
'Valan POV'
"Dek, bangun yuk... Temanmu Nyariin tuh" Terdengar samar-samar suara seseorang berbicara di telingaku.
"HAH?!" Mendengar perkataan itu aku langsung terbangun.
Terlihat di samping tempat tidurku terdapat Abangku yang sedang berdiri, lebih tepatnya membangunkanku. Aku mencoba mengingat kembali siapa yang ingin datang ke rumahku. Aku terdiam untuk beberapa menit.
"Udah, sana suruh masuk dulu temanmu" Ucap Abangku.
"Perempuan atau laki-laki, Bang?"
"Temanmu yang datang?"
"Iya"
"Perempuan, itu pacarmu ya?"
"Hah..." Ucapku yang masih belum sadar.
"Loh?... Eh?!" Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"MANA ADA!!" Ucapku sambil melempar bantalku tepat ke wajah Abangku.
Mungkin itu Karlina, pikirku. Bentar... Bukannya seharusnya dia datang jam sembilan?... Jangan-jangan... Sekarang.... SUDAH JAM SEMBILAN?!.
Aku segera melihat jam, dan jarum jam tepat menunjukkan pukul 09.12, APA?! KOK GAK ADA YANG BANGUNIN?!. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke pintu rumah dan membuka pintu tersebut. Saat aku membukanya, benar saja. Karlina yang datang.
"Kau... Baru bangun ya?" Tanya Karlina padaku.
"Iya... E... Masuk dulu aja, tunggu di kamarku" Ucapku.
"Permisi" Karlina pun masuk ke rumahku dan aku menutup pintu.
"Lantai 2 kamar yang di tengah" Ucapku.
Karlina menganggukkan kepalanya dan menuju kamarku. Aku juga langsung menuju kamar mandi. Apa-apaan ini, kenapa Abangku baru membangunkanku saat Karlina sudah datang? Bikin aku malu!. Awas aja, aku akan balas dendam.
'Karlina POV'
"Permisi" Aku membuka pintu kamar Valan dengan perlahan, lalu masuk dan menutupnya kembali.
Benar-benar, bisa-bisanya dia baru bangun. Padahal dia yang bilang jam sembilan saja. Tapi... Tadi... Dia imut juga saat pakai piyama, seperti anak kecil. Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya ada suara ketukan pintu.
Tok tok tok
"Karlina, maaf, aku... Lupa mengambil bajuku"
Ha... HAH?!. APA-APAAN DIA?!.
__ADS_1
"Apakah boleh kau menghadap ke jendela sebentar?"
"Baiklah" Jawabku sambil melihat ke luar jendela.
Jendela dan pintu memang berseberangan. Jadi jika aku melihat atau menghadap ke jendela, berarti aku membelakangi pintu. Entah mengapa, tapi jantungku berdetak dengan kencang. Mungkin karna takut?.
"Tunggu aku sebentar lagi" Ucap Valan sambil menutup pintu.
Dia menutup pintu cukup keras, sehingga aku tahu dia sudah keluar dari kamar ini. Akhirnya aku kembali menunggu. Sebenarnya, aku tidak suka yang namanya menunggu, tapi kalau kejadiannya begini, mau tidak mau aku harus menunggu.
Apalagi kejadian ini... Membuat jantungku berdetak dengan kencang. Tunggu! Apa yang terjadi padaku?! Itu... Itu... Itu salah Valan!. Cih, benar-benar lelaki bodoh kau Valan!.
Tak lama kemudian Valan kembali membuka pintu. Aku berpura-pura tidak mendengar suara kakinya melangkah. Aku terus memandanginya apa yang ada di luar jendela, sampai-sampai ada sesuatu yang menyentuh bahuku.
"WAA!" Ucapku kaget. Sontak aku melihat ke kanan.
"Kaget ya? Maaf" Ucap Valan.
"Apasih tiba-tiba megang"
"Hehe, yuk langsung mulai"
"Bikin dialog buat presentasi?"
"Gak, buat nasi kepal"
"Oh... Mau buat onigiri?"
"D-I DI A L-O LO G P-R-E PRE S-E-N SEN T-A TA S-I SI, DIALOG PRESENTASI" Ucapnya yang sedang mengeja.
"Oh..." Ucapku.
'Valan POV'
...
Aku udah susah-susah ngeja, cuman dijawab 'oh' doang. Iya, iya deh, terserah Karlina aja. Suka-suka dia deh. Cape aku.
"Mau dibawah atau diatas?" Tanyaku.
"Apanya?"
...
"PAKE NANYA LAGI YA INI ANAK, BUAT DIALOG PRESENTASINYA LAH"
Benar-benar, aku tidak bisa menahan emosiku. Sabar juga ada batasnya tahu. Awas saja, aku akan membalas perbuatanmu ini, Karlina.
"Um... Disini aja" Jawabnya.
__ADS_1
Akhirnya kami mulai membuat dialognya. Sebenernya, daripada dibilang 'kami' lebih cocok dibilang 'dia'. Karena yang membuat dialognya adalah Karlina sementara aku yang menjelaskan isi dari dialognya.
Jujur, sebenarnya enak sih kerjasama dengan Karlina. Dia anak yang pintar dan rajin. Aku tinggal diam saja dialognya sudah jadi. Tapi anak ini emang suka nyari masalah ya.
Kira-kira sahabatnya naik darah gak ya berteman bersama dia?. Em... Itu... Siapa ya nama temannya itu... Yang tahunya hanya nama keluargaku... Ya pokoknya dia lah.
Karlina benar-benar meringkas dialognya dengan singkat. Namun, poin-poin yang mengandung hal penting tetap ada. Bahkan dia menambahkan beberapa penjelasan lain.
Tidak pakai waktu lama. Akhirnya Karlina selesai merangkum dialognya. Aku langsung mengambil rangkuman itu dan membacanya. Ternyata, bagus juga kerjanya.
Akhirnya tanpa waktu lama, aku langsung mulai menghafalnya. Karlina juga menghafal bagian intronya. Ya... Sepertinya rangkuman kami sedikit lebih panjang dari seharusnya... Mungkin.
Ngomong-ngomong, aku bingung harus menyebutnya 'dialog' atau 'rangkuman'. Ini adalah dialog untuk presentasi yang berisi rangkuman tentang proses reproduksi. Jadi... Ini dialog atau rangkuman?. Entahlah.
'Karlina POV'
Aku meregangkan tanganku setelah selesai menulis. Ternyata menulis 5 halaman penuh cape juga ya. Tapi... Tadi banyak poin-poin yang aku singkat, apakah tidak terlalu pendek?. Tapi aku juga takut durasinya melebihi batas maksimal.
Ya... Semoga 5 halaman cukup sih. Oke! Aku sudah hafal bagian intronya, berarti sekarang... Aku ngapain?. Mungkin menunggu Valan selesai menghafalnya?. Entahlah.
"Itu gak kependekan kan?" Tanyaku.
"Apanya?"
"Dialognya"
"Oh... Kayaknya cukup sih"
"Kayaknya" Ucapku memperjelas.
"Yang pasti dong" Ucapku.
"Yaudah berarti cukup" Jawabnya.
"Yaudah, itu mau dihafalin?" Tanyaku lagi.
"Gak lah, aku cuman baca sekilas aja"
"Oh..."
"Kalau gitu aku langsung pulang ya" Ucapku.
"Ohh? Yasudah" Jawab Valan.
"Eh, ini teksnya mau siapa yang nyimpen?" Tanya Valan.
"Kamu aja" Ucapku.
"Hati-hati dijalan"
__ADS_1
"Ya" Ucapku sambil menutup pintu kamar Valan.