
"Saka, kita mau apa lagi kesini?" tanya Vita saat motor Saka sudah berhenti di halaman salon kecantikan
"tentu saja mau makan"
"mulai lagi deh!😒. Memangnya kamu doyan makan sampo gunting dan vitamin rambut?"
"lagian pertanyaanmu itu aneh tau gak? Kita ke Salon itu ya buat merubah penampilan kamu yang aneh ini" jawab Saka sembari memegang rambut dan menarik ikat rambut kupu kupu dari kepala Vita "memangnya kau pikir aku ini apa? Makan gunting. Aneh banget deh"
"ya kirain aja kamu sekarang punya bakat jadi kuda lumping"
"sialan kamu!" Saka menonyor pundak Vita "ayo masuk!" Saka lantas menggenggam erat tangan vita dan menuntunnya masuk ke dalam Salon tersebut
Sementara Vita. Ia hanya menatap pada tangannya yang di genggam erat oleh seorang laki laki remaja yang selalu menemaninya disaat suka maupun duka. Dan entah mengapa, Vita merasa genggaman itu semakin lama semakin terasa hangat.
Terimakasih Saka
...***...
Satu tahun kemudian
Di danau yang sama, Saka masih duduk santai menunggu Vita datang. Meski waktu yang di tentukan untuk pertemuan mereka sudah terlewat dua puluh menit, Saka benar benar merasa tak keberatan.
Detik waktu semakin lama semakin bertambah, hingga kini sudah empat puluh menit ia menunggu, namun tak sedikitpun ada tanda tanda kehadiran Vita. Padahal kemarin mereka sudah saling berjanji untuk datang ke tempat ini
Di saat Saka masih asik menunggu Vita sembari memainkan game di ponselnya, tiba-tiba saja awan gelap yang menyelimuti langit malam berubah menjadi hujan yang begitu lebat. Dan Hal itu membuat Saka harus beralih posisi dan bangkit dari duduk nyamannya.
Sementara di sudut jalan yang berbeda, Vita tengah berlari tergesa sembari menenteng sepatu hils tinggi di tangannya.
Dibawah guyuran hujan yang lebat, ia tak menghiraukan keadaan dirinya. Bahkan keadaan telapak kakinya yang lecet pun ia tak mempedulikan sama sekali
Ya, Vita memang terlambat datang karena banyak hal yang harus ia lalui selama di perjalanan. Mulai dari tidak mendapatkan taksi, ban mobil taxi yang bocor, hils sepatu yang patah, ditambah lagi hujan yang turun secara tiba tiba ini membuat Vita semakin terlambat sampai ke danau.
Sebenarnya sejak awal Saka sudah menawarkan untuk menjemputnya, tapi memang Vita yang tidak mau. Bukan tanpa alasan dirinya tidak ingin dijemput, Vita hanya tidak mau Saka mengetahui kejutan yang sudah ia siapkan untuk laki laki yang selalu ada untuknya disaat suka maupun duka itu. Karena Vita tidak mungkin meminta Saka menemaninya untuk membeli sebuah hadiah. Bukan kejutan lagi dong nanti? Begitu pikir Vita
Deg
Vita menjatuhkan semua yang ada di genggamannya. Mulai dari sepatu, tas, bahkan sebuah kotak kecil yang ia pegang sejak awal mula dirinya naik taksi pun ikut terjatuh di kubangan air berlumpur.
"Saka, maafkan aku. Harusnya aku ikut denganmu sejak awal. Kau pasti mengira kalau aku tidak ingin menemuimu kan?" lirih Vita sembari menutup wajahnya demi mengurangi rasa sesak dan mencurahkan sesalnya lewat sebuah isak tangis
Bagaimana tidak, Vita pastinya terngiang pada perkataan Saka tadi siang.
"Baiklah kalau kau tidak mau dijemput. Tapi kau harus bisa memastikan kalau kau akan datang tepat waktu. Jika kau terlambat setengah jam saja, maka aku pastikan kalau aku akan marah padamu dan hubungan persahabatan kita putus sampai disini! Mengerti?"
Yang ia sesalkan adalah, mengapa ia malah dengan gampangnya mengiyakan ucapan Saka begitu saja tanpa berpikir panjang terlebih dulu
Dan jika sudah terjadi seperti ini? Apa yang harus Vita lakukan? Entahlah, ia pun tak tahu
__ADS_1
"aaaaachhhh" teriak Vita sekencang mungkin hingga ia jatuh berlutut di atas tanah berlumpur itu
"Kenapa teriak teriak?" sahut seorang laki laki yang muncul tiba tiba di belakangnya
"setan!" Vita tersentak kaget sampai sampai ia jatuh tersungkur
"sembarangan kalau ngomong. Laki laki tampan seperti ini dibilang setan. Jatuh cinta sama setan baru tau rasa kamu!"
"Saka?" keningnya berkerut menatap sosok yang berdiri tegak di depannya. Dan saat ia sudah mendapati bahwa sosok itu adalah lali laki yang ia cari, dengan segera ia bangkit dan langsung memeluk tubuh kekar semampai itu
Dengan senyum serta diiringi isak tangis, Vita memeluk erat tubuh Saka. Pelukan yang seolah olah tak ingin lepas meski sejenak saja.
"Saka, kamu masih disini?"
"kenapa? Kamu pasti mengira kalau aku sudah pergi kan?"
Vita mengangguk cepat
"hh.. Kau telat hampir satu jam, dan karena aku sudah tau kau akan datang kesini, jadi mana mungkin aku tega meninggalkanmu sendiri di danau sepi seperti ini"
"benarkah? Saka, kamu memang sahabatku yang paling baik"
"sahabat? Siapa yang mau menjadi sahabatmu? Bukankah sudah aku katakan sejak kemarin, jika kau terlambat setengah jam saja, maka hubungan persahabatn kita putus. Kamu tidak lupa kan?"
"Tapi?? Bukankah aku sudah telat satu jam lebih? Lalu Kenapa kau masih menungguku sampai datang? Itu artinya kan kamu masih mau bersahabat denganku" ucap Vita dengan mata yang semakin berkuaca kaca
Saka tak menjawab, ia malah mengajak Vita untuk berdiri saling berhadapan lalu menangkup kedua pipi wanita bergaun biru itu
"Ssaka__"
"Vita, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
Deg
Jantung Vita seolah berhenti berdetak secara mendadak. Ia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi. Bagaimana mungkin Saka bisa mencintainya?
"Saka, bercandamu tidak lucu"
"siapa yang bercanda? Aku serius Vit"
"tapi umur kita?"
"siapa yang peduli dengan umur? Aku tak masalah jika aku berpacaran dengan wanita yang lebih tua dariku. Yang penting itu hati. Jika memang hatiku telah memilihmu, aku bisa apa?"
"Saka, aku.."
"kenapa? Apa jangan jangan kamu yang malu jika berpacaran dengan anak SMA sepertiku?"
__ADS_1
"tidak! tidak! Bukan seperti itu. Aku gak malu kok. Hanya saja apa?"
"aku hanya takut jika alasanmu menjadikanku kekasih hanyalah karena rasa kasihan"
"memang iya"
"nah kan!"
"dengarkan dulu" Saka menggenggam tangan Vita dan mengecupnya sekilas "awalnya memang hanya rasa kasihan dan simpati yang aku rasakan padamu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan nyaman dan tak ingin kehilangan. Hingga aku baru menyadari bahwa aku mencintaimu"
"benarkah?"
"ya"
"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Aku merasakan kenyamanan tersendiri saat bersamamu. Tapi aku tidak tau apakah aku mencintaimu atau tidak"
"apa kau menyayangiku?"
"Saka, percayalah, aku sangat menyayangimu"
"oke, itu saja sudah cukup bagiku"
"maksutnya?"
"aku tak masalah jika sekarang kau belum mencintaiku. Yang penting saat ini hubungan kita berstatus kekasih. Aku yakin, kau pasti tak butuh waktu lama untuk menyadari perasaanmu jika kau juga mencintaiku "
"iyakah?"
"aku yakin"
"jadi__"
"jadi kita sekarang adalah sepasang kekasih"
Vita hanya tersenyum tipis dan mengangguk malu saat Saka memeluknya. Karena terlalu terbawa suasana, Saka tanpa sadar mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Vita. Dan..
Ups!
Saat bibir mereka hampir menempel, tiba tiba saja jari telunjuk Vita ia taruh di bibir Saka
"jangan" lirih Vita
"jangan apa? Dasar jorok! Siapa juga yang mau menciummu? Aku hanya ingin mengambil ini!" Alih Saka menyembunyikan rona wajah malunya dengan mengambil kotak hadiah yang terjatuh tadi
"Saka.. Saka.." Vita hanya menggelengkan kepala dan tersenyum lucu melihat tingkah pacar berondongnya.
Saka, kau memang Berondong Terbaikku..
__ADS_1
.
.