Bertani Di Akhir Dunia

Bertani Di Akhir Dunia
18


__ADS_3

  ♪\(*^▽^*)/\(*^▽^*)/


Devan melihat semua kegiatan yang mereka lakukan dengan senyum dibibirnya. Wanita itu berdiri menata rak diteras depan rumah. Menyuruh gadis kecil mengambil tanah untuk mengisi pot. Menyuruh pria remaja itu untuk mengatur hal lain dengan senang. Devan merasa bahwa itu seperti tidak tersentuh dengan kotornya dunia sekarang.


Wanita itu tersenyum dengan sangat cantik. Menerima pot pot kecil dari tangan gadis kecil dan menatanya dirak. Gadis kecil itu berlari bolak-balik tapi tidak merasa lelah sama sekali. Sangat cantik, dia semakin menyukainya. Dia ingin memenjarakannya didalam villanya dan melarangnya untuk keluar. Dan melarangnya untuk menemui banyak orang.


Hanya boleh dilihat olehnya saja. Tapi semua pikiran ini tidak mungkin. Apalagi melihat bahwa wanitanya bukan tipe wanita biasa yang hanya tahu bagaimana  caranya berlindung dibawah sayap pria saja. Menangis ketika takut, takut ketika membuat kesalahan, dan berkhianat ketika menemukan sosok pelindung yang lebih kuat.


Wanitanya memiliki sayapnya sendiri. Tidak bisa dipenjara karena itu akan membuatnya layu. Tidak secantik ini. Dan tidak akan menjadi indah lagi . Lebih baik menjaganya seperti. Fanya merasa bahwa ada seseorang yang sedang melihatnya dan segera melihat kearah lantai 2 villa.


Tapi Fanya tidak melihat siapapun. Mungkin hanya perasaannya saja. Dan Fanya kembali fokus menata pot. Fanya segera mengambil air spiritual dan menyiramkannya ketanah didalam pot.


Tunggu sampai besok sebelum menanami pot-pot kecil ini. Setelah dirasa baik, Fanya segera menyuruh kedua anak kecil untuk pergi membersihkan diri. Dan dirinya pergi kedapur untuk masak.


Fanya sedikit penasaran dengan pemilik villa ini. Entah kenapa dia ingin melihatnya. Oh mungkin pria tua atau pria muda yang tampan atau sebaliknya wanita. Setelah menyiapkan makan malam, Fanya segera pergi ke Kamar untuk mandi. Harum masakan yang berasal dari rumah Fanya menarik banyak minat orang yang berada didekat sana.


"Bos nona sepertinya sedang memasak. Rasanya sangat enak " ucap Iris


"sepertinya begitu. Bos mari kita pergi kesana bos " ucap Teo


"jangan ganggu mereka, kembali bekerja" ucap Devan


Sebenarnya Devan juga tertarik untuk datang tapi tidak mungkin datang secara tiba-tiba. Kedua anak buah itu menghela nafas. Sangat jarang bisa makan enak. Meskipun sumber makanan masih ada. Tapi selama 1 bulan lebih ini jumlah makanan segar seperti sayur dan buah segar mulai berkurang.

__ADS_1


Dan tanah hitam sama sekali tidak bisa subur. Mari kita tunggu hasil dari percobaan dari nona Fanya.


"Boss barang milik kita sudah mulai dikumpulkan. Dan sekarang hanya tinggal membawa barang itu masuk kedalam pangkalan." ucap Iris kembali serius


"Tapi bos jika kita membawanya sekarang dengan mobil yang terjadi adalah pangkalan pasti akan memotong barang milik kita. Apalagi senjata didalam gudang milik kita " ucap Teo


"Bos bagaimana kalau kita bekerja sama dengan miss. Bukannya bos tahu bahwa miss memiliki kemampuan ruang. Juga pangkalan belum memiliki alat untuk mendeteksi ruang. Sehingga kita bisa memanfaatkan kesempatan ini " ucap Han


"Itu ide yang bagus. Jika bos setuju aku akan mencoba untuk berbicara dengan miss bagaimana " tanya Teo


"Tidak. Besok panggil dia untuk bertemu denganku " jawab Devan


"Bos ingin mengatakan sendiri. Baik bos" balas teo


Untuk sayur Fanya telah memilihnya. Fanya segera memutuskan untuk menanam benih buah apel dan jambu. Setelah mengambil benih, Fanya berjalan menuju rak bagian bahan makanan. Dia mengambil beberapa manisan buah, coklat, susu, kopi, teh, gula pasir, dan permen. Semua barang dimasukan kedalam tas ranjang.


Setelah itu mengambil beberapa pakaian hangat dan selimut untuk diberikan kepada kedua anak kecil itu. Juga mengambil air mineral 10 box. Setelah mengambil semuanya, Fanya segera naik keatas, berjalan menuju sumur mata air dan menimba air. Air dimasukan kedalam galon air besar hingga penuh. Lalu membawa semua barang itu keluar dari ruangannya.


Fanya segera membawa barang itu turun. Ketika dia turun, kedua anak itu telah menunggunya ditempat makan. Kedua anak itu melihat Fanya telah datang dengan membawa banyak barang dan mereka segera membantu.


"Kakak semua barang ini untuk apa " tanya Tomoe


"Makanan ini, selimut dan pakaian ini semua untuk kalian. Tomoe dan Tomas kalian bisa membaginya dan menaruh didalam kamar kalian. Ingat jika lapar makan saja " jawab Fanya

__ADS_1


"Kakak terimakasih " ucap Tomas dan Tomoe


Tomas dan Tomoe segera memilih barang yang mereka suka, Fanya mengambil susu bubuk, teh, kopi, dan gula pasir dan menaruhnya dilemari dapur. Dan fanya segera menaruh beberapa box mineral dilemari dapur juga. Dan menaruh banyak minuman berbagai rasa kedalam lemari pendingin meskipun lemari pendingin tidak lagi berfungsi tapi masih memiliki kegunaan.


Setelah melihat bahwa dapur telah terisi penuh Fanya merasa puas. Dia berjalan menuju ke tas ranjang dan mengambil benih dan menaruhnya kedalam toples kaca. Dan Fanya segera menaruh galon berisi mata air dibawah meja dapur.


Fanya mengambil beberapa botol air mata air dan berjalan keluar. Dia segera menyiram tanah hingga penuh dan basah. Gelang menganalisis bahwa mata air telah mulai bekerja. Fanya melihat bahwa tanah masih hitam tidak berubah sama sekali. Mungkin jika tidak ada pemberitahuan dari gelang, Fanya mungkin tidak akan pernah tahu jika dia tidak mencobanya sendiri.


Setelah merasa puas, Fanya segera kembali masuk. Hari sudah gelap, dan dimana-mana terlihat sangat gelap. Karena dalam beberapa hari kemarin listrik mulai padam dan selanjutnya tidak akan ada pencahayaan.


Maka dari itu, Fanya mengeluarkan lampu tangan yang dapat menyala dengan baterai. Besok mungkin dia akan memasang panel surya untuk membuat arus listrik untuk menerangi rumahnya. Ada juga mesin generator sehingga Fanya tidak lagi perlu bersusah payah untuk  takut dengan kegelapan.


Rumah kecil ini menyala dengan terang. Didalam rumah, tiga orang makan malam dengan sangat bahagia. Tomoe berbicara dengan sangat ceria, Tomas membalas perkataan adiknya. Dan dia hanya merasa bahwa ini hiburan untuknya.


Setelah selesai makan malam, Fanya menyuruh mereka untuk segera kembali kedalam kamarnya. Untuk segera tidur, dan mereka harus berlatih kembali. Kedua anak itu pergi dengan sangat patuh. Melihat bahwa mereka telah pergi tidur, Fanya segera kembali kedalam kamarnya. Dia berjalan menuju balkon. Dan melihat bulan berdarah bersinar merah dengan terang.


Fanya merasa bahwa dia tidak sedang berada didunia akhir tapi didunia vampire. Karena bulan merah juga sering digunakan dalam film vampire.


Ketika asik melihat pemandangan ini, Fanya sekali lagi merasa bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Fanya menjadi waspada dan segera melihat kearah rumah besar. Disana tepat dibalkon ada seorang pria yang berdiri dengan tegak. Fanya tidak bisa melihat seperti apa wajahnya. Tapi dia tahu bahwa ini adalah pria yang sangat tampan.


Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat. Fanya menampar pipinya sendiri untuk membantunya kembali sadar. Dia dengan panik segera masuk kedalam kamarnya. Yang tidak dia ketahui adalah kedua pipinya sudah memerah malu. Ketika dia telah masuk kedalam kamar, dia segera menjatuhkan tubunya keranjang. Fanya memegang jantungnya yang masih setia berdetak. Dia semakin menjadi malu dan dia bergerak dengan kasar diatas ranjang.


Next.......

__ADS_1


__ADS_2