
Kini keduanya telah berkumpul di restoran untuk sarapan dan akan memulai perjalanan menuju Death Valley.
"Baiklah, sebagai permintaan maaf, kali ini aku yang akan membayar makanannya." Ucap Liya merasa tidak enak.
"Yah, sebaiknya seperti itu."
"Permisi.. Mba saya pesan menu spesialnya 2 dan untuk minuman, bawakan yang terenak, dua gelas!." Ucap Luch memanggil pelayan restoran untuk memesan makanannya.
"Heh? "
"Ya sudah lah, pesan saja." Ucap Liya sambil melihat isi dompetnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya pesanan telah berada di meja Luch dan Liya, Luch meminta izin untuk pergi ke toilet sebelum memakan makanan tersebut.
Luch pergi ke toilet untuk mencuci tangannya, setelah selesai, ia pergi ke kasir untuk membayar semua makanan yang di pesannya, ketika diberi tahu harga pesanan tersebut, Luch terkejut.
"Mahal juga ya, padahal saat tadi kulihat, makanannya biasa-biasa saja." Ucap Luch dalam hati sambil menghitung uang yang dimilikinya.
Luch memang baru pertama kali memesan makanan dari restoran, setelah membayar, Luch bergegas menuju meja untuk dua orang yang ia gunakan tadi.
"Huhh."
Helaan nafas Luch keluar saat Luch kembali duduk di kursinya.
"Kamu kenapa?" tanya Liya heran.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja sarapanmu." Ucap Luch.
...****************...
"Lalu sekarang apa?"
"Bagaimana caranya kita kesana?" Ucap Luch tidak mengerti.
"Benar juga... Bagaimana kalau kita gunakan saja kuda ini." Ucap Liya sambil menaiki kuda yang ia pinjam dari istana.
"Pertama, kita pergi ke rumahmu, lalu setelah itu kita ke rumahku untuk berpamitan pada yang lain, Bagaimana... Kamu setuju?" Ucap Liya menyarankan.
"Baiklah, aku setuju." Ucap Luch ikut menaiki kuda tersebut.
"Luch... rumahmu dimana?" Ucap Liya bingung.
...****************...
Akhirnya Luch yang mengendarai kuda tersebut dan Liya hanya duduk di belakangnya, Luch menunggangi kuda tersebut hingga menuju kota Toppat, kota yang Luch tinggali bersama kakeknya.
"Luch, ternyata kau sangat ahli menunggang kuda." Ucap Liya takjub.
"Aku sudah bisa menunggang kuda sejak kecil karena dulu kakek ku mempunyai kuda dan kereta kuda, katanya itu adalah pemberian dari seseorang untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya." Ucap Luch menceritakan.
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya Luch dan Liya telah sampai di kota Toppat, Luch langsung merasakan kembali rasa kecewanya karena tidak mengikuti final, tapi Luch menutupi kekecewaannya itu.
"Tok tok tok"
Luch mengetuk pintu rumahnya.
"Kakek, Aku kembali." Ucap Luch sambil membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Rumahnya terlihat gelap, Luch heran karena tidak ada orang di rumah, ia pun menyalakan lampu dan mempersilakan Liya untuk masuk, kini Luch kembali keluar untuk mencari kakeknya.
"Jangan kemana-mana, jika ingin minum, ambil saja di dapur." Ucap Luch dengan suara yang keras dari luar rumah.
Liya kini berada di ruang tamu duduk menunggu Luch, seketika terdengar suara seseorang dari depan rumah Luch.
"Kenapa, pintu rumah terbuka?" Ucap seseorang sambil melepas alas kaki untuk memasuki rumah tersebut.
Liya berjalan menuju pintu rumah untuk mencari tahu tentang suara itu, benar saja, Liya melihat seorang kakek di depan pintu rumah tersebut.
"Hallo kakek... Oh iya, aku Liya.. temannya Luch, luch dan aku baru saja tiba di rumah ini, tapi Luch tadi keluar, sepertinya sedang mencari kakek." Ucap Liya menjelaskan saat melihat seorang kakek berada di pintu.
"Teman Luch?, wah cantik sekali."
"Tapi sepertinya kakek pernah melihat kamu, wajah cantikmu seperti teman kakek saat masih remaja." Ucap Kakek Luch sambil mengingat-ingat.
"Benar juga, wajahmu mirip seperti Candra.. Teman kakek dulu." Ucap Kakek telah ingat.
"Wah... Benarkah itu?, Candra adalah nama nenek ku, jika kakek merasa aku mirip dengannya mungkin saja itu adalah nenekku, kakek mengenalnya?" Ucap Liya terkejut.
"Kakek sudah lama mengenalnya, rambut putih yang indah itu, telah mengingatkan Kakek dengan kenangan lama kakek." Ucap kakek.
Keduanya kini mengobrol dan kakek Luch menceritakan kisah temannya yaitu Candra yang ternyata nenek dari Liya, hingga beberapa saat, Luch muncul dengan tergesa-gesa.
"Kakek?, kakek kapan sampai?" Ucap Luch heran.
"Seharusnya kakek yang menanyakan itu Luch, kamu kapan sampai di rumah?" Ucap kakek membalikkan pertanyaan.
"Owh... Benar juga, aku baru sampai disini beberapa menit yang lalu bersama Liya." Ucap Luch menjelaskan.
Luch yang langsung mengerti tentang isyarat yang diberikan oleh Liya, kini dengan cepat melanjutkan perkataan dari Liya.
"Kakek, salah satu dari Dewa Iblis yang dulu pernah berperang dengan Raja Artur, kini telah memasuki tubuhku untuk dijadikan wadah barunya."
"Tapi kakek tenang saja, Luch masih kuat menahan Dewa Iblis itu, jadi sebelum Dewa Iblis lepas kendali, aku harus memasuki Death Valley agar dunia ini tidak di hancurkan kembali." Ucap Luch menceritakan kabar buruk tersebut.
Kakek Luch terkejut dan menjadi sedih ketika mendengar hal tersebut, lalu ia mengingat tentang seorang kenalannya yang ahli dalam sihir penyegelan, kakek Luch kini mencari peta tempat tinggal dari kenalannya itu.
Luch heran melihat kakeknya langsung pergi dengan terburu-buru, ia pun pergi mengikuti kakeknya dari belakang, Liya yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti keduanya dari belakang.
"Akhirnya!, Luch!, kamu harus menemui kenalan kakek, kakek yakin di pasti bisa menolongmu dari Dewa Iblis yang berusaha mengambil alih tubuhmu." Ucap kakek saat menemukan peta yang menunjukkan tempat dari kenalan kakek Luch.
"Cepat, ikutilah peta ini, jika kalian telah menemukannya, katakan saja bahwa kau adalah cucu kakek, Luch.. kamu tidak boleh berlama-lama." Ucap kakek sambil memberikan petannya.
"Sekarang kakek?" tanya Luch heran.
"Luch... Kamu tidak boleh membuang-buang waktumu, kakek berharap kamu baik-baik saja, bawalah kereta kuda kakek." Ucap kakek Luch.
...****************...
Merekapun meninggalkan kota Toppat dengan menaiki kereta yang di tarik oleh kuda.
"Kakek tadi sikapnya sangat aneh, tidak biasanya dia seperti itu." Ucap Luch sambil fokus mengendarai kuda menuju rumah Liya.
"Kakekmu sangat khawatir kepada mu, jadi dia bersikap seperti itu, jadi sebelum kita memasuki Death Valley, kita akan ke tempat yang ditunjukkan Kakekmu." Ucap Liya yang sedang beristirahat di dalam kereta kuda.
"Srttttt"
__ADS_1
Kuda yang dikendarai Luch berhenti karena gerbang untuk keluar dari kerajaan masih tertutup.
Setelah gerbang itu terbuka, Liya langsung memberikan lokasi menuju rumahnya, Luch kini mulai terbiasa membawa kuda, ia dengan lihai mengendarai kuda menuju desa yang ditinggali oleh Liya dan Kan-yi.
"Apakah Kan-yi sedang berada di desanya sekarang?, sejak aku bangun, aku tidak melihat Kan-yi." tanya Luch.
"Yah dia memang sudah pulang terlebih dulu, tapi dia akan kembali ke kerajaan untuk menjadi Pengawal Raja." Ucap Liya.
"Luch lihat, itu dia desanya." Ucap Liya menunjukkan.
Akhirnya keduanya kini telah memasuki desa, seketika saat Luch mulai memasuki desa tersebut, banyak tatapan mata yang mengarah kepada Luch dengan rasa heran, wajar saja bagi para penduduk desa, Luch adalah orang asing yang telah memasuki desa.
Kepala desa dengan sigap menyambut tamu tersebut.
"Halo pemuda, ada keperluan apa kamu datang kesini?." Tanya Kepala Desa kepada Luch.
"Ehmmm, saya datang kesini dengan Liya, apakah paman menetahui rumahnya." Tanya Luch yang belum mengetahui bahwa orang yang di depannya saat ini adalah ayah dari Liya.
"Ayah!, bagaimana sekarang kondisi ayah?." Tanya Liya yang membuat Luch terkejut saat mendengarnya.
"Hahaha... Akhirnya kamu datang anaku, kamu dan Kan-yi tidak pernah kembali sejak bersama dengan Raja Artur, kenapa tidak datang bersama Kan-yi?" Ucap Ayah Liya.
Liya melanjutkan ceritanya saat ke tiganya telah berada di ruang tamu dari rumah ayahnya Liya.
"Oh iya ayah... Ini adalah Luch, ternyata Kakeknya Luch mengenal Nenek Candra!." Ucap Liya.
"Memang Nenek dulu adalah orang suka dengan petualangan, dia memiliki kenalan yang sangat banyak, dan jug~" Ucap ayah Liya berhenti saat mendengar suara ketukan pintu.
"Tok tok tok."
Suara ketukan kini terdengar oleh ketiganya.
Liya kini membuka pintu rumahnya dan melihat Kan-yi yang berada di depannya.
"Kan-yi?" Ucap Liya.
"Halo... Ku dengar kau datang dengan seseorang, siapa yang kamu ajak?." Ucap Kan-yi penasaran.
Akhirnya Liya dan Luch menceritakan kepada ayah Liya dan Kan-yi tentang permasalahannya Luch dengan raja.
"Liya!.. TIDAK BISA SEPERTI ITU!!"
"Kamu sudah tahukan kalau memasuki Death Valley adalah hal yang tidak masuk akal, kamu bisa saja tidak akan pernah bisa kembali." Ucap Kan-yi menolak dengan keputusan dari Liya.
"Kan-yi.. Tenang dulu, jika itu adalah keputusannya maka biarkanlah, aku juga tahu kalau itu adalah hal yang mengejutkan, tapi aku membiarkan Liya memilih jalannya, jika memang itu adalah petualangan yang ia pilih." Ucap ayah Liya mengerti.
Ayah Liya kini membiarkan anaknya memilih jalannya sendiri, walau dirinya sempat terkejut dengan pilihan itu, Ayah Liya dan Kan-yi merasa cemas dengan hal itu, hingga akhirnya Luch membuka suara.
"Ayah Liya, jika memang Liya pergi denganku, akan aku pastikan dia aman dimanapun itu." Ucap Luch yang merasa tidak enak dengan keluarga Liya.
Luch merasa bersalah dengan ayah Liya, karena Liya ingin membantu dan menemani Luch memasuki Death Valley, Luch juga tahu itu adalah hal yang sangat berbahaya.
"Bukankah yang akan jadi bahaya adalah kamu?, kamu telah di rasuki oleh Dewa Iblis, bisa saja malah kamu yang akan melukainya." Ucap Kan-yi khawatir.
Kan-yi tidak merasa marah dengan Luch, ia hanya mengkhawatirkan temannya, akhirnya Kan-yi mengajukan untuk ikut pergi bersama, Kan-yi mencoba untuk melindungi dan mengawasi keduanya.
Luch baru menyadari tentang dirinya yang malah akan menjadi bahaya bagi Liya, mendengar Kan-yi yang akan ikut bersama, itu adalah berita bagus bagi keduanya dan juga ayah Liya.
__ADS_1