Berbagi Senja

Berbagi Senja
Pendopo Lawas


__ADS_3


Setelah sedikit perdebatan ku dengan Arya akhirnya Ragil membawa kami ke pendopo lawas.


Pendopo lawas ini terletak di alun-alun Utara kota jogjakarta, tempat ini adalah sebuah rumah makan berkonsep angkringan outdoor sebagai tempat duduknya, sedangkan untuk penyajian makananya prasmanan di dalam pendopo. Berbagai menu angkringan ada disini misalnya nasi kucing, berbagai macam sate, tongseng hingga jajanan pasar pun ada disini.



Setiap malam di Pendopo Lawas diadakan live musik yang menambah ramai tempat ini.


"Cari tempat duduk dulu deh, biar aku,Cendana,Ragil sama Arya yang antri, kalian pesen kek biasa kan?" tanya ku.


"Samain aja lah" kata nawa yang berlalu mencari tempat duduk bersama Eko.


Kami berempat mulai mengantri, antrian malam ini cukup mengular, karena memang tempat ini asyik buat nongkrong dan menu makananya pun low budget cocok lah untuk kantong mahasiswi dan para pelancong macam kami ini😅.


Setelah cukup lama mengantri akhirnya kami mendapatkan pesanan kami masing-masing, Aku mengambil nasi kucing dan beberapa sate kesukaan ku saat makan di angkringan yaitu sate telur puyuh, usus, dan kerang. Tak lupa ku ambil beberapa jajanan pasar yang siap menjadi pencuci mulut malam ini.


"Udah semua kan Cen" tanya ku.


"Udah cukup deh kayaknya, makan malam banyak-banyak buat gendut, apa lagi nih" tunjuk Cendana pada piring di tangan kiri ku yang berisi jajanan pasar manis tentunya.


"Halah masih jaim aja ma kita Cen" kataku sambil berlalu untuk menghampiri Nawa dan Eko.


"Nih pesenan kamu Naw, jangan di abisin semua sisain untuk kita kita" kata ku sambil menyodorkan sepiring peniuh jajan pasar, Nawa itu suka onde onde kacang ijo sama seperti ku.


Tak lama Ragil datang dengan nampan membawa cap minuman kami berenam.


"Wis pas banget nih lagi PANAS minumnya es jeruk mantep pisan"kata ku sambil mengambil cap es jeruk.


Mereka sontak menengok ke arah ku.


"Kenapa?" tanya ku yang tengah asik menyeruput es jeruk.


"Panas gak salah kamu Vi" tanya Cendana.


"Panas karna kita tadi kan jalan jauh dari Malioboro ke nol kilometer" jawab ku santai namun dapat tatapan tajam dari Arya.


Kami pun menikmati makan malam dengan santai dan saling melempar candaan satu sama lain. Hingga terdengar sapaan dari arah tempat live musik, ternyata kami beruntung karna malam ini yang manggung adalah mas Tri(YouTuber sekaligus musisi jalanan yang lagi ngetop di jagat Maya ini).


Dia menyanyikan beberapa lagu berbahasa Jawa yang di cover menjadi musik akustik, diantaranya lagu Tatu yang di popular oleh ALM.Didi kempot itu.


Senajan kowe ngilang, ra biso tak sawang


Nanging neng ati tansah kelingan


Manise janji - janjimu kuwi


Nglarani ati

__ADS_1


Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo


Tatu sing ono ndodo


Perih rasane yen eling kowe


Angel tambane


Opo aku salah yen aku crito


Opo anane


Wong sing neng sandhingmu ben melu krungu


Piye tenane


Opo aku salah yen aku kondho


Opo anane


Ceritane tresno naliko biyen


Aku lan kowe


Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo


Tatu sing ono ndodo


Tak terasa butiran bening mengalir di pipiku, entah karna menghayati lagu atau pikiran ku yang sedang melayang jauh kemana masa sejak di nol kilometer tadi.


Tatapan tajam dari Arya masih terus diarahkan kepadaku "Kamu kenapa" tanyanya.


"Aku gak papa Ar" jawab ku.


"Kalo gak kenapa napa kok nangis" tanyanya penuh selidik.


"perih mata ku mungkin kelilipan" jawab ku sambil menggosok mata.


Tak ada obrolan lagi antara aku dan Arya setelah itu, sesekali aku lirik Arya masih setia menatap tajam seakan meminta jawaban.


"Pulang yuk... dah jam sepuluh nih" ajak Ragil


"Yakin pada mau balik sekarang, biasanya klo nongkrong juga sampai pagi." kata Eko yang sedari tadi cuma asik ngobrol dengan Cendana.


"Ya udah mending kita pulang terus Mabar" sambar Nawa.


"Yang ada di otak kamu tu cuma Mabar apa?, sekali kali pikirin tu Okta" tambah Ragil.


"Okta lain cerita Gil, makanya punya pacar biar ada yang perhatiin, jangan kerjaan nya singgah dimana mana tapi pacar gak punya" kata nawa di iringi gelak tawa kami.

__ADS_1


"Dah ayok...." kata Ragil sampul melempar kunci ke nawa "Kamu yang bawa biar gak kepikiran Mabar terus"


Akhirnya setelah tiga puluh menit kami sampai di villa, perjalanan pulang cukup menguras kesabaran karna terlibat kemacetan di beberapa titik belum lagi kami harus berputar putar karena jalan satu arah.


"Cen kamu nginep kan" tanya ku.


"Nginep lah takut kamu di apa-apa in sama mereka bertiga" kata Cendana sambil mesem mesem.


"Kalo kita niat apa-apa in Vio dah dari semalem kali Cen" kata Arya nyelonong masuk diikuti Eko, Nawa, dan Ragil.


"Masuk yu Cen, udah pengen rebahan nih aku" kata ku yang mijit mijit ringan di leher yang mulai pegal.


Ku letakkan tas kamera dan beberapa barang ke meja sebelah pintu masuk kamar, ku langkah kan kaki menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai skin care malam, ingin rasanya segera memejamkan mata.


Hingga pukul satu dini hari mata ku belum juga mau terpejam hingga aku teringat isi kameraku tadi sore.


Ku tengok ternyata Cendana sudah tertidur pulas disamping ku. Pelan pelan ku turunkan tubuh ku dari tempat tidur supaya Cendana tak bangun, Ku raih kamera berniat memindahkan semua gambar yang ku ambil sejak kemarin ke dalam laptop.


Ku copot memory card (SDHC) lalu ku coba membuka dalam laptop ku.



Ku copy ke dalam laptop dengan nama folder khusus, Ku scroll turun sampai gambar terakhir foto terakhir itu ku buka "Benarkah itu dia" batin ku.


Ku hapus foto terakhir itu lalu ku letakkan laptop ku di atas meja, ku langkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minum karna rasa haus mendera.


Setelah aku mengambil minuman di dapur ku langkahkan kaki menuju ruang tengah dimana disana ada sebuah pintu kaca geser yang terhubung dengan kolam renang, ku dudukan tubuhku di sebuah kursi.


Dari arah belakang ku dengar langkah kaki namun aku enggan untuk menengok hingga ku dengar suara menyapa dan baru aku menengoknya.


"Vi.... kamu belum tidur" kata Arya.


Dia duduk disebelah ku "Belum Ar, mata ku gak mau di ajak tidur" kata ku.


"Kamu kok belum tidur juga" tanyaku.


"Aku kebangun karna haus Vi lupa tadi mau bawa botol minum ke kamar" kata Arya.


"Kamu lagi kepikiran sesuatu"


"Sedikit Ar, tadi sore aku liat dia di Malioboro tapi gak sama Tia" kata ku.


"Si b*r*n*s*k itu, kok kamu gak ngomong sih Vi, kalo dia disana" kata Arya yang sudah mulai emosi.


"Aku gak mau kamu terlibat masalah lagi sama dia Ar" kata ku berusaha menahan air mata.


Arya seketika merengkuh tubuh ku meletakkan kepalaku pada pundaknya dan menyimpan tangannya di pundak ku.


"Menangis lah, kalo itu buat kamu lega Vi jangan sok tegar di depan ku"kata Arya.

__ADS_1


Menangis adalah jalan satu satunya untuk sedikit mengurangi beban.


bersambung....


__ADS_2