
Abaikan logo maskapai itu perumpamaan doang meski hasil jepretan sendiriðŸ¤.
Setelah satu jam mengudara akhirnya aku tiba di pintu kedatangan bandara internasional Soekarno-Hatta. Ku lanjutkan perjalanan ku menggunakan taksi online menuju kawasan Jakarta Selatan.
Sesampainya di kantor, dengan langkah sedikit gontai ku hampiri ruangan yang cukup luas itu disana ada sosok seseorang yang sudah menunggu ku sedari tadi.
"Maaf mas pesawat dari Jogja delay" kataku sambil duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Gak papa, client juga belum datang, maaf ya ganggu liburan kamu harusnya kan masih beberapa hari lagi, tapi mas paksa kamu buat pulang karna client gak mau tender ini di pegang Ama yang lain"
"Jelas gak mau sama yang lain client ini kan super ribet" kata ku sinis, memang satu tahun yang lalu kami sempat menggarap proyek dengannya.
"Dia maunya sama kamu karna puas sama hasil kerja mu bukan karna dia ribet" lanjut mas heri yang notabennya atasan ku di kantor.
Kami pun sedikit ngbrol tentang tender kali ini dan ku tunjukan beberapa gambar yang kubuat secara kilat semalam.
"Kamu tenang aja proposal udah siap tinggal presentasi aja, gambar kamu juga oke" tungkas mas heri.
"Oke lah mas kalo gitu aku sarapan dulu ya tadi gak sempet sarapan" kata ku.
"Jangan jauh jauh kalo sarapan"
"Siap" kata ku sambil memperikan hormat.
Setelah sarapan kembali ku berkutat untuk mempersiapkan presentasi. Membenenahi sedikit gambar yang menurut ku masih kurang.
"Mbak client udah dateng" kata sari.
"Oke aku kesana" kata ku sambil merapikan berkas untuk meeting tak lupa ku bawa laptop kesayangan ku.
Butuh waktu hampir empat jam kami meeting dengan segala drama perdebatan hingga mencapai kata mufakat. Melewatkan makan siang sudah hal biasa untuk ku saat menangani pekerjaan.
"Mas her.... Vio balik dulu ya" kata ku setelah selesai meeting.
"Gak makan siang dulu?" tanya mas Heri.
"Gak usah mas tar sekalian dirumah aja" kata ku.
"Ya udah hati-hati, pulang sama siapa apa mau di anter"
"Naik taksi online mas, jadi gak perlu repot-repot" jawab ku sambil meninggalkan ruangan kerja mas Heri.
Tujuan ku sedikit jauh, kota penyangga Jakarta yaitu Bogor kenapa aku memilih untuk tinggal di kota penyangga karna suasananya lebih adem ketimbang harus tinggal di apartemen atau perumahan di Jakarta.
Setelah sampai di depan rumah ku pandang rumah yang hampir dua tahun ini menjadi tempat tinggal ku.
__ADS_1
🖤🖤🖤
"Hallo, assalamualaikum" kata ku setelah berhasil meraih benda pipih di samping bantal ku.
"wallaikumsalam, Kamu udah pulang dari Jogja"
"Udah" jawab ku.
"Aku kerumah kamu sekarang"
"Iya..." kata ku sambil sedikit membanting benda pipih itu.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu rumah ku. Dengan langkah malas aku buka pintu itu.
"Lama banget buka pintunya"
"Hemm" kata ku malas.
"Aku mau cerita" katanya sambil menyeret ku untuk duduk diruang tamu.
"Ada apa?" tanya ku.
"Tia kemarin ke rumah ku nyariin Arfian" kata Dita.
Seperti sengatan listrik tegangan tinggi tubuh ku menegang.
"Arfian gak pulang tiga hari, dia juga nanya kamu kemana!" lanjutnya.
"Aku bilang kamu lagi liburan sama Arya"
"Dua hari lalu aku liat Arfian di nol kilometer" kata ku, disambut keter kejutan Dita.
Dita adalah sepupu dari Arfian tapi entah kenapa dia malah dekat dengan ku ketimbang dengan Tia.
"Seriusan kamu liat bang Arfian?"
"Iya gak sengaja, tapi aku gak nyapa langsung pergi" jawab ku.
"Gila Abang ku itu emang Vi"
"Kamu gak kasih tau siapa-siapa kan aku tinggal disini"
"Aman pokoknya"
Perbincangan kami pun berlanjut hingga dering benda pipih milik dita mengagetkan kami.
"Aku harus pulang tia ada di rumah kata ibu"
__ADS_1
"Ya sudah cepet kamu pulang sana, aku mau istirahat capek abis maraton di Jogja"
"Tapi seneng kan?" tanyanya sambil senyum senyum.
"Dah aku balik Vi jaga kesehatanmu mungkin sementara waktu kita gak ketemu dulu biar aman" kata Dita sambil berpamitan.
Ku antar Dita sampai depan rumah dan perlahan dia meninggalkan rumahku mengendarai motornya.
"Ar...Ar tak puas kamu mempersulit hidup mu sendiri, sudah cukup buat aku terseret dalam pusaran masalah mu" gumam ku.
*****
seminggu kemudian....
Hari ini seperti biasa mbak ratmi asisten rumah tangga ku datang, karna kesibukan ku bekerja jadi urusan rumah ku serahkan ke mbak ratmi yang akan datang setiap dua hari sekali untuk bersih-bersih rumah.
"Mbak nanti tolong beresin ruang kerja aku ya, sama ada box diatas lemari tolong mbak pindahin ke gudang karna udah berdebu banget" kata ku.
"Nanti kalo gak bisa turunin minta bantuan satpam depan" lanjut ku.
"Iya mbak Vio" jawab mbak ratmi.
Kembali ke rutinitas sehari-hari yang melelahkan apa lagi jarak rumah dengan kantor yang lumayan jauh belum lagi macet yang melanda beberapa titik sepanjang perjalanan. Rasanya kalo boleh milih pengen terbang. Kemacetan sudah menjadi santapan sehari hari😒, untuk mengusir penat biasanya ku play musik dari fitur yang ada di mobil ku.
Mungkin kalian penasaran siapa sosok diri ku sebenarnya?. Aku adalah Viona Adisti, sekarang aku bekerja untuk sebuah developer perumahan di kawasan Jakarta selatan.
Selain bekerja aku juga punya hobi fotografi hanya sekedar hobi tak berniat menekuni sebagai profesi sambilan, sedari kuliah camera sudah familiar untuk ku, karna jurusan yang ku ambil tak bisa jauh jauh dari camera dan laptop, Kampus ungu tempat kami bernaung semasa kuliah dan titik awal pertemuan kami sebagai sahabat.
Setelah seharian ku berkutat dengan pekerjaan, akhirnya aku kembali ke istana ternyaman.
"Lho..... mbak ratmi belum pulang?" tanya ku.
"Belum mbak emang sengaja nungguin mbak Vio pulang dulu"
"Ada apa mbak?" tanya ku serius sambil menggiring mbk ratmi untuk duduk diruang tamu.
"Begini mbk saya tadi nemuin kotak jatuh ke belakang lemari saat mindahin kardus yang diatas, sebentar mbak tak ambil dulu" kata mbak ratmi sambil menuju dapur.
"Ini mbak" sambil menyerahkan sebuah kotak ketangan ku.
"Oh kotak ini makasih ya mbak, aku malah gak inget nyimpen ginian" kata ku pura pura.
"Sama-sama mbk, saya takutnya kotak penting, kalo gitu saya pamit pulang dulu ya mbak" pamit mbak ratmi.
"Iya mbak, hati-hati" kata ku.
Ku pandangi kotak itu dengan seksama dan ku buka, senyuman tersungging di sudut bibir ku menatap apa isi dari kotak itu.
__ADS_1
Mata ini tak mau beralih dari lembaran lembaran gambar yang terpampang jelas di depan mata ku, senyuman dan tingkah absurd dari sahabat ku kembali muncul dalam angan-angan ku.
bersambung....