Berondong Terbaik

Berondong Terbaik
Seperti Bukan Dirinya


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Sejak malam penolakan Vita, Saka tak pernah lagi main kerumah kekasihnya itu.


Sebenarnya bukan tidak pernah sama sekali. Pernah malam sesudah malam itu, Saka kembali datang untuk menemui Vita. Namun ternyata yang terjadi masih sama. Vita masih beralasan ingin menyendiri dulu.


Hingga Saka pun mengambil keputusan untuk memberi waktu pada Vita menyendiri dulu dan tak akan mengganggunya sampai Vita sendiri yang memanggilnya untuk datang kembali.


Terkesan bodoh bukan? Ya, namun itulah cinta


Soal chat? Apakah keduanya pernah chatting selama kurun waktu satu minggu itu?


Tentu saja pernah. Bahkan setiap hari mereka saling bertukar kabar lewat pesan whatsapp.


"hai bro! Ngapain bengong disini?" sapa Doni dan Bagas saat nyamperin Saka di bawah pohon dekat lapangan basket


"gak papa"


"soal pacar mahasiswimu itu ya?"


"tentu saja, siapa lagi coba yang bisa membuat seorang Saka galau seperti ini kalau bukan mbak Vita" sahut Bagas menjawab pertanyaan Doni karena Saka masih diam


"mbak.. Mbak.. " gerutu Saka


"abisnya kita panggil apa dong? Kan emang umurnya lebih tua dari kita? Ya kan Don?"


"gak ikut ikutan aku" jawab Doni


"ah bangs*t luu.. gak belain temen"


"masalahnya masih sama seperti kemarin?" tanya Doni


Saka hanya mengangguk


"Sudahlah Ka, jangan terlalu di fikirin hubunganmu dengan pacar mahasiswamu itu. Jalani aja seperti air mengalir. Woles man.. Kalau kau sampai putus hubungan dengannya, gak usah hawatir. Banyak kok wanita yang mau sama kamu. Atau kalau sudah gak ada yang mau, nanti aku kasih satu dari koleksiku deh!"


"OGAH! Koleksimu gak ada yang bener" jawab Saka sembari berdiri dan berlalu melangkah pergi meninggalkan dua temannya yang masih terduduk manis di tempatnya


"Oiii Saka! Mau kemana?"


"biasa" sahut Saka sembari memasuki ruang UKS


"mau kemana dia?" tanya Bagas


"mau bangun pulau kapuk" jawab Doni


"maksutnya?"


"mau tidur di UKS dudul"


"oh..


Sesampainya di ruang UKS, Saka membaringkan tubuhnya di ranjang sempit yang hanya muat untuk dirinya berbaring. Satu tangannya tersender diatas dahi. Matanya menatap langit langit ruangan. Pikirannya melayang entah kemana.


"kamu istirahat saja disini, gak usah ikut pelajaran dulu. Mengerti?

__ADS_1


"iya bu"


"apa perlu ibu menelfon orang tuamu?"


"tidak bu. Saya hanya butuh berbaring sebentar saja. Nanti juga sembuh kok sakit perutnya"


"apa memang seperti ini keadaanmu kalau sedang datang bulan?"


"iya bu"


"perut sakit, tubuh lemas, mual, bahkan sampai muntah. Ah kenapa ciri ciri datang bulanmu itu persis seperti orang yang sedang hamil"


"saya memang seperti ini setiap datang bulan kok bu"


"ya sudah. Istirahatlah. Ibu tinggal dulu ya"


"iya bu, terimakasih"


Baru beberapa menit ibu guru pergi, tirai yang membatasi antar ranjangpun terbuka, hingga membuat gadis yang baru saja terpejam kembali membuka matanya


"hai Marsha" panggil Saka yang masih terbaring di atas ranjang sebelah ranjang Marsha.


"Saka?" teriak Marsha sembari mengubah posisinya menjadi duduk


Marsha benar-benar tersentak kaget saat mendapati Saka sudah berada di sampingnya.


Karena di UKS itu ada dua ranjang dengan satu pembatas horden panjang yang memisahkannya. Dan saat ia masuk horden itu pun dalam keadaan tertutup , jadi Marsha tidak tahu kalau di dalam sana ternyata juga ada orang lain selain dirinya


"Saka, jangan pura pura gak denger deh! Kamu pasti udah denger percakapanku tadi kan?"


"ah, ketahuan deh!" dengan mengubah ekspresi wajah yang seolah cemberut dan menyesal


"ternyata ribet juga ya jadi perempuan. Mm.. memangnya semenyakitkan itu ya kalau datang bulan?" lanjut Saka dengan memajukan wajahnya tepat di depan wajah Marsha yang seolah olah sedang ingin mengintrogasi seorang tersangka


"SAKA ih.. Nyebelin banget deh! Ngapain juga tanya tanya hal begituan? Kan aku malu" Marsha memilih memalingkan muka, menyembunyikan rona merah wajahnya yang mungkin saat ini sudah seperti kepiting rebus


"kenapa harus malu?"


"iyalah, kamu ini cowok, dan aku ini cewek. Mana mungkin kita membicarakan hal tabu seperti ini?"


"ya kan aku gak tau gimana rasanya, jadi ya aku cuma nanya doang"


"au ah" seru Marsha yang saat ini sudah turun dari ranjang dan hendak melangkah keluar


"eh, mau kemana kamu?"


"balik ke kelas"


"jangan dong! Kan kamu masih sakit"


"terus aku harus disini bareng kamu gitu?"


"memangnya kenapa?"

__ADS_1


"ya gak mau lah"


"aku ini ganteng, tampan, manis, imut, and.. cute abiz lah pokoknya. Jadi gak akan nyesel deh nemenin aku disini"


"dih.. Pede amat sih!"


"harus dong"


"gak. Kalau kamu mau disini ya disini aja. Aku mau balik ke kelas"


Marsha segera melangkah. Dan saat ia hendak memutar gagang pintu, tiba tiba saja langkahnya terhenti kala ia merasakan kembali kram perut dan mules di bagian bawah perutnya.


"aww" desis Marsha sedikit membungkukkan badan sembari memegang bagian bawah perutnya


"Marsha, kamu kenapa?" tanya Saka yang langsung memegang kedua lengan Marsha, berjaga jaga jika sewaktu waktu wanita itu akan terjatuh


"ssstttthh" hanya desisan yang keluar dari bibir Marsha yang menandakan ia sedang menahan sakit


"nah kan, sudah aku bilang kamu tu disini aja. Gak usah ke mana mana, gak usah ke kelas dulu. Kamu tu cukup berbaring disini dan istirahat sampai nanti jam pulang tiba. Gak lama kok. cuma tinggal nunggu satu jam lagi kan?"


Marsha hanya bisa menerima setiap perlakuan Saka padanya. Mulai dari menuntunnya, membaringkannya, bahkan saat menyelimutinya, ia tak menolak sedikitpun tindakan laki laki berparas tampan itu.


Marsha pun hanya tersenyum saja saat mendengarkan celotehan Saka yang menurutnya itu persis seperti emak emak yang sedang memarahi anaknya


Lucu sekali, batin Marsha


"kamu kenapa lihatin aku seperti itu? Pake senyum senyum sendiri lagi. Kenapa? Aku ganteng ya? Hh.. Emang udah dari lahir ini.Udah, gak usah heran gitu"


Marsha tersenyum "kamu bisa tinggalin aku sendiri gak?"


"dih! Udah dibantuin malah ngusir"


"Saka.. Gak enaklah kalau kita disini berdua. Kamu mengerti kan maksudku?"


"ah ya, aku mengerti. Baiklah, aku akan keluar"


"terimakasih"


"selamat beristirahat" ucap Saka sembari menutup pintu ruang UKS


Setelah Saka menghilang di balik pintu, Marsha memiringkan tubuhnya. Menarik selimut tipis itu menutupi sebagian tubuhnya hingga ke bagian dada


Hati yang beberapa menit lalu sempat sebal, kini berubah ceria seketika


Ia tersenyum sendiri saat mendapati ada yang lain dari dirinya.


Ia adalah seorang pendiam dan tak suka banyak bicara. Tapi saat bersama Saka, entah mengapa ia menjadi sosok yang berbeda. Ia menjadi orang yang seolah cerewet dan banyak bicara.


Marsha heran, ini seperti bukan dirinya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2