Black Word

Black Word
Lexi


__ADS_3

Lexi keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.


BRAK!!!


Lexi menabrak seorang pelayan yang sedang membawakan nampan berisi makanan untuknya sarapan. Seluruh isi nampan berantakan di lantai.


"Maaf, Tuan Putri." Pelayan wanita separuh baya menunduk dengan badan yang bergetar. Pasalnya, bukan hanya dia. Bahkan hampir seluruh penghuni istana takut kepada Lexi, termasuk kedua orang tuanya.


"Dasar bodoh!" pekik Lexi sarkas.


"Ma-maaf, Tuan Putri. Sa-saya tidak se-sengaja," ucap pelayan terbata-bata.


Lexi semakin meradang, ia memang putri kerajaan. Tapi, tidak mencerminkan sedikit pun sikap seperti seorang putri kerajaan pada umumnya. Ia memiliki sikap yang sangat angkuh.


Anne yang mendengar keributan dari kamar putri semata wayangnya dan langsung menghampiri sumber keributan tersebut.


"Ada apa ini ribut sekali." Anne berjalan cepat menghampiri putrinya.


"Ini pelayan bodoh menabrak dan menumpahkan semua makanannya ke bajuku." Lexi menunjuk sarkas kepada pelayan yang sedari tadi menunduk ketakutan.


"Ma-maafkan saya, Ibunda Ratu." Pelayan tersebut semakin ketakutan.


Anne merangkul pundak Lexi. "Sudah, Sayang. Dia tidak sengaja. Kita ganti baju lagi saja, yuk!" Anne melirik sekilas kepada pelayan. "Tolong bersihkan yang kotor ini ya." Lalu, mengajak putrinya masuk ke dalam kamar.


"Nah, begini kau lebih cantik, Sayang. Gaun ini sangat anggun dikenakan olehmu. Bersikaplah layaknya putri kerajaan." Anne mengecup kening Lexi.


"Emangnya aku tidak pantas menjadi putri kerajaan?" tanya Lexi sinis kepada Ibundanya.


"Sangat pantas. Maka dari itu, Ibu ingin kau menjadi gadis yang lebih baik lagi dalam bersikap agar bisa menjadi penerus tahta Kerajaan Ayah." Anne berusaha menjaga agar mood putri semata wayangnya ini bisa terus bagus, agar Lexi bisa berpikir dengan baik.


Lexi menggembungkan pipinya karena terlalu kesal pada nasihat ibunya. Selain angkuh, Lexi juga keras kepala. Tidak ada satu pun yang bisa menasehatinya.


Anne dan Lexi berjalan keluar dari kamarnya. Anne menatap heran kepada pelayan yang tadi seharusnya membersihkan makanan yang berantakan di lantai.


"Kenapa masih berantakan juga?" tanya Anne dengan mengernyitkan kening.


"Ma-maaf, Ibunda Ratu. Sa-saya ti-tidak tahu bagaimana ca-cara membersihkan ini." Tampak raut kebingungan pada pelayan wanita tersebut.


Lexi menarik napasnya sesaat sebelum ia berkata. Anne segera menutup mulut Lexi agar tidak berkata sembarangan lagi. "Sudah, Sayang. Dijaga ya." Anne hanya bisa menenangkan Lexi.


Benar sekali, pelayan ini menjadi tidak tahu bagaimana caranya membersihkan yang seharusnya sudah menjadi pekerjaan sehari-harinya. Ia menjadi tidak tahu harus bagaimana. Benar saja apa yang dikatakan Lexi tadi. Begitu mujarabnya ucapan Lexi.


"Panggil saja pelayan yang lain." Anne memerintahkan pelayan tadi untuk memanggil temannya.


Pelayan tersebut tampak bingung, ia berlari ke arah kamar Anne.


"Hei, bukan di sana." Anne memanggil pelayan tadi. "Dapur itu di sana." Anne menunjuk ke arah berlawanan dari tempat pelayan itu berada.

__ADS_1


Pelayan tersebut berlari.


"Kau lihat, Sayang?" Anne menatap sedih Lexi. "Kerajaan ini bisa hancur kalau kau terus-terus begini. Ini bukan kali pertama kalinya, Sayang. Ibu mohon perbaiki ya." Anne berusaha menasehati putrinya kembali.


"Tapi, Ibu ...." Anne meletakkan jari telunjuknya pada ujung bibir putrinya.


"Jangan lagi buat para pelayan kerajaan jadi seperti ini. Ini bukan kali pertamanya, kan?" tanya Anne.


Lexi bukannya mendengarkan, malah meninggalkan Anne dan kembali ke kamarnya.


BRAK!!!


Lexi membanting pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Ia mengurung dirinya. Berlari ke kasur dan menenggelamkan wajahnya pada bantal dan menangis.


"Kenapa semua orang tidak bisa menerimaku." Lexi memukul-mukul kasur berukuran besar yang di dominasi warna putih.


Di luar kamar, tampak Anne berusaha membujuk putrinya. Yang Anne takutkan, jika Lexi mengatakan sumpah serapahnya di dalam kamar yang akan berakibat buruk pada keadaan di sekitar. Ia ingat betul saat Lexi pernah seperti ini dan entah apa yang diucapkan oleh Lexi dari kamarnya sampai ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras dan langit begitu gelap. Keadaan saat itu sangat mencekam ditambah dengan adanya petir dan gemuruh yang bersahut-sahutan tanpa henti.


Perch mendengar suara istrinya berteriak memanggil Lexi. Perch segera menghampiri Anne yang menggedor-gedor pintu kamar Lexi.


"Ibu, mengapa kau berteriak-teriak sedari tadi?" tanya Perch.


"Ayah, Lexi ... ia ... sedang marah di dalam sana." Anne menghambur ke dalam pelukan suaminya.


"Apalagi yang telah anak itu perbuat?" Perch tampak emosi ketika tahu kalau putrinya selalu membuat kekacauan.


"Ada apa ini?" tanya Perch.


Anne menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Perch. Maksud hati ingin berbohong agar suaminya ini tidak memarahi Lexi, tapi ia sangat tidak ahli dalam berbohong.


Perch tampak menahan amarahnya. "Memang anak itu sungguh keterlaluan. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi anak itu-" Kalimat Perch terpotong karena ada seorang prajurit yang berlari tunggang langgang sambil berteriak-teriak 'Baginda Raja, tolong-"


Prajurit itu bersimpuh di hadapan Rajanya. Memberikan hormatnya sebelum menyampaikan sesuatu. "Maafkan saya, Baginda Raja."


"Ada apa wahai prajurit?" tanya Perch dengan wajah bingungnya.


"Ku-kuda, kuda kita banyak yang mati mendadak." Prajurit tersebut tampak khawatir.


"Bagaimana bisa?" tanya Perch.


"Ti-tidak tahu, Baginda Raja. Sewaktu kami latihan, tiba-tiba kudanya langsung tersungkur dan mati di tanah."


"Panggilkan beberapa prajurit lagi untuk membantu saya mendobrak pintu ini." Perch memerintah prajurit yang memberikan laporan tadi.


Setelah memberikan hormat kepada Rajanya, prajurit tersebut berlari lagi untuk memanggil teman-temannya.


Setelah berhasil mendobrak pintu kamar Lexi, tampak Lexi tertidur di kasurnya. Karena keributan yang dihasilkan dari pendobrakan pintu tersebut, membuat Lexi terbangun.

__ADS_1


"Apasih ini ribut se-" Ucapan Lexi terpotong begitu melihat Ayah, Ibu dan beberapa prajurit berdiri di depan kamarnya.


"Kalian kembali saja," titah Perch pada prajurit yang membantunya tadi.


Perch dan Anne masuk menemui putri mereka, Anne menutup pintu kamar Lexi sebisanya karena beberapa engsel pintu rusak.


Lexi bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir kasurnya. "Ada apa sih ini berisik banget, Yah, Bu?" tanya Lexi yang mengucek matanya.


Anne mengerti kalau suaminya pasti akan sangat marah besar kepada Lexi. Ia merangkul tangan Perch dan mengelus dada bidangnya bertujuan untuk menenangkan suaminya.


Perch menghela napas kasar. "Apa yang sudah kau katakan sampai keadaan jadi kacau seperti ini?" tanya Perch.


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya bilang pelayan tadi bodoh. Itu saja." Lexi mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari kontak mata dari ayahnya.


"Kuda-kuda kerajaan kenapa?" tanya Perch.


"Oh itu tadi. Tidak. Aku tadi ingin tidur tapi prajurit berisik sekali latihan dengan kudanya-"


Perch memotong kalimat Lexi. "Lalu apa yang kau katakan?" tanya Perch yang tak bisa lagi membendung amarahnya. Anne segera mengelus dada Perch untuk menenangkan.


"Kalian terlalu keras kepadaku. Memangnya salah kalau aku ingin tidur dengan tenang tanpa suara berisik. Aku hanya bilang apa tidak bisa kalau kudanya diam. Berisik sekali." Lexi berkata angkuh.


Anne menahan tangan kanan Perch yang melayang dan hampir saja menyentuh pipi putri semata wayang mereka.


"Ayah mau menamparku? Tampar saja aku. Kalian memang tidak pernah sayang pada aku, bukan?" Lexi mengepalkan kedua tangan di samping badannya. "Atau jangan-jangan, aku ini bukan anak kalian?" tanya Lexi dengan penuh amarah.


"Jaga ucapanmu, Lexi." Perch murka.


"Lexi, tidak boleh seperti itu, Sayang." Anne menghampiri dan merangkul pundak Lexi.


"Ibu dan Ayah memang benar. Aku tidak pantas jadi putri kalian. Lihatlah betapa berwibawa dan anggunnya kalian. Lihat aku! Apa pantas aku menjadi putri kerajaan kalian?" Lexi berjalan ke arah lemarinya. Mengeluarkan beberapa pakaiannya.


"Kau sedang apa?" tanya Perch.


"Aku mau pergi saja dari sini. Biar aku tidak menghancurkan kerajaan kalian ini. Memangnya ini kemauanku? Aku juga tidak ingin memiliki kemampuan seperti ini." Lexi memasukkan pakaiannya ke dalam tas kain berwarna biru tua.


"Itu kemampuan yang luar biasa kalau kau pergunakan dengan bijak." Perch mencoba menahan putrinya. Biar bagaimanapun, ia menyayangi putri semata wayangnya.


"Salahku karena mereka menabrakku dan membuatku terganggu?" tanya Lexi.


"Kau ini sudah besar, Lexi. Lihatlah usiamu yang sudah menginjak 23 tahun. Harusnya kau bisa bersikap dewasa," ucap Perch.


"Biarkan aku pergi mencari jati diriku." Lexi membawa sebuah pakaian ke dalam kamar mandi untuk mengganti gaunnya.


Lexi keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang menggunakan celana dan baju dengan penutup kepala yang menempel di baju tersebut. Meraih tasnya dan melewati kedua orang tuanya tanpa pamitan.


Anne berusaha menahannya, Perch menahan Anne agar membiarkan saja Lexi pergi.

__ADS_1


__ADS_2