
Dua tahun sudah Saka dan Vita menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Selama itu pula keduanya saling sayang dan saling melengkapi satu sama lain.
Jika dari keduanya ada yang marah, maka yang satu akan menjadi air untuk meredam api amarah tersebut. Begitupun sebaliknya.
Namun sebuah hubungan bukanlah diukur dari banyaknya umur pasangan, karena itu tidak akan bisa menjadi tolok ukur kedewasaan seseorang.
Seperti yang terjadi dari hubungan sepasang kekasih ini. Karena diantara Vita dan Saka ternyata lebih dewasa Saka. Sakalah yang sering mengalah dari hal apapun. Mulai masalah sepele maupun masalah yang tergolong besar.
"Saka, kau masih betah nungguin Vita? Dia pulangnya sore loh!" tanya kak Devano yang tak lain adalah kakak dari Revita
"betah kok kak" jawab Saka
"sudah ditelfon kan?"
"belum kak"
"kenapa?"
"takut ganggu. Biar saja Saka nunggu sampai Vita pulang"
"oh, ya sudah. Kalau begitu kakak pergi dulu ya"
"iya kak. Hati hati"
Ya, Saka memang sering main kerumah Vita saat pulang sekolah.
Karena kedua orang tuanya sudah meninggal, Devano membawa Vita berpindah rumah yang berjarak tak begitu jauh dengan perusahaan dan universitas. Dan itu membuat Vita dan Saka jadi tak bertetangga lagi.
Vita tinggal berdua bersama kakak laki lakinya. Ada satu pembantu yang bekerja mulai jam tujuh hingga jam tiga. Itu semua karena Vita tidak suka jika ada orang lain dirumahnya saat malam hari.
Hampir seharian Saka menunggu. Bosan? Tentu saja. Namun ia bisa mengatasinya dengan melakukan sesuatu. Mulai dari makan, minum, main game, bahkan sampai tertidur di sofa. Dan semua itu ia lewati tanpa menggerutu ataupun marah sedikitpun. (Benar benar sabar ya bestie..)
Ketika waktu sudah mulai petang, barulah Vita sampai dirumah. Setelah masuk, Vita langsung mendekati sofa ruang santai. Menatap wajah imut kekasihnya yang masih tertidur lelap.
Maafkan aku Saka. Benar kata kak Vano, ternyata kau memang sabar menghadapiku
Ya, sebenarnya Vita bukan tidak tau kalau Saka main kerumahnya. Meskipun Saka tidak memberitahunya, tapi kak Vano sudah memberikan kabar padanya sejak siang tadi bahwa ada Saka yang menunggu dirumah.
Namun ia tak peduli. Ia malah lebih memilih berjalan jalan dengan temam temannya keliling Mall. Entah mengapa hari ini dia sedang malas menemui Saka. Bahkan ia berharap kalau Saka sudah pergi saat ia pulang nanti.
"Vita, kamu sudah pulang?" ucap saka dengan suara khas serak orang bangun tidur
"iya"
Saka melirik jam "jam enam?"
Vita hanya mengangguk
"kenapa sampai selarut ini? Kamu pasti capek ya? Sini aku pijitin"
Saka lantas mendudukkan Vita. Meraih kedua kakinya dan menaruhnya di atas meja kecil yang ada di depannya. Kemudian tanpa risih, Saka langsung memijit kaki kekasihnya itu secara bergantian
Sementara Vita, ia hanya tersenyum sembari terus menatap wajah imut Saka. Enatah mengapa hanya mendapatkan perhatian kecil seperti ini membuat hatinya kembali tenang.
"Saka"
"hmm.."
"kamu sweet banget deh"
"dari dulu kali"
"kamu juga baik"
"baru tau?"
__ADS_1
"tapi ada sayangnya sih"
"apa?"
"sayang masih bocah"
"biarin aja masih bocah. Salah sendiri ngapain mau sama bocah"
"adanya sih!"
Saka memencet kaki Vita sedikit keras hingga membuat wanitanya itu menjerit kesakitan
"aw! Aw! Sakit"
"nah, rasain ini"
"ampun! Ampun! Udah dong sayang"
Deg
Saka menghentikan pijatannya seketika itu juga.
"kamu panggil apa tadi?"
"apa?" Vita nampak malu malu hingga rona wajahnya berubah merah
"pendengaranku masih aman loh Vit.."
"iya sayang"
Byuh... Bak tersiram air dingin. Hanya sebuah panggilan yang sederhana dari Vita ternyata mampu menyejukkan hati Saka
"ah, manisnya" Saka mengusap pipi Vita sekilas "tapi akan lebih manis kalau kau memberiku sebuah imbalan"
"atas apa?"
"ah baiklah. Aku akan memberikanmu imbalan yang manis"
"apa?"
Vita tak menjawab. Ia malah mendekatkan wajahnya ke depan wajah Saka. Semakin dekat. Hingga Saka pun reflek memejamkan matanya. Dan saat mata itu terpejam, ia dapat merasakan hembusan nafas Vita tengah menyapu sisi telinganya.
"mau dibuatin teh manis gak?" Bisik Vita tepat di telinga Saka. Setelah itu ia pun berlari menuju dapur
Sementara Saka, ia lantas membuka matanya sembari tersenyum lucu. Malu? sedikit sih.. Sepertinya ia terkesan ngarep banget pengen dicium. Hahaha.. Maklumlah. Sudah dua tahun pacaran, sekalipun ia tak pernah mendapatkan ciuman dari pacarnya
"pakai es ya?!" teriak Saka ketika masih melihat Vita lari
Beberapa menit kemudian, Vita kembali ke sofa dengan membawa dua gelas besar es teh manis.
"silahkan"
"terimakasih" "hmmm.. Minumannya manis banget sih kayak__"
"minumannya manis banget kayak yang buat. Gitu kan? Hh.. Gombal"
"idih.. Pede banget! Siapa yang mau bilang gitu? Orang aku tu mau bilang kalau minumannya tuh manis banget kayak yang lagi minum. Gitu kok"
"eleh ngeless mulu"
"hahaha.. Ngarep banget pengen di bilang manis ya?"
"SAKA!! Au ah! Nyebelin!" seru Vita dengan nada yang seolah marah dan memunggungi Saka
"jangan marah dong! Bercanda tahu"
__ADS_1
"Iya tapi bercandanya nggak lucu"
"iya sorry sorry.. Oh ya, tadi HP kamu bunyi tuh!"
"siapa?"
"coba cek sendiri"
Setelah itu kita mengambil ponselnya dan melihat panggilan tak terjawab itu
"siapa?" tanya Saka penasaran
"nggak tahu, nomor baru"
"Coba aja telepon balik, siapa tahu penting"
"enggak ah males"
"ya udah"
Saat Saka tengah asik dengan ponselnya, tiba tiba ponsel di tangan Vita kembali bergetar. Saat ia melihat ponselnya, ternyata bukan sebuah panggilan, tapi hanya pesan whatsapp.
"Nomot tadi? Siapa sih?" Batin Vita
📩 Hai Vita apa kabar? ini aku Daniel
Deg
Vita yang baru saja mengeluarkan ponsel segera menutup kembali ponselnya dan memasukkannya ke kantong celana. Entah mengapa Vita tidak ingin jika Saka mengetahui pesan tersebut.
Mungkinkah masih ada rasa dari Vita untuk Danil?
Ataukah Vita masih mengharapkan Danil?
Entahlah, semua pertanyaan itu hanya Vita yang bisa menjawabnya. Tapi yang sudah bisa Author pastikan, ada sedikit rasa bahagia dalam hatinya ketika mendapat pesan dari Danil. Mungkin inilah saatnya Vita mengetahui alasan Danil meninggalkannya.
Ya, Vita ingin tau kepastian alasan dari mantan kekasihnya yan8g tega memutuskan sebelah pihal itu.
"Vita, kamu kenapa?" tanya Saka saat melihat perubahan ekspresi di wajah kekasihnya
Vita tak menjawab. Pandangannya lurus kedepan namun tatapan matanya terlihat kosong.
"Vit.." panggil Saka lagi
Vita masih tak bergeming
"VITA!!" teriak Saka sembari mengguncang pelang lengan Vita
"eh! Iya, ada apa?"
"kenapa kamu malah balik tanya? harusnya tuh aku yang nanya. Kenapa kamu tegang sekali? Memangnya siapa yang telfon tadi?"
"nggak tau. Mmm.. Aku hanya lelah. Bisakah kau pulang saja? Aku ingin istirahat"
"baiklah. Aku pulang. Tidur yang nyenyak ya. I love you"
"terimakasih" Vita tersenyum mengiringi kepergian Saka hingga menghilang di balik pintu rumahnya
drtt.. drtt..
📩 Vit, bisakah kita bertemu?
.
.
__ADS_1
Nah loh? Kira kira Vita mau nemuin Danil gak ya? 🤔