
"E... Karlina!" Panggilku.
"Iya?"
"Arigatou sudah menolongku"
"Maksudnya?"
"Aku tahu kau sedang menolongku"
"Memangnya kau tahu dari mana?"
"Aku dapat melihat sebuah bayangan. Bayangan yang menunjukkan mereka ingin melakukan apa padaku" Jelasku panjang lebar.
"Lalu?"
"Pada saat itu bayanganmu menunjukkan bahwa kau ingin menolongku"
"Em... Kita adalah teman! Teman harus saling menolong bukan?"
"Iya, sekali lagi terimakasih" Aku membungkukan badanku.
"Tidak masalah" Ucap dia padaku.
Hari-hari berlalu. Aku semakin dekat dengan Karlina. Menurutku dia orang yang baik. Dia sering membelaku ketika aku di bully. Dia juga banyak mengajarkan materi yang aku tidak mengerti. Aku senang punya teman seperti dia.
Sampai pada akhirnya kami menjadi sahabat. Kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Meski kami berbeda kelas, tetapi kami selalu bertemu ketika jam istirahat. Terkadang kami ke kantin, namun terkadang kami juga menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan.
"Permisi..." Ucapku mengintip kelas Karlina.
"Aila ya?" Ucap Muharlan.
"Iya hehe"
"Karlina hari ini tidak masuk?" Tanyaku.
"Tidak"
"E... Baiklah! Terimakasih"
Aku akhirnya pergi ke kantin sendiri. Setelah bel berbunyi aku kembali masuk ke kelas. Di kelas aku terus memikirkan alasan mengapa Karlina tidak masuk. Setahuku dia orang yang rajin.
[BESOKNYA]
Aku memutuskan untuk menjemput Karlina ke rumahnya. Biasanya kami bertemu di halte bus sih. Setelah sampai aku membunyikan bel rumahnya. Tak lama kemudian nenek Karlina keluar.
"Eh, nak Aila ya?"
"Iya nek. Karlina sudah berangkat?"
"Sudah, tadi baru saja berangkat"
"Kalau begitu aku permisi dulu ya nek"
"Iya, Hati-hati di jalan"
Aku langsung berlari menuju halte bus. Saat sudah sampai, benar saja. Aku melihat Karlina sedang berdiri menunggu bus.
"Karlina!" Ucapku berteriak dan langsung memeluknya.
"Tidak usah berteriak"
"Hehe, maaf" Aku langsung melepas pelukanku.
"Oh ya! Kenapa kemarin kau tidak masuk?"
"Kemarin aku sakit"
"Sekarang sudah sembuh?"
"Belum"
"Hee?" Ucapku bingung.
__ADS_1
"Ya sudah lah! Kalau masih sakit mana mungkin ke sekolah"
"Pake nanya segala" Sambungnya.
"Hehe"
"Tunggu!"
"Ada apa?" Tanya Karlina.
Aku melihat ada seorang pria berjalan di sebrang. Tapi... Di tubuh pria itu terdapat bayangan merah yang berarti dia ingin mencelakai seseorang.
"Orang itu... Ingin mencelakai seseorang..." Aku menunjuk orang itu.
"Hah? Kau melihat auranya?"
"Iya"
Tak lama kemudian bus datang. Saat kami sudah duduk di dalam bus aku melihat dari jendela pria itu masuk ke sebuah gang. Aku memiliki firasat buruk. Tapi... Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa.
[SKIP, PULANG SEKOLAH]
"Ayo" Ajak Karlina.
"Hari ini nilai ulangan harianku yang paling besar loh!" Ucapku bangga.
"Lalu?"
"Terimakasih telah mengajarkanku! Sebagai gantinya hari ini aku traktir!"
"Berarti tidak langsung pulang?"
"Tentu! Kau suka apa?"
"Aku suka ice cream"
"Kalau gitu ayo ke caffe!" Ucapku bersemangat.
Kami berjalan sambil mengobrol. Aku banyak bercerita tentang kejadian saat ulangan harian. Karlina terlihat senang mendengarkannya. Ya... Dia memang pendengar yang baik!.
"Eh?" Saat kami asyik mengobrol tanpa kami sadari kami hampir sampai, namun jalan utama ke caffe favorit kami di tutup.
"Mau lewat gang?" Tanya Karlina. Aku mengangguk sebagai jawaban. Kami pun masuk ke sebuah gang. Ujung dari gang ini adalah caffe favorit kami. Caffe favorit kami berada di samping gang ini.
"Akh!" Tanpa ku sadari ada seseorang yang menusukku dari belakang. "Siapa?!" Ucap Karlina sambil berteriak, dia langsung membalikkan badannya. Diriku mati rasa, aku tak bisa bergerak. Apakah lukanya besar?.
Ada seorang mengenakan jubah lari dari belakang ke hadapan Karlina. Karlina dengan sigap menendang perut orang itu. Tidak terima, orang tersebut memukul Karlina, namun Karlina menangkis serangan itu.
Karlina maju dan terus menendang orang itu sambil menangkis serangan dari orang tersebut. Lalu aku melihat orang itu mengambil sesuatu dari sakunya, dan itu... Pisau?!.
"KARLINA! HATI-HATI!" Ucapku berteriak.
Karlina langsung mengerti maksudku. Orang itu mundur beberapa langkah dan melemparkan pisau tersebut. Karlina dengan sigap langsung menangkap pisau tersebut.
Lalu Karlina menusukkan pisau tersebut pada perut orang itu. Setelah itu dia jalan beberapa langkah dan menjulurkan tangannya. Di saat yang bersamaan orang tersebut juga terjatuh.
Aku menangkap tangan Karlina dan berdiri. Dengan bantuan Karlina aku berhasil berdiri. Ketika aku melepas genggaman tanganku aku melihat tangannya berlumuran darah.
"Karlina! Tanganmu!" Ucapku panik.
"Tidak masalah, yang penting kita kabur dari sini dulu"
"Lewat sini!" Karlina menarik tanganku dan berlari memimpin jalan.
Aku agak kesulitan berjalan karna luka di punggungku. Karlina menyadari hal itu dan memperlambat jalannya. Aku juga melepas genggaman tanganku karna takut menekan luka Karlina.
"Terimakasih"
"Kita berdua adalah korban"
"Kita selamat karna beruntung"
"Haha. Kau bisa saja, jangan berpura-pura menjadi korban"
__ADS_1
"Karna sebenarnya kau adalah pahlawan" Aku berusaha meyakinkannya.
"Aku adalah pahlawan di ceritamu namun aku adalah korban di ceritaku" Ucapnya.
Aku sempat bingung dengan ucapan itu. Namun aku tak menghiraukannya. Karna... Dia adalah sahabatku juga pahlawanku!. Aku akan terus mendukung pahlawanku. Jika pahlawanku menderita, aku akan membantunya!. Itulah yang terlintas di benakku saat ini.
Kami pun bersembunyi ke sebuah toko tua di dalam gang. Di toko ini terdapat kotak obat. Karlina membantuku mengobati lukaku. Aku juga memperban tangan Karlina. Kami bersembunyi cukup lama.
𝘒𝘳𝘦𝘦𝘬
"Eh?" Seorang kakek tua masuk ke toko dan melihat kami. Kami saling melirik, lalu Karlina mengisyaratkan agar aku mencari alasan. Kakek tua itu terbengong di depan pintu.
"Maaf... Anda siapa?" Tanyaku.
"Aku pemilik toko ini" Setelah mendengar perkataan itu aku langsung berdiri.
"Maaf! Tapi bisakah kami beristirahat di sini sebentar lagi?" Ucapku sambil membungkuk.
"Boleh saja, dan juga... Apa kalian terluka?"
"E..." Aku melirik Karlina karna tidak tau harus menjawab apa.
"Tadi ada seorang preman mengejar kami, jadi kami sedikit terluka. Akhirnya kami memutuskan untuk bersembunyi di sini" Ucap Karlina membantuku untuk menjelaskan.
"Di gang ini memang banyak preman. Kalian harus hati-hati"
"Apa luka kalian sudah di obati?" Tanya kakek itu.
"Kami meminjam kotak obat anda tadi..." Ucapku dengan suara kecil.
"Baguslah kalau begitu. Kalian bersembunyi di sini saja dulu sampai luka kalian membaik" Ucap kakek itu dengan senyuman.
"Arigatou gozaimasu" Ucap kami serentak.
Setelah itu kakek itu keluar dari toko. Apa dia hanya melihat keadaan tokonya? Entahlah. Aku melihat Karlina mengeluarkan handphonenya dan memainkannya. Dia terlihat seperti sedang mengetik. Di saat yang sama dia tersenyum.
"Kok senyum-senyum sendiri?"
"Lagi ngapain tuh?" Ucapku menggoda Karlina.
"Chat... Dari teman"
"Iya kah?"
"Iya"
"Apakah itu Muharlan-san?"
". . . . . "
"Kenapa diam?" Tanyaku.
"Kau tau dari mana namanya?"
"Dia sering membantuku mencarimu, bisa di bilang aku selalu bertanya padanya ketika aku ingin bertemu denganmu"
"Oh... Itu memang dia"
"Dia sedang bercerita tentang guru baru, katanya guru barunya suka bercanda"
"Guru baru yang ngajar olahraga kelas 3 ya?"
"Kata dia sih begitu"
"Guru itu memang lucu... E.... Aku lupa namanya!" Aku berusaha mengingat kembali.
"Ayo kita pulang, jangan terlalu lama di sini"
"Kita ke caffe dulu!" Ucapku merengek.
"Baiklah, tapi jalannya agak cepat. Supaya tidak di tangkap preman lagi"
"Aku tau, tidak usah di ingatkan"
__ADS_1