Berondong Terbaik

Berondong Terbaik
Pulang


__ADS_3

"Danil???" lirih Vita


Ia yang baru saja keluar kampus bersama dengan dua sahabatnya seketika menghentikan langkah saat sampai di parkiran dan mendapati ada Danil disana tengah bersandar santai di samping mobilnya


"Vit.. Bukankah dia adalah sang mantan yang kamu ceritakan itu?" bisik salah satu sahabat Vita


"iya Vit. Ngapain dia kesini? Jangan jangan kamu balikan ya?" sahut satu sahabatnya lagi


"oh tidak! Terus Saka si berondong manismu itu mau di kemanain?"


"sssttt.. Kalian bisa diem gak? Besok aku ceritain. Sekarang aku pergi dulu ya" jawab Vita sembari melambaikan tangan berjalan ke arah Danil


"teman kamu gak diajak sekalian?" tanya Danil


"gak usah. Lagipula mereka ada acara masing masing kok"


"oh.. Ok"


Akhirnya Danil dan Vita pun masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju ke sebuah warteg dekat sekolah


"Danil? Krnapa kita berhenti disini? Katanya kamu mau nganyer aku ke toko buku?"


"ke toko bukunya nanti aja. Kamu kan baru pulang, pasti capek dan laper kan?"


Vita terdiam. Namun benerapa saat kemudian terdengarlah suara yang timbul dari perut perempuan berusia dua puluh tahun itu.


Kruk.. Kruk..


"nah kan? tanpa kamu menjawabpun aku sudah tau jawabannya"


"tapi kenapa disini?"


"sengaja"


"maksutnya?"


"kamu ingat warteg ini kan?"


"ya"


"aku ingin mengulang masa indah kita saat masih pacaran dulu"


"tapi__"


"Vit.. Aku tau kamu belum bisa memaafkan aku sepenuhnya. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini lagi"


"Danil.. Apa susahnya sih mengatakan jujur tentang alasanmu kepergianmu dulu?"


"aku janji. Aku akan mengatakan padamu yang sejujurnya. Tapi tidak sekarang"


"terus kapan?"


"nanti ya. Tunggu saat yang tepat. Aku akan mengatakannya padamu"


"hhh.. Baiklah"


"terimakasih, ayo masuk"


"ya"


Vita menghela nafas panjang saat lagi lagi ia harus mengalah dan menunggu hingga Danil mengatakan alasannya


Akhirnya, Vita dan Danil pun menghabiskan waktu berdua hingga sore hari.


Jika ditanya apakah jalan mereka puas? Tentu saja puas. Mereka berdua jalan sejak pagi karena jam Kuliah Vita kosong semua


"Vit, kita kerumahku ya"

__ADS_1


"tidak ah, antar aku pulang saja"


"pliiisss.. Sebentar saja. Apa kamu tidak kangen deng Catty?"


"Catty?"


"ya. Catty. Kucing manis yang pernah kita tolong saat kakinya terlindas sepeda motor dulu"


Vita terdiam


"keadaannya sangat baik loh. Dia sangat gemuk dan menggemaskan"


"jadi kamu memeliharanya sampai sekarang?"


"ya. Tentu saja aku memeliharanya. Bukankah kau pernah mengatakan. Kalau aku ingin menjadikanmu belahan jiwaku seumur hidupku, maka aku harus bisa menyayangi sesama makhluk hidup, meskipun itu seekor binatang sekalipun. Jika aku bisa menyayanginya, maka kamu akan yakin kalau aku pasti bisa menyayangimu. apa kamu masih ingat itu?"


Vita tersenyum. Ia mengangguk mengingat semuanya. Dan ia pun tak menyangka bahwa Danil mengingat semua tentang dia, tentang mereka, dan tentang semua.


Jika Danil mengingat semua, bukankah berarti Danil masih mencintainya? Lalu mengapa Danil pergi?


Y, hanya satu pertanyaan itulah yang selalu memenuhi hati Vita sampa sekarang ini


"Vit, gimana? Mau ya?"


"ya, tapi aku gak bisa lama ya"


"gak papa kok. Makasih ya"


...****************...


Sementara di ujung jalan yang berbeda, Saka yang baru saja menaiki motornya dan sudah keluar gerbang, tiba-tiba memutar balik arah saat menyadari bahwa perempuan yang berdiri di depan gerbang sekolah tadi adalah Marsha


"Marsha, Kau sedang apa di sini?"


"Saka? oh.. Aku sedang menunggu jemputan"


"masih lama?"


"dari pada kamu menunggu lama di sini tanpa kepastian yang jelas, lebih baik pulang bareng aku aja. Aku antar kamu sampai rumah deh"


"gak ah"


"kenapa? Gak pernah naik motor ya?"


"pernah kok"


"terus? Oh, atau jangan jangan kamu takut kalau rambutmu itu terbang dan berantakan? Iya kan?"


"siapa bilang? Aku gak takut berantakan kok"


"kalau begitu tunggu apalagi? ayo cepat naik"


Marsha nampak ragu. Ia masih berdiri dan diam di tempatnya. Hingga Saka mamutuskan untuk menarik pelan tangan Marsha dan memberikannya helm


Dengan sedikit keraguan, Marsha mulai memakai helem dan melangkahkan kakinya diatas motor besar itu.


"sudah siap?"


Lagi lagi Marsha tak menjawab.


"Berpeganglah jika kau tak ingin jatuh" lanjut Saka


Karena tak ada perubahan pergerakan dari Marsha, akhirnya Sakapun memutuskan untuk melajukan motornya.


Awalnya memang ia melajukan motornya dengan perlahan. Namun karena situasi dan kondisi jalan yang nampak sepi, Saka memilih untuk menambahkan kecepatan motornya.


Dan saat motor itu melaju kencang, disitu Saka mulai merasakan keanehan yang terjadi dari diri Marsha. Ia yang semula tak mau berpegangan, kini tangannya mulai melingkar di pinggang Saka. Pegangan tangan itu semakin lama dirasa semakin kencang. Bahkan kini, kepala Marsha telah bersender sempurna di punggung Saka

__ADS_1


Tanpa berniat apapun, Saka menyentuh ujung tangan Marsha yang ada diatas perutnya. Dingin dan Gemetar.


Dari sini dapat Saka simpulkan bahwa Gadis remaja yang saat ini diboncengnya tenfah merasakan ketakutan


Ciiitt...


Suara ban motor yang bergesekan dengan aspal jalanan begitu terdengar jelas. Menandakan motor yang sedang melaju tengah di berhentikan secara paksa


"Sya.."


"Marsha"


Karena tak ada jawaban, Saka melepas paksa tangan Marsha lalu turun dari motornya dengan cepat. Dan setelah turun, barulah ia melihat keadaan Marsha yang aneh dan memprihatinkan. Marsha sangat bergemetar dan yang ia lakukan hanya memejamkan matanya.


"Marsha, kamu kenapa?"


Marsha masih diam. Hingga Saka pun beranjak mendekat dan memeluk tubuh Marsha yang masih berada diatas motor


Saka tak habis pikir, bukannya marah, Marsha malah turun dan dengan cepat membalas pelukan Saka. Marsha bahkan mulai menangis tersedu dipelukan Saka.


"Marsha, kamu kenapa?"


"papa, aku takut pa.. Mama, aku takut ma.." desis Marsha


Saka diam. Ia tahu bahwa Marsha sedang ketakutan berada diatas motornya. Seperti ada trauma tersendiri yang sedang dirasakan. Entah apa itu, Sakapun tak tahu.


"tenanglah, jangan takut, ada aku disini"


Saka terus mengusap punggung Marsha hingga wanita itu merasa sedikit tenang dan baikan


"gimana udah ngerasa baikan?"


"maaf ya, aku memang takut kalau naik motor dengan kecepatan tinggi. Aku trauma"


"trauma kenapa?"


"dulu aku sangat senang sekali naik motor bersama ayah. Tapi semenjak kecelakaan itu terjadi, aku harus kehilangan seorang ayah"


"apa ayahmu meninggal dalam kecelakaan itu?"


"ya, ayahku tak tertolong saat masih berada diruang UGD"


"lalu kamu?"


"aku sempat tak sadarkan diri sebentar, namun tim medis menolongku lebih vepat sehingga aku bisa hidup sampai sekarang"


"oh.. Ya sudah ayo kita pulang" tuntun Saka pada Marsha


"kita mau kemana?"


"nyetop taksi. aku antar kamu pulang naik taksi aja"


"gak perlu Ka. Aku gak papa kok pulang naik motor. Hanya saja, jangan terlalu cepat ya, aku takut"


"kamu yakin?"


"iya, aku sangat yakin"


"baiklah"


Dan akhirnya Saka mengantar Marsha kembali naik motornya dengan kecepatan ringan.


.


.


Nah loh! Gimana tuh dengan Saka dan Vita? Bentar lagi mereka bakalan berada dalam satu tempat yang sama. Kira kira bisa ketemu gak ya?

__ADS_1


.


.


__ADS_2