Berbagi Senja

Berbagi Senja
Nol Kilometer


__ADS_3

Seharian ku lewati hanya dengan bermalas-malasan di area vila milik teman kami yang tak jauh dari Keraton Yogyakarta.


Vila ini tidak kami sewa melainkan ada salah satu teman semasa kuliah dulu dengan senang hati meminjamkan vilanya untuk kami bermalam beberapa hari selama di kota Jogja😅.(enak kan jadi pelancong kayak kami🤣).


"Naw telfon Cendana gih mau kesini jam berapa?"kata ku.


Memang semalam setelah kami turun dari bukit bintang Cendana dan Eko memutuskan untuk pulang, Eko diminta datang ke cafe karena sedikit ada masalah dicabang yang baru buka Minggu lalu.


Cendana dan Eko sudah pacaran sejak awal kuliah kami dulu, tapi entah kenapa belum juga melangkah ke jenjang yang lebih serius sampai sekarang🙄.


"Gil telfon gih, lagi seru main game nih sayang dikit lagi menang" lempar Nawa.


"Ogah kamu aja Sono" timpal Ragil.


"Napa jadi lempar lemparan sih" kata ku yang mulai kesel dengan tingkah absurd mereka berdua.


"Ya udah Vi biar aku aja yang telfon mereka berdua" kata Arya sambil mengeluarkan hp dari saku celananya karna sedari tadi dia cma fokus pada layar laptop nya saja.


*Tut.....Tut....Tut..


"Assalamualaikum"


"_____"


"Kamu sama Cendana mau kesini jam berapa"


"_______"


"Ya udah buruan vio dah bete noh katanya mau ke nol kilometer."


"______"


"Wallaikumsalam*"


Arya menutup sambungan telefon nya.


"Bentar lagi otw kata eko, buruan gih kamu siap siap" titah Arya.


"Emang kita mau kemana sore sore gini" kata nawa.


"Noh nyonya minta di antar ke Malioboro sama nol kilometer." kata Arya yang menjuk kearah ku dengan dagunya.


"Ar-ya jangan mulai deh" nada kesal mulai keluar dari mulutku.


POV


"Ar kamu serius dengan perkataan mu tempo hari" tanya Ragil setelah melihat ku masuk kamar.


"Serius lah gil, kalo gak serius ngak bakalan aku jauh jauh kesini terima tawaran nawa sedangkan kerjaan ku di Jakarta banyak."


"We.... Apaan nih kok aku ketinggalan cerita Gil" kata nawa yang mulai kepo.

__ADS_1


"Itu soal Arya yang mau serius sama Viona" ceplos Ragil tanpa rasa bersalah.


"Tapi kan kalian tau gak semudah itu ngajak Viona buat serius, apa lagi sejak kejadian satu tahun lalu, luka menganga di hati vio gak mudah di sembuhkan." tungkas Arya dengan sedikit wajah memerah.


"Weh...ternyata diam-diam kamu terjebak di zona friendszone ya Ar" ledek nawa.


"Sejak kapan kamu simpen perasaan itu?"


"gak tau muncul tiba-tiba aja"jawab Arya cuek.


"Assalamualaikum"


Mereka bertiga serempak menengok ke arah pintu dan menjawab salam wallaikumsalam.


"Pada ngomongin apaan sih serius amet, eh... mana vio " tanya Cendana sambil celingukan.


"Dikamar"


"Ya udah aku samperin vio dulu" Cendana melangkahkan kaki menuju kamar yang ku huni.


\=\=\=\=\=


"Vi...Kamu dah siap belum"


"Udah Cen tunggu bentar aku keluar" kata ku yang masih sibuk memakai skin care di kamar mandi karna aku bukan tipe orang yang suka bermakeup tebel.


Malam ini di Malioboro sangat ramai oleh pejalan kaki. Disisi kanan kiri banyak menjual pakaian dan printilan oleh oleh khas jogja, serta banyak penjual makanan lesehan yang siap menggoyangkan lidah pengunjung.


"Kalian mau foto gak,disitu " tunjuk ku ke plang legendaris milik Malioboro.



"Boleh deh" kata Cendana.


Ku ambil beberapa foto melalui mata ketiga ku itu. Kami menyusuri jalan sepanjang Malioboro hingga tak terasa kami sudah sampai di nol kilometer Jogja saking asiknya kami sendau gurau di jalan sambil makan molen pisang mini dan onde onde mini😅.(padahal lumayan jauh lho dan bikin kaki pegel juga, tapi kalo lagi sama mereka mah lupa rasanya pegel).


"Jogja udah banyak berubah ya" kata ku saat kami duduk lesehan di nol kilometer.


Tanpa ku sadari ternyata Arya duduk disebelah ku. Dia memandang penuh selidik kearah ku, Menerka-nerka apa maksud dari perkataan ku barusan.


"Kalo masih sama kita gak bakal kesini buat nostalgia Vi"kata Arya.


"Iya ...ya.. kita di pertemukan di kota ini jalani hari hari bareng sampai kita sibuk masing masing, dan sekarang duduk disini lagi."senyum ku kecut.


Tanpa aba-aba direngkuhnya kepalaku dan diletakkan ke pundaknya.


"Kamu kok mau terima tawaran nawa buat liburan sih Ar, padahal kan kerjaan kamu menuntut buat stay di Jakarta, kayak Alfian yang gak dapet cuti" tanyaku.


Aku tau sejak Arya membuka mata tadi pagi sudah disibukan dengan laptop nya, yang aku tau disana dia sedang membuka dan menyusun bilangan rumit bin jlimet(coding) itu.


"Aku terima tawaran nawa buat liburan itu karna suntuk dan kangen Cendana sama Eko, kalo masalah kerjaan aku masih bisa kerjain dari jauh kok, beda sama Alfian yang menuntut buat stay di Jakarta"

__ADS_1


"Hemm..."


"Kalo kamu sendiri apa alasannya, jangan bilang...." belum sempat menyelesaikan pertanyaannya udah ku pukul dulu pundaknya.


"Aduhh... sakit Vi" katanya mengaduh.


"Habis pertanyaan macam apa itu, ya aku refleks aja" jawab ku.


"Kan pertanyaan ku belum kelar kamu dah mukul duluan" kata Arya.


"Serah kamu aja lah" kata ku sambil berdiri merogoh tas kameraku yang menemani perjuangan ku. Ku bidikan lensa ke beberapa sudut termasuk kearah bank tertua dijogja itu, bergaya arsitektur tempo dulu begitu indah saat malam hari.



Inilah titik nol kilometer Yogyakarta yang terus membuat aku baper sampai sekarang😭.


"Udah puas belum ambil fotonya laper nih" kata Arya sambil menghampiri ku yang masih asyik berburu gambar.


"Tunggu aku belum dapet feel yang bagus nih" jawabku.


"Apa susahnya sih dapet feel, apa sesusah dapetin kamu" kata Arya yang tanpa sadar.


"Kamu barusan ngomong apa Ar" kataku yang terlonjak kaget.


"Emang ngomong apa aku barusan, perasaan gak ngomong apa-apa"


"Bukannya kamu tadi ngomong...." kata ku menggantung.


"Dah lah mungkin aku salah denger" lanjut ku.


"Kamu gak salah denger Vi, semua yang aku katakan barusan itu benar adanya, andaikan dia tak menorehkan luka itu, kamu gak akan sekeras ini Vi" batin Arya.


Ku lanjutkan kegiatan ku untuk berburu feel pada setiap jepretan kameraku, hingga tanpa sadar ku arahkan kameraku menuju benteng di sebrang jalan sana.


Ku tangkap bayangan gambar itu begitu jelas, hingga ku dapat satu gambar yang begitu membuat ku menegang seketika akan hasil jepretan ku sendiri. Sosok yang dulu tak asing, benarkah itu dia.


"Arfian Baskara...." kata ku refleks.


Arya yang tak begitu jauh pun langsung mendekat dengan wajah paniknya karna aku berdiri mematung.


"Kamu barusan sebut nama siapa Vi" tanya berapi-api dan kelihatan marah di kedua bola matanya.


"Bukan siapa siapa arya, katanya laper ayo kita cari makan tapi jangan di area sini ya, kita ke pendopo lawas aja kangen makan disana" kata ku mengalihkan pembicaraan sambil menarik tangan Arya untuk menjauh dari tempat itu.


Namun bukanya ikut Arya justru seketika berhenti melepaskan tangan ku dan mematung di tempat itu.


"Apa dia disini, dimana dia" dengan sedikit meninggikan suaranya padaku.


"Katanya laper ayo keburu selera makan ku ilang nih"aku terus mengalihkan pembicaraan dan berusaha menahan air mata ku agar tak jatuh.


"Kenapa kamu disini?" batin ku, pertanyaan yang tak mampu terjawab oleh siapa pun kecuali dia.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2