
Jam di layar ponsel Alia telah menunjukkan pukul dua siang kurang lima menit. Daripada harus kembali rebahan, Alia berinisiatif untuk mandi, ganti baju, dan bersiap sebelun Fauzan datang menjemputnya.
Pukul 14.35 Fauzan sudah sampai di depan kost Alia, mereka segera berangkat menuju Baznas kota. harusnya sih setengah jam lagi semua kantor pemerintah yang seperti ini sudah tutup jam kerja, untung saja Fauzan dengan pihak Baznas sudah sepakat untuk bertemu di luar jam kantor.
Kini Alia dengan Fauzan berjalan ke arah kantin Baznas kota, ternyata Fauzan dengan pihak terkait sudah menentukan tempat bertemunya. Mereka duduk disalah satu meja kantin tersebut. Dan tak lama, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka.
"Selamat siang, Fauzan dari HMJ Tafsir Hadis kan ya?" tanya lelaki itu.
"Siang Pak, iya saya Fauzan. Dan ini Sekretaris saya, Alia" jawab Fauzan seraya mengenalkan Alia dan menjabat tangan lelaki itu.
"Saya Salim, perwakilan dari Baznas. Silahkan duduk dulu" ucap Pak Salim seraya berjabat tangan dengan Alia.
Fauzan, Alia, dan Pak Salim segera membicarakan agenda acara yang akan dilaksanakan oleh HMJ Tafsir Hadis pada dua minggu kedepan. Acara tersebut tentang ospek jurusan sekaligus tasyakuran dengan menyantuni anak yatim. Berhubung minggu depan ada ospek dari kampus, Fauzan tidak ingin membuang waktu dengan sia-sia jika menunggu osjur terlalu lama. Untung saja konsepannya sudah hampir 80%
Pak Salim menyetujui untuk memberikan dana bantuan kepada HMJ Tafsir Hadis. Fauzan dan Alia tersenyum senang. Akhirnya proposal pertama mereka mendapatkan goal yang sangat diluar ekspektasi. Fauzan dan Alia segera berpamitan, mengingat akan ada rapat bersama Faqih.
"Tum, aku mau ada rapat sama Tum Faqih. Mau ikut gak?" tanya Alia saat Fauzan menurunkannya di depan gerbang kampus mereka.
"Enggak dulu Al, aku harus ngajar abis maghrib. Kayaknya kalo ikut rapat, sampai isya pun gak bakal selesai ini mah" jawab Fauzan.
"Yasudah, aku ke dalam dulu. Makasih udah antar ke kampus, hati-hati di jalan Tum" ucap Alia seraya melambaikan tangannya.
"Yoi, kamu juga hati-hati. Kalo di apa-apain Faqih bilang ya!" ucap Fauzan seraya melajukan motornya. Dan Alia hanya mengangguk untuk merespon ucapan Fauzan.
Kini Alia kembali berjalan menyusuri koridor fakultasnya. Dilihat deretan angkat pada ponselnya menunjukkan pukul 17.20. Alia berusaha mencari ruangan yang dimaksud oleh Faqih saat sebelum tiba di kampus, Faqih sudah mengirim chat pada Alia.
Sore ini PMII -organisasi eksternal kampus yang diikuti Alia- sedang mengadakan rapat se-komisariat. Di PMII jika Alia dan Faqih menjabat di Rayon yang sepadan dengan fakultas karena menaungi minimalnya dua atau tiga jurusan sekaligus. Rayon (Fakultas) Ushuluddin terdiri dari jurusan Tafsir Hadis dan Aqidah Filsafat Islam. Sedangkan untuk komisariat sepadan dengan satu kampus yang menaungi beberapa fakultas.
Kampus Alia hanya kampus negeri di daerah jakarta, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri yang memiliki enam fakultas. Diantaranya Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Dakwah, Syariah, Tarbiyah, dan terakhir Bisnis dan Ekonomi Islam. Secara keseluruhan ada sekitar dua belas jurusan pada kampus itu.
Alia menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan pintu ruangan yang dimaksud oleh Faqih, perlahan Alia memberanikan diri membuka pintu tersebut.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." lirih Alia, ia takut mengganggu Endang —ketua komisariat— yang sedang menjelaskan sesuatu di hadapan para petinggi rayon.
"Waalaikumsalam, masuk Bu Kopri Ushuluddin. Duduk samping ketumnya biar enak berdiskusi ya" jawab Endang seraya menunjuk ke tempat dimana Faqih sudah duduk di sebelah kursi kosong.
Faqih sudah menepuk-nepuk kursi kosong tersebut, berharap Alia segera duduk disampingnya.
"Ketum Ushuluddin bisaan ya minta temenin ke koprinya bukan sekumnya" ledek ketua rayon syariah, Ilham
"Iya dong, selagi koprinya nurut mah ajak aja" timpal Faqih.
Alia langsung geram dalam hati, matanya menatap tajam ke arah Faqih yang ada disampingnya.
"Jangan marah, aku bercanda Al. Tadi Pipit lagi gak bisa karena harus rapat sama duta kampus" ucap Faqih yang mengerti bahwa Alia sedang menahan amarahnya.
Alia sejak dari awal memang tidak suka jika diledek oleh orang lain. Apalagi mengenai perasaan ataupun tentang siapa laki-laki yang sedang dekat dengannya. Dan Faqih juga memahami seberapa tidak sukanya Alia dengan Ilham yang seringkali meledek Alia tanpa pikir panjang mengenai perasaan Alia seperti apa. Sejak saat itu Faqih sudah berjanji akan melindungi Alia dari canda-candaan yang mengusik hati Alia.
Alia mengeluarkan nafasnya dengan kasar, Faqih sudah memperingati Ilham untuk tidak meledek Alia lagi. Alia kembali tenang sekarang.
"Sekarang kita ngambil nomor urut pengkaderan mahasiswa baru ya! Siapa yang mau pertama?" tanya Endang.
"Kedua?"
"Dakwah Tum" ucap Aldi —Ketua Rayon Dakwah—
"Ketiga?"
"Syariah deh Tum" ucap Ilham
"Keempat?"
"Adab Tum" ucap Dewi —Ketua Rayon Adab—
__ADS_1
"Kelima?"
"Ekonomi Tum" ucap Ghiyas —Ketua Rayon Ekonomi—
"Berarti Ushuluddin terakhir?" tanya Endang kepada Faqih
"Iya, Ushuluddin mah selow Tum" ucap Faqih dengan santai.
"Al, tapi nanti Adab minta bantuan Ushuluddin ya!" celetuk Dewi. Dewi juga sahabat Alia di PMII. Dewi berbeda jurusan dengan Alia, Dewi memilih jurusan Bahasa dan Sastra Arab.
"Oh oke, bilang aja nih ke Tum Faqih" ucap Alia seraya menengok ke arah Faqih.
"Selagi kamu bisa mengaturnya, aku setuju Al" ucap Faqih seraya mengangguk.
Aiisshhh!! Yang jadi ketua itu siapa sebenarnya? Alia menggerutu dalam hatinya.
Kali ini rapat berjalan mulus, hanya tinggal saling berkoordinasi dengan masing-masing pengurus. Diruang itu hanya tersisa Alia dan Faqih. Adzan maghrib sudah berkumandang, untung saja sholat ashar sudah dilaksanakan oleh Alia saat masih di Baznas bersama Fauzan.
"Al.." ucap Faqih memecah keheningan diantara mereka.
"Ada apa lagi Tum?" tanya Alia
"Kamu sholat di masjid samping kost aku aja ya, biar kamu langsung ke kost ku dan kita rapat sama anak-anak" ucap Faqih lagi
"Kenapa sih Tum suka seenaknya sendiri begitu? Anak-anak juga males kali kalo otoriter begitu kamunya. Jangan salahin aku kalo nanti anak-anak lebih nurut sama aku ya!" Alia mulai tersulut emosi karena sikap Faqih.
Faqih adalah seorang ketua yang terkadang egois, malas mengatur dan mengasuh anggotanya tapi dia selalu ingin dijadikan penasehat dalam pengambilan langkah. Seolah merasa menjadi orang yang paling di butuhkan.
Anggota rayon terkadang malas berdebat, dan malah meminta tolong Alia untuk menjadi pawang persetujuan Faqih tanpa harus berdebat dulu. Alia juga kadang merasa lelah, bagaimana tidak?
Selama hampir setengah periode, Faqih dengan santainya meminta Alia untuk menghidupkan Rayon Ushuluddin yang mati suri tanpa pernah membantunya sedikitpun. Dan perihal mengurus anggota, semuanya memang diatur oleh Alia.
__ADS_1
"Maaf Al, kamu memang Bu Kopri terbaik. Untuk itu aku juga ingin berpartisipasi dalam pengkaderan anggota baru ini. Bantu aku ya Al.." lirih Faqih.
Bersambung