
Saat ini jam pada layar ponsel Alia menunjukkan pukul empat sore lewat empat puluh lima menit. Alia, Nurul, Aini, dan Syifa sudah menyelesaikan mata kuliahnya di kelas A.
Karena masih ada rapat, Alia bersama Nurul dan Aini pergi menuju sekretariat. Sedangkan Syifa kembali ke rumah. Diantara mereka berempat hanya Syifa yang menutup diri dari organisasi, meski ingin aktif di organisasi tetap saja kedua orang tuanya tidak akan pernah mengizinkannya.
Sesampainya di sekretariat semua pengurus yang sudah hadir terlihat sedang menyibukkan diri masing-masing. Alia dan kedua sahabatnya langsung mengambil posisi untuk membantu pengurus yang lain.
Kini adzan maghrib sudah berkumandang di masjid kampus, Alia yang teringat janji untuk bertemu dengan Kenzie pun berniat untuk menghubunginya.
...KEN 💙...
^^^Ken, udah selesai?^^^
Udah, kamu di kampus?
Aku jemput ya, sebentar.
^^^Iya Ken, hati-hati di jalan.^^^
^^^Aku di sekretariat ya.^^^
Iya sayang.
Alia tersenyum saat melihat balasan dari seseorang yang selama ini telah mengisi relung hatinya. Tak lama dari itu, Nurul menghampirinya.
"Al, Kenzie udah ada di depan tuh!" ucap Nurul.
"Lah kok cepet banget ya?!" Alia bergumam, suaranya hampir tak terdengar oleh Nurul.
Alia segera membereskan barang bawaannya, Faqih yang melihat Alia bereberes pun menghampirinya.
"Al, udah mau pulang?" tanya Faqih
"Iya Tum, Kenzie udah jemput soalnya" jawab Alia, senyumnya tak pernah hilang semenjak membaca pesan dari Kenzie tadi.
"Baiklah, hati-hati ya Al" lirih Faqih
"Iya Tum" ucap Alia yang segera meninggalkan ruangan khusus sekretaris itu.
Fauzan menghampiri Alia saat hendak keluar dari sekretariat. Ia mengingatkan pada Alia tentang surat-surat yang belum beres namun harus dikirim esok hari. Tentu itu hal. yang sangat mudah diselesaikan oleh Alia.
"Iya Tum, pokoknya sebelum jam sembilan malem udah aku kirim ya" ucap Alia, kemudian Alua langsung menaiki motor Kenzie saat melihat Fauzan mengangkat ibu jarinya bertanda setuju.
__ADS_1
Kini Alia dibawa Kenzie menikmati malam dipinggir trotoar. Alia memang tidak pernah menolak diajak kemanapun asalkan terus bersama Kenzie.
"Kamu udah makan, Al?" tanya Kenzie yang baru saja duduk mendarat di samping Alia.
"Belum, kita makan aja sekalian. Baru nanti pulang" ucap Alia.
"Baiklah Tuan Putri, kita mau makan dimana sekarang?" tanya Kenzie lagi
"Di angkringan aja, hehe"
"Oke, lets go!" seru Kenzie
Hampir dua jam Alia dan Kenzie menikmati nasi kucing dan segala bentuk seafood bakar, tidak lupa juga Alia memesan wedang jahe kesukannya.
"Minta ya Al" ucap Kenzie seraya menuangkan wedang jahe pada gelasnya
Alia hanya terdiam, menatap lekat-lekat sosok Kenzie yang berada di hadapannya. Alia memerhatikan semua gerak-gerik Kenzie. Dari mulai menuangkan wedang jahe, meminumnya, mengambil satu batang rokok favoritnya, hingga menghisap rokok tersebut. Kenzie yang sadar dari tadi di perhatikan oleh Alia pun hanya bisa tertawa kecil.
"Kamu kenapa sih Al? Jangan liatin aku begitu banget dong, aku malu jadinya" ucap Kenzie seraya mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya
"Loh kenapa? Bukannya kamu dulu yang minta supaya menatap kamu kalo lagi ngobrol?" ucap Alia
"Iya tapi kan tadi pas kamu ngeliatin aku, kitanya lagi gak ngobrol Al"
"Ih bikin bete sumpah, hahaha" tawa Kenzie menggelegar di telinga Alia
"Kamu jangan tertawa Ken!" pinta Alia
"Kenapa?" tanya Kenzie
"Kamu senyum aja banyak yang suka, gimana kalo ketawa begitu. Berapa orang yang bakal baper sama tawamu itu, hah?" wajah Alia berubah menjadi cemberut.
"Yampun sayang, tapi kan kamu yang selalu ada di sampingku"
"Tapi mereka juga ada di sekelilingmu, Ken"
"Mereka memang ada di sekelilingku, tapi tidak mungkin aku bawa semuanya kan? Aku hanya membawa seseorang yang di sampingku aja"
"Modus kamu, Ken"
"Loh kok gitu?"
__ADS_1
"Ayo pulang!" kali ini Alia yang mengalihkan pembicaraan mereka.
Kenzie menurut saja, memang terkadang baginya menggoda Alia seperti itu adalah kebahagiaannya sendiri. Saat ini Kenzie sudah sampai di depan kost Alia.
"Ken.." lirih Alia
"Bentar Al, aku pinggirin motor dulu" ucap Kenzie seraya meminggirkan motornya ke sebelah kiri jalan.
"Kenapa Al?" tanya Kenzie
"Aku sayang sama kamu, Ken" lirih Alia seraya menatap lekat mata Kenzie yang masih duduk di motor kesayangannya.
"Hah? Gimana?" tanya Kenzie lagi, saat ini Kenzie sedang berusaha menajamkan pendengarannya.
"Aku sayang sama kamu, Ken!" tegas Alia, padahal saat ini mulutnya sudah tepat berada di telinga Kenzie
Kenzie menatap Alia dengan raut bingung.
"Pokoknya aku sayang sama kamu, sampai kapan pun Ken" Alia mengulangi ucapannya yang ketiga kali.
"Al, aku juga sayang sama kamu. Setelah ini, kamu istirahat ya" akhirnya Kenzie bersuara
"Baiklah" lirih Alia
"Selamat rehat Al, selamat malam. Mimpi indah ya!" ucap Kenzie seraya menatap lekat mata perempuan kesayangannya.
"Aku masuk dulu, Ken. Kamu hati-hati di jalan. Kabari aku kalo udah sampai di kost" ucap Alia.
Setelah melihat Kenzie mengangguk, Alia pun masuk ke dalam kost. Sedangkan Kenzie kembali ke kostnya. Alia merebahkan dirinya di kasur, dan mengaktifkan kembali ponselnya. Sudah menjadi kebiasaannya, jika sedang berdua dengan Kenzie maka tidak boleh ada yang mengganggu.
Terlihat di layar tersebut, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Fauzan, Faqih, dan Aini. Mereka bertiga menanyakan surat yang harus sudah di antar besok pagi.
Alia kembali menyalakan laptop kesayangannya, membuat beberapa format surat undangan, peminjaman, serta pemberitahuan acara. Hampir selama satu jam Alia menyelesaikan surat yang berjumlah dua puluh lembar. Besok pagi harus sudah di print out oleh Aini, karena itu Alia segera mengirim semua file tersebut ke Aini.
Usai menyelesaikan segala hal kebutuhan surat-menyurat Alia segera membersihkan dirinya, dari mulai daily routine untuk malam hari, hingga mandi malam hari sebelum tidur.
Alia merebahkan dirinya di kasur lantai kostnya, rasanya sangat melelahkan sekali hari ini. Entah lelah hati ataupun tubuh. Alia menatap arah langit kamar yang masih terang karena Alia tidak pernah mematikan lampunya ketika tidur.
Kali ini Alia berfikir keras tentang status hubungannya dengan Kenzie. Alia menyayangi Kenzie, begitupun sebaliknya. Tapi diantara mereka tidak pernah ada status maupun komitmen yang jelas. Terlebih lagi perilaku Faqih yang akhir-akhir ini seolah meminta Alia untuk lebih dekat. Padahal secara sadar Alia pun mengetahui bahwa Faqih memiliki seorang kekasih.
"Ken, kita harus bagaimana lagi? Apa selamanya akan seperti ini? Bagaimana jika semesta selalu bercanda padaku perihal kamu?" lirih Alia pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Alia mulai memejamkan kedua matanya, "Aku mencintaimu Ken, selalu" lirih Alia sebelum benar-benar tertidur pulas.
Bersambung...