
Alia sudah berjalan lebih dulu dari Kenzie. Ia berhenti dan duduk di salah satu bangku taman fakultas. Kenzie menghampirinya dan duduk di samping Alia.
"Kamu kenapa Al?" tanya Kenzie seraya menghadapkan tubuh Alia kepadanya
"Seharusnya aku yang tanya itu, Ken" lirih Alia
"Maaf, aku semalam hanya khawatir. Kamu kan pernah cerita kalo kamu sebenernya masih takut berorganisasi" Kenzie menatap lekat wajah Alia.
"Iya tadinya, sekarang udah enggak. Aku sudah menikmati semuanya Ken, kamu gak perlu khawatir" Alia balas menatap Kenzie
Tatapan mereka terkunci selama hampir dua menit.
"Baiklah kalo begitu, aku ikut senang mendengarnya. Hari ini aku ada liputan karena aku harus mencari berita. Aku tidak bisa menemanimu, tapi nanti malam kalo kamu tidak sibuk aku akan mengajakmu ke angkringan biasa. Gimana?" tanya Kenzie
"Hmm baiklah, akan aku usahakan. Kalo gitu aku ke sekretariat dulu ya Ken. Sampai jumpa!"
"Ingat Al, aku hanya sama kamu. Begitupun sebaliknya" lirih Kenzie sebelum Alia benar-benar melangkahkan kakinya pergi
Alia tersenyum kecut, Jika memang aku harusnya sama kamu kenapa justru aku punya firasat bahwa kamu akan mengabaikan ku, Ken?
Alia menatap nanar tubuh lelaki yang sangat dicintainya itu sambil berbisik kepada hatinya sendiri.
Kemudian Alia pergi meninggalkan Kenzie yang terlihat masih menyiapkan peralatan tempurnya di lokasi untuk mencari berita untuk diterbikan, Alia segera menyusuri lorong menuju sekretariat. Sesampainya di sekretariat, ternyata rapat internal sudah selesai. Dengan perlahan Alia memasuki ruangan.
"Assalamualaikum" lirih Alia
"Waalaikumsalam" jawa seluruh anggota yang berada di sekretariat
"Dari mana aja Bu?" tanya Fauzan
"Hehehe maaf Tum, ada urusan dari negara sebelah" jawab Alia yang memamerkan deretan giginya
"Yaudah, ambil notulen rapatnya tadi di Aini. Tadi rapat langsung dipimpin sama panitia pelaksana jadi yang nulis notulennya sekretaris pelaksana" lanjut Fauzan
"Siap Tum" Alia segera pergi menuju ruangan khususnya.
Di ruangan khusus sekretaris tersebut sudah ada Aini yang sedang meneliti ulang keperluan osjur. Santi beberapa kali mengerenyitkan dahinya hingga tak menyadari kehadiran Alia di ruang itu.
"Nul, ada apa?" tanya Alia —Cenul adalah panggilan khusus dari Alia untuk Aini—.
__ADS_1
"Eh, ini Al. Tadi selama rapat, Faqih sama Fauzan bilang kalo jadwal acara mau dirubah sedikit karena bentrok antar pemateri" jawab Aini
"Terus kepastian jam mereka udah dikasih tau sama humas?" tanya Alia lagi
"Belum kayaknya Al" lirih Aini
"Yaudah, ini biar aku yang lanjutin. Kamu bantu aku cariin humas ya. Gimana? " tawar Alia
"Yaudah, aku cari Ali dan Syaehuna dulu"
"Oke terima kasih ya, Nul"
"Sip"
Aini berlalu dari ruangan khusus sekretaris itu. Kini Alia harus berperang di hadapan laptop pemberian fakultas untuk bergulat pada beberapa agenda acara dan surat-surat yang harus di chek ulang.
Alia baru saja akan mulai menempelkan jari-jarinya pada keyboard laptop itu, namun tiba-tiba pintu ruangan khusus untuk sekretaris itu kembali terbuka. Fauzan, Aini, Faqih, Ali, dan Syaehuna masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Jadi gimana?" Alia mengawali pembicaraan kepada lima orang yang sudah duduk dihadapannya
"Jawab tuh, Bu Sekum udah nanya" ucap Faqih seraya mengarahkan pandangannya kepada Ali dan Syaehuna.
Ting!
Alia membuka whatsapp dalam mode web pada laptop yang ia gunakan. Terlihat beberapa screeshoot percakapan antara Syaehuna dengan pemateri yang sedang diusahakan waktunya agar tidak bentrok oleh mereka semua.
Alia mulai menyocok-cocokkan antara jadwal yang sudah di print out dengan beberapa catat jam perubahan. Setelah memerhatikan dalam kurun waktu lima menit, wajah Alia berbinar di hadapan lima orang yang sejak tadi menunggu respon sang sekretaris umum.
"Gimana Al?" tanya Faqih
"Bentar" Alia menjawab dengan cepat kemudian mengalihkan perhatiannya menuju file yang akan di perbaiki.
Alia mengetik dan mengatur beberapa barisan angka dan huruf dalam file itu dengan jari lentiknya. Alia terlalu mahir dalam memanage acara serta surat secara bersamaan. Setelah selesai, Alia kembali membaca ulang dari awal agenda acara. Hanya butuh tiga menit bagi Alia untuk merapikan kembali isi file tersebut.
Setelah dirasa sempurna, Alia mengirim file tersebut dalam bentuk pdf kepada lima orang di hadapannya melalui whatsapp web.
"Sempurna!" seru Alia ketika handphone kelima rekan kerjanya berbunyi secara bersamaan.
Fauzan, Aini, Faqih, Ali dan Syaehuna segera membaca ulang file yang dikirim oleh Alia. Senyum simpul diperlihatkan oleh mereka secara bersamaan kepada pekerjaan yang telah diselesakkan oleh Alia meski mata mereka masih terpaku pada layar ponsel.
__ADS_1
"Kamu memang terbaik, Bu Sekum!" seru Fauzan dengan wajahnya yang terus berbinar
"Waah, thanks Al udah bantuin aku!" ucap Aini seraya berjalan dan memeluk tubuh Alia
"Urwell, jadi udah beres ya?" Alia mencoba bertanya ulang untuk memastikan lagi bahwa tidak ada permasalahan darurat kedepannya.
Lima wajah yang masih bersedia di depan Alia mengacungkan jempolnya masing-masing, pertanda semua sudah beres.
"Agenda selanjutnya sosialisasi ke mahasiswa baru, Tum" celetuk Faqih
"Eh tapi Tum, aku sama Alia ada mata kuliah setelah ini. Kemungkinan gak bisa ikut" ucap Aini
"Iya, gak apa-apa Aini. Kalian masuk aja" Fauzan mengangguk paham.
"Oke kalo begitu, aku pamit ya. Selama aku masuk, kalo ada urgent chat dulu. jangan main telfon" Alia mengingatkan
Selama ini, Alia menerapkan hal itu kepada adik kelasnya yang terkadang sering menelponnya disaat waktu yang tidak tepat. Syaehuna dan Ali mengangguk paham.
Alia dan Aini beranjak dari sekretariat, mereka ingin segera sampai di kelas agar tidak terlambat. Sedangkan beberapa orang yang masih berada di sekretariat kembali bermusyawarah untuk menentukan orang yang akan bersosialisasi. Selama di koridor kampus, Alia dan Aini banyak mengobrol tentang acara ospek jurusan itu.
"Al, gimana hubungan kamu sama Kenzie?" tanya Aini yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan
Aini terlalu khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Meski diawal kisah antara Alia dan Kenzie yang lebih dulu tahu adalah Nurul, tapi tetap saja diantara mereka berempat tidak akan ada yang disembunyikan demi terbiasa memecahkan solusi bersama setiap ada masalah.
"Huuhh, ya begitu deh" Alia membuang nafasnya dengan kasar
"Ada masalah apa lagi?"
"Kami gak ada ada status yang jelas dalam hubungan ini. Tapi rasanya dia akan terus posesif terhadapku Nul. Dia terkadang bertanya berlebihan jika aku dekat dengan lelaki lain" lirih Alia
"Terus dia deket sama perempuan lain gak?"
"Dia cuma bilang semuanya temen, gak ada yang lebih"
"Kalo gitu, kamu juga harus beralasan yang sama Al" saran Aini
"Aku sudah pernah. Tapi saat Kenzie tidak mengenali lelaki itu, dia akan berjuang sekuat tenaga agar perhatianku beralih lagi kepadanya. Berbeda saat Kenzie mengetahui lelaki yang sering ada di sekitarku, dia tidak akan menaruh curiga berlebih" lirih Alia
Bersambung...
__ADS_1