
Vita dan Saka duduk bersebelahan. Mereka sama-sama diam. Satu minggu tak bertemu membuat pertemuan kembali mereka terasa sedikit canggung.
"Sebentar ya, aku buat minum dulu"
"tidak usah, aku tidak haus. Duduklah"
Vita yang baru saja berdiri dan hendak melangkah ke dapur mengurungkan niatnya untuk membuat minum dan kembali duduk di samping Saka
"aku merindukanmu" bisik Saka tepat di telinga Vita yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang
Mendapati Vita yang terdiam saja membuat Saka kembali membelai mesra pipi kekasihnya itu dan berkata "hey, apa kau tak merindukanku?"
Diperlakukan sedemikian rupa manisnya membuat Vita begitu terpesona. Dan jujur, jauh dari lubuk hatinya, ia merasa bersalah dan merasakan penyesalan tersendiri karena telah bertemu dengan Danil tanpa sepengetahuan Saka.
Ingin sekali Vita berterus terang dan jujur pada Saka, namun ia tak seberani itu. Vita takut jika Saka akan marah dan tak memperbolehkannya bertemu dengan Danil. Karena di satu sisi, Vita masih sangat penasaran dengan alasan Danil.
"Vit...."
"iya"
"kau kenapa?"
"eh! aku nggak papa kok"
"apakah ada masalah?"
"tidak"
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
"tidak"
"lalu?"
"aku hanya baru menyadari saja kalau satu minggu tanpamu aku begitu hampa. Aku tak bisa menjalani hari hariku dengan sebagaimana mestinya. Dan aku baru sadar bahwa aku begitu merindukanmu Saka"
"Benarkah?"
"apa kau tak percaya?"
"kalau memang kamu merindukanku, Kenapa kau tak memelukku?" ucap Saka sembari merentangkan kedua tangannya "sini!"
Tanpa pikir panjang, Vita segera memeluk erat kekasih kecilnya itu. Sebenarnya ia memang sangat merindukan Saka akhir-akhir ini
"oh ya, katanya ada yang mau kamu tanyakan tadi. Mau tanya apa?" tanya Saka sembari mengurai pelukannya
"Oh itu, mm... tidak jadi" Vita memilih untuk diam dan tak mempertanyakan lagi hal itu. Ia tak akan bertanya pada Saka tentang hubungannya dengan Marsha untuk sekarang ini
Biarlah dia menyimpan pertanyaan dan rasa penasarannya tentang Saka dan Marsha. Karena mau bagaimanapun, Vita tak boleh egois. Apa yang ia lakukan Saka bersama Marsha tidaklah sebanding dengan apa yang pernah ia lakukan pada Danil kemarin.
Tenanglah Vita kamu tidak berselingkuh kok. Kamu hanya memperjuangkan hak atas penjelasan Danil. Ya, hanya itu. Tidak lebih.
Hanya sugesti itu yang selalu Vita terapkan dalam lubuk hatinya saat ia merasa bersalah pada Saka
__ADS_1
Dan semenjak malam itu, hubungan keduanya kembali membaik.
Hingga pada suatu malam, Devano sang kakak pernah memergoki Vita di halaman belakang sedang berbincang dengan Daniel lewat sambungan telepon
"Vit, apa kau berhubungan lagi dengan Daniel?" tanya Devano
Deg
Vita segera mematikan ponselnya dan menggenggam erat ponsel miliknya itu
"jawab Vit! Apa kau berhubungan lagi dengan Danil?" ulang Vano
"tidak kak. Aku hanya ingin tahu saja alasan Danil meninggalkanku dulu. Sudah itu saja"
"setelah itu?apa yang akan kamu lakukan jika sudah tau alasannya?"
Vita terdiam
"apa kau akan kembali lagi dengan Danil dan meninggalkan Saka?"
Deg
Lagi lagi Vita terdiam. Ia tak pernah berfikir sampai sejauh itu. Dan ia pun tak tahu apa yang akan ia lakukan jika sudah mengetahui alasan Danil.
"kakak tidak mau ikut campur dengan kisah asmaramu itu. Semua pilihan ada padamu. Tapi kakak hanya bisa mengingatkan padamu, Jika kau tak bisa bersamanya, setidaknya, jagalah perasaannya"
Setelah mengatakan itu, Devano pergi meninggalkan Vita seorang diri. Merenung, Terbengong, hanya itu yang ia lakukan saat ini.
...****************...
Vita sudah bersiap dan berdandan cantik. Malam ini ia akan menghadiri sebuah acara pesta ulang tahun di sebuah hotel mewah di kota ini. Vita memilih untuk memakai dres indah berwarna peach dengan model lengan yang terbuka. Hal itu tentu semakin menambah kesan sempurna untuk penampilannya malam ini.
"Saka? Kok tumben bawa mobil?" tanya Vita saat mendapati Saka menjemputnya dengan sebuah mobil mewah
"tentu saja aku bawa mobil. Bukankah kamu sedang memakai dres? Tidak lucu kan kalau kamu berpenampilan seperti ini naik motor?"
Vita melihat penampilannya sendiri dari atas hingga bawah "kau benar juga ya"
"tentu saja. Lagipula mana mungkin aku membiarkan penampilan wanita tercantikku ini rusak hanya karena terkena angin saat naik motor?"
"kamu tuh bisa aja deh! Pinter banget ngerayunya. Belajar dari mana?"
"mana ada belajar merayu. Gak ada ya.. Itu adalah murni dari lubuk hatiku yang terdalam" jawab Saka sembari menaik turunkan kedua alisnya
"idih lebay.. Jangan jangan kamu sering giniin cewek cewek di sekolah kamu ya? Makanya kamu bisa populer? iya kan? Hayo ngaku..." Vita mencubit hidung Saka gemas
"beeuhh.. Jangan asal nuduh ya. Ingat! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan tau?"
"ya udah, kalau gitu aku bunuh kamu aja biar gak ada yang bisa milikin kamu selain aku"
"ah so sweeet banget pacarku ini" Saka bergantian mencubit gemas pipi Vita
"iih.. Jangan gitu dong! Makeup aku ilang nanti"
__ADS_1
"ciye.. Yang udah pinter makeup. Dulu aja anti sama yang namanya bedak"
"itu kan dulu. Sekarang udah beda dong. Lupa ya siapa yang jadiin aku kayak gini?" "kamu kan?"
"ah iya, aku lupa"
"yaudah, ayo berangkat. Tar keburu di mulai acaranya"
"siap tuan putri"
Akhirnya saka dan Vita pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanannya menuju hotel yang tertera di alamat kartu undangan milik Saka.
Ya, sebenarnya memang Saka yang mendapatkan undangan ulang tahun itu. Dan Vita hanya di minta untuk mendampinginya datang ke acara tersebut.
Dan tak berapa lama kemudian sampailah mereka di sebuah hotel mewah yang dituju. Segera keduanya berjalan menuju halaman samping hotel tempat acara berlangsung.
Jangan tanyakan bagaimana mesranya mereka. Bagi sepasang kekasih yang melihatnya pasti akan terasa iri. Bagaimana tidak? karena sejak awal mereka turun dari mobil hingga sampai ke dalam lokasi acara, tangan mereka tak henti-hentinya saling berpegang dan bergenggam erat. Bahkan sesekali Vita juga memeluk lengan Saka dengan mesra.
"Hai Marsha, Selamat ulang tahun" ucap Saka sembari menjabat tangan sang pemilik acara
Deg
Jantung Vita tiba-tiba berhenti berdetak saat mengetahui siapa yang sedang berulang tahun malam ini.
Marsha?
Oh tidak! Bagaimana ini?
Pasti ada Daniel di sini?
Bagaimana kalau Saka melihat Daniel?
Apa yang harus aku lakukan?
Vita tengah bergelut dengan pemikirannya, dengan ketakutannya, dengan kehawatirannya, dan segala kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi.
"Terimakasih Saka. Makasih ya udah mau datang" "mm.. Oh ya, ini siapa?" tanya Marsha sembari menatap kearah Vita
"perkenalkan, dia Vita, kekasihku"
"oh.. Hai, aku Marsha. Salam kenal" Marsha menjabat tangan Vita
"Vvvita" sahut Vita sembari menerima jabatan tangan Marsha
Vita bingung apa yang terjadi dengan Marsha. Bukankah Marsha sudah mengenalnya sejak dulu? Lalu, mengapa di depan Saka Marsha berpura pura tidak memgenalinya sama sekali?
Beginilah kira kira penampilan Saka dan Vita.
.
.
__ADS_1
.