
"Besok pagi aku carikan rusa deh. Enak sekali daging rusa di sini."
"Kau bisa berburu?" tanya Lexi.
"Aku penguasa hutan ini." Ard beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah danau.
"Aku ingin ikut denganmu berburu." Lexi berteriak agar Ard dapat mendengarnya.
Ard berbalik badan dan mengernyitkan keningnya menatap Lexi. "Aku tidak mengizinkanmu."
"Aku ingin ikut pokoknya." Lexi tetap bersikeras.
Ard berbalik badan dan berkacak pinggang tepat di pinggir danau. "Mencari makan dan menjagamu adalah tugasku. Kau hanya perlu menungguku di rumah saja. Hutan itu buas, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadamu." Ard berbalik badan lagi dan berjongkok di tepi danau.
Lexi cemberut mendengar perkataan Ard. Lexi menghabiskan singkong terakhirnya dan beranjak menghampiri Ard.
"Kau sedang apa?" tanya Lexi.
Tampak Ard sedang mencakupkan tangannya mengambil air di hadapannya lalu meminumnya. Lexi kaget dan menepis tangan Ard.
"Kau ini apa-apaan?" bentak Lexi.
Ard mendongakkan kepalanya menatap Lexi. "Aku sedang minum."
"Itu kan jorok." Lexi mendelikkan matanya dan berkacak pinggang di hadapan Ard.
Ard tertawa terbahak-bahak sesaat ia terdiam sebelum ia melihat ekspresi wajah Lexi yang tampak sangat marah kepadanya. "Aku sudah terbiasa. Dan ini adalah danau ajaib. Danau ini tidak akan kotor meski kau mandi di sini terus menerus. Ia akan kembali bersih lagi setelah kau keluar dari danau ini."
"Tetap saja kotor karena ini berada di alam terbuka," bantah Lexi. "Kau bisa sakit perut." Lanjut Lexi.
Ard tertawa lagi. "Kau ini perhatian sekali kepadaku." Ard berdiri dan menatap mata abu-abu Lexi.
Lexi mengalihkan pandangannya.
"Kau malu?" tanya Ard dengan nada menggodanya.
"Tidak, hanya takut kau kenapa-napa terus aku juga yang harus repot mengurusmu." Lexi menghentakkan kakinya ke tanah lalu berjalan menjauhi Ard.
"Aku sudah hampir 20 tahun tinggal di sini. Dan ini sudah menjadi hal yang biasa aku lakukan." Ard menatap Lexi yang menghentikan langkahnya. "Air minum yang kau minum tadi juga berasal dari sini."
Lexi seperti ingin memuntahkan isi perutnya begitu tahu asal usul dari air minum yang ia konsumsi tadi. Ia memegangi perutnya.
__ADS_1
Ard berlari menghampiri Lexi. "Kau baik-baik saja?" tanya Ard.
"Kenapa kau tidak bilang kalau air minum tadi berasal dari sana," bentak Lexi.
Ard menutup mulutnya mencoba untuk menahan tawanya. "Kau sih tidak mau bertanya dulu sebelum minum." Ard membela diri.
"Kau jahat. Hukumannya, kau harus mengajakku berburu besok." Lexi meninggalkan Ard yang masih diam.
Ard berlari kecil menyusul Lexi dan ikut menaiki tangga dengan Lexi.
"Kau ini jangan terus-terusan marah dong. Aku minta maaf." Ard memasang tampang memelas agar Lexi mau memaafkan dirinya.
Lexi menatap Ard dengan tampang kesalnya. "Sekali lagi kau tertawa, ku pastikan kau tidak akan pernah bisa tidur malam ini dan keesokan harinya kau akan mengalami diare hebat." Lexi tersenyum licik kepada Ard. "Kau tahu kan siapa aku?" tanya Lexi.
"Vasilissa Lexi." Ard menaikkan kedua alisnya menggoda Lexi.
"Tahu apa artinya, kan? Berhati-hati kalau ucapanku ini akan langsung jadi kenyataan." Lexi merebahkan tubuhnya di kasur Ard. Memejamkan matanya berusaha dapat segera tertidur. Ia melirik Ard sekilas yang masih duduk di kursi kayu.
5 menit kemudian, Lexi tak kunjung bisa memejamkan matanya dan tidur. Malah ia mendengar suara dengkuran lembut dari Ard.
"Hah? Kenapa dia bisa tertidur dengan sangat pulas begini." Dialog Lexi pada dirinya sendiri.
Lexi menarik napas dalam sampai seluruh rongga paru-parunya terisi penuh lalu menghembuskannya kasar. "Apa yang sedang terjadi kepadaku. Mengapa ucapanku tidak lagi berfungsi seperti biasanya. Atau memang kemampuan ini sudah tidak berfungsi lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Jadi, kalau aku aku bilang kerajaan ayah akan hancur berarti itu tidak akan menjadi kenyataan lagi." Lexi tersenyum bangga. "Kalau begitu aku sudah bisa pulang ke istana lagi." Lexi bersemangat. "Eh tunggu sebentar-" Lexi tampak memikirkan sesuatu. "Aku masih ingin di sini. Tempat yang menenangkan. Dan bagaimana dengan Ard kalau sampai dia aku tinggalkan lagi. Ah, bukannya ia memang sendiri di sini. Tapi, apakah ia mau kalau aku ajak ikut denganku balik ke istana. Tapi, Ard tidak tahu kalau aku ini putri kerajaan. Bagaimana kalau Ard adalah orang jahat dan sengaja menculikku setelah tahu aku putri kerajaan." Pikiran liar Lexi tidak karuan.
"Ngghh." Ard menggeliat karena mungkin posisi tidurnya tidak membuatnya nyaman.
Lexi terkejut begitu melihat Ard sudah duduk tegak menatapnya dengan pandangan sayu khas orang bangun tidur.
"Kau sudah bangun?" tanya Lexi.
"Kau belum tidur?" Ard balik bertanya.
Lexi membalikkan tubuhnya membelakangi Ard dan kembali menatap langit malam. Ard berdiri dan menghampiri Lexi kemudian berdiri selangkah di belakang Lexi. Ard menatap sayu punggung Lexi. Ia berusaha memberanikan diri mendekati Lexi. Ard memeluk tubuh Lexi dari belakang. Tampak tubuh Lexi menegang karena terkejut. Ard melingkarkan tangannya di perut Lexi dan meletakkan dagunya pada pundak kanan Lexi.
"Maafkan aku yang sudah lancang," bisik Ard. "Aku harus jujur padamu secepat mungkin." Ard melepaskan pelukannya dan meraih bahu Lexi dan membalikkan tubuh Lexi agar menghadapnya. Ard menatap dalam manik abu-abu milik Lexi. "Maaf kalau aku sudah lancang. Aku menyukaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Tapi-" Kalimat Ard terputus.
Lexi menatap Ard meminta penjelasan dari lanjutan kalimatnya.
"Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Aku baru pertama sekali bertemu dengan seorang wanita dan beruntungnya aku karena kau sangatlah cantik. Aku sudah sejak usia 5 tahun tinggal di sini sendirian-"
"Orang tuamu?" tanya Lexi memotong kalimat Ard.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, aku masih sangat kecil waktu itu. Yang aku tahu, seingatku waktu itu aku sedang bermain dan tidak sengaja menyenggol guci kesayangan milik ayahku. Ayahku marah besar dan memasukkanku ke dalam hutan ini. Kata ayah dan warga sekitar aku ini sangat membahayakan." Ard menunduk malu ketika mengingat kejadian waktu dulu.
"Oh begitu."
Ard menegakkan kembali kepalanya. "Iya, aku dibuang oleh orang tuaku."
Lexi mengelus lengan Ard berusaha untuk menenangkannya. "Sabar Ard."
"Kau tidurlah. Ini sudah larut malam bahkan hampir pagi."
Lexi menurut dan kembali tidur, meski tidak mudah ia tetap memaksakan matanya agar terpejam dan tidur.
***
Pagi harinya, Lexi terbangun dan tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Ia beranjak dan duduk sebentar di tepi ranjang untuk mengembalikan kesadarannya yang belum sepenuhnya.
"Ard kemana?" tanya Lexi pada dirinya sendiri.
Lexi berjalan ke arah jendela dan membuka lebar jendela itu. Sinar matahari menyambut Lexi dan menyilaukan matanya. "Ini sudah siang ternyata." Lexi bangun dan turun dari rumah pohonnya. Ia berjalan ke arah danau untuk membasuh wajahnya.
"Airnya sangat segar." Mata Lexi berbinar begitu melihat air danau yang sangat jernih dan luas ini tampak mengkilat karena pantulan cahaya matahari serta dasar danau yang terlihat karena kejernihan airnya.
Lexi mendengar suara sesuatu seperti berjalan dari arah hutan. Ia takut kalau sampai itu adalah binatang buas, sebab Ard pernah berpesan kalau ia tidak boleh keluar dari rumah selama dirinya tidak ada.
Lexi membulatkan matanya berusaha mengenali sosok yang berjalan mendekatinya. "Ard!" pekik Lexi.
Ard tampak berjalan dengan menyeret seekor rusa yang tidak cukup besar dan juga tidak terlalu kecil.
"Ini rusa yang ku janjikan padamu tadi malam. Kau harus segera mencobanya." Ard meletakkan rusa hasil buruannya yang sudah mati di dekat tempat pembakaran tadi malam. Ard berjalan mendekati Lexi di tepi danau.
Lexi terkejut begitu melihat baju bagian dada Ard berlumuran darah serta leher dan mulutnya juga tampak berdarah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lexi yang khawatir melihat darah-darah yang ada pada Ard.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Ard berjongkok berusaha membersihkan darah yang melekat di tubuhnya.
Lexi ikut berjongkok di samping Ard. "Bagaimana tidak apa-apa kalau tubuhmu penuh dengan darah seperti ini."
"Ini bukan darahku. Tapi, darah rusa yang aku buru. Darahnya menyiprati bajuku tadi. Sudahlah kau tidak perlu khawatir. Kau bisa membantuku untuk membakar rusa itu?" tanya Ard.
Lexi mengangguk dan bersedia membantu Ard.
__ADS_1