Belum Diketahui

Belum Diketahui
Ch 6. Era Kebencian 2 (Terbakar Habis)


__ADS_3

"Pergilah jauh dari desa Kashima, kalau kalian tidak ingin mati!" ujar orang itu ke Hyuga dan Yajime tiba-tiba.


"Ma-- ti?" ucap Hyuga dan Yajime bersamaan.


Hyuga dan Yajime terbengong saja dan tidak mengerti arti katapun dari orang itu. Orang itu memakai tudung berwarna hitam dengan bekas luka bakar di bagian pipi kanan nya yang memerah dan setengah kering. Hyuga lantas membentak orang dengan luka bakar ini.


"Apa maksudmu! apa maksudmu mati itu! Hei paman ... apa maksudmu!!" bentak Hyuga sembari memukul dada dari paman itu.


"Anak kecil! sudahlah larilah menjauh dari desa Kashima!" suruh orang itu yang memilih diam tidak memberitahukan maksudnya.


Namun Hyuga masih keras kepala, ia tetap ingin mencari tahu apa arti "mati" tadi.


"... Katakan padaku paman, apa maksudmu mati tadi ... ditambah kau adalah pelaku pembakar hutan kan?" kata Hyuga meneteskan air matanya.


'Anak ini tetap saja keras kepala, apa boleh buat akan kubunuh saja, eh ....' batin orang itu.


"Kumohon!!" seru Hyuga sembari bersujud dihadapan orang dengan luka bakar itu.


Namun tetap saja orang dengan bekas luka bakar, tidak memberi tahu ke Hyuga dan Yajime maksud dari mati tadi, tapi didalam lubuk hatinya ia merasa sedikit bersalah.


"... Jangan memohon seperti itu, kau adalah seorang lelaki." kata orang itu.


Yajime memegangi punggung Hyuga, dan menyuruh Hyuga untuk berhenti berkeras kepala, hanya karena ingin mencari tahu arti dari kata "mati"


"... Baiklah sesuai kata paman, aku dan Hyuga akan pergi menjauh dari desa!" jelas Yajime.


Orang dengan bekas luka bakar itu tersenyum, ia lalu menepuk kepala Yajime dan Hyuga, sekaligus meneteskan air mata dan suaranya berubah menjadi nada-nada orang yang bersalah.


"Aku tidak ingin anak pemberani seperti kalian mati, pergilah sekarang juga."


"Baiklah ... ayo Hyuga kita turuti kemauan paman ini." ucap Yajime "memberdirikan" Hyuga dan mengajaknya pergi menjauh dari desa.


"Paman kau menangis ya?" tanya Hyuga tiba-tiba.


Orang yang dipanggil oleh Hyuga dengan sebutan paman lalu berbicara, "Lupakan aku dan sekarang pergilah dengan cepat ... aku bersumpah aku ini tidak apa-apa, dan air mata ini kemungkinan hanya butiran salju yang masuk ke mata ...."


Paman itu bahkan membohongi dirinya sendiri, dihatinya semakin merasa bersalah, dan paman ini jugalah yang menjadi Pelaku Pembakaran hutan dan juga gudang cadangan kayu milik Desa Kashima.


"Begitu ya, aku tidak tahu apa paman ini berbohong atau tidak? hanya saja dari perkataan paman barusan, apakah paman merasa bersalah?" tanya Hyuga lagi.


'Anak ini bahkan tahu isi dalam "hati manusia" apakah dia ini sebenarnya anak yang jenius?' batin orang itu sembari mengelap air matanya dengan jarinya yang hangat.


"Tenang nak, aku akan mengevakuasi para warga desa, jadi lebih baik kalian lari dahulu, karena ini sangat berbahaya." kata orang itu bohong.


"Kalau begitu aku percaya padamu paman, hehe tolong ya ...." ucap Yajime dengan senyum lebar.


Hyuga dan Yajime lalu berlari jauh dari arah Desa Kashima, mereka berlari ke haluan kanan hutan. Hanya saja Hyuga terpaksa berlari bersama Yajime karena lengan nya dipegang oleh Yajime dan diajak berlari bersama. Bahkan pedang mainan Hyuga tertinggal, karena Yajime menjatuhkanya waktu ingin melawan Coolmon.


"... Apa ini senjata mainan, haha mereka memang lucu ...." gumam orang itu sembari tersenyum.


"Baik seperti biasanya Kiruu?" tanya rekan Kiruu yang dari tadi bersembunyi di belakang pohon.


Orang dengan bekas luka bakar memiliki nama Kiruu. Ia lantas menoleh ke suara rekan nya itu.


"Cih, sebenarnya aku membenci pekerjaan ini!" jelas Kiruu dengan nada kesal.


"Well ... sebenarnya aku juga membencinya, tapi kita tidak dapat menolaknya kan?" ucap rekan Kiruu sembari berjalan dan menepuk bahu Kiruu.


"Mau bagaimana lagi, ini adalah utusan Raja, kita para pengguna kekuatan harus mengikuti perintahnya, ck ... kenapa harus Raja yang berada di Teritori teratas!" balas Kiruu yang semakin kesal.


"Tenangkan dirimu Kiruu, bukankah kita juga harus menepati janji orang itu, iya kan?"


"Ya itu benar ... tapi aku tetap membenci Raja!" seru Kiruu sembari membanting pedang mainan Hyuga.


"Wah-wah tidak salah nih, pantas saja kau tidak mau membunuh anak-anak itu, karena kau adalah penyayang anak kecil, aku tahu itu."


"Tidak juga, sebenarnya karena satu alasan aku menyelamatkan nyawa mereka ...."


"Eh benarkah ... apa itu?"


"Karena dia anak yang menarik,"


"... Hah? yang kau maksud yang mana dulu, ada dua anak kan tadi ...."


"Bo-- doh, bukankah sudah jelas anak yang membawa pedang mainan nya tadi."


"Maksudmu yang berniat melawan Coolmon tadi, ah pantas saja kau menyebutnya menarik-"


"Bukan itu bodoh, tapi anak satunya!"


"Ah maaf-maaf, ternyata kau ini bisa sekesal itu ya, haha ... jadi yang kau maksud anak yang menanyaimu itu ya? ah memang benar sih, kalau dia terlihat menarik."


"Ya dia sangat menarik, bahkan sepertinya anak itu akan menjadi sekuat "dewa" ...."


"Haha-- kau terlalu berlebihan bodoh."


"Aku adalah tipe orang yang serius, jadi aku tak kan berbohong tentang anak yang membuatku tertarik karena auranya ... apa kau tahu Ebata?"


"Ya?"


"Anak itu memiliki corak mata seorang pemburu yang dingin namun mematikan."


"Mata pemburu ya? well aku tidak mengerti sama sekali hahaha ...."


"Kau ini bisa tidak serius dikit!"


"Maaf Kiruu, aku bukan orang yang terlalu serius sepertimu ... karena bagiku sekali-kali bercanda membuat nyaman, kan?"


"Kagak!"


Ebata terjatuh karena kaget mendengar balasan dari Kiruu.


'Dia ini terlalu jelas mengatakan nya' batin Ebata.

__ADS_1


"Sudahlah Ebata, kita harus segera pergi ke Desa Kashima, sebelum senja datang."


"Well itu benar,"


Dan akhirnya Kiruu bersama Ebata bersiap untuk pergi ke Desa Kashima, yang membutuhkan sekiranya puluhan langkah lagi untuk mencapai ke sana.


_ _ _


"Yajime apaan kau ini, lepaskan aku! apa kau tidak penasaran dengan maksud mati tadi!" seru Hyuga melepaskan genggaman tangan Yajime.


"... Tidak ada maksud dari paman tadi, hanya bercanda saja, dia bahkan sudah bilang akan menyelamatkan warga desa."


"Tapi aku masih belum percaya dengan nya, bahkan mata paman itu seperti mata sedih,"


"Dia tadi bilang hanya kemasukan salju,"


"Tidak dia berbohong ... maaf Yajime, aku akan kembali ke tempat paman tadi ...." jelas Hyuga sembari berlari meninggalkan Yajime.


'Mata itu adalah mata yang sedih, paman itu pasti lagi sedih' batin Hyuga.


Hyuga berlari dengan langkah cepat, ia bahkan kesusahan mengatur nafasnya.


"Hah ... hah ... paman itu sedang sedih, aku harus menolongnya."


_ _ _


Di tengah perjalanan Kiruu dan juga Ebata, mereka "bertabrakan" dengan Kepala desa, dan juga salah satu warga.


"Ka-- kalian ini siapa?" tanya Kepala desa.


Mata orang yang bersama Kepala Desa terbelalak begitu melihat Kiruu dan Ebata.


"Tung-tunggu pak Kepala Desa! orang ini aku memang tidak jelas melihatnya waktu itu, tapi dia ada didekat gudang waktu itu! dia sama-sama mengenakan tudung hitam seperti yang mereka berdua kenakan!!"


"Hah?! jadi kalian ini pelaku pembakar gudang!"


"Well-well-well, merepotkan Kiruu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" kata Ebata bersikap tenang.


"Tidak ada cara lain lagi, bunuh mereka sebelum senja datang!"


"Oh kejamnya ...." balas Ebata sembari tersenyum kecil.


"Bun-- bunuh?" ucap Kepala Desa dengan nada setengah ketakutan.


"Benar, karena ini jalan satu-satunya ... terbakarlah menjadi abu, 'Bureizu' !!" Kiruu melepaskan kobaran api di tangan nya dan membakar Kepala Desa itu hingga semua badan nya menghitam arang, lalu tewas dan terjatuh di kaki Kiruu.


"Ke-- kejam, hihh jangan dekati aku ... aku tidak ingin maatii ...." Orang desa itu ketakutan, bahkan kakinya gemeraran.


"Maka dari itu pergilah,"


"Eh?" Orang desa itu hanya bengong.


"Kubilang pergilah!" bentak Kiruu.


Orang desa itu berlari, tapi hanya tiga langkah saja ia lari, ada api yang muncul di punggungnya lalu mencuat keluar dan akhirnya membakar orang desa itu.


"Maksudku pergi dari arti lain yang berarti mati." ucap Kiruu dengan tatapan dingin.


"Wah-wah kejamnya Kiruu ...." ujar Ebata sembari memegangi serpihan arang dari Kepala Desa Kashima itu.


"Ayo Ebata, lebih cepat lebih baik!"


"Ok-ok,"


Mereka berdua meneruskan perjalanannya dan tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai Desa Kashima.


_ _ _


Di Desa Kashima, dimana Pesta api unggun masih berjalan.


"Minum-minum! hah habis ... oi Ibu ambilkan aku air lagii!!" teriak bapak-bapak itu sembari membalikan gelas kosongnya.


"Kau ini sudah habis berapa gelas yah!"


"Ah ayolah jangan pelit-pelit, hik ... kita ini bersenang-senang tahu, hik ...."


"Hah kau ini, nih dua gelas saja, dan jika kau sampai mabuk dan gila tidur saja di jalanan!"


'Dimana mereka, kenapa lama sekali' batin laki-laki dalam siluetnya.


Di hutan Desa Kashima.


"Hei Ebata, apa kau ingin bermain tebak-tebakan?" tanya Kiruu aneh.


"Hah tebak-tebakan?"


"Ya ... coba tebak apakah aku akan membuat sebuah pertunjukan?"


"Well kurasa ya, kau ini kan 'si kejam' Kiruu sudah pasti kau akan merencanakan sesuatu,"


"Nah bukankah aku tadi membakar beberapa pohon, jadi karena itu kurang membuat binatang berlari ke arah desa, maka akan kubuat lebih seru lagi ...."


"Oh begitu ya,"


'Orang ini memang penyayang anak kecil, hanya saja ia ini terlalu kejam jika dikatakan' batin Ebata.


"Nah kumulai ya ... sekarang mundurlah Ebata!"


Aura mengerikan muncul di sekeliling Kiruu, lalu pelan-pelan aura itu semakin hangat dan dapat dirasakan di sekeliling area yang berjangkau delapan meter, karena itu Ebata dapat merasakannya.


"Oi-oi kau terlalu berlebihan, jangan-jangan kekuatan itu-"


"Tepat sekali, 'Jigoku!' (Neraka)"

__ADS_1


Dengan sekejap saja, setengah area hutan yang berjarak delapan kilometer dari Kiruu terbakar setelah munculnya letupan kecil, bahkan Hyuga yang sedang berlari untuk mencapai ke sana, terkejut melihat asap hitam membumbung tinggi hingga menutupi awan yang sebelumnya dilihat olehnya.


'Kebakaran lagi ya, ah tunggu ayah-ibu!' batin Hyuga cemas sembari berlari menuju desanya.


Karena kebakaran di hutan Desa Kashima, asap hitam yang membumbung tinggi ditambah suhu yang meningkat sangat drastis, membuat efek tambahan yang sangat berbahaya, hal itu dapat dirasakan oleh para warga desa.


"Pa-- panas sekali, kenapa tiba-tiba sangat panas!"


"Apa ini, bukankah seharusnya cuacanya dingin?!"


"Apa ada pemanasan global tiba-tiba?"


Setelah terjadinya suhu yang meningkat drastis, banyak binatang yang bangun dari hibernasinya dan berlari menyelamatkan diri. Karena Coolmon hidup di Icy Island yang penuh akan es, maka jika cuacanya berubah panas, kulit mereka akan mengering dan terbakar, dan sekejap saja semua Coolmon mati dengan cara yang sama, karena kekuatan 'Jigoku' memang terlalu kuat dan terlarang.


Dan setengah binatang lain nya berlari dengan tunggang-langgang ke arah Desa Kashima.


"Pertunjukan yang bagus bukan?" kata Kiruu sembari menoleh ke Ebata yang melongo.


Binatang yang berlari itu sampai ke Desa Kashima, dan berjalan lurus tanpa memperhatikan arahnya, diantaranya menabrak api unggun besar itu dan akhirnya mati terbakar. Bahkan domba yang diternakan Desa Kashima menerobos keluar dari kandang dengan panik.


"In-ini kebakaran hutan ... lari semua selamatkan diri di atas bukit sana!"


'Huh dasar mereka semua ini, bersikap baik dan menyuruh warga desa untuk pergi ke atas bukit' batin laki-laki dalam siluetnya.


Hijiri yang menyadari kebakaran hutan lalu menarik lengan Mikako dan mengajaknya berlari ke atas bukit.


Binatang yang masih hidup berlari dengan panik, dan memporak-porandakan Desa Kashima, bahkan setengah warga tewas terseruduk ataupun terinjak puluhan binatang.


"Ayah bagaimana dengan Hyuga?"


"Dia pasti selamat Mikako percayalah, yang penting kita harus menyelamatkan diri!"


"Apa ayah bodoh! yang kita bicarakan Hyuga dia berada di hutan kan!?"


"Tidak dia selamat percayalah padaku!"


Mikako mengeluarkan air matanya, sembari menoleh ke belakang dimana Desa Kashima hancur berantakan.


'Kenapa takdir Teritori kami selalu seperti ini' batin Mikako sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dan menangis meneteskan air mata.


Para penduduk yang masih selamat, berlarian dengan panik ke atas bukit, penduduk yang gagal menyelamatkan diri terbunuh karena serangan binatang liar. Bahkan menyebabkan tangisan kesedihan sendiri karena keluarga yang mereka tinggalkan.


"Ibu kau ada dimana, huwaa!"


Tangisan beberapa anak kecil yang diam dan ketakutan. Diantaranya menunggu dan menggoyak-goyakan tubuh orang terdekatnya yang sudah tewas bersimbah darah.


Di atas bukit, tempat yang aman dari kobaran api, tampak puluhan orang bertudung hitam yang mengeluarkan api dari tangan nya.


"... Api akan membakar kalian menjadi abu, terimalah 'Kakyu!!' ...."


Bola api tertembak di antara segelintir orang desa dan tewas terbakar menjadi arang.


"... Ka-- kalian para pengguna kekuatan! sial apa yang kalian perbuat pada kami!" seru pemuda yang berani itu.


"Diamlah karena ini adalah perintah Raja, maka kami tak ada alasan untuk tidak menyetujuinya ...."


"Bukankah kalian ini sama dengan budak mereka!"


"Pintar juga kau berbicara pemuda berani, tapi akan kudekatkan kau ke surga sekarang, nah matilah 'Faiyabure!!' (Gelang api)"


Tudung hitam itu mengeluarkan lingkaran api yang seukuran leher targetnya, sehingga gelang itu membakar kepala target hingga tak tersisa. Bahkan bola api membakar siapapun yang mencoba ke atas bukit, baik binatang maupun manusia mereka terbakar habis, penduduk yang panik dan selamat dari bola api, mencoba turun lagi ke desa mereka, dan tergelincir jatuh dari bukit, yang selamat pun akhirnya habis terbakar.


Api membakar semuanya, tidak ada lagi rumah yang terlihat, yang ada hanyalah korban bersimbah darah, manusia yang kejatuhan puing rumah, manusia yang menjadi arang, dan suara rintihan minta tolong yang akhirnya tewas ditempat; serta api yang melalap semuanya dan akan meninggalkan jejak berupa Kebencian.


Tersisa dua orang dari Desa Kashima yang masih selamat, mereka adalah Hijiri dan juga Mikako yang saling memeluk satu sama lain, dan anehnya semua tudung hitam tidak menyerang keduanya.


"Tuan Hijiri dan Nona Mikako, sekarang perjanjian nya tinggal satu lagi." ucap salah satu tudung hitam yang turun di atas bukit.


"... Perjanjian?" tanya Mikako yang tidak mengerti.


"... Maafkan aku Mikako, akulah yang memanggil mereka kemari ...." kata Hijiri dengan suara pasrah.


Mikako terbelalak ia lalu menampar pipi Hijiri.


"Apa maksudmu Hijiri! kau adalah dalang di balik insiden ini?!" seru Mikako menangis dan tidak percaya.


Hijiri menundukkan kepalanya, lalu memberikan selembar kertas ke Mikako. Mikako membaca isi dari kertas itu, dan benar-benar tidak percaya dengan isi tulisan di kertas itu.


"Ti-- tidak mungkin, Hijiri siapa sebenarnya kamu ini?"


"Aku hanyalah suami dari istri yang kucintai, yaitu kamu Mikako."


"Kenapa kau melakukan semua ini hanya untukku!"


"Sebab, aku tidak ingin ditinggal olehmu ... Mikako aku mencintaimu."


Dua bibir saling bersentuhan, ditengah peristiwa mengenaskan ini, Hijiri memeluk erat tubuh Mikako.


"Aku mencintaimu Mikako ...."


_ _ _


Api dimana-mana ada api, suhu yang meningkat drastis membuat Hyuga mengalami dehidrasi.


"A ... ir, aku butuh air." keluhnya hingga akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri.


Begitu juga dengan Yajime, badannya terasa terbakar dan berakhir pingsan dengan bersandar di pohon.


Akhirnya tragedi hancurnya Desa Kashima telah terjadi, dan meninggalkan jejak Kebencian kepada Hyuga, bahkan hutan di Desa Kashima terbakar hingga menumbangkan beberapa pohon, yang membuat bekas tanda dimulainya tragedi ini.


Awal dimulainya Kebencian di lubuk hati Hyuga akan segera tumbuh, hanya tinggal waktu saja yang menentukannya.


*Orang yang memiliki kekuatan haru**s dibunuh tanpa* sisa, begitulah hukum kami berbicara.

__ADS_1


To Be Continue ~


__ADS_2