BERCANDANYA ALAM SEMESTA

BERCANDANYA ALAM SEMESTA
Sebuah Hubungan


__ADS_3

Motor Faqih melaju dengan kecepatan sedang menuju kostnya yang terletak di belakang kampus. Alia sudah setuju agar mengadakan rapat bersama para anggota di kost Faqih.


Setelah sampai, Alia pergi ke masjid dekat kost Faqih untuk sholat maghrib. Saat keluar dari masjid seusainya sholat, Alia bertemu dengan beberapa anggotanya yang akan menuju ke kost Faqih.


"Loh Kak Al, belum ke kost Tum Faqih?" tanya Ifah


"Ini baru mau ke sana, kan dari tadi sore juga sama Tum Faqih di kampus. Yuk bareng!" ajak Alia kepada Ifah dan beberapa orang lagi.


"Kak, kita beneran urutan terakhir?" tanya Santi


"Iya san, biar kalian bisa belajar dan menyiapkan semuanya dengan teliti" jawab Alia.


"Berati sekarang pembentukan kepanitian Kak?" tanya Adah.


"Iya dong, eh iya yang lainnya udah dibilangin belum? Koprinya harus pada ikutan pokoknya. Biar ramee!" ucap Alia


"Hahaha udah kok Kak, pasti mereka juga lagi dijalan" imbuh Mia.


Sesampainya di kost Faqih, sudah ada delapan anggota laki-laki dan empat belas anggota perempuan. Alia menghela nafas karena akhirnya, banyak anggota kopri yang ikut hadir di rapat malam ini.


Pembahasan rapat di mulai dengan pemberitahuan bahwa Rayon Ushuluddin mendapatkan nomor urut terakhir dalam melaksanakan mapaba (masa penerimaan anggota baru), lebih tepatnya ke enam.


Kemudian lanjut kepada pemilihan ketua pelaksana mapaba. Tahun ini terpilihlah Syaehuna sebagai ketua, Arnah sebagai sekretaris dan Ifah sebagai bendahara. Semua persiapan dimulai dari sejak terpilihnya panitia pelaksana.


"Karena rapat sudah selesai dalam pembentukan BPH (badan pengurus harian) pelaksana, kalian jangan sampai lupa sama kewajiban kalian di internal atau pun UKM—Unit Kegiatan Mahasiswa— dan primodial kalian, tetep di seimbangkan waktu kalian antara kuliah, dan semua organisasi yang kalian ikuti. Tetap semangat!" ucap Alia dengan berwajah ceria karena rapat akan segera berakhir.


"Kalo ada yang belum paham bisa ke sini buat koordinasi, jadiin kost saya sebagai basecamp Ushuluddin aja dulu sementara. Selagi saya ada di kost, kalian bisa kesini." tambah Faqih.


"Kalau begitu, rapat kali ini ditutup. Terima kasih atas waktu yang telah kalian sempatkan. Wassalamu'alaikum" ucap Aulia mengakhiri rapat.


"Tuum, katanya mau bacakan!" celetuk Alia kepada Faqih saat beberapa anak anggota mereka mulai keluar untuk kembali ke kost masing-masing.


"Siapa yang bilang?" tanya Faqih terkejut.

__ADS_1


Berniat usil, Alia dan Aulia sengaja membuat Faqih untuk bangkrut seketika saat memenuhi permintaan anggotanya yang saat ini berjumlah hampir dua puluh orang yang datang. Bisa dibayangkan kalo harus beli nasi padang pun, dia akan menghabiskan setikanya dua ratus ribu lebih, hahaha


Aulia adalah wakil ketua dari Faqih, yang selalu siaga menggantikan Faqih jika memang dia tidak bisa hadir dalam suatu kegiatan di PMII. Namun selama setengah periode kemarin, Faqih benar-benar seperti hilang di telan bumi. Karena kesal, Alia meminta Aulia untuk tidak lagi menggantikan Faqih.


Dan semenjak itu, Faqih mulai mendekati Alia agar bisa bekerja sama dengan baik. Faqih juga merasa bahwa kekuatan para anggotanya adalah titah Alia.


Alia dengan sadar mengetahui bahwa Faqih memiliki kekasih, tentu membuat Alia sedikit menjaga jarak. Meski antara Alia dengan kekasihnya Faqih tidak saling mengenal, tentu saja Alia tetap teguh pada pendiriannya.


"Ayolah Tum, sesekali bacakan kita disini" rengek Arnah, ia mengerti suasana dimana Alia dan Aulia sedang meminta Faqih untuk menuruti keinginan mereka.


"Jangan sekarang, nanti rapat selanjutnya aja ya" ucap Faqih


"Kenapa?" tanya Aulia


"Lagi gak ada duit, udah kalian pulang duluan sana" ucap Faqih kepada semua anggotanya.


Mereka satu persatu keluar dari kost Faqih, beberapa anggota yang laki-laki tentu mengantar anggota perempuan terlebih dahulu. Aulia memilih untuk lebih dulu pulang sebelum tidak kebagian diantar.


"Mau kemana?" tanya Alia.


"Antar kamu pulang Al" jawab Faqih


"Yaudah ayo"


"Tapi kita makan dulu ya, kamu kan belum makan" ucap Faqih


"Makan apa?"


"Nasi goreng aja depan gang situ ya, gak apa-apa kan?" tanya Faqih


"Yaudah gak masalah"


Motor Faqih yang membonceng Alia pun melaju meninggalkan kost Faqih. Alia melirik jam di ponsel yang selalu ia pegang. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Meskipun begitu, jalan raya yang dilintasi mereka berdua tetap ramai. Bagaimanapun mereka tinggal di ibu kota.

__ADS_1


Faqih menghentikan laju motornya di depan sebuah angkringan nasi goreng. Kemudian memasan dua porsi untuknya dan Alia. Mereka menikmati makanan dihadapan mereka tanpa berbicara sedikitpun.


"Kalo masih ku ajak ngobrol gak masalah kan meski udah jam segini?" tanya Faqih setelah mereka sama-sama menghabiskan nasi goreng.


"Iya" jawab Alia dengan singkat.


"Jangan ketus begitu Al, masa Bu Kopri ku ketus sama ketuanya sendiri" goda Faqih


"Cepat, apa yang mau kamu bahas?" tanya Alia tal sabar


"Hmm baiklah, aku mau bertanya sesuatu. Kamu masih ada hubungan sama Kenzie, Al?"


Alia terdiam, menerawang langit dini hari jauh keatas.


Entah bagainama harus menjelaskan hubungannya dengan Kenzie. Sosok pria yang sudah mengubah pemikiran kolotnya tentang seorang perempuan.


Alia menerawang awal mula kedekatannya dengan Kenzie. Saat itu baru saja Alia, merasakan indahnya memiliki adik kelas dan sedang aktif-aktifnya mengikuti kegiatan di HMJ dan PMII. Saat sedang duduk di sebuah taman fakultas, ada sekumpulan anak baru laki-laki yang sepertinya mereka adalah jurusan Filsafat datang melewati taman tersebut.


Alia yang sedang melihat sekumpulan mahasiswa baru tersebut, kini matanya tertuju kepada salah satu orang yang memiliki tubuh hampir sama tingginya dengan Alia. Dan tentu lelaki itu menjadi lelaki yang paling tinggi diantara sekumpulan mahasiswa baru tadi.


Saat masih menatap mata lelaki tersebut dengan seksama, ternyata lelaki itu juga memerhatikan Alia. Lelaki itu tersenyum. Entah bagaimana, senyuman itu membuat hati Alia gusar namun tenang. Sungguh aneh memang.


"Sahabati.." sapa lelaki itu ramah.


Alia hanya tersenyum menanggapinya.


Tak berapa lama kemudian, Alia tersadar. Kenapa mahasiswa baru tadi bisa mengetahui panggilan sahabati?


Padahal sebutan sahabati hanya untuk para anggota PMII perempuan. Meski sesama organisasi lainnya sudah saling tahu apa saja sebutan untuk mengakrabkan anggotanya, namun tentu terasa aneh bagi mahasiswa baru yang belum masuk ke organisasi eksternal manapun. Begitu menurut Alia.


Alia semakin dibuat penasaran dengan sosok lelaki tersebut. Benar saja, lelaki itu memang dari jurusan filsafat. Untung saja ada dua orang yang Alia kenal di jurusan filsafat yang sesama mahasiswa baru. Nanti jika sempat dan masih ingat, Alia akan mencoba bertanya kepada Sani ataupun Arnah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2