
Beberapa menit telah berlalu, kini mata Luch mulai terbuka dengan perlahan, sepertinya Luch telah berhasil merebut kembali tubuhnya.
Mata Luch yang telah terbuka, kini melihat atap dari kereta kuda yang ia miliki, kejadian itu di lihat oleh Liya yang berada di dekat kereta kuda.
"Luch!.. Akhirnya kamu sadar." Ucap Liya merasa lega.
"Liya, apa yang telah aku lakukan, aku telah membiarkan Dewa Iblis mengambil tubuhku." Ucap Luch sedih.
"Tenang saja Luch, kita harus lebih cepat untuk menemukan orang yang ditunjukkan oleh peta itu." Ucap Liya.
"Apa yang Dewa Iblis lakukan dengan tubuhku.. Liya?" Tanya Luch kepada Liya.
"Sudahlah, masalah itu sedang di bereskan oleh Kan-yi, setelah Kan-yi selesai, kita akan langsung melanjutkan perjalanan ini." Ucap Liya.
Setelah beberapa jam Luch dan Liya menunggu, akhirnya Kan-yi telah kembali setelah membantu memadamkan api dari bangunan-bangunan yang terbakar akibat dari Dewa Iblis.
"Hey Luch.. Sadar juga kamu." Ucap Kan-yi saat melihat Luch yang telah tersadar.
"Kan-yi.. Terima kasih atas bantuanmu." Ucap Luch kepada Kan-yi.
"Tidak perlu seperti itu, mari kita lanjutkan saja perjalanannya." Ucap Kan-yi langsung menaiki kereta kuda.
Ketiganya kini melanjutkan kembali perjalanannya dengan perbekalan yang telah di siapkan oleh Liya sebelumnya.
...****************...
"Luch!, tidak perlu sedih seperti itu, Lagian juga bukan kamu yang menghancurkan desanya." Ucap Kan-yi sambil mengendarai kereta kuda.
"Jika Dewa Iblis yang melakukannya maka bukan salahmu." lanjut Kan-yi menenangkan.
Kini mereka bertiga melewati Padang rumput yang indah dengan di sertai sungai yang mengalir jernih, Liya yang melihat itu senang dengan pemandangan yang ia lihat saat di perjalannya.
Kini telah banyak tempat yang telah di lalui ketiganya, hingga akhirnya sudah tidak jauh untuk sampai menuju tempat yang telah di tunjukkan oleh peta yang luch terima dari kakeknya.
"Hey Luch.. Apakah benar ini jalannya?, aku hanya melihat rawa yang sangat besar si depan sana." Ucap Kan-yi heran saat mengetahui jalan di depannya adalah rawa yang sangat besar.
"Entahlah, tapi peta ini menunjukkan bahwa rumah orang itu berada di depan sana." Ucap Luch sambil menunjuk ujung dari rawa di depannya.
Setelah berputar-putar dengan kereta kuda, mereka masih belum menemukan jalan yang bisa di lewati, rawa yang besar mengelilingi rumah tersebut, akhirnya mereka menyimpan kuda dan keretanya di tempat yang tidak terlihat, mereka menaruh beberapa makanan untuk kita itu makan.
"Kalian yakin untuk melewati rawa itu?" tanya Liya heran.
"Ya mau bagaimana lagi, jika kamu tidak bisa, naik saja ke punggung ku.. Bagaimana?" Ucap Luch menawarkan.
"Tidak apa-apa Luch, aku akan melewatinya." Ucap Liya.
"Kalian berdua berhati-hatilah, jangan berisik karena kita tidak tahu apa yang ada di depan kita nanti." Ucap Kan-yi yang sedang waspada.
__ADS_1
Mereka bertiga kini sedang melewati rawa tersebut, ranting dan serangga dimana-mana, ketiganya semakin di buat kesusahan karena tanah yang dilewati semakin dalam dan licin.
"Semoga saja ini adalah jalan yang benar." Ucap Kan-yi yang masih ragu.
"Byurr!"
Luch terjatuh hingga tubuhnya kini basah karena air kotor dari rawa tersebut.
"Ih, Luch!"
"Mulutku kemasukan air rawa ini, karena cipratan saat kamu terjatuh." Ucap Liya yang terkena air rawa.
...****************...
Ketiganya kini telah berhasil melewati rawa tersebut, pakaian yang di gunakan oleh ketiganya telah kotor terkena lumpur rawa, bukan hanya ini yang membuat mereka kesal, kini tubuh mereka memiliki aroma yang busuk.
Mereka bertiga kini melihat rumah yang terlihat seperti telah lama tidak di tinggali, mereka akhirnya mendekati rumah tersebut untuk bertemu dengan seseorang yang di beri tahukan oleh kakek Luch.
Kosong, hal pertama yang di lihat oleh mereka saat memasuki rumah tersebut.
"Luch apakah memang ini tempatnya?" Tanya Kan-yi yang merasa bahwa tempat tersebut sudah lama tidak di tinggali.
"Tapi di petanya menunjukkan kesini, aku juga tidak tahu." Ucap Luch yang menjawab pertanyaan Kan-yi.
"Prank!"
"Apa itu?" Ucap Liya sambil menoleh ke belakang.
"Ada yang bergerak!" Ucap Luch yang sedang mengejar sesuatu yang sempat ia lihat.
Liya dan Kan-yi hanya bisa mengikuti Luch yang berlari keluar dari rumah kosong tersebut, Luch yang berlari mengejar sesuatu yang sedang berlari dengan cepat hingga menuju masuk ke dalam rumah yang tersembunyi.
Kita dan Kan-yi yang tertinggal,kini kehilangan jejak dari Luch, Luch yang telah masuk ke dalam rumah yang tersembunyi tersebut tidak memperhatikan sekelilingnya, Luch yang sadar telah mengikuti seekor hewan yang berupa musang putih, mata Luch kini melihat musang tersebut melompat ke arah seorang perempuan cantik dengan rambut putih yang indah sedang menangkap dan memeluk musang tersebut.
"Siapa kamu!, bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" Tanya seorang perempuan yang sedang memeluk musang.
"Oh.. Akhirnya ada seseorang di sekitar sini." Ucap Luch saat melihat perempuan tersebut.
"Tunggu dulu, benarkah peta ini mengarah kesini?" Ucap Luch yang langsung bertanya kepada perempuan tersebut.
Dilihat dari penampilannya, perempuan tersebut memiliki umur yang tidak jauh beda dengan Luch dan yang lainnya, kini perempuan tersebut memperhatikan para yang di berikan oleh Luch.
"Peta ini memang mengarahkan kalian ke sini."
"Siapa saja yang datang bersamamu?, dan bagaimana kamu mendapatkan peta ini?" Tanya perempuan itu setelah menjawab pertanyaan dari Luch.
"Ehmm.. Ada dua lainnya yang datang bersama saya, cuman saya juga tidak tahu di mana mereka sekarang."
__ADS_1
"Lalu, jika kamu penasaran bagaimana aku mendapatkan peta itu, kakekku yang memberikannya, kata dia aku harus pergi kesini untuk bertemu dengan seseorang yang bisa membantu menyegel Dewa Iblis." Ucap Luch yang menjelaskan.
"Dewa Iblis?, temui dulu guruku, sepertinya ini masalah yang serius, cepat ikuti aku." Ucap perempuan tersebut sambil menaiki ruangan gurunya.
Luch lupa dengan Liya dan Kan-yi yang masih di luar mencari Luch, ia kini hanya fokus dengan kondisi si depannya, guru dari perempuan tersebut kini melihat peta yang telah lama ia berikan kepada seseorang yang dulu pernah menyelamatkannya, ia langsung mengingat orang tersebut.
"Oh iya, kakekku yang telah memberikan peta itu, katanya aku harus memberitahukan bahwa aku adalah cucu dari Ken Hendri." Ucap Luch memberi tahu.
"Ken?"
"Baiklah, jika memang kamu di suruh mendatangiku maka itu adalah sesuatu yang hanya bisa aku lakukan." Ucap orang tersebut.
Orang tersebut adalah Zena, seorang penyihir yang dulu pernah di selamatkan oleh kakek Luch saat masih di masa remajanya, walau umurnya sudah tua, tapi dengan sihir awet muda yang ia miliki, membuat tubuhnya terlihat seperti masih berumur 20 tahunan.
Kini Zena telah mendengar cerita ringkas dari kondisi Luch, lalu tanpa di duga, Zena kini mendengar suara teriakan dari luar yang memanggil nama luch, Zena yang risih kini menggunakan sihir teleportasi untuk memindahkan Liya dan Kan-yi yang masih berada di luar.
Akhirnya Liya dan Kan-yi kini berada di ruangan yang sama dengan Luch, keduanya merasakan efek samping dari sihir teleport tersebut, Liya dan Kan-yi meresahkan mual secara tiba-tiba.
"Benar juga, kenapa kalian tidak mengikutiku saat itu." Tanya Luch heran kepada Liya dan Kan-yi.
"Kamu yang terlalu cepat, kenapa tidak menunggu dulu." Ucap Kan-yi yang kesal mendengar ucapan Luch.
"Apakah tadi itu sihir teleportasi?" Tanya Liya saat tahu dirinya telah berada di tempat yang berbeda.
Kini ketiganya mendengarkan Zena yang memberikan arahan untuk mencoba menyegel Dewa Iblis, Zena membawa kotak besi yang sebesar satu ekor kambing, ia menyuruh Luch memasuki kotak tersebut dengan membawa 3 paku kecil yang telah di berikan sihir penyegel kuat dari Zena.
"Kotak ini tidak akan terbuka ketika Dewa Iblis mengambil alih tubuhmu, kamu harus pergi memasuki alam bawah sadarmu dan temukan Dewa Iblis, tancapkan ketiga paku ini ke tubuh Dewa Iblis untuk menyegel beberapa kekuatannya." Ucap Zena memberitahu caranya.
"Kamu harus bertarung dengan Dewa Iblis, tidak perlu mengalahkannya, cukup tancapkan 3 paku itu, Dewa Iblis tidak akan bisa melepasnya sebelum sihir di paku tersebut habis." Ucap Zena yang memberikan 7 paku kepada Luch.
Luch lalu memasuki kotak tersebut sesuai dengan apa yang Zena katakan, kini Luch mulai mencoba memasuki alam bawah sadarnya dengan membawa 7 paku pemberian Zena, Luch dengan fokus untuk memasuki alam bawah sadarnya merasa kesulitan.
Hingga akhirnya beberapa menit telah berlalu, kesadaran Luch mulai berpindah menuju alam bawah sadar, Luch yang telah berada di alam bawah sadar langsung melihat Dewa Iblis yang sedang berada di singgah sana yang dibuat dari aura yang di bentuk oleh Dewa Iblis.
...****************...
"Apakah Luch akan berhasil menancapkan paku itu?" Tanya Liya kepada Kan-yi.
"Yah itu tergantung kemampuan dari temanmu." Ucap murid dari Zena yang langsung menjawab pertanyaan Liya.
"Benarkah?, siapa kamu?, bagaimana jika kita berkenalan dulu?, namaku Liya." Ucap Liya kepada perempuan tersebut.
"Namaku Liana Azella. Kalian bisa memanggilku Azel." Ucap Azel seorang murid dari Zena.
"Azel.. Awasi orang yang sedang berada di kotak itu, laporkan padaku jika terjadi sesuatu yang aneh." Ucap Zena pada Azella.
Kan-yi dan Liya yang berada di sana hanya bisa menunggu hasil dari Luch yang sedang berada di alam bawah sadarnya, Liya mencoba mendekati Azella untuk ikut mengawasi Luch.
__ADS_1