
Mendengar perkataan Haidar, membuat yang lain saling pandang sedangkan Jean celingukan
"Cimut? Cimut siapa kak?" tanya Jean masih celingukan
"Kamu kan Cimut" jawab Haidar, membuat Jean mengerutkan keningnya
"Iya kamu kan kecil imut kayak marmut" ucap Haidar lagi membuat Jean mendengus kesal, sedangkan Sonia tak bisa menahan tawanya
"Mama masak Jean di katain Marmut" ucapnya mengerucutkan bibirnya
"Je mulut kamu je, bisa di kuncir itu mulut" ledek sang mama
"Ini apa gak ada yang mau bela aku" ucapnya lagi
" Udah lanjutkan makannya" ucap sang papa mengelus rambut panjang Jean
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Jean langsung mencium pipi mama dan papanya lalu dia berlari ke arah kamarnya
"Udah hafal dah, kalau waktunya beres-beres pasti kabur duluan" gerutu Sonia sambil membereskan meja makan di bantu dengan pelayan
***
Tak terasa sudah satu minggu Jean masuk kuliah. Dan bahkan Jean sudah punya teman di kampusnya. Jean memang orang yang suka bergaul di tambah dengan wajahnya yang cantik dan menjadi incaran para pria di kampus
Seperti sekarang ini, Jean yang baru memasuki halaman kampus, semua mata langsung tertuju padanya. Namun mereka hanya bisa mengagumi, karena tidak akan ada yang berani menggoda Jean, seperti mereka menggoda gadis yang lainnya
"Jean" panggil seorang pria, Jean langsung mencari asal suara itu
"Haikal, ada apa?" tabya Jean
Haikal adalah teman Jean dan Hive dari smp. Namun waktu memasuki SMA Haikal ikut orang tuanya pindah ke luar kota. Dan sekarang Haikal kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studinya
"Je, nanti pulang kuliah kosong gak?" tanya Haikal
"Emang kenapa Kal?" tanya balik Jean
"Gua mau minta bantuan lu, ngerjain tugas gua" ucap Haikal
"Emang lo mau ngasih gue apa?" tanya Jean
"Ya Allah Je, lu mau itung-itungan sama gua?" tanya Haikal dengan wajah memelasnya
"Yaudah iya, nanti gue bantuin. Tungguin gue diperpus" ucap Jean sambil tertawa melihat wajah memelas Haikal
"Jean my princess" suara seorang wanita dengan nada cemprengnya, siapa lagi kalau bukan Anggi
"Dasar si mulut cempreng" gerutu Haikal.
Entah mengapa kedua orang ini jika bertemu akan selalu berantem
"Kenapa kalau suara gue cempreng, iri lo" ucap Anggi
"Ingat tampilan buk, noh babang tampan lu nongol" ucap Haikal sambil kepalanya mengarahkan ke parkiran
Melihat mobil putih yang sudah terpakir rapi, membuat Anggi segera merapikan rambut dan meraih cermin mini di tasnya
"Udah cakep gak?" tanya Anggi
"Udah cakep" jawab Jean
"Mulai dah" lirih Hive
__ADS_1
"Kulkas dua pintu Anggi bikin jantungan" ucap Jean berbisik pada Hive
"Gi, Udah kayak emak gua lu, gak bisa liat yang Bening dikit" ucap Haikal meledek
"Diem deh lo kalkun" balas Anggi yang membuat Jean dan Hive menutup mulutnya menahan tawanya
"Tap...tap...tap" terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Anggi yang sudah berdiri di barisan paling depan mengembangkan senyumnya semanis mungkin
"Selamat pagi pak" sapa Anggi dengan senyum manisnya
"Pagi, pagi semuanya" jawabnya dengan sedikit menunjukkan senyumnya
"Kamu Jeandita Pramudya bukan?" tanyanya pada Jean
"I.... Iya pak" jawab Jean gugup
"Anggi antar Jeandita keruangan saya, karena ada form yang belum diisi" ucap dosen itu
"Baik pak" jawab Anggi dengan pipi yang bersemu merah
"Emmh Hive nanti pulang kampus, tolong mampir ke ruangan saya" ucap dosen itu lagi
"Baik pak" jawab Hive
Setelah kepergian sang dosen, Haikal tertawa yang sedari tadi dia tahan
"Gi sumpah tadi wajah lu merah banget Udah kayak gurita rebus" ucap Haikal kembali tertawa
"Diem lo, mau gue timpuk pakai sepatu" ucap Anggi yang kesal
"Yaudah Je, ayo gue anterin ke ruangan dosen" ucap Anggi dan menarik Jean untuk segera menuju ruangan Dosen
"Je nanti di rekam ya, gua pingin liat muka gurita rebus lagi di wajah Anggi" ucap Haikal
Setelah sampai di ruangan Dosen, Anggi mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendengar suara untuk memintanya masuk, Anggi langsung masuk bersama Jean
"Jeandita, kamu isi ini dan nanti saat pulang kamu berikan pada saya" ucap sang Dosen
"Baik, terimakasih pak...." ucap Jean terhenti karena dia tidak tau nama Dosen tampan itu
"Jendral" ucapnya seakan tau apa yang dipikirkan Jean
"Baik terimakasih pak Jendral" ucap Jean dengan sedikit membungkukkan badan dan langsung keluar
"Gi, kok lo gak keluar?" tanya Jean yang melihat Anggi masih setia duduk di hadapan pak Jendral
"E... Ehh... Hehehe, Maaf di kursi ada lemnya, jadi susah berdiri" ucap Anggi dan langsung pamit keluar
"Lem, bukannya kursinya bersih" ucap Jendral melihat keadaan kursinya yang bersih, lalu menggelengkan kepalanya
****
Di tempat lain, disebuah rumah bak istana terdengar suara keributan antara kekuarga
"Pokoknya kamu harus terima ini. Ini sudah menjadi wasiat alm kakek kamu" ucap seorang wanita paruh baya dengan nada sedikit tinggi
"Aku gak mau mi, aku mencintai Mega" ucap pria muda itu
"Mega, apa yang kamu harapkan darinya? Saat perusahaan papi mengalami masalah tiga tahun lalu dia pergi ninggalin kamu. Bahkan kamu kecelakaan demi mengejar dia hingga koma, apa wanita seperti itu yang kamu harapkan?" tanya wanita itu dengan emosinya
"Mi Mega bukan orang seperti itu" ucapnya masih membela mantan kekasihnya itu
__ADS_1
" Lalu seperti apa dia?" tanya mami tak mau kalah
"Lebih baik kau ikuti perkataan papi dan mami" ucap seorang pria paruh baya itu yang dari tadi hanya diam
"Tapi pi bagaimana dengan Mega?" tanyanya
"Mega... Mega... Mega, kenapa hanya Mega yang ada di otakmu. Dimana dia sekarang hah?" tanya papi yang sudah mulai emosi
"Sudah cukup kamu mencarinya, 2 tahun kamu mencarinya, tapi mana hasilnya nihil" ucap sang mami sedikit penuh penekanan
"Baik, papi akan beri kamu kesempatan untuk mencarinya lagi. Dalam waktu satu bulan kalau kamu belum menemukan Mega, kamu harus menikah dengan pilihan mami dan papi" ucap sang papi
"Mami setuju. Dan kalau kamu masih menolak, mami akan coret kamu dari akte keluarga" ancam mami yang semakin membuat putranya itu geram
Pria itu langsung pergi menuju kamarnya dengan wajah merah padam
"Aaakkkh... Sial brengsek" ucap Jatra membanting ponselnya
"Mega kamu Dimana? Kembalilah Mega kembali" ucapnya sambil memeluk foto kekasihnya itu
***
Di kampus, Jean mengembalikan Form yang tadi pagi pada dosen Jendral bersama dengan Hive
"Ve, lo kenal sama pak Dosen?" tanya Jean
"Kenal lah, kan dia sahabat cowok gue" jawab Hive
"Owh" ucap Jean manggut-manggut
Setelah dari ruangan dosen, Jean langsung membantu Haikal mengerjakan tugasnya di perpustakaan
***
Dua minggu kemudian, Jean yang sangat lelah baru pulang dari cafe, hingga tak menyadari ada mobil asing yang terpakir di garasi mobilnya
"Assalamualaikum, Mama Papa Jean pulang" ucapnya dengan sedikit lesu
"Waalaikumsalam " jawab mereka semua
"Eh... Maaf Jean gak tau kalau ada tamu" ucap Jean membungkukkan badannya
Melihat kedatangan Jean, Hendrik dan Erlina saling pandang lalu tersenyum, namun tidak dengan pria muda di sampingnya itu
"Jean kemarilah" ucap Andra. Jean langsung mencium tangan orang tuanya dan juga pada tamu orang tuanya itu
"Andra kamu berhasil mendidik kedua putrimu dengan sangat baik" ucap Hendrik kagum
"Terimakasih mas" ucap Andra tersenyum
"Ternyata papa tidak salah memilih menantu untukku" ucap Hendrik membuat Jean bingung
"Iya, anaknya cantik, sopan pula" ucap Erlina melirik putranya
"Jean sebenarnya ada hal yang ingin papa dan mama katakan" ucap Andra pelan. Dia takut putrinya akan marah saat mendengar kabar yang mendadak ini
"Ada apa pa?" tanya Jean, entah mengapa Jean merasa jantungnya berdegup kencang saat papa ingin mengatakan sesuatu
"Jean, papa dan mama akan melaksanakan wasiat alam kakek, yang meminta kami untuk menjodohkan kamu dengan cucu sahabatnya" ucap Andra
"Apa pa?"
__ADS_1
Bersambung