Berbagi Senja

Berbagi Senja
nostalgia 1


__ADS_3

Ar aku rindu....


Entah kenapa setiap aku mengingat nama itu aku selalu mengucapkan Ar aku rindu.


Suasana sepi sore ini semakin menoreh kan begitu banyak sayatan yang menyesakan dada, setelah sekian lama aku menginjakkan kaki lagi di tempat ini "Masih sama" gumam ku.


Ku langkahkan kaki ini menuju sudut favorit setiap kali aku datang kesini, Pantai ini menyimpan sejuta cerita dan kenangan yang masih melekat jelas di memory otak ku.



Pantai Ngobaran , pantai ini terletak di pesisir selatan Gunungkidul DIY.


Pantai ini terbagi menjadi dua bagian, bagian atas meliputi pure, mini atur candi dan beberapa patung Dewi-Dewi kepercayaan agama Hindu karna tempat ini juga sering di jadikan tempat upacara adat.


Sedangkan di bagian bawah ada sumber mata air tawar yang sering diambil oleh penduduk sekitar untuk minum, meski pun letak sumber mata air itu di bibir pantai namun ajaibnya tak pernah tercampur dengan air laut.


Dibagian bawah ini kita juga bisa bermain pasir pantai dan ada beberapa batu karang yang ditumbuhi rumput laut.


Biasanya penduduk sekitar mencari rumput laut dan beberapa seafood dikala air pantai tengah surut.


"Gak usah baper" kata itu mampu mengultimatum ku untuk segera bangun dari lamunan.


"Gak lah, siapa juga yang baper" sanggah ku.


"Halah... wong keliatan kok!" tatapnya tajam " jangan di pikirkan lagi" lanjutnya sambil mendaratkan bokongnya untuk duduk di sebelah ku.


"Kita kesini untuk liburan Vi, bukan untuk menambah beban" kata Ragil yang menyusul kami.


"Sorry... bukan maksud ku buat kamu makin tertekan" katanya.


"Kita ngajak kamu kesini buat kumpul, kan kita udah jarang kumpul sekarang" tambah Ragil.


"Hemmm" jawab ku.


Karna malas menanggapi dua pria disamping kiri dan kanan ku yang mulai mengobrol ngalor ngidul mengenang masa lalu saat pertama kali aku mengajak kesini.


Masih setia mata ku untuk terus mengagumi keindahan tempat ini. Dimana hari ini hanya segelintir orang yang datang untuk melihat betapa indahnya karunia yang maha kuasa.


Termasuk kami, yang rela jauh-jauh datang dari Ibu kota untuk menikmati senja sore ini.


Langit nampak cerah hingga ada semburatan keemasan diatas sana, dimana orang rela berburu ketempat yang susah untuk di tempuh sekalipun.


Ku ambil kamera dan membidikan lensa ke berbagai sudut itu.



"Untung cerah jadi bisa lihat ginian lagi" kata nawa sambil merebut kamera milik ku.


"Emang di Pemalang gak ada ginian " kata ku.


"Ada lah masak gak ada ginian, tapi beda aja rasanya kalo lagi Sama kalian" lanjutnya.


"Bukanya disana ada Okta, yang bisa temenin kamu kapan pun" ledek ku.


"Kalo sama Okta yang di lihat yang lain lah" Nawa sambil mesem-mesem yang membuat bergidik.


Nawa adalah sosok seorang sahabat yang mampu menghangatkan suasana setiap berada di sampingnya meskipun pembawaannya yang dingin dan super cuek.

__ADS_1


Nawa sekerang bekerja di bank swasta di daerah pemalang yang menuntutnya berangkat pagi dan pulang sudah malam.


"Tempat ini masih sama, sunset nya pun masih sama seperti aku pertama kali kesini bersama kalian" katanya sambil membidikan lensa kamera ku yang telah berpindah tangan.


"Cakrawala itu tak pernah berubah naw, tapi keadaan lah mengubah menjadi tak sama" kataku.


"Huffff...." nawa membuang nafasnya kasar.


"Semua gak mungkin sama kayak dulu Vi, ada kalanya kita harus nyerah" kata nawa.


"Hem...mungkin saja" kata ku yang tak mau menanggapi perkataan nawa yang notabennya jauh lebih bisa menebak apa yang ku pikirkan.


"Balik sekarang yuk udah mulai gelap nih"


"Ya udah ayok ajak yang lain juga" pintaku.


Karna semburet keemasan diatas sana sudah berubah menjadi gelap remang remang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kamu mau pulang apa nginep di homestay" kata Ragil,Sesampainya kami di homestay yang telah di sewa Nawa untuk menginap.


"Nginep disini" jawabku.


"Kamu gak mau pulang dulu ketemu keluargamu dulu, kalo mereka tau kamu liburan disini dan gak mau mampir pasti mereka kecewa Vi " lanjutnya.


"Biarin aja lah toh mereka tau klo aku bakal liburan kesini setelah nawa reservasi homestay" kata ku sinis.


"Memang kamu gak ngasih kabar ke orang tua mu mau liburan kesini"


"Gak perlu"kataku sinis.


Ku langkahkan kaki menuju kamar yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pemilik homestay.


"Akhirnya ketemu kasur juga" gamamku sambil rebahan.


"Vi kamu mau mandi dulu?" tanya Cendana teman sekamar ku kali ini.


"Tar dulu lah, masih pengen rebahan" jawabku.


"Oke, aku duluan ya" kata Cendana menuju pintu kamar mandi.


"Hemm"


belum sempat mata tertutup sempurna udah ada kegaduhan yang ku dengar dan mengarah ke kamar ku.


"Makan dulu yuk, ibu sum udah masak makan malam" kata nawa yang main nyelonong masuk kamar ku tanpa mengetuk.


"Tunggu Cendana lagi mandi" seruku sambil bangkit.


"Ya udah kita tunggu didepan"


Begitu aku keluar kamar, ternyata makanan sudah berjajar rapi di meja prasmanan, disini jangan beharap ada meja makan layaknya homestay lain, karna adat makan disini unik yaitu lesehan dibawah dan membentuk lingkaran.


"Monggo mas mbak dikersakne sak entene geh koyo ngeten Niki" kata Bu sum penjaga homestay tempat kami menginap.


(silahkan mas mbak dinikmati seadanya).

__ADS_1


"Ngegeh Bu mathur nuwun" jawabku.


(iya Bu terimakasih)


Kami pun menikmati makan malam dengan menu ala kadar pedesaan yang terkadang membuat ku rindu itu.


Selesai dengan makan malam kami beranjak kehalaman homestay.


Nawa dan Ragil pun sudah mulai bernyanyi, melakukan hal-hal konyol untuk menghibur.


"Kamu gak gabung Ama mereka" tanya Arya.


"Tar nyusul lah mau abisin teh dulu" jawab ku sambil menunjukan gelas berisi teh panas.


Bukannya bergabung dengan mereka dia malah duduk di sampingku.


" Gimana kerjaan mu"


"Lancar kok"


"Kamu masih betah tu tiap hari depan laptop berkutat dengan logaritma pemograman (coding) rumit" tanyaku.


"Betah lah cari kerja sekarang gak gampang" jawabnya.


Arya sosok sahabat pekerja keras yang notabennya dekat dengan ku dan sering bertemu seperti halnya ragil.


Arya bekerja di sebuah perusahaan pembuatan game di Jakarta. Dekat dengan tempat kerja ku.


Sedangkan Ragil dia kerja di sebuah perusahaan perjalanan yang memaksa dia sering singgah di beberapa kota termasuk sering singga di Jakarta.


Sedangkan Cendana dan eko mereka menetap di Jogja.


"Aku harap aku gak ketemu dia disini"


Arya pun segera menoleh ke arah ku"kenapa memangnya kalo kamu ketemu dia disini, sudah cukup kamu menghindar selama ini dari nya dan keluarga mu" pungkasnya.


"Ar..... Semua berat buat ku apa lagi buat bertemu aku belum siap".


"Vi.....Aku gak tau seberapa rumit kalian dulu tapi semua harus di hadapi, kita disini slalu mendukung keputusan mu"


"Entah lah aku merasa belum siap saja" jawab ku sembari menghampiri sahabat ku yang lain dan meninggalkan Arya yang tengah berdecih karena jawaban ku barusan.


"Keras kepala mah tetap keras, kapan lunaknya" gumamnya lirih tapi aku masih mampu mendengar.


Waktu pun semakin larut akhirnya satu persatu dari kami pamit untuk tidur tinggal lah aku, Bu sum , dan nawa. Masih merapikan sampah dan bekas minum kami untuk di bawa ke dapur.


Dari arah gerbang homestay ku dengar ada mobil berhenti dan mencoba membuka gerbang.


"Sebentar ibu liat dulu siapa yang datang malam-malam seperti ini" kata Bu sum.


Tanpa menunggu jawaban Bu sum pun pergi, tak lama setelah itu datang lah seseorang bersama Bu sum.


"Viona Adisti"


Suara itu seperti sengatan aliran listrik dalam tubuh ku yang sejenak membuat ku membeku.


Ku balikan badan ku kan betapa terkejutnya diri ku saat itu.

__ADS_1


"Ka-mu" suara ku terbata.


bersambung....


__ADS_2