengan santai.
"... Jadi kau itu King?" kata Shiro sambil mengajak King bersalaman.
"... Jauhkan tangan kotormu itu!" balas King sambil menampar tangan Shiro.
Masayoshi melihat tingkah King. Lalu ia menghentikan King agar tidak bertindak kotor lagi.
__ADS_1
"... Hentikan King ... apaan tingkahmu ini ...."
Tangan kanan King di pegang oleh Masayoshi. Bukanya takut dan berhenti, King justru menyindir Masayoshi.
"... Uwahh, si kotor, paman Shotacon, orang aneh; gila."
"Hentikan!" teriak Masayoshi yang sudah tidak tahan, dengan 'damage' sindiran King.
Shiro hanya melongo, dan berbicara dengan Masayoshi yang jadi depresi itu.
"... Jadi ini maksudmu paman?" kata Shiro sambil memegangi pundak Masayoshi yang merangkak setengah depresi.
Namun, tidak hanya King saja, dari balik artefak indah muncul anak lain dan mendekati Shiro, King dan juga Masayoshi.
"...Selamat datang orang baru ...." kata perempuan manis seumuran dengan Shiro.
Perempuan manis itu mengeluarkan senyuman hangat ke Shiro dan lainnya.
Di belakang perempuan itu, nampak juga seorang laki-laki lain yang juga seumuran dengan Shiro dan anak seumuran lain nya.
Shiro melihat anak laki yang bersembunyi di balik badan dari perempuan manis yang juga seumuran dengan nya. Lalu ia mendekati anak laki yang ada dibalik badan perempuan manis itu.
"... Hai aku Shiro, dan kau siapa?" kata Shiro sambil mengajak bersalaman dengan anak laki itu.
King melihat Shiro mendekati anak laki itu. Dan ia menahan tawa, karena merasa apa yang dilakukan Shiro bakalan "sia-sia"
"Pfttt ... kau tidak bakalan dapat mendekati orang pendiam itu ...." katanya dengan nada setengah sindiran.
Tapi dugaan King salah, anak laki itu bersalaman dengan Shiro dan berkenalan dengan nya.
"... Na-- nama-ku ... Rei ...." balas Rei setengah malu.
"Salam kenal Rei, aku Shiro!"
"Ah ... a-aku belum selesai ...."
Shiro tidak tahu maksud dari Rei, dan ia menanyakan itu ke Rei.
"Maksudmu?"
King yang dari tadi tidak peduli, ikut berbicara.
"Namanya adalah Reiki (Udara sejuk)...."
Shiro menoleh ke arah King yang ikut berbicara tadi. King merasa tindakan Shiro menganggu nya, ia lalu berbicara lagi.
"... Jangan menatapku, dengan mata busukmu itu!"
Shiro tidak terganggu dengan perkataan King. Lalu ia mulai berbicara lagi.
"... Reiki, apa kekuatanmu termasuk mengendalikan udara?"
Perempuan manis itu lalu ikutan berbicara.
"... Ya itu benar, kekuatan Reiki adalah mengendalikan udara ... dan namaku adalah Shizuka Mizu (Air tenang) Kau bisa memanggilku Shizuka ...." kata Shizuka dengan tersenyum manis ke arah Shiro.
"... Cih, lagipula dia tidak terlalu tenang seperti namanya!" kata King sambil bersantai bersandar tangan di belakang kepala.
"Eh? maksudnya?" balas Shiro bertanya-tanya.
Shizuka lalu mengumpulkan kekuatan dan menjatuhkan air dingin ke badan King.
'Brushh!'
"Lihat kan dia tidak tenang seperti namanya?" kata King lagi dengan tenang sambil tetap bersantai dengan gayanya.
"... Ah ya," kata Shiro melongo.
Shizuka mengacuhkan King. Lalu bersalaman dengan Shiro.
"Namamu Shiro kan ... jadi apa kekuatanmu?"
"Kekuatanku adalah asap putih!" balas Shiro semangat.
Shizuka tersenyum ke Shiro lagi. Lalu ia bertanya lagi ke Shiro.
"Lalu kau bisa mempraktek kan sedikit kekuatanmu disini?"
Masayoshi yang mendengar itu, menghentikan pembicaraan mereka berdua, dan menarik tangan Shizuka jauh dari Shiro.
"Jangan ... lakukan ... itu ...." bisik Masayoshi ke telinga Shizuka.
Shiro hanya terdiam dan tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka berdua ini.
Entah bagaimana Shizuka mengetahui maksud dari Masayoshi. Lalu ia dan Masayoshi mengalihkan pembicaraan dan mengajak Shiro dan lainnya untuk makan siang.
Mereka semua lalu pergi ke dapur belakang untuk makan bersama.
___
Kekuatan buatan adalah kekuatan yang tidak ada dalam garis keturunan, dan juga takdir yang membawa kekuatan untuk datang ke Yuzarin.
Secara tidak langsung, apa yang dilakukan oleh Zero adalah tindakan kejahatan.
Kekuatan tidak harus disebarkan, jika tidak, akan ada serangan dari belah pihak manapun serta yang paling menakutkan, diantara kekuatan adalah para kelompok misterius dari kelompok Tsuyosa dan juga Rein.
Mereka adalah para penangkal kekuatan. Yang artinya kekuatan apa pun akan lenyap jika berhadapan dengan nya.
Namun, semakin banyak para pengguna kekuatan dan juga keturunan dari dewa, ada kemungkinan mereka dapat mengalahkan para kelompok penangkal kekuatan ini.
Dan apa yang terjadi dengan nasib para anak malang itu?
To Be Continue ~
__ADS_1