
"Rumah kamu besar ya" ucap Vita yang di ajak Danil berkeliling halaman belakang rumahnya
"rumah mama"
"kau bisa aja" "oh ya, dimana Catty?"
"tuh"
Danil mengajak Vita ke ujung ruang dekat kolam renang. Ia mengeluarkan seekor kucing dari kandang dan memberikannya pada vita
"benarkah ini Catty yang dulu?"
"ya"
"wah.. Dia sangat gemuk dan menggemaskan"
Akhirnya mereka berdua begitu asik bermain dengan Catty hingga lupa jika Vita hanya ingin mampir sebentar saja.
"Danil, aku harus pulang sekarang"
"apakah tidak bisa sebentar lagi?"
"lain waktu aku akan main kesini lagi"
"baiklah, aku akan mengantarmu"
"tidak perlu, aku sudah memesan taxi dan sekarang sudah menuju kesini"
"ya sudah, ayo aku antar ke depan"
Vita mengangguk dan berjalan keluar mengikuti Danil. Namun langkahnya terhenti kala ia melewati sebuah ruangan aneh di samping paviliun yang mereka lewati itu.
"Danil, ini ruangan apa?"
"bukan ruangan apa-apa kok"
"oh.. Tapi Baunya kok aneh ya"
"Aneh gimana maksudnya ?"
"kayak bau-bau obat gitu deh"
"jangan ngada-ngada kamu. Ini tuh hanya ruangan biasa. orang aku yang tiap hari disini aja nggak bau apa-apa kok. Hidung kamu aja kali yang lagi gak sehat"
"mungkin"
"Ya sudah ayo nanti keburu taksi yang kamu pesen sampai lagi. Kan gak enak nunggu terlalu lama"
"kau benar, ayo!"
Vita pun tak ambil pusing dengan ruangan itu. Ia segera keluar. Sedangkan Danil, entah memgapa saat Vita menanyakan tentang ruangan itu hatinya gelisah bahkan cenderung ke takut.
Ya sepertinya Daniel takut jika Vita mengetahui tentang ruangan yang ia gunakan seharian di setiap weekend itu.
Dan khusus untuk weekend ini, Danil tidak akan menjalani weekend seperti biasa karena di rumah ini akan ada cara ulang tahun adiknya
...****************...
"Ini rumah kamu Sya?"
"iya, Ayo masuk"
"lain kali aja ya, ini sudah sore"
"ya kan memang kita pulangnya sore. Kalo pagi itu berarti berangkat"
"kau benar. Sejak kapan bisa mengolah kata?"
"sejak kenal denganmu"
"dihh.. "
"mau mampir gak nih?"
"enggak ah. Kapan kapan aja aku main"
"baiklah"
"kalau begitu aku pulang ya"
"iya hati hati"
Saka kembali memakai helmnya dan mulai menstart motor besarnya
"Sya, bukannya mamamu belum pulang ya?"
"ya, emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Emangnya kamu mau pergi habis ini?"
"enggak kok. Udah sore mau pergi kemana"
"nah itu? Kenapa pesan taksi?"
"iya ya..? Mm.. Atau mungkin kakakku kali yang pesen taksi"
"kamu punya kakak?"
"punya"
"cewek apa cowok?"
"cowok"
"Oh.. Kirain anak tunggal, Pantesan"
"pantesan kenapa?"
"pantesan manja"
"Siapa bilang aku manja?"
"Nah itu? kemana mana dianterin sopir"
"biarin. Suka suka aku dong"
"ya udah"
"Ya udah sana pergi! ngomong sama kamu bikin darah tinggi aku semakin naik tau gak"
"okeh.. Bye"
Marsha masih berdiri di depan gerbang rumahnya sembari tersenyum senyum sendiri menatap kepergian laki laki yang baru saja mengantarkannya pulang
Dan saat Marsha berbalik, ia mendapati kakanya juga sudah berdiri di depan gerbang bersama dengan seorang wanita.
Ya, Marsha sangat tahu siapa wanita itu. Wanita yang memiliki masa lalu dengan kakaknya. Dan yang membuat kakaknya itu merasa galau berlarut larut. Bahkan hingga beberapa tahun terakhir.
"dek, kamu kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Danil
"gak papa kok kak"
"kamu pulangnya gimana tadi? Kakak gak sempet jemput. Kakak juga lupa kasih tau kamu kalau mobil yang biasa jemput kamu sedang mogok. Dan sekarang masih ada di bengkel. Maaf ya dek"
"beneran gak papa?"
"tumben kamu gak marah?"
"kenapa harus marah? Orang akunya lagi gak mood buat marah-marah kok"
"baguslah. Terus tadi kamu pulangnya dianter siapa?"
"dianterin temen"
"temen kamu? Mana?"
"tuh! Dia udah pergi"
Reflek Danil dan Vita mengikuti arah pandang Marsha. Dan dari sana masih terlihat sosok laki laki yang mengendarai motornya pelan dengan memakai jaket levis dan menggendong tas di punggungnya. Dari celana abu abu yang di pakainya, terlihat jelas menandakan bahwa lali laki itu adalah anak SMA.
Deg
SAKA???
"apa laki laki itu yang mengantarkanmu pulang?" tanya Vita
"iya. Kenapa kak?"
"gak papa kok?"
"apa kakak mengenalnya?" jawab Marsha memicingkan matanya
"oh tidak. Aku hanya bertanya saja"
"oh.. Kirain kenal"
"Siapa dia? Tumben adek kakak mau dianter sama cowok?" sahut Danil sembari merangkul pundak adikny dan berniat menggodanya
"temen kak"
"temen apa demen hayo?"
"dih.. Apaan sih kakak ini? orang kita cuma temen doang kok. Lagi pula siapa sih yang mau nunggu di depan gerbang sekolah sendirian? Giliran ada yang nawarin mau nganter pulang ya otomatis gak nolak dong kak. Gimana sih kakak ini! Ya kan kak Vita?"
"eh? I.. Iya" jawab Vita spontan
__ADS_1
"tuh kan! Ya udah, aku masuk dulu" Marsha meninggalkan kedua orang yang masih terbengong di sana
"Vit, menurutmu, ada yang aneh gak sih sama sikap Marsha?" tanya Danil
"aneh gimana? Menurutku biasa saja kok"
"benarkah?"
"ya"
"mungkin perasaanku saja kali ya"
"mungkin.." "oh ya, aku pulang dulu ya"
"iya. Kamu hati hati ya"
Vita tersenyum dan masuk ke dalam kursi penumpang.
"Pak, hati hati ya bawa mobilnya. Antarkan wanita spesial ini sampai tujuan dengan selamat" pesan danil pada sang supir yang hendak melajukan mobilnya
"iya tuan"
Dan taksi itupun berlalu meninggalkan rumah megah itu.
Sementara itu, Vita segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Saka.
📩Saka, kerumahku sekarang bisa?
📩bisa kok
📩baiklah, aku tunggu ya
📩oke
Lima belas menit kemudian sampailah taksi itu ke tempat tujuannya.
"ini pak" ucap Vita sembari meyodorkan uang pada sang supir
"tidak perlu nona, argonya sudah di bayar sama masnya yang tadi. Ini malah masih ada kembaliannya" jawab supir itu sembari memberikan uang kembaliannya pada Vita
"eh.. Benarkah? Ya sudah, kembaliannya untuk bapak aja"
"yakin nona? Ini sangat banyak loh"
"iya gak papa. Anggap saja ini rejeki untuk bapak dan anak istri"
"terimakasih nona. Terimakasih"
"sama sama pak"
Danil.. Danil.. Ternyata kamu masih sama seperti yang dulu. Suka ngasih kejutan tak terduga
Setelah taksi berlalu, Vita masuk ke rumahnya. Dibukanya pintu gerbang yang ternyata tidak tertutup rapat
Deg
Vita berjalan pelan dan melangkah kosong. Matanya tak henti menatap laki laki yang sudah satu minggu lebih tidak di temuinya. Laki laki yang baru saja ia kirimi pesan singkat itu ternyata sudah duduk santai di teras rumahnya.
"Saka? Sejak kapan kamu ada disini?"
"sejak tadi. Sejak sebelum kamu mengirimkan pesan padaku"
"oh, maaf.. Aku tidak tahu"
"gimana kamu mau tau kalau ternyata kamu tidak ada di rumah"
Vita terdiam
"katanya mau menungguku? Kenapa malah aku yang menunggumu?" lanjut Saka "darimana?"
"aku abis dari rumah temen"
"oh.."
"ya sudah, ayo masuk. Ada yang mau aku tanyakan padamu"
"apa?" tanya Saka penasaran
"didalam saja"
"baiklah"
.
.
.
__ADS_1