
Jean begitulah teman-teman memanggilku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang di kota ini. Walaupun begitu, mama dan papaku tidak pernah memanjakan aku dan kakakku. Namun kasih sayang yang mereka berikan padaku cukup membuatku seperti menjadi anak mama
Andra Pramudya, pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah. Dialah papaku, papa yang selalu ada untuk anak dan istrinya, dialah cinta pertamaku
Ratna Pramudya, wanita yang tidak pernah tua menurutku. Walaupun usianya sudah memasuki kepala empat, tapi dia masih tampak cantik karena dia mamaku
Sonia Pramudya, gadis yang 3tahun lebih tua dariku. Dialah wanita yang menyebalkan menurutku. Namun aku tidak pernah bisa untuk tidak merindukan kakak teesayangku itu
Hari ini adalah hari kedatanganku setelah menempuh pendidikan di negri paman sam. Aku melihat banyak orang yang berdatangan untuk menjemput keluarga, sahabat bahkan kekasihnya. Begitupun dengan aku yang melihat dua orang yang tersenyum kepadaku
'' Mama... '' teriak Jean yang langsung berlari dan memeluk mama cantiknya itu
Senyum mama yang saat itu sangat manis tiba-tiba menghilang
"Plak..., Kau sudah usia berapa? Kenapa masih berlarian seperti anak kecil. Lihatlah anak kecil saja tidak berlarian sepertimu" ucap Ratna panjang lebar
"Ihh.. mama kan anak kecil itu tidak terpisah dengan mamanya. Sedangkan aku, baru bertemu setelah 2 tahun terpisah" ucap Jean mengerucutkan bibirnya
"Papa lihatlah istrimu, sama sekali tidak merindukan putrinya" adunya pada sang papa. Sedangkan sang papa hanya tertawa melihat exsoresi putri bungsunya itu
"Ma, dimana kakak?" tanya Jean berjalan menuju pintu keluar sambil merangkul sang mama
"Kakakmu menunggu di cafe samping bandara. Kita langsung ke cafe menemui kakakmu" ucap Ratna lembut
"Siap mamaku sayang" ucap Jean mencium pipi Ranta, sedangkan sang papa membawa koper dan tas ransel milik putrinya itu
Saat sampai di cafe yang di tuju, Jean mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dia rindukan itu
"Kakak" pekiknya setelah menemukan posisi sang kakak
"Berhenti membuat ulah gadis kecil" ucap sang kakak sambil mencubit hidung Jean dengan lembut
"Kak, aku sudah berusia 21 tahun, aku bukan gadis kecil lagi" ucapnya sedikit kesal. Karena Jean. paling tidak suka jika dipanggil gadis kecil
"Kak, apa kau merindukanku?" tanya Jean memeluk kakaknya itu
"Tidak" jawab Sonia cepat
"Hei sayang, kenapa kau terlalu to the point" tiba-tiba ucap pria bertubuh tinggi dan tampan. Pria itu membawa beberapa makanan dan minuman
"Mama papa lihatlah mereka nenindasku" ucapnya pada orang tuanya dengan nada manjanya. Sedangkan orang tuanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri kecilnya yang sudah 2 tahun tak bersama mereka
"Tunggu, kenapa kalian bertemu? Bukannya pasangan yang akan menikah tidak boleh bertemu selama 1 bulan?" tanya Jean menatap keduanya
"Kami sudah melakukan akad nikah, dan bulan depan adalah resepsinya" ucap Haidar kakak ipar Jean tersenyum
"Kenapa tidak menungguku?" tanya Jean duduk disamping mamanya
"Untuk apa menunggumu, lagipun yang di butuhkan hanya papa sebagai walinya" ucap Ratna lalu menyuapi roti pada si bungsu agar berhenti nyerocos
"Dek setelah acara pernikahan kami, apa kau akan kembali lagi ke Amerika?" tanya Haidar
"Tidak, aku ingin tetap di sini. Aku ingin mengurus cafeku disini dan mungkin akan melanjutkan kuliah disini" ucap Jean
__ADS_1
"Baguslah, jadi kami tidak terlalu khawatir denganmu" ucap Andra
"Tapi disana Jean juga mendirikan Cafe pa" ucap Jean yang bingung antara kembali atau tidak
"Tidak apa-apa, kak Haidar punya teman yang berada disana, nanti kak Haidar akan minta dia memantaunya" ucap Haidar, Jean langsung mengangguk menyetujui perkataan kakak iparnya itu
***
Satu minggu kemudian, Jean sudah mengumpulkan berkas-berkasnya untuk mendaftar di Universitas ternama di kota itu
"Thanks ya, kalian udah mau bantuin gue" ucap Jean pada kedua sahabatnya itu
"Sama-sama Je. Lagian kan kita udh 2 tahun gak ketemu" jawab Hive tersenyum
"Gi ngapain lo diem, cemberut pula" ucap Hive pada Anggi
"Capek gue Ve, ternyata capek juga ngurus surat pindah, lari sana lari sini" ucap Anggi sambil menegak minuman kalengnya
"Ck, lebay lo. Lebih capek mana sama ngejar kulkas dua pintu?" tanya Hive
"Beda Ve, kalau ngejar kulkas dua pintu capeknya itu disini" jawab Anggi sambil memegang dadanya
"Kulkas dua pintu? Ngapain lo ngejar kulkas dua pintu Gi?" tanya Jean penasaran
"Udah nanti gue kasih tau kalau sudah masuk kuliah" ucap Hive
"Hari ini ikut gue ke cafe yuk, gue traktir" ucap Jean
"Langsung berangkat" ucap Anggi lantang
***
Malam harinya di kediaman Pramudya...
"Pa bagaimana cara kita memberi tau Jean?" tanya Ratna dengan wajah sedikit cemas
"Ma, mama gak usah khawatir. Sonia yakin Jean gak akan nolak, apalagi ini menyangkut wasiat kakek. Jean itu anak yang nurut, asalkan bicaranya pelan sama Jean" ucap Sonia yang memang sudah memahami karakter adiknya itu
"Yang di katakan Sonia benar Ma. Lagipun kita masih ada waktu untuk mengatakannya pada Jean" ucap Andra
"Assalamualaikum, Mama Papa kakak i'm coming" teriaknya
"Waalaikumsalam" jawab ketiganya dan beberapa pelayan yang sedang ada di dapur
"Hah... Si pembuat masalah datang" gerutu Sonia yang mendapatkan pukulan kecil dari sang mama
"Je, kamu ngirim berkas ke kampus mana? Apa Universitas di sini Udah pindah planet lain?" tanya Sonia
"Aku tadi masih muter-muter sama Hive dan Anggi dan berakhir di cafe Starligh cafe yang paling hits" ucap Jean dan duduk di samping papanya
"Cih, cafe sendiri di puji sendiri" ucap Sonia yang mulai membuat adiknya kesal hingga memanyunkan bibirnya membuat Sonia gemas
"Sayang kamu mau makan?" tanya mama
__ADS_1
"Mau, tapi dikit aja" jawab Jean memberikan piringnya
"Dasar manja" ledek Sonia
"Tuan Andra lihatlah putrimu di bully oleh anak tertuamu" adunya sambil bergelayut manja. Sedangkan sang papa hanya tertawa
Ya hari-hari seperti ini yang di nantikan Andra, satu keluarga berkumpul. Namun senyuman Andra menghilang saat mengingat wasiat alm papa mertuanya itu
"Jean apa kamu punya pacar?" tanya Andra
"Uhuk.... Uhuk, kenapa papa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Jean sambil mengelap mulutnya
"Papa kan hanya bertanya" jawab Andra
"Lagian siapa sih pa yang mau sama Jean pa" ucap Sonia menggoda adiknya itu
Jean hanya mencibikkan bibirnya mendengar perkataan Sonia
"Je kalau menurut mama, kamu harus merubah penampilan kamu" ucap Ratna
"Emang apa yang salah dengan penampilan Jean Ma?" tanya Jean melihat penampilannya sendiri
"Gak ada yang salah, cuma kamu itu kurang feminin sayang" jawab Ratna yang harus lebih bersabar jika berbicara dengan anak bungsunya itu
"Pokoknya mulai besok kamu harus pakai baju kakak. Kakak ada baju yang belum kakak pakai. Nanti kita akan belanja baju buat kamu" ucap Sonia
"Hah... Terserahlah. Lebih baik pasrah" lirih Jean pasrah
.
.
"Assalamualaikum" salam dari seorang pria, yang tak lain adalah Haidar
"Waalaikumsalam" jawab penghuni rumah
"Tumben malem mas?" tanya Sonia menghampiri suaminya dan mencium tangan suaminya. Haidar langsung mencium tangan kedua mertuanya
"Iya, tadi masih mampir kerumah karena ada hal yang aku mau diskusikan dengan ayah masalah perusahaan" jawab Haidar
"Mau langsung makan apa mandi dulu mas?" tanya Sonia
"Langsung makan aja, lagian udah pada makan" jawab Haidar dan menuju wastafel untuk mencuci tangannya
Lalu Sonia mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya itu. Jean yang melihat kakaknya sangat cekatan melayani suaminya itu hanya tersenyum
"Apakah aku juga akan seperti itu jika sudah memiliki suami" batin Jean
"Makasih sayang" ucap Haidar, Sonia hanya tersenyum lembut
"Eh ada si cimut" ucap Haidar
....
__ADS_1
Bersambung