
"Ka-mu" kata ku terbata.
"Ngapain mas kesini" tanyaku sinis. Memalingkan wajah dan pura-pura sibuk mengambil gelas.
"Mas kesini mau jemput kamu, liburan kesini kenapa gak ngabarin".
"Vio nginep disini aja mas bareng sahabat vio"
"Viona...pulang lah sebentar, ibu kangen sama kamu" kata mas Ega yang terlihat kesal.
"Setidaknya mampir lah besok kerumah, klo kamu gak mau pulang malam ini" lanjutnya.
"Vio gak janji mas bisa mampir gak soalnya banyak kegiatan yang sudah kami rancang" kata ku yang masih sok sibuk dengan gelas berserakan.
"Usahakan dek..." katanya yang mulai mendekat kearah ku.
Namun sebelum mas Ega sampai aku sudah terlebih dulu melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
"Mas pamit pulang dulu" katanya setelah melihat reaksi ku.
"Sekecewa itu kah kamu dek, hingga untuk pulang pun kamu enggan" batin mas Ega.
"Maaf mas Ega, sebenernya kami tadi berniat mau mengantar vio pulang sebentar namun dia menolak" kata nawa yang ingin mengantar ke gerbang.
"Gak papa dek, mas ngerti" jawab Mas Ega.
"Besok kami akan usahakan mampir mas sebentar"
"Ya semoga dia mau, mas pulang dulu" pamit mas Ega.
"Keras kepala kamu Vi" nawa geleng geleng kepala.
Sebenarnya jarak rumah ku dan homestay tak begitu jauh, kalau ditempuh dengan kendaraan bermotor butuh waktu 10 menit saja.
Namun keadaan lah yang membuat aku enggan untuk pulang.
"Vi... vi.. nyampek disusulin lho" kata nawa yg melihat ku di ambang pintu.
"Dah lah naw.... jangan cerita ke yang lain kalau mas Ega kesini"
"Hemmm..."nawa geleng geleng kepala tentang sikap ku yang keras.
pagi hari...
Setelah insiden semalam pagi ini kami awali dengan sarapan dan bercengkrama dengan pemilik homestay yaitu pak Narto.
__ADS_1
"Setelah dari sini adek adek ini mau kemana?" tanyanya.
"Habis dari sini kami mau ke gua Pindul pak, lanjut nanti malam kami mau ke Malioboro, sudah hampir dua tahun tidak kesana karna kesibukan kerja." jawab Arya.
"Mungkin kami akan di Jogja sampai lusa pak, baru setelah itu kami kesolo menemui salah satu sahabat kami yang kebetulan tidak bisa ikut kesini" tambah Ragil.
Arya memang menyiapkan liburan kami bersama nawa sebagai donaturnya🤭.
"Oh ngoten to mas geh ngatos Atos mas Ten dalam, Mugi selamet dugi tujuane" sambung pak Narto.
"Ngeh pak matur nuwun, nek ngoten Kulo kaleh rencang rencang pamit Riyen geh pak" pamit ku sambil bersalaman.
"Lho... mbak vio mboten manthok Riyen nopo mbk" tanya pak Narto.
"Niki badge mampir rumiyen ngihan pak" jawab ku pura pura.
Akhirnya satu persatu kami perpamitan pada pak Narto.
"Mungkin kenangan gak bakal bisa dilupakan begitu saja seberapa aku jauh dan pergi tetap saja kalian membawa ku datang lagi ketempat ini, apa mau kalian sebenernya." batin ku sambil menajamkan kupingku untuk menikmati deburan ombak pantai.
"Kita jadi mampir dulu Vi kerumah mu kan kita lewatin gang depan rumah kamu" kata Cendana setelah kami di dalam mobil.
"Gak usah ..." kata ku ketus.
"N-a-wa...klo kalian mau mampir, mampir aja tapi aku tunggu dimobil saja."
"Oke kita gak usah mampir dari pada mood kamu berantakan, Gil kamu masih simpen nomer mas ega kan?, kabari aja kita gak mampir" tengah Arya yg tau mood ku mulai turun.
"oke" jawab Ragil.
Sepanjang perjalanan menuju goa pindul aku hanya memandai keluar jendela saja tanpa mau menanggapi apa yang mereka obrolkan.
Setelah hampir satu setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di gua pindul.
"Ganti baju dulu yu kan kita mau basah basahan" kata Cendana sambil menarik ku ke toilet umum.
Di gua Pindul ini kami diajak oleh pemandu untuk menyusuri sungai menuju dalam gua.
Sepanjang sungai menuju dalam gua mata kami di manjakan oleh pemandangan kiri kanan yang indah. Tak lupa ku ambil beberapa gambar dari kameraku.
Cukup lumayan dimanjakan dengan pemandangan di jalur luar akhirnya pemandu menggiring kami ke dalam gua, begitu masuk kedalam gua kami lagi lagi di suguh kan pemandangan yang gak bisa di ungkapkan dengan kata kata😅.
__ADS_1
Setelah empat puluh menit kami diajak mengagumi keindahan gua Pindul akhirnya pemandu mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke titik awal kami berangkat.
Kami pun melanjutkannya dengan bermain air di sungai gua pindul.
Tanpa terasa kami melewatkan makan siang jam pun sudah menunjukan pukul tiga sore.
"Makan dulu yu"ajak ku.
"Ayo tapi kamu yang bayarin"kata Eko.
"Yah... Harusnya tu yang bayarin kamu Ko kan kamu Bos cafe masak malak pekerja kayak aku." jawab ku sambil naik turunkan alis.
"Modus kamu vi...yang ada hasil dari cafe ku sebulan itu gak ada apa apanya dari nilai sekali menang tender buat kamu" kata Eko yang mulai cemberut.
Ku sambut dengan gelak tawa, akhirnya kami makan siang dengan damai.
Eko adalah seorang pengusaha cafe di Jogja kami dulu kenal karna nawa yang sering mengajaknya kalo kami sedang kumpul.
sedangkan Cendana dia seorang Dosen muda di salah satu universitas teknik di Jogja.
"Turun sekarang yu tar gak dapet sunset di bukit bintang klo gak buru buru" kata nawa.
"Keburu macet juga "kataku.
Memang di saat libur weekend seperti ini jalan mengalami kemacetan di beberapa titik.
"Ya udah ayok tapi gantian kamu wa yang bawa mobil"
"Siap" balas nawa sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah satu setengah jam akhirnya kami sampai di bukit bintang. Bukit bintang ini cukup terkenal di kalangan pelancong karna pemandangannya yang super ajib dimana saat senja kita dapat melihat sunset dan saat malam hari kita dapat melihat gemerlap lampu lampu seperti taburan bintang sejauh mata memandang.
"Cari cafe yg bisa dapet view ajib" kata ku.
"Sini aja ya bagus tu pas banget pokoknya" tunjuk nawa sambil memarkirkan mobil.
"Cari tempat di balkon atas aja, biar enak klo kalian mau rusuh, aku yang pesen makanan dan minumannya" kata ku.
Setelah aku memesan makanan, ku susul mereka ke balkon atas sebuah cafe yang pemandangannya memanjakan mata.
Semburat keemasan diatas sana sungguh meneduhkan hati. Tak ada obrolan diantara kami karna asyik Menikmati senja sore itu.
"Dulu disini bersama mu tapi sekarang aku disini bersama sahabat ku" batin ku dalam hati.
bersambung.....
__ADS_1