BERCANDANYA ALAM SEMESTA

BERCANDANYA ALAM SEMESTA
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Ingatan Alia tentang Kenzie mengalir begitu saja, setelah sepuluh menit menerawang langit dini hari. Sekarang sudah pukul satu lewat. Faqih masih memerhatikan sosok perempuan di sampingnya.


"Aku bingung Tum, dibilang gak ada hubungan tapi kami terikat pada hati yang sama. Dibilang ada hubungan tapi kami tidak memiliki status. Bahkan bisa saja dengan mudahnya suatu saat nanti dia memilih perempuan lain" lirih Alia


"Kalau begitu, kamu sama aku aja" ucap Faqih asal


"Kamu itu punya pacar, gak usah godain perempuan lain. Kasian nanti pacarmu" Alia melihat Faqih dengan sinis.


"Selagi kamu mau sama aku, pacarku masih bisa ku urus. Jadi kamu mau gak Al, kalo sama aku?" tanya Faqih.


Laki-laki macam apa ketuanya ini, sudah memiliki pacar tapi masih sering godain perempuan lain. Nanti kalo perempuannya yang baper justru nyalahin perempuannya.


"Sekalipun tidak akan pernah,Tum!" ucap Alia seraya melihatkan tatapannya yang mendelik ke arah Faqih


"Lihat saja nanti gimana kedepannya Al.."


"Sudah, ayo aku mau pulang ke kost!" Alia semakin kesal, lancang sekali ketuanya ini.


"Baiklah, ayo! Pakai jaketku ini, nanti akan semakin dingin" Faqih melepas jaket yang ia pakai lalu mengenakannya pada Alia.


Alia hanya tersenyum kecut, mungkin ini langkah pertama ketuanya memberi perhatian padanya. Alia memang terlalu percaya diri seperti itu. Faqih segera mengantarkan Alia kembali ke kost.


Setelah sampai di gerbang kost, "Aku langsung pulang, kamu tidur ya. Meski nanti masuk siang, pasti kamu disuruh Fauzan buat nemenin dia dari pagi"


"Gak usah dibilangin juga aku udah tau!" sewot Alia seraya meninggalkan sosok Faqih yang masih tersenyum menatapnya


Pintu kost tertutup, Alia sudah di dalam. Dan ternyata dia baru menyadari bahwa jaket yang diberikan Faqih tadi masih melekat padanya.


Aisshh, kenapa bisa lupa balikin jaket ini sih?! gerutu Alia tanpa suara.


Dengan terpaksa, Alia menyimpan jaket Faqih di gantungan lemarinya. Alia melanjutkan kegiatan bersih-bersih badannya sebelum beranjak tidur. Setalah selesai, Alia segera merebahkan tubuhnya yang terasa penat di kasur.


Beberapa kali Alia memejamkan mata namun bukannya tidur justru bayangan sosok Kenzie mampir di balik matanya. Alia sudah menahan amarahnya, ia ingin segera tidur. Lalu ternyata suara dering panggilan telfon menggema di telinganya.


Alia melihat layar ponselnya, ada nama Kenzie disana.


Ya ampun, padahal udah jam dua lewat. Batin Alia. Alia pun menerima panggilan pada ponselnya, tentu dengan loadspeaker. Rasanya Alia malas jika melihat ke arah layar ponselnya.


— Via Telepon —

__ADS_1


Kenzie : Assalamualaikum, Al


Alia : Waalaikumsalam, ada apa Ken?


Kenzie : Benar dugaan ku, kamu dari mana jam segini baru sampai kost?


Alia : Aku ada rapat tadi sama anak rayon.


Kenzie : Diantar siapa ke kost?


Alia : Ayolah Ken, ini bukan urusanmu. Aku mengantuk, aku tidur duluan.


Kenzie : Baiklah, selamat rehat Al. Besok aku usahakan untuk menemuimu. Assalamualaikum.


Alia : Waalaikumsalam


— Terputus —


Ada rasa bersalah telah bersikap seperti itu kepada Kenzie. Tapi mau bagaimana lagi? Padahal selama ini, yang sering di kelilingi oleh lawan jenis adalah Kenzie. Ya, Kenzie dengan mudahnya memikat mahasiswi lainnya di kampus. Siapa yang tak kenal Kenzie? Alia merasakan sesak dalam hatinya, ia memilih tidur daripada harus memikirkan sosok Kenzie Mahawira.


Pagi ini Alia bangun terlambat, diliriknya angka jam pada layar ponsel miliknya. Deretan angka tersebut menunjukkan pukul lima pagi lewat empat puluh lima menit.


Ponsel Alia kembali berdering, dengan mata menyipit Alia berusaha untuk melihat ke layar ponsel. Ternyata Fauzan menelfonnya. Dilihat jam pada dinding kamar kostnya.


Ya ampun, ini udah jam setengah sembilan! pekik Alia. Ia segera menjawab panggilan dari Fauzan.


— Via Telepon —


Fauzan : Assalamualaikum


Alian : Waalaikumsalam, ada apa Tum?


Fauzan : Kamu lagi dimana Bu?


Alia : Ah, aku masih di kost hehe. Bentar lagi aku ke kampus.


Fauzan : Oh iya, aku gak bisa jemput kamu, disini masih ada rapat internal juga. Tapi tadi Faqih minta izin mau jemput kamu, baru aja berangkat. Kamu siap-siap ya!


Alia : Hah Tum Faqih? Kenapa kamu kasih izin dia sih Tum?

__ADS_1


Fauzan : Ini mendadak Al, biar cepet beres buat ospek jurusannya. Aku tunggu di sekretariat ya!


Alia : Oh oke deh Tum, aku siap-siap dulu. Assalamualaikum


Fauzan : Waalaikumsalam


— Terputus —


Alia masih merasakan hatinya tak karuan setelah kejadian semalam bersama Faqih. Sebisa mungkin, Alia ingin bersikap seperti biasanya. Alia segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Karena pagi ini fokusnya hanya ke HMJ, otomatis Alia akan mengenakan baju PDH (pakaian dinas harian).


Tak beberapa lama pintu kost di ketuk, sepertinya Faqih menjemputnya sampai ia berdiri di depan pintu. Karena Alia sudah siap dan rapi, ia pun keljar dari kost dan mengunci pintunya. Tak lupa juga Alia membawa jaket Faqih yang semalam.


"Udah beres Al? Ku kira masih dandan" ucap Faqih


"Udah Tum, ayo berangkat. Gak enak aku ditungguin Tum Fauzan" lirih Alia seraya meninggalkan kostnya.


Faqih menyusul Alia yang sudah lebih dulu menghampiri motornya di tempat parkir khusus pengunjung kost. Mereka segera berangkat ke kampus.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di kampus dari kost Alia, apalagi karena jalannya harus berputar karena kampusnya yang berada di sebelah kanan sedangkan jika dari kost Alia, mereka berada di sebelah kiri. Sampai di parkiran kampus, mereka langsung menuju sekretariat HMJ Tafsir Hadis.


Langkah Alia berhenti ketika ada suara yang paling ia kenal memanggilnya dari kejauhan.


"Alia!"


Alia mencari keberadaan orang tersebut, siapa lagi kalo bukan Kenzie. Dari arah gerbang —karena baru tiba di kampus— Kenzie menghampiri Alia. Di sisi Alia masih berdiri sosok Faqih dengan santainya.


"Ada apa Ken?" ucap Alia mencoba berbicara terlebih dahulu


"Apa kamu sibuk? Aku ingin berbicara sebentar" tanya Kenzie


"Tapi aku sedang ada rapat di sekretariat Ken, tidak bisa aku tinggal. Nanti sa.."


"Kalian bicara saja dulu, nanti aku izinkan ke Fauzan kalo kamu ke toilet. Lagian juga, aku ini ketua pelaksananya. Tenang aja Al, kalo gitu aku duluan ya Al" pamit Faqih setelah memotong ucapan Alia yang berniat menolak ajakan Kenzie


"Baiklah, hati-hati Tum" lirih Alia.


Saat ini Alia sudah tidak bisa beralasan lagi. Akhirnya Alia mengajak Kenzie untuk berbicara di taman fakultas. Alia merasakan bahwa Kenzie akan membahas pertanyaan semalam yang belum selesai dijawab olehnya.


Tidak ada hubungan, tapi terlalu benyak menanyakan 'kenapa' setiap ada hal yang terjadi pada Alia namun kurang disukai oleh Kenzie. Kenyataannya tetap seperti itu. Bermain api tanpa ada kejelasan hubungan diantara mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2