Berondong Terbaik

Berondong Terbaik
Bersama Yang Lain


__ADS_3

Pagi hari


"Saka, tumben kamu gak telat?" tanya Doni, teman sebangkunya


"iya Ka, ada angin apa bisa berangkat pagi begini?" sahut Bagas, teman yang duduk di bangku depannya


"elah brow.. Sekali kali jadi rajin kan gak papa. Masak mau telat terus, capek kali suruh keliling lapangan mulu"


Suara riuh yang sedang tercipta terhenti seketika saat guru di jam pelajaran pertama sudah mulai memasuki kelas.


"baiklah anak anak. Hari ini kelas kalian kedatangan murid baru"


"Siapa bu"


"cewek apa cowok Bu?"


"cantik enggak Bu?"


Begitulah pertanyaan dari beberapa siswa yang suka jahil.


"anak-anak perkenalkan, namanya Marsha dia pindahan dari Amerika, gitu kan Marsha?"


"iya bu"


"bule dong bu?" teriak salah satu siswa


"bukan, saya hanya bersekolah beberapa bulan saja disana"


"oh...."


"ya sudah, Ibu berharap kalian bisa ramah ya sama siswa baru. Jangan sampai ada laporan kalau ada yang ngerjain Marsha. kalian mengerti?"


"mengerti Bu.." jawab murid serentak


"Baiklah Marsha, silakan Kamu duduk di.." ibu guru melihat ke sana kemari mencari bangku yang terlihat kosong


"kamu duduk di samping bagas aja ya" lanjutnya


"Iya Bu" "maaf bu, bagas yang mana ya?"


"sini oi Marsha, aku nih yang namanya Bagas. Baguse selalu ngegass"


"hhhyuuuuuuu" sorak teman teman sekelas pada Bagas. Murid yang paling badung dan terkenal playboy


"terima kasih Bu"


Saat Marsha berjalan ke tempat duduk yang ditunjukkan, langkahnya terhenti di samping meja. Matanya tak henti menatap Saka. Senyumnya mengembang tipis pada laki laki yang pernah menolongnya waktu itu. Ya, Marsha masih mengingat wajah Saka, begitupun sebaliknya. Hanya saja mereka belum saling tahu namanya karena waktu itu mereka belum sempat berkenalan.


Bagaspun berinisiatif menarik tangan Marsha untuk duduk di sebelahnya. "Marsha, jangan menatap Saka terlalu lama"


"kenapa?"


"dia sudah ada yang punya"


Marsha tak menjawab. Ia hanya tersenyum pada Bagas lalu menatap lurus ke depan. Mencoba memperhatikan guru mengajar meski pikirannya masih tertuju pada kata kata Bagas soal Saka sudah ada yang memiliki


Pergantian jam pelajaran sudah berlalu. Kini tiba saatnya murid murid beristirahat. Semua siswa siswi sudah berbondong bondong keluar menuju kantin.


Namun tidak dengan Marsha. Ia tetap berada di dalam kelas. Takut? Atau Malu? Mungkin, maklumlah, ia memang anak yang pendiam. Selama menjalani study di America selama 8 bulan, ia juga tak bisa berbaur dengan teman sekelasnya lantaran merasa tak percaya diri dan takut tersakiti. Setiap hari setelah pulang sekolah, yang dilakukan Marsha hanya menemani sang kakak.


Bukankah dia cantik?


Ya, memang benar. Marsha memang memiliki paras yang cantik. Tubuh semampai dan proposional bak model. Jadi tak heran jika banyak sekali laki laki yang mengejarnya dan ingin menjadikannya sebagai kekasih mereka. Namun sayangnya, tak ada satupun yang membuat Marsha tertarik pada laki laki itu.


"uhuk uhuk"

__ADS_1


Marsha tersendak, ia terlihat celingukan sembari membongkar tasnya mencari sesuatu.


"ini"


Deg


Marsha menatap sosok yang sedang menyodorkan minum padanya. Ia tak tahu jika dikelas ini ada orang lain selain dirinya. Karena yang ia tahu, tadi ia hanya seorang diri saat hendak memakan bekal yang ia bawa dari rumah


Tanpa pikir panjang, Marsha langsung mengambil botol air itu dan meneguknya hingga tinggal separuh


"terimakasih Saka"


"kau sudah tau namaku?"


Marsha tersenyum manis sembari mengangguk kecil


"ah ya, pasti si Bagas yang cerita" "oh ya Marsha, sudah tau makanan yang kamu makan itu pedas, kenapa gak bawa minum?"


"sepertinya bibik lupa memasukkan botol minumku kedalam tas"


"oh.. kenapa kau tidak menghubungi beruang saja buat nganterin botol minummu yang ketinggalan?"


"maksutnya?"


"ya biasanya kan di film itu, marsha selalu menghubungi beruang kalau butuh bantuan"


"SAKA! Ihh... Nyebelin deh! Kamu kira aku ini masha and the bear?" seru Marsha sembari memukul ringan pundak Saka


Reflek Saka menghentikan aksi Marsha. Dan tanpa disengaja, tangan Saka malah menggenggam pergelangan tangan Marsha.


Saling pandang. Keduanya sama sama risih. Hingga Saka memilih untuk segera melepaskan tangannya sebelum ada yang melihat mereka dan terjadi kesalahpahaman


"maaf"


"marsha, seragam sekolah yang waktu itu kamu pakai berarti__"


"Saka, jangan ingetin itu dong, kan aku malu"


"gak papa, biasa aja. Aku cuma kagum aja, ternyata seragam sekolah di America keren juga ya?"


"sama aja kok. Mmm... Oh ya, Saka, aku akan kembaliin jaket kamu nanti siang sepulang sekolah ya?"


"memangnya kamu bawa jaket itu?"


"tentu saja, aku selalu menaruhnya di mobil. Ya, buat jaga jaga aja siapa tau aku bertemu dengan pemiliknya"


Akhirnya Saka dan Marsha saling berbincang. Saling bertanya ini dan itu. Inilah pertama kalinya Marsha memiliki seorang teman laki laki


...****************...


Sinar mentari mulai menghilang, Bulan serta bintang pun mulai bermunculan menampakkan wajahnya. Dan di ruang sudut yang berbeda, tampak seorang wanita sedang berlenggak-lenggok dan memutar badannya di depan kaca.


Ya, dia adalah Revita Agustina


Kemarin siang Revita membalas pesan dari Daniel. Dan ia setuju untuk bertemu. Mereka bertemu di sebuah kafe di mana mereka dulu sering berkencan


Soal privat bersama Saka, ia sudah menghubungi Pacarnya itu dan membatalkan privat untuk sore ini.


"Danil" panggil Vita yang sudah berdiri di belakang mantan kekasihnya itu


"Vita?" lirih Danil sembari berdiri mensejajarkan dirinya dengan Vita. Tatapan matanya bahkan tak berkedip sedikitpun saat melihat penampilan Vita denigan gaun indah yang ia berikan kemarin. Sangat anggun Begitu yang ada dalam pikirannya saat ini


"Vita, kamu sangat berubah. Kamu semakin cantik"


"kamu juga"

__ADS_1


"ayo duduk. Aku udah pesenin makanan kesukaanmu" Danil menggeser kursi duduk untuk Vita


"terimakasih"


"Danil, bukankah kamu sudah tau alasanku kenapa aku mau menemuimu lagi?"


"Ya aku tahu. Tapi sebaiknya kita makan saja dulu"


"Baiklah. Tapi janji ya kamu harus kasih tahu aku Apa alasanmu pergi?"


"ya"


Akhirnya waktu pun mereka lalui dengan makan dan berbincang


"Vita Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"


"kamu bohong!"


Daniel tak menjawab, ia hanya tersenyum dan fokus menyetir mobil untuk mengantar Vita pulang sampai rumah dengan selamat


Sementara Vita, selama di perjalanan, bibirnya tak hentinya cemberut. Dan hal itu semakin membuat Daniel merasa gemas.


Ternyata Vita masih sama seperti yang dulu saat masih pacaran, imut jika sedang ngambek. Begitu pikir Danil


Dan tak berapa lama kemudian, mobil Danil sudah sampai di depan rumah Vita.


Vita pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa berpamitan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


📩 jangan ngambek, entar tambah manis loh!


Vita tersenyum senyum sendiri saat menerima pesan dari Danil.


Tok Tok


Vita yang masih bersandar di balik pintu tersentak kaget saat mendengar suara ketukan dari pintu yang ia buat sandaran itu.


Deg


"Saka?" lirih Vita, namun matanya menatap gerbang rumah yang masih terbuka


Byuh, ia bisa bernafas lega saat tak mendapati mobil Danil disana.


"cari apa?"


"gak ada kok. Kamu ngapain malam malam kesini?"


"kangen kamu?"


"Saka.. Aku capek"


"dilihat dari penampilannya, kamu habis pergi ya?"


"iya, tadi pergi sama teman. Makanya aku sekarang capek banget pengen istirahat. Kamu pulang aja ya?"


"tapi kamu gak papa kan?"


"iya gak papa kok"


"baiklah aku pulang. Bye .."


"bye" Vita segera menutup pintu tanpa menunggu Saka keluar gerbang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2