
Apa pa?" ucap Jean tak percaya dengan apa yang dikatakan papanya
"Pria di hadapan kamu, dialah calon suami kamu" ucap Andra. Lidah Jean seakan keluh untuk mengatakan sesuatu
Jatra menatap orang tuanya. Karna orang tuanya tidak menepati janji dengan waktu yang di berikan
"Jean, bagaimana apa kamu mau menjadi anak mami?"tanya Erlina
Jean tidak mau menjawab, pikirannya masih berkecamuk dengan perkataan papanya itu
Andra dan Ratna tau, ini keputusan yang sangat berat untuk Jean
"Jean?"panggil Sonia menepuk bahu adiknya dengan pelan
" A... E... Anu, Jean.... Jean" ucap Jean terhenti dia tidak tau harus menjawab apa
"Jean, kalau kamu tidak ingin melanjutkan perjodohan ini tidak apa-apa" ucap Andra pelan
"Benar, jika kamu tertekan dengan perjodohan ini, mami tidak akan memaksa kamu" ucap Erlina yang tidak tega melihat wajah tertekan Jean
Jean masih diam, dia kembali berpikir untuk membuat keputusan yang akan dia tempuh seumur hidupnya
"Lalu bagaimana dengan tuan...." ucap Jean menatap pria yang akan menjadi calon suaminya itu
"Kamu tenang saja, Jatra sudah setuju dengan perjodohan ini" ucap Erlin yang tau maksud Jean
Jatra melirik maminya dengan wajah masam
Jean menarik nafasnya, dia mencoba untuk menyusun kosa kata yang akan dia ucapkan
"Baik Jean terima" ucap Jean yang membuat semua menatap arah gadis itu
"Jean" lirih sang mama
Jean berdiri dari duduknya dan berlutut di hadapan orang tuanya
"Ma, pa, Jean tidak ingin membuat mama dan papa kecewa" ucap Jean menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca
"Dari dulu, mama dan papa selalu menuruti keinginan Jean dan kakek juga sangat menyayangi Jean. Bahkan saat Jean meminta kuliah di Amerika, yang kakak tidak pernah menempuh pendidikan keluar negri, mama dan papa menurutinya. Padahal Jean tau, saat itu perusahaan papa berada diambang kebangkrutan, tapi papa tidak pernah mengeluh pada Jean" ucap Jean, akhirnya jatuh juga air mata Jean yang ia tahan
Andra Ratna dan Sonia terkejut, bagaimana Jean bisa tau tentang kejadian 3tahun lalu. Dimana saat itu memamg perusahaan Jatra ada masalah
"Jadi sekarang biarkan Jean menuruti keinginan mama papa dan juga keinginan kakek, agar kakek tenang disana" ucap Jean meneruh kepalanya diatas pangkuan kedua orang tuanya
Andra dan Ratna terpaku akan perkataan putri keduanya itu. Gadis yang selalu bertingkah seperti anak kecil itu, bisa mengucapkan kata-kata yang membuat semua orang disana terharu
Sonia langsung turun duduk di bawah dengan memeluk adiknya itu
"Kakak bangga sama kamu" ucap Sonia yang juga menangis sambil memeluk juga mencium adiknya itu. Ratna juga ikut memeluk kedua putrinya itu sambil mencium keduanya
__ADS_1
Setelah itu, Jean berdiri dan beralih berlutut di hadapan Erlina dan Hendrik
"Om Tante, bolehkah Jean meminta sesuatu?" tanya Jean menatap kedua calon mertuanya itu
"Katakan sayang" ucap Jean yang ikut duduk bersimpuh dihadapan Jean
"Bolehkah pernikahan ini dirahasiakan, setidaknya sampai Jean lulus kuliah" ucap Jean, Erlina menatap suaminya
"Baik mami dan papi akan mengikuti keinginanmu. Tapi bisakah panggil kami mami dan papi?" ucap Erlin memegang kedua pipi Jean dengan lembut
"Ma... Mami Pa... Pi" ucap Jean terbata-bata, lalu Erlin memeluk Jean dengan lembut dan penuh kasih sayang
Setelah drama yang mengharukan itu selesai, Jean kembali kekamarnya. Sonia tau saat ini adiknya sedang menyembunyikan kesedihannya. Namun Sonia tidak menyusul adiknya itu, biarkan dia sendiri dulu, begitu pikir Sonia
Di kamar, Jean langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya
"Ya Allah jika ini memang keputusan yang terbaik, semoga mama papa bahagia, dan juga semoga kakek melihat ini dari atas sana" ucap Jean yang kembali meneteskan air matanya kembali
.
.
Di tempat lain...
"Mi perjanjian kita masih belum berakhir mi" ucap Jatra
"Bukannya kamu masih ada waktu dua minggu untuk mencari wanita itu" ucap Mami
"Pak Dion hentikan mobilnya di depan" ucap Jatra dengan nada dinginnya
"Mau kemana kamu?" tanya Papi
"Aku ingin bertemu dengan teman-temanku" jawabnya datar
"Hentikan mobilnya Dion" ucap Hendrik
Setelah itu Jatra keluar dan meminta Juan untuk menjemputnya. Sekitar 10 menit Juan datang dan langsung menuju bar tempat biasa Jatra dan sahabatnya berkumpul
"Juan bagaimana hasilnya?" tanya Jatra tanpa menatap Juan
"Belum ada informasi" jawab Juan, asisten sekaligus Sahabat Jatra
"Apa lu masih mencarinya" ucap salah satu temannya
"Jatra apa lu lupa bagaimana dia ninggalin lu?" tanya temannya yang lain
"Aku yakin dia meninggalkan aku pasti ada sebabnya" ucap Jatra
"Iya, sebabnya dia pergi karena saat itu perusahaan papa lu berada di posisi paling bawah" ucap Juan
__ADS_1
"Jatra buka mata lu, disaat lu butuh dia kemana dia? Lu kecelakaan gara-gara dia hingga lu koma" ucap pria itu geram terhadap Jatra
"Jendral" ucap Arjun menenangkan sahabatnya yang sudah emosi itu
Ya pria itu adalah Jendral sang Dosen tampan itu
"Lu tau kan gimana dia dulu? Bagaimana dia meninggalkan Jatra" ucap Jendral yang sudah terpancing emosi
"Sudahlah, kenapa kalian yang ribut. Jatra tidak akan mendengarkan kita tentang keburukan Mega" ucap Juan menyindir Jatra
Tanpa menjawab, Jatra langsung menegak minumannya dalam sekali teguk
.
.
"Bagaimana jika aku mengatakan yang sebenarnya, tapi bagaimana aku memberi taukan pada Jatra bahwa Mega pergi dengan pria lain" batin Juan yang juga menegak minumannya
"Juan aku beri waktu 2minggu lagi untuk mencari kebaradaan Mega" ucap Jatra dengan nada datarnya
"Jatra sampai kapan lu mau nyiksa Juan? Sudah satu tahun lebih lu nyari keberadaan Mega, namun tidak ada hasilnya" ucap Arjun
"Karna dua minggu lagi, aku tidak akan mencari keberadaan Mega lagi" ucap Jatra
"Kenapa terakhir? Seharusnya selamanya saja lu nyari dia" ucap Jendral tanpa menatap Jatra
"Karna 2 bulan lagi dia akan menikah dengan pilihan orang tuanya. Dan tuan besar memberikan waktu 1 bulan untuk Jatra mencari keberadaan wanita itu" ucap Juan
"Baguslah dengan begitu, lu akan dengan cepat melupakan wanita itu" ucap Jendral
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan Mega, aku masih akan menunggunya sampai dia kembali" ucap Jatra membuat ketiga sahabatnya membuang nafasnya dengan kasar mendengar penuturan dari Jatra
"Gua harap lu gak akan menyesal Jat" ucap Jendral yang sudah tidak tau harus bicara apa pada sahabatnya yang keras kepala itu
.
.
.
Kembali pada kediaman Pramudya. Jean masih betah berada dikamarnya. Sonia langsung mengetuk kamar adiknya itu
"Dek, kamu baik-baik saja?" tanya Sonia. Jean menghapus air matanya dan tersenyum pada kakaknya
"Aku gak papa kak" ucap Jean. Sonia dapat melihat bahwa Jean memaksakan senyumnya
"Jean kakak bangga sama kamu. Kakak tau kamu tertekan tapi kamu masih dapat tersenyum di hadapan kami" ucap Sonia lembut pada sang adik
"Menangislah jika ingin menangis, kakak dan kak Sonia akan selaku menemani kamu" ucap Haidar mengelus kepala Jean dengan lembut
__ADS_1
Jean langsung memeluk kakaknya dengan erat dan menahan suara tangisnya. Haidar langsung memeluk istri dan adik iparnya itu, agar sedikit lebih tenang
Bersambung